Arsenal, Kryptonite Alami Real Madrid

Kesuksesan Arsenal ke semifinal Liga Champions menjadi bukti sahih mereka adalah ”kryptonite” alami Real Madrid. ”Remontada” terpendam sebagai mitos di Bernabeu.

17 Apr 2025 06:06 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

MADRID, KAMIS — Alam semesta merancang segala sesuatu di dunia memiliki musuh alaminya masing-masing. Layaknya batu kryptonite yang menjadi kelemahan karakter fiksi Superman, Real Madrid pun memiliki musuh alaminya dalam wujud Arsenal. Bukti sahihnya tersaji dalam kemenangan 2-1 Arsenal pada pertemuan kedua perempat final Liga Champions Eropa di Stadion Santiago Bernabeu, Kamis (17/4/2025) dini hari WIB.

Real boleh saja membanggakan raihan 15 trofi Liga Champions yang menandakan mereka sebagai klub tersukses di Eropa. Akan tetapi, sederet trofi itu ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan Arsenal. Sepanjang sejarahnya, Real baru sempat bertemu tiga kali dengan Arsenal. Dari ketiga laga itu, belum sekali pun Real pernah menang.

Hasil minor Real dari Arsenal terus berlanjut. Dibayangi teror magis Bernabeu, ”Meriam London” melaju mulus ke semifinal Liga Champions berkat kemenangan 5-1 secara agregat atas Real. Setelah membungkam Real, 3-0, di Stadion Emirates pada pertemuan pertama, Real digadang-gadang mampu mewujudkan remontada atau kebangkitan kembali di Bernabeu. Semua itu ternyata hanyalah mitos belaka.

Faktor yang mendorong diskursus remontada bergema berkaca pada daya juang Real saat menjungkalkan Manchester City serta Atletico Madrid pada babak sebelumnya. Jika City serta Atletico saja bisa ditaklukkan, melakukan hal sama pada Arsenal dirasa bukanlah hal mustahil. Hanya saja, analisis di atas kertas itu tidak berlaku untuk Arsenal.

Ekspresi gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, setelah timnya tersingkir dari Arsenal pada perempat final Liga Champions di Santiago Bernabeu, Madrid, Kamis (17/4/2025) dini hari WIB.

Tangan dingin Arteta berperan sentral dalam keberhasilan Arsenal menahan remontada Real. Menangani pertarungan di lini tengah adalah kuncinya.

Sejak awal laga, Real kesulitan menembus pertahanan Arsenal lantaran lini tengah yang dikomandoi Declan Rice sangat solid dalam melindungi empat bek Arsenal. Rice turut dibantu Mikel Merino dan Martin Odeegard yang aktif turun ke lini tengah.

Berkat kombinasi empat pemain tersebut di lini tengah, para gelandang Real kehabisan akal dalam membangun serangan. Akibatnya, para pemain Real cenderung mengandalkan umpan-umpan silang untuk mengancam pertahanan Arsenal.

Statistik mencatat, Real melepaskan 23 umpan silang di babak pertama saja. Jumlah itu merupakan umpan silang terbanyak Real pada babak pertama musim ini. Rice dan Partey berusaha seoptimal mungkin agar umpan-umpan dari gelandang Real tidak mencapai target secara sempurna.

”Mungkin kami kurang memiliki kejelasan saat menguasai bola. Mungkin kami bisa lebih sabar dalam memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain dan lebih menekan Arsenal. Mereka benar-benar sangat terorganisasi dalam bertahan,” kata kapten Real, Lucas Vazquez.

Gelandang Arsenal, Declan Rice (kiri), berebut bola dengan gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, pada laga perempat final Liga Champions di Santiago Bernabeu, Madrid, Kamis (17/4/2025) dini hari WIB.

Tidak ada satu pun tembakan tepat sasaran dari Real pada babak pertama. Kreativitas Jude Bellingham yang bertugas sebagai gelandang serang terkunci. Satu-satunya kejadian yang membuat pendukung Real membuncah pada babak pertama adalah saat Kylian Mbappe dilanggar Declan Rice di dalam kotak penalti Arsenal. Wasit sempat menunjuk titik putih serta memberi Rice kartu kuning. Namun setelah meninjau kembali tayangan ulang, wasit Francois Letexier mencabut keputusannya.

Performa Real di laga ini berbeda dengan Arsenal yang tampil efektif. Meski solid serta terorganisasi dalam bertahan, Arsenal tetap bisa membahayakan pertahanan Real. Peluang emas diperoleh Arsenal saat Merino dijatuhkan Raul Asencio di kotak penalti.

Akan tetapi, Bukayo Saka yang menjadi eksekutor gagal menjalankan tugasnya. Kiper Real, Thibaut Courtois, mengatakan, keberhasilannya menghentikan penalti Saka sempat medongkrak kepercayaan diri rekan setimnya bahwa remontada masih mungkin terjadi.

”Ketika Anda dijatuhi hukuman penalti tetapi berhasil menyelamatkannya, keyakinan bahwa Anda bisa melakukannya tumbuh. Saya pikir di awal pertandingan kami menciptakan sedikit bahaya. Para pendukung benar-benar memotivasi kami. Namun Arsenal adalah tim yang sangat terorganisasi dan bertahan dengan baik. Pemain sayap dan penyerang mereka bekerja keras,” ujar Courtois.

Penebusan Saka

Saka kemudian membayar kegagalan penaltinya dengan mencetak gol pembuka kemenangan Arsenal pada menit ke-65. Kombinasi Odegaard dan Merino menarik dua pivot Real, Dani Ceballos dan Aurelien Tchouameni, sehingga tercipta jalur umpan. Merino melepaskan umpan mendatar yang mampu dioptimalkan Saka.

Keunggulan Arsenal tidak bertahan lama. Vinicius Junior membuat seisi Bernabeu bergemuruh dengan golnya dua menit berselang. Pemain timnas Brasil itu memanfaatkan kelengahan William Saliba dalam mengontrol bola.

Spain Soccer Champions League

Kebutuhan untuk terus menekan Arsenal membawa petaka bagi Real. Momen transisi dari menyerang ke bertahan tidak berjalan mulus menjelang akhir laga. Gabriel Martinelli, yang memenangi duel sprint dengan Fran Garcia, memanfaatkan ruang terbuka di pertahanan Real dari momentum tersebut untuk mengunci kemenangan Arsenal.

”Banyak pembicaraan di sini tentang (Real) yang akan bangkit karena mereka telah melakukannya berkali-kali sebelumnya. Tetapi, kami memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang besar sejak pertandingan pertama untuk datang ke sini dan memenangi pertandingan. Kami tahu akan menderita, tetapi kami juga tahu akan menang. Kami menyimpannya dalam pikiran kami dan sekarang kami telah melakukannya dalam kehidupan nyata,” kata Rice.

Berkat kemenangan ini, Arsenal menjejakkan kaki di semifinal Liga Champions ketiga mereka. Di semifinal, pasukan Mikel Arteta sudah dinanti Paris Saint-Germain yang pada laga sebelumnya menyingkirkan Aston Villa. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari