BANDARA

Arsip Foto ”Kompas” : Husein Sastranegara, Membuka Kembali Gerbang Udara Bandung

Bandara Husein Sastranegara akan dibuka kembali untuk penerbangan komersial setelah berhenti melayani penerbangan komersial sejak Oktober 2023.

15 Jul 2026 10:03 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Para penumpang pesawat tujuan Jakarta memasuki pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.Semenjak dibukanya jalur tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi), jumlah penumpang pesawat menuju Jakarta turun 60 persen, 31 Oktober 2005 *** Local Caption ***

Jika berjalan sesuai jadwal, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat, akan dimulai pada 17 Agustus 2026, sebelum beroperasi penuh pada September mendatang.

”Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara akan dilaksanakan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, dan kepatuhan terhadap semua regulasi penerbangan sipil. Kami telah menyetujui kajian operasional dan safety assessment sebagai dasar pelaksanaan reaktivasi,” tutur Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F Laisa, di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Bandara Husein Sastranegara yang terletak di Jalan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, merupakan salah satu bandara tertua di Indonesia. Pada awalnya, bandara ini adalah lapangan terbang peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang saat itu bernama Lapangan Terbang Andir.

Dirangkum dari berbagai sumber, Pemerintah Hindia Belanda membangun lapangan terbang ini pada 1920 untuk kepentingan Angkatan Udara Belanda (Luchtvaart Afdeeling). Pangkalan udara itu kemudian dikenal sebagai Lapangan Terbang Andir karena lokasinya berada di kawasan Andir.

Pada masa pendudukan Jepang, Pangkalan Udara Andir pernah dikuasai tentara Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, pengalihan sejumlah pangkalan udara dari Belanda kepada Indonesia dilakukan secara bertahap. Pangkalan Udara Andir diserahkan kepada TNI Angkatan Udara, yang saat itu masih bernama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), pada 1950.

Tetuko PK-XNC, purwarupa pesawat CN-235 buatan Nurtanio sedang lepas landas di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 30 Desember 1983.

Nama Husein Sastranegara kemudian diabadikan untuk mengganti nama Pangkalan Udara Andir sejak 17 Agustus 1952, berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Nomor 76 Tahun 1952. Husein Sastranegara adalah salah satu tokoh yang mengabdikan diri dalam perjuangan bersenjata pada masa revolusi fisik, khususnya di bidang pertahanan udara. Ia gugur pada akhir September 1946 saat menjalankan tugas uji terbang pesawat di Yogyakarta.

Arsip berita Kompas terkait penerbangan sipil di Husein Sastranegara

Setelah difungsikan sebagai pangkalan militer, Lapangan Udara Husein Sastranegara mulai dibuka untuk penerbangan sipil pada awal dekade 1970-an. Arsip berita Kompas mencatat, salah satu penerbangan komersial yang dijadwalkan beroperasi di Bandara Husein Sastranegara adalah Bouraq Airlines pada 1 Juli 1972.

Pesawat yang berangkat dari Jakarta itu dijadwalkan melanjutkan rute penerbangan ke Semarang dan Surabaya. Kala itu, tarif penumpang untuk rute Bandung-Jakarta Rp 2.000, Bandung-Semarang Rp 5.500, dan Bandung-Surabaya Rp 10.000. Selain Bouraq, maskapai Garuda Indonesia dan Merpati juga membuka layanan penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara.

Para penumpang yang baru turun dari pesawat Merpati Nusantara Airlines penerbangan Singapura - Bandung menunggu pemeriksaan dari petugas imigrasi di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, November 1994.
Wisatawan asal Malaysia tiba di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, dengan menumpang pesawat Malaysia Airlines. 16 Juni 2011
Para pekerja jasa tour and travel menunggu kedatangan wisatawan mancanegara asal Malaysia di Bandar Udara (Bandara) Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 12 Juni 2011

Setelah bertahun-tahun melayani penerbangan domestik, keinginan masyarakat Bandung untuk mendapatkan layanan rute internasional terealisasi. Momen itu terjadi ketika Merpati Nusantara Airlines melakukan penerbangan perdana rute Bandung-Singapura pergi-pulang pada 24 Oktober 1994.

Penerbangan Merpati dari Bandara Husein Sastranegara menuju Bandara Changi, Singapura, itu menggunakan pesawat Fokker F-28 berkapasitas 80 penumpang. Maskapai lain yang pernah membuka penerbangan internasional di sana adalah AirAsia dengan rute Bandung-Singapura pada 2009.

Bandara dengan kode IATA (Asosiasi Transportasi Udara Internasional) BDO ini memiliki landasan pacu sepanjang 2.250 meter dan lebar 45 meter, dari yang sebelumnya hanya sepanjang 1.987 meter. Melalui pengembangan yang dilakukan pada 1998 tersebut, Bandara Husein Sastranegara menjadi layak didarati pesawat jet sekelas Boeing 737-200 dan Airbus A319.

Poryek perluasan terminal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 29 September 2014. Perluasan ini dilakukan karena pada tahun 2013 pergerakan penumpang di bandara tersebut telah mencapai 2,46 juta,
Aktivitas pekerja proyek perluasan terminal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 24 Februari 2015.
Petugas mempersiapkan kelengkapan penerangan di sekitar ruang check in di terminal keberangkatan baru Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 4 April 2016

Pada 10 Agustus 1995, Bandara Husein Sastranegara menjadi saksi keberhasilan uji terbang pesawat N-250 buatan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Uji terbang perdana pesawat yang diberi nama Gatotkaca itu berjalan sukses.

Misi terbang selama 53 menit tersebut diselesaikan oleh ketua tim penguji pesawat, Kapten (Ir) Erwin Danuwinata, bersama tiga rekannya. Selama berada di udara, Erwin sempat berbincang dengan Presiden Soeharto yang memantau uji coba dari Ruang Kontrol di Menara Pusat Pengendalian Uji Terbang. ”Apa semua mulus?” tanya Presiden, yang langsung dijawab Erwin, ”Mulus semua.”

Presiden Soeharto didampingi Wakil Presiden Try Sutrisno serta para Menteri Kabinet Pembangunan VI menyaksikan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkoco buatan IPTN, di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1995.

Pesawat N-250 semula dijadwalkan berada di udara selama 90 menit. Namun, seperti disampaikan Erwin, ia merasa tidak perlu menaikkan kembali pesawatnya setelah berada dalam posisi mendarat (touch down) karena seluruh sistem terbukti berfungsi dengan baik.

Penamaan N-250 memiliki arti khusus: huruf ”N” berarti Nusantara, angka ”2” menunjukkan spesifikasi mesin ganda, dan angka ”50” adalah kapasitas tempat duduk untuk 50 penumpang.

<p>Pesawat N-219 terbang perdana di Bandara Husein Sastranegara, 16 Agustus 2017. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)</p><p>N-219 merupakan pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia dan Lapan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)</p><p>Kapten Esther, pilot penguji pesawat N-219. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)</p>

Pesawat N-219 terbang perdana di Bandara Husein Sastranegara, 16 Agustus 2017. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

N-219 merupakan pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia dan Lapan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Kapten Esther, pilot penguji pesawat N-219. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Sejumlah buruh migran yang bekerja di Malaysia tiba di Tanah Air melalui Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 4 Oktober 2007.
Eriawati (kiri) dengan adiknya, Suryani, pekerja migran asal Indramayu yang bekerja di Malaysia, menelepon keluarganya, setelah tiba di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, untuk mudik Lebaran, 26 Agustus 2011

Pada dekade 2000-an, Bandara Husein Sastranegara pernah menjadi gerbang utama yang ramai bagi wisatawan domestik dan juga mancanegara yang berkunjung ke Bandung. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mencatat, pada 2019 atau setahun sebelum pandemi, jumlah penumpang di bandara ini mencapai 3,8 juta orang. Sebanyak 1 juta di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura.

Pesawat N-250 Gatotkaca melakukan uji taxi di landasan Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat, 6 Agustus 1995.
Pesawat tempur jenis Hawk beratraksi di hadapan pengunjung yang hadir dalam acara Bandung Air Show 2010 di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Sebanyak 137 pesawat tampil dalam acara yang digelar 23-26 September 2010 tersebut.
Pesawat terbang buatan PT Dirgantara Indonesia, CN235-220M Multi Purpose yang dipiloti oleh Kepala Operasi AU Senegal, Ndiaye Amadou Lamine, sedang dalam persiapan untuk lepas landas dari Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat, menuju Senegal. Pesawat tersebut dibeli AD Trade, Belgia, untuk Angkatan Udara Senegal, 27 Desember 2016
Pesawat terbang CN 235-200M Multi Purpose buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang dipesan Thailand Royal Police, Thailand, diterbangkan menuju negara tersebut saat acara Ferry Flight CN 235-200 M di Lanud Husen Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 25 November 2016.
Mekanik dari sekolah penerbangan Bandung Pilot Academy menarik pesawat latih jenis Cessna 172 SP di Landasan Husein Sastranegara sebagai persiapan pendidikan. Bandung Pilot Academy menjadi salah satu peserta pameran Bandung Air Show 2012 yang berlangsung 27-30 September 2012

Sayangnya, Bandara Husein Sastranegara berhenti melayani penerbangan komersial pada 29 Oktober 2023. Semua layanan penerbangan komersial bermesin jet dipindahkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka. Pengoperasian Bandara Husein Sastranegara kemudian dibatasi hanya untuk pesawat komersial berbaling-baling (propeller), pesawat militer, dan aktivitas sekolah penerbangan.

​Di sisi lain, operasionalisasi BIJB Kertajati justru tidak berjalan sesuai harapan karena minimnya frekuensi penerbangan. Bahkan, sejak tahun lalu hingga saat ini, bandara tersebut tidak lagi melayani rute penerbangan domestik.

Tim bulutangkis Denmark yang dipimpin oleh pemain veteran Thomas Cup, Erland Kops (tengah berkaos putih ) tiba di Bandara Hussein Sastranegara Bandung, Jawa Barat, untuk mengikuti ajang Piala Dunia 555, 7 November 1986
Sebagian korban letusan Gunung Galunggung yang berasal dari daerah Garut diberangkatkan ke proyek transmigrasi Pasir Pangarayan (Riau) dengan pesawat Hercules dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. 18 Mei 1982
Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, memantau layar kamera sensor suhu tubuh untuk mengantisipasi penyebaran virus Zika, 1 September 2016

Kini, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara tinggal menunggu waktu. Serangkaian langkah teknis dan operasional bersama semua pemangku kepentingan terus dimatangkan untuk merealisasikan rencana tersebut.

Menurut rencana, terdapat delapan destinasi penerbangan yang akan dilayani setelah reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, yakni Denpasar, Balikpapan, Medan, Pontianak, Makassar, Batam, Padang, dan Pekanbaru.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji