Petugas Haji Tak Lelah Melayani dengan Hati

Menjadi petugas haji yang mengurusi anggota jemaah bukan tugas mudah. Namun, mereka tetap melayani dengan hati walau kerap dicaci maki.

12 Jun 2025 17:31 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi

Usai hiruk pikuk puncak pelaksanaan ibadah haji terlewati tak berarti pekerjaan petugas haji selesai. Sebagian petugas bahkan lebih sibuk dan berjibaku mengurusi jemaah.

Neneng Awaliyah (34) baru saja duduk di bangku besi di depan ruang perawatan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah saat petugas lain memanggil namanya. Rupanya salah seorang anggota jemaah yang dirawat tak mau makan. Dia harus dibujuk. Hanya Neneng yang tahu cara membujuk jemaah ini.

Dia segera masuk ke ruangan menemui pasiennya. Sejak awal dirawat di ruang perawatan KKHI, Neneng yang lebih banyak merawatnya. Dia memperlakukan jemaah berusia lanjut tersebut serupa neneknya.

”Awalnya dia tak mau diurus siapa pun padahal tidak punya pendamping. Saya berusaha perlakukan seolah saya anaknya atau cucunya. Saya yang mandikan, mengganti pakaiannya, bahkan hal-hal bersifat privat, semuanya. Kadang harus saya bujuk pelan-pelan agar dia mau makan dan minum obat,” tutur Neneng.

Neneng Awaliyah (34), salah seorang petugas haji yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah, Rabu (11/6/2025).

Dia bercerita dengan senyum yang terus menghias wajahnya. Tak sedikit pun tampak rasa lelah, apalagi kesal. Baginya mengurus anggota jemaah bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

”Saya merasa seperti mengurus nenek di Bandung. Saya juga merasa ada berkah mengurus tamu Allah. Makanya semua dibawa santai. Saya menikmati. Apalagi di klinik ini saya berinteraksi dengan petugas lain yang juga dari Indonesia. Merasa ada di Tanah Air,” katanya.

Neneng adalah seorang mukimin yang telah menetap di Mekkah lebih dari 10 tahun. Sehari-hari dia adalah ibu rumah tangga. Saat membaca lowongan penerimaan PPIH Arab Saudi, dia mendaftar secara daring. Dia mengikuti rangkaian tes hingga akhirnya lulus.

Amar Faruq Nuruddin, petugas kesehatan haji lainnya, punya cerita yang hampir sama. Menjadi tenaga kesehatan haji dan mengurus jemaah dinikmatinya. Dia merasa bersyukur menjadi bagian dalam hajatan besar bagi umat Muslim, yakni ibadah haji.

Petugas kesehatan haji Indonesia memapah seorang jemaah setelah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025).

Ditemui pada Rabu (11/6/2025) siang di bawah terik matahari, dia berjalan perlahan memapah seorang anggota jemaah berusia lanjut di depan KKHI. Jemaah tersebut akan dia antar ke hotel pemondokannya.

Sebelumnya, anggota jemaah lelaki itu ditemukan lemas akibat sakit dan kelelahan di Terminal Syib Amir, di dekat Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Petugas yang berjaga kemudian membawanya ke KKHI.

Quote

Saya merasa seperti mengurus nenek di Bandung. Saya juga merasa ada berkah mengurus tamu Allah. Makanya semua dibawa santai.

”Beliau sudah baikan dan mau saya antar ke hotel pemondokannya. Saat ditemukan di Syib Zakir, kondisinya sangat lemas. Sepertinya kelelahan dan pengaruh panas setelah melakukan tawaf ifadah,” katanya.

Saat anggota jemaah tersebut sudah berada di dalam mobil, dia pun segera masuk dan menutup pintu mobil. Seusai mengantar, dia harus bergegas kembali ke KKHI. Ada pasien lain yang menunggunya.

Petugas pendamping lansia PPIH Arab Saudi mendorong kursi roda seorang jemaah gelombang 2 yang tiba di Mekkah, Sabtu 17/5/2025).

Berjibaku urus jemaah

Neneng dan Amar hanya dua dari ratusan petugas haji yang setiap hari mengurusi anggota jemaah lansia, sakit, hingga yang berkebutuhan khusus. Tak hanya bertugas di KKHI, sebagian ditempatkan di sektor-sektor di mana hotel-hotel pemondokan jemaah berada.

Ada pula yang bertugas di Masjidil Haram sebagai bagian dari Sektor Khusus Haram. Sejak sebelum pelaksanaan puncak ibadah haji hingga kini, kesibukan petugas haji nyaris tak reda.

Setelah puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, misalnya, petugas kesehatan, perlindungan jemaah, hingga layanan lain, tak kalah sibuk mengurusi jemaah. Seusai puncak haji, banyak jemaah kelelahan dan sakit.

Berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina dan memaksakan langsung melanjutkan perjalanan melontar jumrah ke Jamarat membuat banyak anggota jemaah jatuh sakit akibat kelelahan. Belum lagi mereka yang terpisah dari rombongan.

Jemaah menunggu bus di Muzdalifah pada Jumat (6/6/2025) keterlambatan bus penjemput menyebbakan banyak jemaah yang berjalan kaki dati Muzdalifah ke Mina.

Sejumlah anggota jemaah harus dievakuasi hingga ke Kantor Urusan Haji Mekkah yang juga adalah Kantor Daerah Kerja Mekkah. Tidak sedikit anggota jemaah yang harus didorong dengan kursi roda dari Jamarat ke Daker Mekkah. Sebagian dibawa menggunakan mobil golf ke area markaz di Mina.

Posko Mobile Crisis Rescue yang ditempatkan di Jamarat, misalnya, aktif selama 24 jam selama hari tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah, bertepatan dengan Sabtu-Minggu (7-9/6/2025). Petugas yang berjaga dibagi dalam empat jadwal dan bergantian setiap enam jam.

Di grup WhatsApp PPIH Arab Saudi, komunikasi dan koordinasi nyaris tak pernah berhenti. Grup ini menjadi sangat sibuk dan aktif sepanjang hari, seolah petugas tak pernah tidur. Petugas layanan yang berbeda-beda setiap saat berkoordinasi dan bekerja estafet setiap kali ada anggota jemaah yang membutuhkan bantuan.

Di ujung hari tasyrik, seluruh petugas diturunkan untuk menyisir kawasan Mina dan Jamarat. Mereka harus memastikan bahwa seluruh anggota jemaah telah digeser ke Mekkah dan tak ada satu pun yang tertinggal. Tenda-tenda dan setiap sudut disisir.

Petugas haji berjalan diantara hamparan karpet di kawasan Muzdalifah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025). Muzdalifah adalah tempat yang wajib menjadi persinggahan jemaah usai wukuf di Arafah.

Namun, tugas belum selesai saat Mina dan Jamarat dinyatakan bersih. Sebagian petugas segera digeser ke Masjidil Haram. Di tempat ini mereka kembali bertugas memantau jemaah yang mulai melakukan tawaf ifadah.

Di tengah kepadatan Masjidil Haram dan waktu pemulangan jemaah, tetap ada kemungkinan mengevakuasi anggota jemaah yang kelelahan dan terpisah rombongan. Kesibukan petugas tak juga surut. Seusai tawaf ifadah, ada tawaf wada. Semua wajib dikakukan jemaah. Karena itu, penjagaan juga tak berhenti. Petugas harus terus siaga.

Di KKHI, hingga Kamis (12/6/2025), masih ada 35 anggota jemaah haji yang dirawat. Adapun jumlah jemaah yang meninggal tercatat lebih dari 200 orang. ”Pasien sakit yang memungkinkan diterbangkan akan dipulangkan lebih dahulu. Dikhawatirkan jika berlama-lama di Mekkah, bisa bertambah parah kondisinya,” kata Kepala KKHI Mekkah Edi Supriyatna, Rabu (11/6/2025).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjenguk seorang anggota jemaah di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah, Rabu (11/6/2025).

”Banyak anggota jemaah sakit yang menyembunyikan penyakitnya dan akhirnya jadi parah karena tak mau dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Ada kekhawatiran karena tempatnya asing, belum lagi kendala bahasa. Makanya, kami minta KKHI dibuka dan syukurnya diizinkan. Termasuk kemarin ambulans diizinkan masuk ke Armuzna,” kata Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Beroperasinya KKHI memang sangat berdampak pada penanganan anggota jemaah yang sakit dan butuh rawat inap. Di klinik inilah petugas bisa dengan leluasa merawat pasien dengan berbagai keluhan. Sebaliknya pasien merasa lebih nyaman.

Di tengah ketulusan bekerja dan melayani, toh tidak sedikit petugas menerima cacian atau jadi pelampiasan kemarahan maupun kekecewaan jemaah.

”Kalau ada yang seperti itu, kami bawa santai saja. Kami berusaha memaklumi bahwa mungkin anggota jemaah lelah. Intinya kami membantu sebisanya,” kata Yusuf, salah seorang tenaga kesehatan yang kini bersiaga di kawasan Masjidil Haram.

Sebagain petugas haji yang duduk di karpet di luar tenda saat pelaksanaan wukuf di Arafah, Kamis (5/6/2025). Tenda petugas dialihkan untuk jemaah yang sempat tidak tertampung di tenda.

Saat berkumpul bersama petugas di Daker Mekkah, Rabu (11/6/2025) malam, Menteri Agama secara khusus berterima kasih kepada petugas.

”Saya tahu dan menyaksikan semua petugas telah bekerja sangat keras. Bahkan, saat ada yang mencaci, ada yang marah, kalian menghadapi dengan sabar dan tetap bekerja dengan hati. Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi semua. Saya meminta kekompakan dan keikhlasan bekerja tetap terjaga hingga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan