Anggota jemaah haji diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan karena suhu di Tanah Suci sedang panas ekstrem.
15 Jun 2025 18:41 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
MEKKAH, KOMPAS — Arab Saudi memasuki puncak musim panas antara Juni dan Juli ini. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Jemaah haji diminta mewaspadai penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA, hipertensi, dan serangan jantung yang selama ini banyak diderita dan menyebabkan kematian.
Saat ini, suhu udara di Mekkah rata-rata 45 derajat celsius, sedangkan di Madinah terus naik hingga 47 derajat celsius. Suhu ini akan terasa lebih panas seiring dengan keringnya udara baik di Mekkah maupun Madinah.
Kepala Bidang Kesehatan Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi M Imran mengatakan, kondisi suhu ekstrem ini harus diwaspadai. ”Sembari menunggu kepulangan dan pergeseran ke Madinah, kami minta jemaah agar lebih menjaga kesehatan. Sebaiknya hindari aktivitas di luar ruangan pukul 10.00-16.00,” katanya, Minggu (15/6/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/996de29628f134f9dab86773466d26d8-cc4cbef8_1246_4670_ab19_c31b30ca8c99.jpeg)
Saat ini, masih banyak anggota jemaah haji Indonesia yang berada di Mekkah. Pergeseran jemaah gelombang kedua dari Mekkah ke Madinah baru akan dimulai pada Rabu (18/6/2025). Adapun jemaah gelombang pertama secara berangsur tekah dipulangkan mulai Rabu (11/6/2025).
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama hingga Minggu (15/6/2025), jumlah anggota jemaah yang telah kembali ke Tanah Air sebanyak 24.208 orang dari 62 kloter. Total anggota jemaah yang sebelumnya di Tanah Suci adalah 203.149 orang dari 525 kloter.
Imran mengatakan, cuaca panas di Mekkah saat ini sangat berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Selama 44 hari pelaksanaan ibadah haji, penyakit paling banyak diderita jemaah ialah ISPA, hipertensi, dan diabetes dengan komplikasi.
”Perlu juga kami sampaikan bahwa hingga hari ini jumlah anggota jemaah haji yang sudah mendapatkan pelayanan kesehatan di kloter sebanyak 72.100 orang dengan kasus terbanyak adalah ISPA, hipertensi, dan diabetes dengan komplikasi,” tutur Imran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/12/de61a47edf6e2ca67c2322e65fbfa5c2-IMG_2728.jpeg)
Dia mengatakan, hingga kini masih terdapat 238 anggota jemaah haji yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi dengan kasus terbanyak pneumonia atau radang paru, diabetes dengan komplikasi berat, dan penyakit jantung koroner atau serangan jantung.
”Data anggota jemaah haji wafat pada hari ke-44 pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci mencapai 275 orang. Penyebab kematian terbanyak adalah penyakit jantung dan sepsis atau kegagalan organ akibat infeksi yang berat,” kata Imran.
Kami mengimbau agar beristirahat yang cukup. Selain itu, juga tidak memaksakan diri beribadah yang menguras fisik.
Oleh karena itu, dia meminta jemaah lebih berhati-hati menjaga kesehatan menjelang pemulangan. ”Kami mengimbau agar beristirahat yang cukup. Selain itu, tidak memaksakan diri beribadah yang menguras fisik, seperti umrah sunah berulang kali dan mengejar paket atau mengejar kesempurnaan arba'in nanti ketika berada di Madinah,” tutur Imran.
Ia juga mengingatkan jemaah yang telah tiba di Tanah Air, jika merasakan gejala demam, batuk pilek, apalagi disertai sesak napas, untuk segera berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, baik rumah sakit maupun puskesmas. Langkah itu dilakukan terutama jika gejala tersebut dirasakan kurang dari 14 hari sejak tiba dari Tanah Suci.
Sebelumnya, terkait jemaah yang sakit, PPIH Arab Saudi memprioritaskan jemaah haji yang sakit dan membutuhkan perawatan segera di Tanah Air untuk pulang lebih awal dari jadwal yang ditentukan atau tanazul.
Kepala Seksi Media Center Haji PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Makkah Dodo Murtado mengatakan, program ini diprioritaskan bagi jemaah yang sakit dan membutuhkan perawatan segera di Tanah Air. Program ini mempertimbangkan ketersediaan kursi kosong pada penerbangan pulang di kloter tujuan.
Dodo menjelaskan, tanazul terbagi dua kategori, yaitu jemaah sakit dan pengisian kursi kosong. Untuk jemaah sakit, syarat yang harus disiapkan adalah surat rekomendasi dari petugas kesehatan kloter dan surat rekomendasi dari Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Mekkah.
Sementara pengisian kursi kosong diperuntukkan bagi jemaah penggabungan ke kloter asal dalam embarkasi yang sama dan jemaah yang harus pulang dahulu karena alasan dinas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/12/b57f777ef5dc5577671bc4ef4abc59b2-ceae589a_c441_4ea0_925b_c4d5d425bfe9.jpeg)
Untuk pengisian kursi kosong penggabungan kloter, syarat yang diperlukan adalah surat pengantar dari PPIH Embarkasi dan surat pengantar dari ketua sektor.
Adapun untuk alasan dinas, syarat yang diperlukan adalah surat permohonan mutasi dari jemaah yang bersangkutan dan diketahui ketua kloter. Selain itu, juga surat pernyataan tidak menuntut kompensasi atas kekurangan layanan. Syarat lain, surat dari atasan langsung dari instansi terkait dan surat pengantar dari ketua sektor.
Dodo mengatakan, pengajuan tanazul disampaikan melalui sektor masing-masing yang selanjutnya diteruskan kepada Kepala Daerah Kerja Mekkah.
”Melalui program ini, diharapkan jemaah yang memerlukan pemulangan lebih awal dapat kembali ke Tanah Air dengan aman dan nyaman,” ujar Dodo.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto