Cibaduyut pernah menjadi patron pembuatan sepatu di Tanah Air. Kini, industri sepatu Cibaduyut tengah berjuang untuk bangkit kembali.
08 Okt 2025 08:05 WIB · Ekonomi & Bisnis
Bagi sebagian besar orang, istilah ”Sepatu Cibaduyut” mungkin sudah tidak asing lagi. Sebutan ini merujuk pada sepatu produksi lokal yang pada awalnya dibuat oleh para perajin dalam skala industri rumahan di Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat.
Jauh sebelum tenar sebagai sentra sepatu, geliat industri alas kaki di Cibaduyut sebenarnya telah dimulai sekitar tahun 1920 dan mulai dikenal luas pada dekade 1940-an.
Proses pembuatan sepatu dilakukan oleh para perajin di bengkel-bengkel kecil yang terletak di gang-gang sempit. Di sanalah mereka berbagi tugas: ada yang khusus mengerjakan cetakan dan sol sepatu, sementara kelompok lainnya fokus menggabungkan berbagai komponen, seperti sol, lidah, dan kulit sepatu menjadi produk jadi. Hasil produksi ini kemudian diperdagangkan di toko-toko yang berjejer di sepanjang Jalan Raya Cibaduyut. Sebagian lainnya dikirimkan kepada para pemesan, baik dari Kota Bandung dan sekitarnya maupun dari kota-kota lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/3edebf56-ba90-4b85-ad7e-1e3f5ee4173d_jpg.jpg)
Dalam perjalanan waktu yang panjang, industri sepatu Cibaduyut mengalami pasang surut, termasuk masa-masa keemasannya. Puncak kejayaan itu salah satunya terjadi pada kurun 1970-1980-an.
Pada era tersebut, sepatu Cibaduyut merajai toko-toko di berbagai sudut Kota Bandung, mulai dari Jalan Braga, Jalan Asia Afrika, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Sudirman, hingga Banceuy. Mereknya pun beragam dan banyak yang menggunakan nama-nama asing, seperti Pacific, Person, Mercy, Commodore, Brother’s, Radiance, dan Italy.
Uniknya, ada pula merek yang berbau Jepang seperti Kogawa, yang sebenarnya merupakan singkatan dari ”Kebon Lega Warga”, serta Japan yang merujuk pada ”Jalan Leuwi Panjang”. Tak jarang, di rak-rak pajangan ditambahkan tulisan ”High Class” atau ”Best Quality Shoes” untuk menarik minat. Penggunaan nama asing ini bukan tanpa alasan. Kala itu, banyak pembeli yang lebih bangga menggunakan produk yang terkesan dari luar negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/676801db-ad74-4f27-b2f4-2694d1a1fd56_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/fa49185d-1219-4e50-9943-cc1a05b908f5_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/ae02db39-4bed-4a4c-af2b-f28cfa63b427_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/13fcb34d-ff9f-4400-991b-da2c97d80b92_jpg.jpg)
Ketenaran sepatu Cibaduyut tidak hanya terbatas di pasar domestik, tetapi juga mulai dilirik oleh pasar luar negeri, terutama dari Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah. Melalui Koperasi Produksi Sepatu Indonesia (Kopsi) Cibaduyut, produk lokal ini bahkan pernah dipesan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan untuk Korps Wanita ABRI (Kowabri), sebagaimana dilaporkan harian Kompas pada 7 Januari 1981.
Dikerjakan dalam lingkup industri rumahan, jumlah pelaku usaha di sentra ini terus meningkat. Pada pertengahan 1984, tercatat ada sekitar 650 perajin sepatu di Cibaduyut dan sekitarnya. Setiap perajin rata-rata mempekerjakan 5-6 karyawan per hari, dengan total produksi mencapai sekitar dua juta pasang sepatu dari berbagai jenis setiap tahunnya. Salah satu faktor pendukung pesatnya industri ini adalah ketersediaan tenaga kerja yang mudah dan murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/1f448dd8-5671-46a6-a607-8779048cf980_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/c1926801-3520-4065-bf70-7ba94740ecd3_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/2461f09c-d8b7-4ec2-b36c-2ea50a71f951_jpg.jpg)
Memasuki dekade 1990-an, sentra sepatu Cibaduyut terus melaju. Namun, seiring perkembangannya, berbagai masalah pun mulai muncul. Persoalan ini menyangkut dinamika hubungan subkontrak antara pemilik toko dan pengusaha bengkel, hubungan dengan pemasok bahan baku, hingga isu kesejahteraan tenaga kerja (tukang) yang terlibat dalam industri tersebut.
Masalah yang dihadapi pelaku usaha menjadi semakin pelik ketika harga bahan baku melonjak. Krisis moneter yang melanda sejak 1997 membuat para perajin tak berdaya. Harga komponen, seperti karet dan kulit imitasi, membubung tinggi, sementara harga jual sepatu dari perajin ke toko tidak berubah.
Kenaikan harga bahan baku pada Agustus–September 1997 mencapai 15 persen, lalu melonjak menjadi 40 persen sejak Oktober 1997. Kondisi ini terus memburuk hingga Juli 1998 ketika harga bahan baku meroket hingga 300 persen. Tak ayal, banyak usaha yang akhirnya memilih berhenti berproduksi atau gulung tikar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/93177878-e483-4385-8833-b1787a96879a_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/698b2c67-a17e-47a3-845e-7936e752f7ef_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/bad6cbc8-c37c-4ada-8f05-ec72fbb5263b_jpg.jpg)
Krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia pada pengujung 1990-an hingga awal 2000-an turut memberikan dampak besar. Kawasan Cibaduyut yang dulu dikenal sebagai primadona sentra sepatu di Kota Bandung mulai ditinggalkan, mengakibatkan omzet toko-toko yang masih bertahan menurun hingga 50 persen.
Berdasarkan catatan Kompas pada Maret 2002, harga sepatu di Cibaduyut saat itu berkisar antara Rp 20.000 dan Rp 125.000 per pasang untuk sepatu wanita dan Rp 40.000 hingga Rp 250.000 untuk sepatu pria.
Meskipun banyak pengusaha dan perajin yang terpuruk, bisnis alas kaki di Bandung dan Jawa Barat pada umumnya tetap berjalan. Namun, tantangan yang dihadapi semakin berat, mulai dari pandemi Covid-19 hingga serbuan sepatu impor pabrikan dari China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/15054199-f0e6-44f9-9112-b01e0790d9e2_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/3dd0646e-3835-4c8f-b377-de44be24f2a4_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/58710241-f332-447d-8bda-122af97d0467_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/37c6e3ef-b4a9-46d5-a2d2-e4ef6fae7c58_jpg.jpg)
Kini, industri sepatu Cibaduyut, yang pernah menjadi kiblat pembuatan sepatu di negeri ini, tengah berjuang untuk kembali bangkit dan menata masa depannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/990444d6-1f6e-40de-8d3c-c4b6eb8a431d_jpg.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra