Pada tahun 1968 hanya tercatat 27.000 dermawan darah di seluruh Indonesia. Jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.
14 Jun 2025 10:09 WIB · Foto Cerita
Donor darah, sebuah tindakan sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa, telah menjadi bagian penting dari sistem kesehatan di Indonesia. Di balik keberhasilan ini, terdapat cerita tentang tantangan, dedikasi, dan komitmen dari berbagai pihak yang terlibat. Perkembangan donor darah di Indonesia sejatinya telah dimulai sejak awal revolusi. Pada saat itu kebutuhan akan darah untuk transfusi semakin meningkat, terutama untuk korban perang dan kecelakaan. Pada masa itu, donor darah masih dilakukan secara sporadis dan tidak terorganisasi dengan baik. Palang Merah Indonesia (PMI), yang didirikan pada 17 September 1945, bertugas membantu korban perang dan memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk donor darah.
Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan donor darah makin intensif dilakukan masyarakat untuk membantu ketersediaan stok darah. Gerakan donor darah digalakkan oleh pemerintah melalui PMI dengan menggelar aksi di berbagai tempat.
Mengutip pemberitaan Kompas pada 17 Desember 1969, dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia masih terbelakang dalam jumlah dermawan darahnya. Pada tahun 1968 hanya tercatat 27.000 dermawan di seluruh Indonesia. Bila tiap donor menyumbangkan darah 250 cc sampai 400 cc, jumlah itu tidak terlalu banyak.
Di Turki, jumlah dermawan darah mencapai 105.000 orang. Sementara di Belanda 4 persen dari penduduknya adalah donor dan di Amerika Serikat tercatat 3 juta orang menjadi donor.
Sejarah donor darah di Indonesia juga diwarnai aksi yang memprihatinkan, yakni praktik jual-beli darah. Persoalan praktik jual-beli darah ini salah satunya diangkat dalam berita utama Harian Kompas yang terbit pada Kamis, 8 Mei 1969. Artikel itu mengisahkan praktik perdagangan darah semakin meningkat di Jakarta. Satu botol darah segar berkisar 200 cc hingga 300 cc yang belum mengalami pengolahan untuk kegunaan transfusi dapat laku Rp 10.000.
Umumnya donor darah yang disediakan oleh para calo tersebut diperoleh dari tukang becak atau para pekerja kasar lain. Mereka hanya dibayar ratusan rupiah oleh para calo. Namun, tidak jarang darah yang diperoleh dari donor calo tersebut akhirnya tidak terpakai dan terpaksa dibuang karena setelah diperiksa laboratorium mengandung penyakit.
Kepala Pusat Dinas Dermawan Darah (saat ini bernama Unit Transfusi Darah) PMI Jakarta Dr Masri Rustam menyampaikan keprihatinannya atas maraknya pengobyekan darah oleh para calo dan hal itu perlu segera diatasi. Salah satu langkah yang ditempuh Dinas Dermawan Darah adalah melonggarkan ketentuan penggantian darah bagi setiap pengambilan darah melalui Dinas Dermawan Darah. Namun, cara yang lebih efektif sebenarnya adalah membangkitkan minat masyarakat untuk menjadi donor tetap. Berdasarkan kartu donor yang ada di PMI Jakarta, terdaftar 40.000 donor. Namun, hanya 400-500 orang yang datang teratur untuk donor darah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/13/0d6a630c-6e19-4a76-8593-1fcdd55f26d5_jpg.jpg)
Praktik jual-beli darah itu juga mendapat kecaman dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Saat memberikan tanda penghargaan dan medali emas kepada donor darah yang telah menyumbangkan darahnya lebih dari 15 kali dan medali perak bagi donor yang menyumbangkan darahnya kurang dari 15 kali, Ali Sadikin mengatakan bahwa adanya jual-beli darah ini sangat memalukan bangsa Indonesia. ”Orang Yahudi yang terkenal kikir saja tidak sampai hati menjual darah. Apakah dalam hal ini bangsa Indonesia menunjukkan lebih kikir dari Yahudi?” ujarnya (Kompas, 25 September 1969).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/97807ce3-6c74-4396-a126-618fd548db33_jpg.jpg)
Untuk lebih meningkatkan minat masyarakat menjadi donor darah, pemerintah rajin memberi penghargaan terhadap donor yang rutin mendonorkan darahnya. Setiap tahun para donor diundang ke Istana Merdeka untuk menerima penghargaan Peniti Emas oleh Presiden Soeharto. Penghargaan Peniti Emas adalah penghargaan tertinggi yang diberikan oleh PMI kepada individu atau organisasi yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang kemanusiaan, khususnya dalam kegiatan donor darah dan pelayanan kesehatan. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan atas dedikasi dan pengabdian yang telah dilakukan.
Sebuah kisah unik tentang seorang donor darah diterbitkan di Harian Kompas pada 31 Agustus 1999. Diceritakan dalam tulisan itu adalah sosok H Ahmad Nuhe Mardjanu, pemegang rekor penyumbang darah terbanyak. Ahmad Nuhe Mardanu yang menyumbang darah dengan frekuensi normal (tiga bulan sekali), barangkali baru 129,5 tahun dari tahun 1952—saat pertama Nuhe mendonorkan darah—ia bisa mencapai angka sumbang 518 kali. Artinya, itu tercapai pada tahun 2081 pada saat usianya menginjak 151 tahun. Padahal, usia Nuhe kini ”baru” 69 tahun. Ini menunjukkan betapa kerapnya darah Nuhe disedot. Aturan tiga bulan sekali memang telah dilanggar Nuhe. Ia biasa mendonorkan darah empat kali dalam sebulan. Bahkan, tak jarang dalam sehari darahnya disadap empat kali pengambilan atau empat kantong darah, masing-masing 250 cc.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/4131a68d-7b07-4fa6-bca3-7da3e878d31d_png.png)
Meski frekuensi donor 518 kali, hitungan volume darah yang disumbang jauh di atasnya. Jika dihitung total, selama 47 tahun—sejak 2 Mei 1952 hingga 23 Agustus 1999—Nuhe telah menyumbangkan darahnya 743 kantong alias 185,75 liter. Kemampuan luar biasa itu mengukirkan nama Ahmad Nuhe Mardjanu dalam catatan Museum Rekor Indonesia (Muri) pada Februari 1999 sebagai donor darah terbanyak di Indonesia. ”Sertifikat dari Muri diserahkan langsung oleh Pak Jaya Suprana di PUTD PMI (Pelayanan Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia) DKI Jakarta,” ujarnya sembari memperlihatkan foto-foto kenangannya. Saat memecahkan rekor Muri, catatan sumbangan Nuhe ”baru” 495 kali, sebanyak 719 kantong (179.750 cc). Konon, jumlah itu telah melampaui rekor dunia yang sebelumnya dipegang oleh seorang warga negara Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/03b9278c-3b64-4b86-b68f-918d7c4ad755_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/d9e7f679-aea2-49fd-a364-859bce018190_jpg.jpg)
Darah memang menjadi barang yang sangat penting bagi mereka yang membutuhkan. Telat mendapat pasokan kebutuhan darah bisa menyebabkan kematian pasien yang membutuhkan. Saat ini, sering kali kita mendapat permohonan permintaan darah lewat pesan berantai di aplikasi percakapan. Ketepatan dan kecepatan dalam menerima darah sangat berarti untuk nyawa penerimanya. Sesuai dengan salah satu slogan donor darah yang kerap kita baca, ”Setetes Darah Kita, Nyawa bagi Sesama”.
Selamat donor darah….
Penulis:
Hendra Agus SetyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul