Arsip Foto ”Kompas”: BBM Nonsubsidi di Tengah Lonjakan Harga

Tren konsumsi BBM nonsubsidi menunjukkan sinyal positif. Lonjakan harga yang signifikan dampak dari krisis energi global saat ini jadi ujian dalam kebijakan energi.

22 Apr 2026 10:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Priyombodo

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Perang di Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah berdampak luas pada krisis energi. Penutupan Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian distribusi energi dan membuat rantai pasok energi dunia menghadapi masalah yang serius, yaitu harga minyak dunia yang melonjak.

Di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah telah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pemerintah mengeluarkan aturan yang memperketat penyaluran BBM bersubsidi dan BBM penugasan mulai 1 April 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 024/KOM/BPH.DBBM/2026 tentang Pengendalian Penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite (RON 90).

Sementara untuk BBM nonsubsidi, pemerintah telah mengambil langkah dengan melakukan penyesuaian harga setelah pemerintah memutuskan menaikkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Maret. ICP Maret 2026 ditetapkan sebesar 102,26 dolar AS per barel, melonjak dari 68,79 dolar AS per barel pada Februari. Hal tersebut berdampak pada harga BBM nonsubisidi atau BBM beroktan tinggi yang mengalami kenaikan signifikan.

Papan informasi harga untuk beberapa jenis bahan bakar minyak di salah satu SPBU di jalan Gator Subroto, Jakarta, yang telah berbuah seiring Kebaikan harga, Sabtu  (18/4/2026). Tiga jenis BBM mengalami kenaikan harga per 18 April 2026. Kenaikan harga BBM ini terjadi pada Pertamax Turbo dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter, Pertamina DEX dari harga Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter, dan Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
18-4-2026

Penyesuaian harga itu diumumkan PT Pertamina Patra Niaga, selaku operator penjual BBM milik pemerintah, pada Sabtu (18/4/2026). Penyesuaian harga dilakukan untuk BBM beroktan tinggi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Di wilayah Jakarta, Pertamax Turbo yang memiliki nilai oktan atau RON 98 naik dari harga Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Sementara untuk produk diesel, harga Dexlite naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter dan Pertamina Dex naik dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter. Adapun harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) untuk sementara tidak berubah, masing-masing tetap Rp 12.300 dan Rp 12.900 per liter.

Kenaikan harga yang signifikan itu cukup mengejutkan konsumen meski kondisi ini sudah diperkirakan sebelumnya. Dalam perbincangan dengan para pengguna kendaraan diesel yang memakai BBM nonsubsidi, mereka sekarang mesti merogoh kocek lebih untuk mengisi bahan bakar.

Sebagai ilustrasi, bagi pengguna Toyota Innova Reborn yang memiliki kapasitas tangki BBM 55 liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 1.314.500 untuk mengisi penuh tangki menggunakan Pertamina Dex. Sementara pengguna Toyota Fortuner yang memiliki kapasitas tangki 80 liter mesti mengeluarkan biaya Rp 1.912.000 untuk mengisi penuh tangki BBM menggunakan Pertamina Dex.

Saat ini, Pertamina memiliki sejumlah produk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Dari produk-produk tersebut, Pertamax merupakan produk yang paling awal diluncurkan.

Mengutip laman Pertamina Patra Niaga, Pertamax pertama kali diluncurkan pada 10 Desember 1999 untuk menggantikan Premix dan Super TT. Produk ini direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi 9,1-10,1, terutama yang sudah mengadopsi teknologi setara dengan electronic fuel injection (EFI) dan catalytic converter.

 

Berita Kompas terkait peluncuran bensin Premix

Premix

Pada era 1980-an hingga 1990-an, Super dan Premix merupakan produk bensin dengan oktan tinggi yang dijual Pertamina. Bensin Super yang kemudian menjadi Super TT (Tanpa Timbal) dan memiliki RON-98 digantikan oleh Premix yang mulai diluncurkan pada Mei 1990.  

Premix-92 merupakan hasil pencampuran bensin beroktan 88 (RON-88) dengan MTBE (methyl, tertiary, butyl, ether). Namun, karena Pertamina hanya menjual bensin RON-88, pencampuran itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta.

Lima perusahaan yang telah ditunjuk untuk melakukan pencampuran Premix itu adalah PT Elnusa, PT Humpuss, PT Panutan Salaras, PT Sinar Pedoman Abadi, dan PT Giga Intra. Kelima perusahaan itu sejak awal bulan Mei telah memesan sekitar 10.000 kiloliter (kl) bensin premium RON-88 kepada Pertamina untuk dicampur dengan MTBE menjadi Premix-92. Saat diluncurkan pertama kali, Premix-92 dijual dengan harga Rp 495 per liter (Kompas, 20 Mei 1990).

Sejak pukul 10.00 WIB sejumlah SPBU di Jakarta, seperti di Jalan Palmerah Barat ini, sudah kehabisan persediaan premium, solar, dan bahkan juga bensin campur 2 tak. Akibatnya, para pemilik mobil dan motor harus rela antre berjam-jam untuk membeli Premix atau Super TT, 25 Juli 2000

Premix-92 kemudian digantikan oleh Premix-94 yang dijual pertama kali dengan harga Rp 700 per liter.

Kehadiran Premix-94 saat itu mendapat sambutan positif, terutama dari konsumen yang umumnya masih mengeluh tentang Premix-92. Mutu Premix-92 dinilai kurang baik dibandingkan bensin super, yang telah dihapus.

<p>Premix, bensin campur beroktan 92 yang menggantikan Super-98, mulai dijual di SPBU di wilayah DKI Jakarta,  20 Mei 1990. KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF</p><p>Harga BBM jenis bensin Premix dan Super TT dinaikkan, yakni untuk Premix dari Rp 1.300 menjadi Rp 1.500 per liter, dan Super Tanpa Timbel (TT) dari Rp 1.400 menjadi Rp 1.600 per liter mulai pukul 00.00 WIB, Sabtu 8 April 2000. KOMPAS/EDDY HASBY</p><p>Seorang pengendara sepeda motor mengisi bensin premix ke dalam tangki skuternya di salah satu SPBU di Binjai, Sumatera Utara, 23 April 1991. KOMPAS/MARKUS DUAN ALLO</p>

Premix, bensin campur beroktan 92 yang menggantikan Super-98, mulai dijual di SPBU di wilayah DKI Jakarta, 20 Mei 1990. KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Harga BBM jenis bensin Premix dan Super TT dinaikkan, yakni untuk Premix dari Rp 1.300 menjadi Rp 1.500 per liter, dan Super Tanpa Timbel (TT) dari Rp 1.400 menjadi Rp 1.600 per liter mulai pukul 00.00 WIB, Sabtu 8 April 2000. KOMPAS/EDDY HASBY

Seorang pengendara sepeda motor mengisi bensin premix ke dalam tangki skuternya di salah satu SPBU di Binjai, Sumatera Utara, 23 April 1991. KOMPAS/MARKUS DUAN ALLO

Pada bulan Mei 1990, menjelang penghapusan bensin Super, Super menguasai sekitar 6 persen dari penjualan Premium.

Namun, memasuki dua tahun setelah dipasarkan, penjualan Premix merosot tajam dan hanya menguasai 2,5 persen dari penjualan Premium. Padahal, populasi mobil yang membutuhkan bensin beroktan tinggi mulai meningkat.

Sebuah SPBU di wilayah DKI Jakarta, Rabu, 13 November 1996. Seluruh SPBU di wilayah Jakarta dan Jabar oleh Pertamina diwajibkan menggunakan sistem digital paling lambat Juli 1997.

 

Variasi produk BBM nonsubsidi

Kehadiran Pertamax dan Pertamax Plus pada awal 2000-an menjadi satu terobosan dan memberikan persepsi baru tentang penggunaan bahan bakar berkualitas. Meski mendapat sambutan positif, tetap saja isu sensitif seperti kenaikan harga sangat berpengaruh dalam konsumsi.

Fluktuasi harga Pertamax dan Pertamax Plus saat itu membuat sebagian besar konsumen dengan cepat beralih pada penggunaan jenis bahan bakar lain yang lebih murah. Sebab, harga jual Pertamax dan Pertamax Plus mengikuti harga Mid Oil Platts Singapore (MOPS).

”Nanti harganya mengikuti MOPS, ditambah pajak. Kalau harga rata- rata minyak naik, harga Pertamax ikut naik. Sebaliknya, kalau turun juga ikut turun,” kata Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Arie Soemarno (Kompas, 20 Agustus 2005).

Terhitung mulai 19 Desember 2004 pukul 00.00, Pertamina menaikkan produk bahan bakar khusus Pertamax sebesar 63,2 persen, yaitu dari Rp 2.450 per liter menjadi Rp 4.000 per liter dan 52,7 persen untuk Pertamax Plus dari Rp 2.750 per liter menjadi Rp 4.200 per liter. Salah satu SPBU yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, kehabisan stok Pertamax, 19 Desember 2004. *** Local Caption ***

Pada 1 September 2005, pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.700 per liter dan Pertamax Plus dari Rp 4.200 menjadi Rp 5.900 per liter. Kenaikan harga membuat konsumen bahan bakar tersebut beralih ke Premium yang harganya jauh lebih murah. Permintaan terhadap Premium pun melonjak.

Meski belum sampai mengakibatkan kelangkaan Premium, meningkatnya permintaan ini membuat stok Premium di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di beberapa kota, seperti di Semarang, habis lebih cepat dari biasanya (Kompas, 5 September 2005).

Turunnya konsumsi dua jenis BBM nonsubsidi itu mendorong Pertamina menurunkan harga sebesar 3 persen pada akhir November 2005 atau dua bulan setelah kenaikan. Pertamax dijual Rp 5.500, sedangkan Pertamax Plus Rp 5.700. Pada Agustus 2005, Pertamina juga meluncurkan produk solar super berlabel Pertamina Dex yang dipasarkan dengan harga Rp 6.300 per liter.

Penari membawakan Tari Sekar Jagat saat peluncuran pertama kali bahan bakar Pertamina Pertamax Plus untuk wilayah Bali di SPBU COCO 51.80130 Denpasar, Bali. Setelah meluncurkan pertamax plus, bahan bakar mesin bensin dengan oktan 95, Pertamina juga akan meluncurkan Pertamina Dex untuk mesin diesel bagi konsumennya di wilayah Bali, 2 Oktober 2010.
Pertamina meluncurkan solar ramah lingkungan untuk mesin diesel di Jakarta. Bahan bakar ini dinamai Pertamina DEX (Diesel Enviroment Extra) yang kualitasnya setara Pertamax dan dijual Rp 6.300/liter, 15 Agustus 2005
Pengisian bahan bakar di SPBU Coco Abdul Muis, Jakarta. Pengaturan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi akan dilaksanakan akhir Maret 2011. Menjelang pelaksanaan kebijakan itu, Pertamina menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan, seperti tambahan tangki untuk BBM jenis pertamax, di sejumlah SPBU, 15 Desember 2010

Memasuki awal 2006, persaingan di antara peritel bensin super di Indonesia mulai menghangat dengan masuknya peritel baru. Terhitung 1 November 2005, Pertamina bukan lagi monopoli di bisnis ritel bensin oktan tinggi dengan masuknya Shell yang menjual bensin berlabel Shell Super. Shell membuka SPBU yang pertama di Lippo Karawaci, Tangerang.

Menyusul kemudian pada 20 Desember 2005, perusahaan migas Malaysia, Petronas, mengoperasikan SPBU mereka di Cibubur. Kedua perusahaan asing itu mematok harga jual yang sama dengan Pertamina. Namun, dalam perkembangannya, Petronas kemudian resmi mundur dari bisnis SPBU di Indonesia. Pada 1 Januari 2006, Pertamina kembali menurunkan harga dua jenis bensin super. Harga Pertamax dari Rp 5.400 turun menjadi Rp 5.000, sedangkan harga Pertamax Plus dari Rp 5.700 menjadi Rp 5.200.

Petugas mengisi Pertamax di SPBU khusus BBM nonsubsidi di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pertamina meresmikan SPBU khusus BBM nonsubsidi untuk menggenjot penggunaan BBM nonsubsidi di kalangan masyarakat kelas menengah ke atas, 12 Juli 2012.
Petugas mengisi BBM nonsubsidi Pertamax ke bajaj di SPBU kawasan Cikini, Jakarta Pusat, 2 April 2012
Petugas di salah satu SPBU 34-40335 di Jalan Raya Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengganti angka nominal label harga Pertamax seiring turunnya harga bahan bakar Pertamax dari Rp 10.550 menjadi Rp 9.850 per liter, 1 April 2013.
Karyawan melakukan tera takaran BBM secara rutin di SPBU Pertamina di kawasan Kuningan, Jakarta, 29 Desember 2015.
Sebuah pengumuman berisi stok bahan bakar subsidi habis dipasang di SPBU Pertamina di Jalan Wastukancana, Bandung, Jawa Barat, 26 Agustus 2014.
Produk BBM nonsubsidi dalam kemasan diperlihatkan di Terminal BBM Jakarta Group PT Pertamina (Persero), Plumpang, Jakarta Utara. Produk kemasan BBM nonsubsidi yang terdiri dari Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex untuk mengantisipasi antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) saat mudik Lebaran, 31 Juli 2013.
Pengisian Pertamax Plus di SPBU HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, 1 Februari 2011.
General Manager Pemasaran BBM Retail PT Pertamina Unit Pemasaran II Denni Wisnuwardani mengisikan Pertamax ke dalam tangki mobil pembeli di salah satu SPBU di Bandar Lampung. Demi efisiensi biaya pengangkutan dan peningkatan penjualan, Pertamax yang sebelumnya dikirim dari Depot Kertapati Palembang melalui jalan darat sekarang dikirim dari Depot Balongan Cilacap ke Depot Panjang di Lampung menggunakan tanker, 6 Maret 2008.
Kelangkaan bahan bakar minyak, terutama Premium dan Pertamax, terjadi di sejumlah SPBU di Kota Solo, Jawa Tengah, salah satunya di SPBU Jalan Bhayangkara. Kelangkaan ini disebabkan keterlambatan pengiriman oleh mobil tangki ke SPBU, 4 Januari 2009.
Harga baru BBM nonsubsidi tertera di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta Barat, Kamis 3 Maret 2022. PT Pertamina (Persero) kembali menyesuaikan harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex yang berlaku mulai 3 Maret 2022. Kenaikan harga tersebut beragam di tiap wilayah atau provinsi, berkisar Rp 500-Rp 1.100 per liter. Selain meningkatnya permintaan minyak global, krisis di Rusia-Ukraina turut memicu kenaikan harga menjadi lebih tinggi.

Tren positif

Pertamax, yang diperkenalkan sebagai BBM beroktan tinggi sejak sekitar 26 tahun lalu, menjadi awal dari peralihan ke konsumsi BBM nonsubsidi yang lebih berkualitas. Hal itu diikuti dengan kehadiran produk-produk BBM nonsubsidi lainnya. Pertamax Turbo yang memiliki RON 98 diluncurkan pada Agustus 2016.

Produksi Pertamax Turbo ini merupakan kerja sama Pertamina dan Lamborghini, produsen mobil ternama dunia dari Italia. Teknologi yang digunakan adalah Ignition Boost Formula (IBF) dan dirancang untuk kendaraan dengan mesin berteknologi tinggi. Saat pertama kali diluncurkan, Pertamax Turbo yang menggantikan Pertamax Plus dijual dengan harga Rp 8.700 per liter.

Kemudian Pertamax Green, yang merupakan campuran gasolin dengan etanol 5 persen/E5 (bioetanol dengan bahan baku tetes tebu), diluncurkan Pertamina pada Juli 2023. Pada fase awal, produk itu hanya dipasarkan terbatas di 17 SPBU di Jakarta dan Surabaya.

Mesin kendaraan modern menuntut bahan bakar yang tidak hanya menghasilkan tenaga, tetapi juga meminimalkan residu dan emisi. Produk BBM nonsubsidi turut menjadi bagian dari upaya transisi energi meski masih bersumber dari bahan bakar fosil.

Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran tren konsumsi BBM nonsubsidi, yang lebih berkualitas, telah menunjukkan sinyal positif. Namun, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang tidak merata juga patut diantisipasi agar disparitas harga yang cukup lebar itu tidak mendorong konsumen membeli BBM dengan harga lebih murah, termasuk kemungkinan beralih ke BBM subsidi.

Ahmad (41) petugas pelayanan keliling menuangkan bahan bakar pertamax ke tangki sebuah mobil konsumen di Rest Area KM 57 Tol Cikampek, Karawang, Jawa Barat, 19 Desember 2017.
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar di Pertashop Pertamina di Cengkareng, Jakarta Barat. Pertashop merupakan geral penyalur resmi Pertamina yang menjual bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax dan Dexlite, LPG nonsubsidi dan produk ritel Pertamina lainnya, 9 Februari 2022

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar