Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa pertarungan Arsenal dan Manchester City bakal ditentukan faktor psikologis?
- Mengapa kemenangan atas Liverpool menjadi pesan ancaman Manchester City untuk Arsenal?
- Bagaimana Viktor Gyokeres menjelma jadi predator gol Arsenal?
- Mengapa final Piala Liga menjadi saga pembuka rivalitas Arteta dan Guardiola?
Liga Inggris musim 2005-2026 tinggal menyisakan 13 pekan laga. Perburuan gelar juara pun diyakini hanya menyisakan dua tim, yaitu Arsenal dan Manchester City. Arsenal, pemuncak klasemen sementara, saat ini unggul enam poin atas ”The Citizens”, tim peringkat kedua.
Adapun Manchester United, yang tengah bangkit bersama Michael Carrick, tertinggal jauh, yaitu 12 poin, dari pemuncak klasemen. Target realistis mereka adalah mempertahankan posisi keempat seperti saat ini. Adapun juara bertahan, Liverpool, tertinggal 17 poin dan kini tertahan di peringkat keenam.
Superkomputer Opta menjagokan Arsenal sebagai kampiun musim ini dengan peluang sangat tinggi, yaitu mencapai 90,54 persen. Setelah selalu finis sebagai runner-up dalam tiga musim terakhir, ”Si Meriam” akhirnya kian dekat dengan gelar juara yang terakhir kali diraih pada musim 2023-2024 silam.
Adapun peluang City menjadi kampiun pada musim ini, menurut Opta, hanyalah 8,2 persen. Probabilitas itu tertinggal jauh dibandingkan Arsenal. Namun, sejarah berkata, City selalu memenangi perebutan gelar dengan Arsenal dalam dua kesempatan terakhir, yaitu pada musim 2022-2023 dan 2023-2024.
”Jarak itu (dengan Arsenal) memang besar, tetapi semua masih bisa terjadi. Tiga belas laga itu banyak, belum lagi ada Piala FA, final Piala Liga Inggris, dan Liga Champions Eropa yang akan datang. Cedera bisa muncul kapan saja. Jadi, yang bisa kami lakukan hanyalah terus menekan Arsenal, lalu memanfaatkannya jika mereka lengah,” tutur Manajer Manchester City Pep Guardiola.
Mengapa pertarungan Arsenal dan Manchester City bakal ditentukan faktor psikologis?
Peta perburuan gelar Liga Inggris masih sama secara matematis, tetapi berubah dari sisi psikologis. Manchester City memang masih tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen Arsenal, jarak yang sama dengan pekan sebelumnya. Namun, momentum seolah memihak ke arah City setelah kemenangan dramatis di Stadion Anfield.
City diperkirakan akan kehilangan poin di markas Liverpool, Stadion Anfield. Prediksi itu terbukti hingga menit ke-83, lalu berhasil dipatahkan Erling Haaland dan rekan-rekan saat peluit panjang. City mencuri kemenangan 2-1 seusai tertinggal lebih dulu di stadion yang terkenal sangat angker tersebut, Senin (9/2/2026) WIB.
Menurut mantan kiper City, Joe Hart, hal terpenting dari kebangkitan di Anfield adalah soal psikologis tim. ”Saya pikir mereka kembali percaya bahwa mereka ada di perburuan gelar,” kata Hart.
City seolah mengalami reinkarnasi di Anfield. Moral skuad pasti terangkat dengan kemenangan tandang pertama di liga selama 2026. Mereka awalnya dibayangi tren tiga kali gagal menang di kandang lawan pada tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, City membalikkan momentum itu di markas tim juara bertahan.
Belum lagi, City bisa tampil lebih lepas karena hanya berstatus kuda hitam. Tekanan besar justru berada di pundak Arsenal yang sudah menjadi favorit sejak paruh pertama musim.
Terlepas dari apa pun yang dilakukan City, takdir juara masih ada dalam genggaman Arsenal. ”Si Meriam” tinggal membutuhkan 11 kemenangan di jadwal tersisa untuk memastikan gelar juara. Jumlah itu bisa berkurang seandainya City kehilangan poin. Dengan rekor cemerlang Arsenal sejauh ini (17 menang, 5 seri, 3 kalah), prediksi Opta yang menjagokan mereka sebagai juara sangatlah beralasan.
Kedalaman dan kualitas skuad Arsenal tidak perlu diragukan lagi musim ini. Pertanyaannya lebih ke soal mentalitas tim asuhan Mikel Arteta. Mereka akan dibayangi kegagalan beruntun di tiga musim terakhir. Adapun Declan Rice dan rekan-rekan hanya menjadi pendamping juara, sebatas runner-up sejak musim 2022-2023.
Mengapa kemenangan atas Liverpool menjadi pesan ancaman Manchester City untuk Arsenal?
Kebangkitan dramatis Manchester City atas Liverpool di Stadion Anfield membuat persaingan gelar juara Liga Inggris kembali semarak. Walaupun masih tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen, Arsenal, City berpotensi membalikkan momentum dengan bekal pengalaman juara dan moral skuad yang sedang tinggi-tingginya.
Mentalitas pemenang tim asuhan Manajer Guardiola itu menyala terang di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (9/2/2026) dini hari WIB. City menang 2-1 setelah tertinggal lebih dulu lewat tendangan bebas spektakuler gelandang Dominik Szoboszlai pada menit ke-74. Alih-alih terpuruk, tim tamu justru berhasil bangkit di pengujung laga.
”Saya pikir seisi tim tahu bahwa perebutan gelar kemungkinan akan berakhir jika kami kalah di sini. Kami merasa sangat butuh kemenangan. Harapannya hanya bertarung hingga akhir. Saya sangat senang kami bisa membalikkan situasi karena Anda tahu betapa sulitnya untuk menang di sini,” kata kapten City, Bernardo Silva.
Seusai bertarung sengit sejak sepak mula, bagi City, sangat sulit untuk tertinggal akibat gol dari bola mati. Mereka diragukan bisa merespons Liverpool yang tampil sangat intens pada paruh kedua. Apalagi, rekor City sangat buruk ketika kemasukan lebih dulu pada musim ini, yaitu empat kali kalah dari empat kesempatan.
Terbukti, City kesulitan mengambil kembali kontrol permainan. Kebangkitan Erling Haaland dan rekan-rekan murni karena dorongan lebih agar tidak kalah dan kehilangan gelar. Gol penyeimbang pun akhirnya datang saat waktu normal tersisa enam menit lewat sumbangan Silva yang memanfaatkan sundulan Haaland.
Gol Silva cukup untuk menggambarkan mentalitas pantang menyerah skuad City. Gol itu sebenarnya datang dari situasi tidak berbahaya. Namun, Haaland menjadi pembeda dengan perjuangannya memenangi duel udara di kotak penalti. Situasi kemelut tercipta. Silva kebetulan berada di posisi yang tepat untuk mengeksekusi peluang tersebut.
Daya juang Haaland patut diapresiasi. Sebab, menurut Guardiola, kondisi sang penyerang menurun drastis setelah turun minum.
Bagaimana Viktor Gyokeres menjelma jadi predator gol Arsenal?
Setengah tahun lebih sejak didatangkan Arsenal, penyerang Viktor Gyokeres mulai menebar pesona sesungguhnya. Sang striker perlahan mengambil peran mesin gol yang sangat dirindukan ”Si Meriam” selama ini. Gyokeres bukan lagi sebatas pengalih perhatian di kotak penalti lawan.
Arsenal semakin jauh memimpin perebutan gelar Liga Inggris setelah menang atas Sunderland, 3-0, di Stadion Emirates, London, Sabtu (7/2/2026) WIB. Kemenangan itu dibuka gelandang Martin Zubimendi lewat gol dari luar kotak penalti pada paruh pertama.
Gyokeres menutup perlawanan tim tamu dengan sumbangan dua gol setelah turun minum. Gyokeres lantas memberikan pengaruh instan setelah masuk dari cadangan, menggantikan penyerang Gabriel Jesus.
”Kami berhasil menunjukkan sepanjang musim ini bahwa banyak pemain yang bisa memberikan pengaruh dari bangku cadangan. Itu adalah pertanda yang bagus,” kata Gyokeres, yang baru masuk saat laga itu genap berlangsung sejam.
Sebelum Gyokeres masuk, Arsenal hanya unggul 1-0. Tuan rumah sedang kesulitan di tengah urgensi Sunderland yang berburu gol penyeimbang. Skuad Arsenal terjebak dalam situasi sulit. Mereka tidak berani tampil terlalu terbuka, tetapi juga berusaha keluar dari tekanan tim tamu.
Kegundahan Declan Rice dan rekan-rekan tidak terlepas dari rentetan hasil buruk dalam pertandingan liga di kandang sendiri. Mereka sudah dua kali gagal menang beruntun di Stadion Emirates. Beban di pundak skuad Arsenal semakin berat karena sudah memasuki fase krusial dalam perebutan gelar.
Keputusan Arteta terbukti tepat untuk memasukkan Gyokeres. Hanya enam menit setelah bermain, penyerang tim nasional Swedia itu menggandakan keunggulan. Gol tersebut memperlihatkan presensi sosok predator gol di kotak penalti. Mereka kekurangan sosok itu pada sejam pertama karena Jesus lebih banyak beroperasi di area luar.
Di injury time, Gyokeres mencetak brace lewat skema serangan balik. Rasa laparnya berburu gol terlihat dalam proses serangan. Musim ini di Liga Inggris, ia telah mencetak delapan gol.
Mengapa final Piala Liga menjadi saga pembuka rivalitas Arteta dan Guardiola?
Fakta menarik tercipta seiring kesuksesan Manchester City melaju ke final Piala Liga Inggris. Kompetisi ini membuka kemungkinan rivalitas paralel antara Pep Guardiola (City) dan Arteta (Arsenal). Selain Piala Liga, kedua tim tersebut juga berpotensi bertemu di Piala FA dan Liga Champions Eropa.
Adapun di Liga Inggris, Arsenal dan City juga masih menempati dua peringkat teratas klasemen sementara. Arsenal saat ini unggul enam poin atas City di peringkat kedua. Persaingan kedua tim itu di puncak klasemen Liga Inggris diyakini masih akan terus berlanjut hingga pekan terakhir liga.
Final Piala Liga Inggris akan mengawali potensi persaingan panjang kedua tim itu pada musim ini. City melaju ke final seusai menyingkirkan Newcastle United, juara bertahan, dengan keunggulan agregat 5-1, Kamis (5/2/2026), di Stadion Etihad, Manchester. Arsenal lebih dulu lolos dengan mengalahkan Chelsea, 4-2, secara agregat dalam semifinal yang berlangsung lewat dua kali pertemuan.
Laga final akan berlangsung di Stadion Wembley, London, pada Minggu (22/3/2026) malam. Sejak menangani Arsenal pada 2019, Manajer Arsenal Mikel Arteta sudah 15 kali bertemu Pep Guardiola yang merupakan mentornya saat masih menjadi asisten manajer di City.
Di Piala Liga, Arteta dan Guardiola satu kali bertemu pada perempat final 2020. Kala itu, Arteta—yang sedang membangun fondasi Arsenal di awal era kepelatihannya—takluk dengan skor cukup telak, 1-4.
”Ini akan menjadi pengalaman yang baik bagi kami. Semoga kami bisa tiba di bulan Maret dengan semua pemain dalam kondisi bugar dan siap sehingga kami bisa memainkan pertandingan yang bagus melawan mereka (Arsenal),” kata Guardiola.
Adapun rekor kemenangan Arteta atas Guardiola baru empat kali dari 15 pertemuan. Maka, Arteta tentu sangat ingin mengalahkan gurunya tersebut pada final nanti. Selain memperbaiki rekor pribadinya setiap kali bertemu Pep, Arteta juga berhasrat mempersembahkan gelar besar pertama bagi Arsenal semenjak menjuarai Piala FA pada 2020.
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa pertarungan Arsenal dan Manchester City bakal ditentukan faktor psikologis?
- Mengapa kemenangan atas Liverpool menjadi pesan ancaman Manchester City untuk Arsenal?
- Bagaimana Viktor Gyokeres menjelma jadi predator gol Arsenal?
- Mengapa final Piala Liga menjadi saga pembuka rivalitas Arteta dan Guardiola?
Liga Inggris musim 2005-2026 tinggal menyisakan 13 pekan laga. Perburuan gelar juara pun diyakini hanya menyisakan dua tim, yaitu Arsenal dan Manchester City. Arsenal, pemuncak klasemen sementara, saat ini unggul enam poin atas ”The Citizens”, tim peringkat kedua.
Adapun Manchester United, yang tengah bangkit bersama Michael Carrick, tertinggal jauh, yaitu 12 poin, dari pemuncak klasemen. Target realistis mereka adalah mempertahankan posisi keempat seperti saat ini. Adapun juara bertahan, Liverpool, tertinggal 17 poin dan kini tertahan di peringkat keenam.
Superkomputer Opta menjagokan Arsenal sebagai kampiun musim ini dengan peluang sangat tinggi, yaitu mencapai 90,54 persen. Setelah selalu finis sebagai runner-up dalam tiga musim terakhir, ”Si Meriam” akhirnya kian dekat dengan gelar juara yang terakhir kali diraih pada musim 2023-2024 silam.
Adapun peluang City menjadi kampiun pada musim ini, menurut Opta, hanyalah 8,2 persen. Probabilitas itu tertinggal jauh dibandingkan Arsenal. Namun, sejarah berkata, City selalu memenangi perebutan gelar dengan Arsenal dalam dua kesempatan terakhir, yaitu pada musim 2022-2023 dan 2023-2024.
”Jarak itu (dengan Arsenal) memang besar, tetapi semua masih bisa terjadi. Tiga belas laga itu banyak, belum lagi ada Piala FA, final Piala Liga Inggris, dan Liga Champions Eropa yang akan datang. Cedera bisa muncul kapan saja. Jadi, yang bisa kami lakukan hanyalah terus menekan Arsenal, lalu memanfaatkannya jika mereka lengah,” tutur Manajer Manchester City Pep Guardiola.
Mengapa pertarungan Arsenal dan Manchester City bakal ditentukan faktor psikologis?
Peta perburuan gelar Liga Inggris masih sama secara matematis, tetapi berubah dari sisi psikologis. Manchester City memang masih tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen Arsenal, jarak yang sama dengan pekan sebelumnya. Namun, momentum seolah memihak ke arah City setelah kemenangan dramatis di Stadion Anfield.
City diperkirakan akan kehilangan poin di markas Liverpool, Stadion Anfield. Prediksi itu terbukti hingga menit ke-83, lalu berhasil dipatahkan Erling Haaland dan rekan-rekan saat peluit panjang. City mencuri kemenangan 2-1 seusai tertinggal lebih dulu di stadion yang terkenal sangat angker tersebut, Senin (9/2/2026) WIB.
Menurut mantan kiper City, Joe Hart, hal terpenting dari kebangkitan di Anfield adalah soal psikologis tim. ”Saya pikir mereka kembali percaya bahwa mereka ada di perburuan gelar,” kata Hart.
City seolah mengalami reinkarnasi di Anfield. Moral skuad pasti terangkat dengan kemenangan tandang pertama di liga selama 2026. Mereka awalnya dibayangi tren tiga kali gagal menang di kandang lawan pada tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, City membalikkan momentum itu di markas tim juara bertahan.
Belum lagi, City bisa tampil lebih lepas karena hanya berstatus kuda hitam. Tekanan besar justru berada di pundak Arsenal yang sudah menjadi favorit sejak paruh pertama musim.
Terlepas dari apa pun yang dilakukan City, takdir juara masih ada dalam genggaman Arsenal. ”Si Meriam” tinggal membutuhkan 11 kemenangan di jadwal tersisa untuk memastikan gelar juara. Jumlah itu bisa berkurang seandainya City kehilangan poin. Dengan rekor cemerlang Arsenal sejauh ini (17 menang, 5 seri, 3 kalah), prediksi Opta yang menjagokan mereka sebagai juara sangatlah beralasan.
Kedalaman dan kualitas skuad Arsenal tidak perlu diragukan lagi musim ini. Pertanyaannya lebih ke soal mentalitas tim asuhan Mikel Arteta. Mereka akan dibayangi kegagalan beruntun di tiga musim terakhir. Adapun Declan Rice dan rekan-rekan hanya menjadi pendamping juara, sebatas runner-up sejak musim 2022-2023.
Mengapa kemenangan atas Liverpool menjadi pesan ancaman Manchester City untuk Arsenal?
Kebangkitan dramatis Manchester City atas Liverpool di Stadion Anfield membuat persaingan gelar juara Liga Inggris kembali semarak. Walaupun masih tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen, Arsenal, City berpotensi membalikkan momentum dengan bekal pengalaman juara dan moral skuad yang sedang tinggi-tingginya.
Mentalitas pemenang tim asuhan Manajer Guardiola itu menyala terang di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (9/2/2026) dini hari WIB. City menang 2-1 setelah tertinggal lebih dulu lewat tendangan bebas spektakuler gelandang Dominik Szoboszlai pada menit ke-74. Alih-alih terpuruk, tim tamu justru berhasil bangkit di pengujung laga.
”Saya pikir seisi tim tahu bahwa perebutan gelar kemungkinan akan berakhir jika kami kalah di sini. Kami merasa sangat butuh kemenangan. Harapannya hanya bertarung hingga akhir. Saya sangat senang kami bisa membalikkan situasi karena Anda tahu betapa sulitnya untuk menang di sini,” kata kapten City, Bernardo Silva.
Seusai bertarung sengit sejak sepak mula, bagi City, sangat sulit untuk tertinggal akibat gol dari bola mati. Mereka diragukan bisa merespons Liverpool yang tampil sangat intens pada paruh kedua. Apalagi, rekor City sangat buruk ketika kemasukan lebih dulu pada musim ini, yaitu empat kali kalah dari empat kesempatan.
Terbukti, City kesulitan mengambil kembali kontrol permainan. Kebangkitan Erling Haaland dan rekan-rekan murni karena dorongan lebih agar tidak kalah dan kehilangan gelar. Gol penyeimbang pun akhirnya datang saat waktu normal tersisa enam menit lewat sumbangan Silva yang memanfaatkan sundulan Haaland.
Gol Silva cukup untuk menggambarkan mentalitas pantang menyerah skuad City. Gol itu sebenarnya datang dari situasi tidak berbahaya. Namun, Haaland menjadi pembeda dengan perjuangannya memenangi duel udara di kotak penalti. Situasi kemelut tercipta. Silva kebetulan berada di posisi yang tepat untuk mengeksekusi peluang tersebut.
Daya juang Haaland patut diapresiasi. Sebab, menurut Guardiola, kondisi sang penyerang menurun drastis setelah turun minum.
Bagaimana Viktor Gyokeres menjelma jadi predator gol Arsenal?
Setengah tahun lebih sejak didatangkan Arsenal, penyerang Viktor Gyokeres mulai menebar pesona sesungguhnya. Sang striker perlahan mengambil peran mesin gol yang sangat dirindukan ”Si Meriam” selama ini. Gyokeres bukan lagi sebatas pengalih perhatian di kotak penalti lawan.
Arsenal semakin jauh memimpin perebutan gelar Liga Inggris setelah menang atas Sunderland, 3-0, di Stadion Emirates, London, Sabtu (7/2/2026) WIB. Kemenangan itu dibuka gelandang Martin Zubimendi lewat gol dari luar kotak penalti pada paruh pertama.
Gyokeres menutup perlawanan tim tamu dengan sumbangan dua gol setelah turun minum. Gyokeres lantas memberikan pengaruh instan setelah masuk dari cadangan, menggantikan penyerang Gabriel Jesus.
”Kami berhasil menunjukkan sepanjang musim ini bahwa banyak pemain yang bisa memberikan pengaruh dari bangku cadangan. Itu adalah pertanda yang bagus,” kata Gyokeres, yang baru masuk saat laga itu genap berlangsung sejam.
Sebelum Gyokeres masuk, Arsenal hanya unggul 1-0. Tuan rumah sedang kesulitan di tengah urgensi Sunderland yang berburu gol penyeimbang. Skuad Arsenal terjebak dalam situasi sulit. Mereka tidak berani tampil terlalu terbuka, tetapi juga berusaha keluar dari tekanan tim tamu.
Kegundahan Declan Rice dan rekan-rekan tidak terlepas dari rentetan hasil buruk dalam pertandingan liga di kandang sendiri. Mereka sudah dua kali gagal menang beruntun di Stadion Emirates. Beban di pundak skuad Arsenal semakin berat karena sudah memasuki fase krusial dalam perebutan gelar.
Keputusan Arteta terbukti tepat untuk memasukkan Gyokeres. Hanya enam menit setelah bermain, penyerang tim nasional Swedia itu menggandakan keunggulan. Gol tersebut memperlihatkan presensi sosok predator gol di kotak penalti. Mereka kekurangan sosok itu pada sejam pertama karena Jesus lebih banyak beroperasi di area luar.
Di injury time, Gyokeres mencetak brace lewat skema serangan balik. Rasa laparnya berburu gol terlihat dalam proses serangan. Musim ini di Liga Inggris, ia telah mencetak delapan gol.
Mengapa final Piala Liga menjadi saga pembuka rivalitas Arteta dan Guardiola?
Fakta menarik tercipta seiring kesuksesan Manchester City melaju ke final Piala Liga Inggris. Kompetisi ini membuka kemungkinan rivalitas paralel antara Pep Guardiola (City) dan Arteta (Arsenal). Selain Piala Liga, kedua tim tersebut juga berpotensi bertemu di Piala FA dan Liga Champions Eropa.
Adapun di Liga Inggris, Arsenal dan City juga masih menempati dua peringkat teratas klasemen sementara. Arsenal saat ini unggul enam poin atas City di peringkat kedua. Persaingan kedua tim itu di puncak klasemen Liga Inggris diyakini masih akan terus berlanjut hingga pekan terakhir liga.
Final Piala Liga Inggris akan mengawali potensi persaingan panjang kedua tim itu pada musim ini. City melaju ke final seusai menyingkirkan Newcastle United, juara bertahan, dengan keunggulan agregat 5-1, Kamis (5/2/2026), di Stadion Etihad, Manchester. Arsenal lebih dulu lolos dengan mengalahkan Chelsea, 4-2, secara agregat dalam semifinal yang berlangsung lewat dua kali pertemuan.
Laga final akan berlangsung di Stadion Wembley, London, pada Minggu (22/3/2026) malam. Sejak menangani Arsenal pada 2019, Manajer Arsenal Mikel Arteta sudah 15 kali bertemu Pep Guardiola yang merupakan mentornya saat masih menjadi asisten manajer di City.
Di Piala Liga, Arteta dan Guardiola satu kali bertemu pada perempat final 2020. Kala itu, Arteta—yang sedang membangun fondasi Arsenal di awal era kepelatihannya—takluk dengan skor cukup telak, 1-4.
”Ini akan menjadi pengalaman yang baik bagi kami. Semoga kami bisa tiba di bulan Maret dengan semua pemain dalam kondisi bugar dan siap sehingga kami bisa memainkan pertandingan yang bagus melawan mereka (Arsenal),” kata Guardiola.
Adapun rekor kemenangan Arteta atas Guardiola baru empat kali dari 15 pertemuan. Maka, Arteta tentu sangat ingin mengalahkan gurunya tersebut pada final nanti. Selain memperbaiki rekor pribadinya setiap kali bertemu Pep, Arteta juga berhasrat mempersembahkan gelar besar pertama bagi Arsenal semenjak menjuarai Piala FA pada 2020.