Arsip Foto ”Kompas” : Jasa Wartel, Penyambung Lidah Jutaan Orang

Ini adalah kisah tentang warung telekomunikasi (wartel) yang pernah menjadi primadona pada era 1990-an.

16 Jul 2025 10:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, warung telekomunikasi atau wartel adalah kawan karib bagi hampir sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Wartel sangat populer terutama di kota-kota besar serta daerah yang belum terjangkau jaringan telepon rumah pribadi. Keberadaan wartel menjadi penghubung bagi masyarakat untuk berkomunikasi, entah untuk menghubungi keluarga, teman, maupun untuk urusan pekerjaan.

Wartel mulai muncul sekitar pertengahan tahun 1980-an setelah telepon umum mulai banyak digunakan dan dipasang di sejumlah kota di Indonesia sebagai alat telekomunikasi. Dalam buku Dari Monopoli Menuju Kompetensi: 50 Tahun Telekomunikasi Indonesia Sejarah dan Kiat Manajemen Telkom, telepon umum koin mulai diperkenalkan pada masa Pembangunan Lima Tahun (Pelita) IV (1983-1988) sebanyak 5.724 unit.

Warga menggunakan telepon umum kartu di Jakarta, Jumat (29/10/1993).
Salah satu telepon umum di kawasan Kelurahan Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Jumat (11/11/1994).

Meski mengusung nama warung, sejatinya wartel tidak menyediakan bahan pokok seperti beras dan gula. Namun, wartel menyediakan sarana untuk berkomunikasi menggunakan telepon, baik sambungan lokal, interlokal, faksimile, teleks, maupun telegram.

Bentuk wartel biasanya berupa ruangan yang terdiri atas beberapa bilik atau dikenal dengan istilah kamar bicara umum. Di tiap-tiap bilik tersedia perangkat telepon, juga sebuah layar kecil yang menampilkan durasi lama bicara dan tarif telepon yang harus dibayarkan.

Lewat wartel (warung telepon), kebutuhan akan sarana komunikasi jadi lebih mudah. Tampak kesibukan di salah satu wartel di Bogor.
Arsip berita Kompas 20 Desember 1989

Di Jakarta dan sekitarnya, warung-warung itu mulai bermunculan sekitar tahun 1989. Pada tahun pertama sedikitnya 40 wartel sudah ada di Jakarta. Jumlah itu belum termasuk di wilayah sekitarnya, seperti Bekasi, Bogor, dan Tangerang.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi juga berdampak pada bertambahnya jumlah wartel. Pada akhir 1989, pemerintah melalui BUMN Perumtel (sebelum berganti menjadi PT Telkom Indonesia) merencanakan untuk memperbanyak wartel di daerah-daerah untuk mengatasi keterbatasan penyediaan sarana telekomunikasi.

Hingga Desember 1989 tercatat sudah ada 134 wartel yang dikelola oleh Perumtel dan swasta. Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu Soesilo Soedarman di Surabaya, pada 16 Desember 1989.

Menparpostel Soesilo Soedarman didampingi Dubes Perancis Patrick O'Cornesse seusai meresmikan fasilitas telekomunikasi dan wartel, meninjau fasilitas tersebut yang menggunakan tenaga surya di Anyer, Jawa Barat, Sabtu (18/11/1989). Proyek Komunikasi Daerah di kawasan wisata ini adalah paket pertama kerjasama antara Perumtel dan perusahaan TRT dari Perancis.
Menparpostel Soesilo Soedarman (kiri) menyempatkan diri berdialog dengan beberapa mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) seusai meresmikan pengoperasian Warpostel (warung pos dan telekomunikasi) di Kampus IPB Dermaga, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/9/1989).

Melalui persepsi kerakyatan dengan mengusung konsep ”warung” inilah keberadaan wartel semakin memasyarakat.

Artinya, bagi warga yang belum bisa menikmati fasilitas telekomunikasi, entah karena belum mempunyai cukup uang atau karena terbatasnya fasilitas satuan sambungan telepon, melalui wartel, mereka bisa memanfaatkannya.

Wartel VSAT Beda dengan wartel biasa, wartel VSAT menggunakan sarana satelit yang juga dilengkapi dengan alat penerima khusus seperti yang dioperasikan KUD Daya Usaha di Mopuya, Sulawesi Utara. Walaupun mutunya tidak sebagus telepon tetap kabel, namun di daerah tak terjangkau fasilitas telekomunikasi konvensional, keberadaan VSAT sangat membantu memperlancar denyut ekonominya
Wartel Temporer milik Telkom saat Kejuaraan Nasional Dayung dan Pra-PON XV 1999 di Danau Ranau Sumatera Selatan, Minggu (14/11/1999).
Wartel satelit Pasti (pasang telepon sendiri) menggunakan seluler satelit sebagai sarana transmisi. Satelit yang digunakan adalah Satelit Garuda milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Keunggulan dengan menggunakan Pasti daerah terisolir pun dapat terjangkau, Rabu (18/9/2002)
Selain berjualan kebutuhan sehari-hari, Ari (kanan) juga membuka usaha wartel di samping tokonya di Jalan Jagalan, Yogyakarta, Jumat (8/2/2008).

Banyak orang kemudian suka pada wartel. Mengapa? Karena pelayanan telekomunikasi ini disajikan dalam ruangan yang menyenangkan dan murah.

Besarnya tarif sama dengan tarif dari Telkom, tidak ada biaya langganan bulanan, serta pengguna jasa dapat melihat langsung berapa biaya percakapan. Selain itu, masih ada fasilitas tambahan lainnya, seperti faksimile, teleks, dan telegram.

Untuk semakin memperluas jangkauan kepada pelanggan, PT Telkom Indonesia kemudian meluncurkan proyek warung telekomunikasi keliling (warteling) di Jakarta. Lima warteling ini memiliki fasilitas sambungan lokal, jarak jauh, ataupun internasional. Warteling merupakan proyek perintis untuk mencari segmen pasar baru sekaligus mendekatkan pada pelanggan yang ada pinggiran kota Jakarta.

Dimulainya fasilitas pelayanan warteling untuk beberapa daerah pinggiran di DKI Jakarta ini diresmikan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Soesilo Soedarman di Gedung Pos Ibu Kota, Jakarta, pada 10 Oktober 1991.

Sistem operasional dari warteling dinilai efektif karena tidak memerlukan pembuatan stasiun repeater dalam radius 60 kilometer dari sentral telepon otomat yang ada. Cara beroperasi wartel ini bergerak ke daerah yang telah ditentukan, dilengkapi telepon yang menggunakan teknologi radio, yang disebut ultrafon.

Harga keseluruhan dari satu warteling ini sampai dapat beroperasi mencapai Rp 35 juta.

Warung telekomunikasi keliling milik Andika (23), biasa mangkal di Jalan Pahlawan, Semarang, pukul 16.00-24.00. Dengan modal awal Rp 28 juta, dalam sebulan, ia bisa meraup keuntungan lebih dari Rp 2,5 juta, Sabtu (2/10/2004)

Tumbuh pesat

Dalam rentang waktu dua tahun, arus pertumbuhan wartel di seluruh Indonesia yang diawali dari Jakarta tahun 1989 cenderung meningkat sangat pesat. Sampai akhir Desember 1991 saja sudah tercatat sebanyak 722 wartel, yang terdiri dari 600 wartel swasta, 38 wartel pos dan giro, 30 wartel kopma (koperasi mahasiswa), dan 104 wartel Telkom. Wartel ini tersebar di 12 kantor wilayah usaha telekomunikasi (witel) di 27 provinsi.

Untuk menyatukan langkah dengan kebijakan pemerintah di bidang telekomunikasi, para pengusaha wartel tersebut lantas membentuk sebuah wadah yang diberi nama Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) pada Januari 1992.

Sejak munculnya usaha wartel di Indonesia, jumlahnya terus berkembang dari waktu ke waktu. Dari 44.897 wartel pada tahun 1997 menjadi 87.202 wartel (1998), 114.840 (1999), 187.000 (2000), dan 201.111 wartel (2001).

Produksi telepon di PT Inti Bandung, Jumat (11/4/1986).
Warung makan ini selain menyediakan makanan berupa Indomie, nasi goreng, roti bakar, telor 1/2 matang dan lain-lain, juga menyediakan sarana telepon khusus untuk pelanggannya yang hendak menelepon, karena 3 buah telepon umum berdekatan dengan batas warung itu. Gambar ini diambil di warung pinggir jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan.
Penghuni melintas di belakang warung telekomunikasi (wartel) khusus yang dibuat untuk berkomunikasi tahanan dan narapidana dengan pihak luar di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Narkoba Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (24/1/2008). Wartel tersebut dibuat untuk menghindari penyalahgunaan telepon genggam di areal lapas yang steril, penggunaan telepon umum dapat diawasi dengan dilihat dan direkam.
Penghuni menelepon di warung telekomunikasi (wartel) khusus yang dibuat untuk komunikasi tahanan dan narapidana dengan pihak luar di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Narkoba Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (24/1/2008).

Meredup

Namun, memasuki dekade 2000-an, pamor wartel berangsur menurun. Selain semakin banyak warga yang sudah memiliki sambungan telepon rumah, kehadiran telepon seluler yang mulai populer perlahan-lahan mengurangi jumlah orang yang menggunakan jasa wartel.

Kondisi itu masih ditambah dengan menjamurnya usaha wartel yang terkonsentrasi di wilayah tertentu, menyebabkan banyak di antaranya terpaksa gulung tikar. Ketatnya persaingan untuk memperoleh pelanggan membuat wartel-wartel tidak mampu lagi menutupi biaya operasional.

Semenjak booming penggunaan telepon seluler di masyarakat, usaha warung telekomunikasi (wartel) kehilangan pelanggan secara drastis. Tampak seorang pelanggan melakukan pembicaraan telepon lewat salah satu wartel di Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, Jawa Barat, Senin (20/11/2006).
Warung telekomunikasi atau wartel di Pulau Gili, pulau yang terletak 20 kilometer sebelah timur Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, baru dinikmati penduduk setempat sekitar setahun lalu. Di saat wartel mulai terisisihkan oleh telepon seluler, penduduk di Pulau Gili baru menikmatinya. Foto diambil Jumat (19/8/2005).
Warga memanfaatkan jasa wartel yang ada di RSUD Tarakan Jakarta, Senin (22/1/2007). Keberadaan wartel tetap menjadi pilihan warga di tengah perkembangan teknologi telepon seluler.

Rina, salah seorang karyawati wartel di Palembang, menceritakan bahwa pada akhir 1990-an hingga tahun 2000, wartel tempatnya bekerja bisa dikunjungi 300-an orang per hari. Keuntungan yang diperoleh sehari Rp 4 juta-Rp 5 juta.

Hal itu berubah drastis pada awal 2010. Jumlah pengunjung tak sampai 100 orang per hari. Pendapatan wartel pun anjlok cuma Rp 700.000-Rp 800.000 per hari.

Pembangunan fasilitas telekomunikasi di Jawa Timur, terasa begitu dinamis. Saat PT Telkom meresmikan pemanfaatan teknologi nirkabel CDMA 2000-1X yang diberi label dagang Telkom Flexi, Surabaya mendapat kehormatan untuk pertama kali menerapkan. Program ini segera menyebar ke seluruh Jawa Timur dalam waktu singkat, Senin (23/6/2003).
Kios warung telekomunikasi (wartel) yang telah tutup dan hanya menyisakan papan reklamenya saja di kawasan Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Senin (30/12/2013). Bisnis wartel luruh seiring dengan boomingnya telepon seluler.

Pada akhirnya bisnis wartel terus meredup setelah teknologi telepon seluler dan internet semakin berkembang pesat dan mendominasi dalam keseharian masyarakat hingga saat ini.

Wartel memang hilang ditelan zaman. Namun, pada masanya jasa wartel yang menjadi penyambung banyak orang untuk dapat saling terhubung dengan jarak dekat sampai jauh akan tetap dikenang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji