Didahului Liverpool, Arsenal Spesialis Pendamping Juara Liga Inggris

Setelah mendampingi City dua musim beruntun, Arsenal melakukan hal serupa ke Liverpool pada musim ini. Mengapa Arsenal kembali berada di bayang-bayang tim juara?

28 Apr 2025 19:13 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Hasil yang sudah diperkirakan sejak beberapa pekan ke belakang akhirnya terjadi. Liverpool menjuarai Liga Inggris, sementara Arsenal mendampingi di peringkat kedua. Bagi Liverpool, prestasi itu adalah kejutan manis di musim pertama pelatih Arne Slot. Berbeda dengan situasi batin Arsenal yang terjebak dalam perjalanan monoton.

Sudah tiga kali beruntun, Arsenal berada di peringkat kedua ketika persaingan gelar juara dipastikan rampung. Mereka ”mengantarkan” Manchester City pada musim 2022-2023 dan 2023-2024, serta Liverpool pada musim ini. Trofi liga terasa dekat bagi Arsenal, tetapi kenyataannya masih begitu jauh bagai fatamorgana.

Tanpa City dalam pacuan gelar teranyar, Arsenal di atas kertas bisa mengambil takhta tertinggi. Namun, mereka justru tertinggal 15 poin dari Liverpool dengan empat laga tersisa. ”Performa mereka di liga mengecewakan. Melihat perkembangan beberapa musim terakhir, hasil musim ini adalah kemunduran,” kata Gary Neville, mantan pemain tim nasional Inggris dalam acara NBC Sports.

Jika tidak membahas konteks lebih dalam, seperti problem cedera, ucapan Neville benar. Kemunduran terlihat dari potensi poin maksimal Arsenal pada akhir musim, hanya 79 poin. Itu pun dengan syarat mereka menyapu bersih empat laga terakhir. Standar tersebut menurun dibandingkan 2022-2023 (84) dan 2023-2024 (89).

Masalah terbesar ”Si Meriam” adalah terlalu banyak hasil imbang, sudah 13 kali. Berbagi poin memang tidak terlalu buruk daripada kalah. Apalagi jika dipakai untuk konteks kejayaan Arsenal pada musim 2003-2004 saat juara liga dengan status tidak terkalahkan. Mereka mencatat 12 kali hasil imbang ketika itu.

Liverpool's Dutch manager Arne Slot reacts as Liverpool's Dutch defender #04 Virgil van Dijk (L) and Liverpool's English midfielder #19 Harvey Elliott spray him with champagne after the English Premier League football match between Liverpool and Tottenham Hotspur at Anfield in Liverpool, north west England on April 27, 2025. Liverpool won the match 5-1, making them the winners of the Premier League title. (Photo by Paul ELLIS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Namun, raihan satu poin sama sekali tidak cukup untuk tim yang sedang mengejar pemuncak klasemen. Apalagi, menurut Opta, Arsenal ditahan imbang sebanyak sembilan kali setelah unggul lebih dulu. Artinya mereka kehilangan 18 poin yang sudah di dalam genggaman.

Problematika itu terangkum dalam laga Arsenal versus Crystal Palace pada Kamis (24/4/2025). Mereka unggul dua kali, tetapi laga berakhir imbang 2-2. Manajer Arsenal Mikel Arteta mengatakan, terlalu banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. ”Selisih pembeda dalam banyak laga terlalu kecil,” ujarnya.

”Terkadang, kami harus memberikan kredit kepada tim lawan. Akan tetapi, fakta juga bahwa kami tampil lima kali dengan sepuluh pemain musim ini (karena kartu merah). Hal yang pasti, kami bisa melakukan hal yang lebih baik di masa lalu, apalagi ketika sudah dalam posisi unggul,” lanjut Arteta.

”Membunuh” lawan

Ketika tim tidak bisa menjaga keunggulan, sorotan pasti tertuju ke pertahanan. Uniknya, Arsenal tidak terlihat bermasalah di lini belakang. Bisa dilihat di klasemen, Martin Odegaard dan rekan-rekan mencatat kemasukan paling sedikit dengan hanya 29 gol. Pertahanan itu yang justru membuat mereka masih berada di dua besar.

Quote

Saya pikir kami bisa jauh lebih dekat dengan Liverpool jika punya striker yang bisa memanfaatkan peluang. Arsenal membutuhkan satu sosok seperti itu.

Permasalahan Si Meriam justru terletak di serangan. Mereka sering kali gagal menggandakan keunggulan dan beradu nasib dengan skor tipis. Problem tecermin dari produktivitas sepanjang musim yang baru mencapai 63 gol. Jumlah itu hanya satu gol lebih banyak dibandingkan dengan milik peringkat ke-16 Tottenham Hotspur.

Arteta pernah berkata saat periode awal memimpin Arsenal, butuh setidaknya 90-100 gol dalam semusim untuk menjuarai liga. Mereka mencetak 91 gol pada musim lalu dan 88 gol pada musim lalu. Musim ini, dari rerata selama 34 pekan, mereka hanya diproyeksikan menyentuh 70 gol. Penurunan itu sangat drastis.

Gol tersebut sangat penting karena berhubungan dengan manajemen laga. Arteta selalu meminta tim asuhannya bermain agresif setelah unggul. Artinya, pertahanan mereka akan terbuka saat tim lawan berupaya lebih agresif mencari gol. Jika tidak mampu mencetak gol tambahan, peluang kebobolan otomatis lebih besar.

Reaksi manajer Arsenal Mikel Arteta saat memprotes ofisial keempat setelah pemain Arsenal Leandro Trossard mendapat kartu merah saat pertandingan Liga Inggris antara Manchester City dan Arsenal di stadion Etihad di Manchester, Inggris, Minggu, 22 September 2024. AP/DAVE THOMPSON

Ian Wright, penyerang legendaris Arsenal pada era 1990-an, mengatakan, masalah itu akan terselesaikan dengan kehadiran striker. ”Saya pikir kami bisa jauh lebih dekat dengan Liverpool jika punya striker yang bisa memanfaatkan peluang. Arsenal membutuhkan satu sosok seperti itu. Kami harus mencari kepingan itu di musim panas,” ujarnya.

Penyerang tajam memang sering disebut sebagai kepingan terakhir yang hilang dari skuad Arsenal. Lihat saja daftar pencetak gol terbanyak, tidak ada pemain Arsenal di posisi 15 teratas. Padahal, mereka adalah tim peringkat kedua. Pencarian striker, menurut The Athletic, merupakan prioritas utama direktur olahraga baru Andrea Berta.

Minim kreasi

Meskipun begitu, jika dilihat lebih luas, striker bukan satu-satunya masalah tim asuhan Arteta. Produktivitas mereka berada di bawah standar karena terdampak dari penurunan kreasi peluang. Berdasarkan data FBref, Arsenal mencatat angka 53 xG (expected goals) atau hanya berada di peringkat ketujuh terbanyak.

Efisiensi bukan persoalan jika melihat perbandingan jumlah gol dan angka xG. Arsenal bisa mencatat surplus 10 gol lebih banyak dibandingkan dengan angka xG. Artinya penyelesaian akhir tim baik-baik saja. Namun, jumlah peluang memang sangat kurang, apalagi jika dibandingkan dengan Liverpool (74,4 xG).

Arsenal selalu kesulitan ketika menghadapi tim-tim papan tengah atau bawah yang lebih cenderung bertahan sangat dalam. Mereka sudah tiga kali kalah musim ini, masing-masing dari Newcastle United, Bournemouth, dan West Ham United. Tidak satu pun dari tim-tim berstatus ”Enam Besar Klasik”.

Skema permainan ala Arteta berbasis penguasaan bola. Mereka membutuhkan pemain yang bisa memercik peluang di ruang sempit. Masalahnya, mereka terlalu bergantung pada sistem di sisi kanan yang diisi gelandang Martin Odegaard dan penyerang sayap Bukayo Saka. Saat keduanya bergantian cedera pada musim ini, total absen sekitar enam bulan, Si Meriam kelimpungan.

Cedera memang sulit dihindari, bisa datang kapan saja. Akan tetapi, dampaknya bisa dikurangi dengan perekrutan pemain yang lebih baik. Arsenal butuh pemain yang mampu menghasilkan peluang dari area lain, terutama sisi kiri, serta menemukan pelapis sepadan untuk Odegaard ataupun Saka.

Terakhir kali Arsenal juara adalah pada musim 21 tahun silam. Salah satu pemain yang terlibat dalam momen kejayaan itu adalah bek legendaris Martin Keown. Menurut dia, ada hal positif yang bisa diambil dari musim ini. Keown dan rekan-rekan juga tiga kali menjadi runner-up liga pada 1999-2001, sebelum juara pada musim berikutnya.

Arsenal's Gabriel Martinelli, right, celebrates scoring their side's second goal of the game during the English Premier League soccer match between Ipswich Town and Arsenal at Portman Road, Ipswich, England, Sunday, April 20, 2025. (John Walton/PA via AP)

”Saya berada di situasi yang mirip. Kami tiga tahun berturut-turut finis di belakang Manchester United. Itu membuat kami harus bertanya kepada diri sendiri. Anda harus memiliki tim yang kuat dan saya pikir Arsenal memilikinya. Pondasi (untuk juara) ada di sana,” tutur Keown kepada TalkSport.

Setidaknya, bagi penggemar Arsenal, era Arteta lebih baik dibandingkan dengan masa kepemimpinan Arsene Wenger pada 2010-an. Si Meriam naik kelas dari tim spesialis peringkat keempat jadi runner-up. Masalahnya, capaian peringkat kedua yang bisa dibanggakan pada musim ini pun masih bisa hilang dari genggaman. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto