Arsip Foto ”Kompas”: Terbang Singkat Adam Air

Mulai beroperasi pada Desember 2003, Adam Air mengakhiri kiprahnya setelah izin operator penerbangan atau air operator certificate dicabut pemerintah pada 17 Juni 2008, tepat 17 tahun lalu.

18 Jun 2025 10:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Memasuki dekade awal tahun 2000, industri penerbangan komersial di Indonesia diramaikan oleh munculnya perusahaan-perusahaan penerbangan swasta. Hal itu tidak lepas dari deregulasi penerbangan komersial di Indonesia, yaitu dibukanya pintu perizinan pendirian perusahaan penerbangan yang lebih mudah bagi investor.

Maskapai swasta baru pun kemudian bermunculan, seperti Lion Air, Batavia Air, Jatayu Air, Star Air, dan Adam Air. Namun, tidak semua maskapai baru itu dapat bertahan. Satu per satu mereka berhenti beroperasi karena sejumlah hal.

Dari sejumlah maskapai yang berhenti beroperasi, mungkin Adam Air menjadi maskapai yang paling menyita perhatian publik. Mulai beroperasi pada Desember 2003, Adam Air mengakhiri kiprahnya setelah izin operator penerbangan atau air operator certificate (AOC) dicabut oleh pemerintah pada 17 Juni 2008, tepat 17 tahun lalu.

Bernaung di bawah PT Adam SkyConnection, langkah bisnis Adam Air dimulai pada Desember 2003. Saat itu, maskapai ini masih bermodalkan dua pesawat sewaan jenis Boeing 737. Penerbangan perdana Adam Air dilakukan pada 19 Desember 2003 dengan tujuan Jakarta-Balikpapan.

Kehadiran maskapai Adam Air langsung menarik perhatian. Tidak hanya livery pesawatnya yang mencolok dengan dominasi warna oranye, seragam awak kabinnya pun serupa, oranye dengan kombinasi kuning.

Pesawat Boeing 737-300 yang dioperasikan maskapai Adam Air bersiap mendarat di Bandar Udara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 Februari 2006.

Selain itu, sebagai maskapai penerbangan bertarif rendah (low-cost carrier/LCC) Adam Air menawarkan harga tiket penerbangan yang kompetitif, bahkan terkadang lebih murah, dibandingkan maskapai lain. Dalam tahun pertama beroperasi, Adam Air cepat menarik perhatian publik dengan ekspansi agresif dan layanan yang menjangkau sejumlah kota di Indonesia.

Setelah membuka rute Yogyakarta dan Denpasar pada awal April 2004, Adam Air lantas membuka rute penerbangan baru di Semarang dan Surabaya. Namun, karena alasan izin operasional, pembukaan rute penerbangan Jakarta-Semarang yang dijadwalkan pada Mei 2004 itu tertunda satu tahun dan baru terealisasi pada Mei 2005.

Hingga Desember 2004, Adam Air sudah membuka tiga rute baru dari Yogyakarta, yakni tujuan Padang, Palembang, dan Pontianak. Tarif yang dikenakan untuk tujuan itu berkisar Rp 400.000 hingga Rp 700.000.

Untuk memenuhi kebutuhan layanan penerbangan yang meningkat, pada tahun 2005 Adam Air menambah 19 pesawat jenis Boeing 737. Dengan penambahan itu, maka hingga akhir tahun 2005 Adam Air secara keseluruhan mengoperasikan 25 pesawat.

Pesawat milik Adam Air dengan rute penerbangan Solo - Jakarta PP untuk pertama kali mendarat di Bandara Adisumarmo, Boyolali, Jawa Tengah, dan langsung disambut oleh para penari yang membawakan Tari Gambyong, Jumat (7/4/2006).
Pesawat Adam Air berada di terminal 1C Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (15/3/2008).
Pesawat Adam Air mendarat di Bandara Sulthan Thaha Jambi pukul 13.00 WIB hari Minggu (1/10/2006) di tengah asap tebal yang menyelimuti Jambi dengan jarak pandang sekitar 1.000 meter.

”Kami targetkan sampai Desember 2005, Adam Air mengoperasikan 25 pesawat jenis Boeing 737. Kami akan tetap fokus sebagai penerbangan bertarif murah dengan kenyamanan tinggi,” kata Kepala Operasi Adam Air Gunawan Suherman seusai penandatanganan kerja sama dengan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) di Jakarta, Jumat, 18 Februari 2005.

Di balik pertumbuhan pesat, Adam Air juga harus menghadapi tantangan operasional yang berat, persaingan usaha, investor, serta rangkaian kecelakaan yang berkaitan dengan pelaksanaan standar keselamatan penerbangan.

Insiden Tambolaka

Pada Sabtu, 11 Februari 2006, publik dikejutkan oleh berita pesawat Adam Air yang mendarat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pesawat Boeing 737 seri 300 milik Adam Air itu mendarat darurat di Bandar Udara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat, di Pulau Sumba.

Pesawat mendarat darurat di Tambolaka setelah kehilangan arah selama tiga jam akibat sistem navigasi dan sistem komunikasinya rusak total. Pesawat membawa 145 penumpang—2 anak-anak, 7 bayi, dan 136 orang dewasa, serta 7 awak pesawat, yakni pilot, kopilot, mekanik, dan 4 awak kabin.

Yang mengejutkan adalah, landasan pacu Bandara Tambolaka baru dikonstruksikan tahun 2005 untuk pesawat jenis Fokker F-28 dan uji coba dengan pesawat jenis Boeing 737 ini pun belum pernah dilakukan.

Salah seorang penumpang, Mahdia Sari, yang ditemui Kompas mengatakan, keberhasilan pendaratan darurat pesawat Adam Air di bandara kecil di Tambolaka itu adalah mukjizat. Menurut Sari, saat berputar-putar di ketinggian, beberapa kali pesawat mendekati laut. Beberapa kali pula pesawat seperti hendak mendarat, tetapi kemudian naik lagi.

Sesaat sebelum mendarat di Tambolaka, pramugari menginformasikan pesawat akan mendarat darurat di sebuah bandara kecil di Pulau Sulawesi. ”Tapi ternyata di Sumba,” katanya.

Empat awak kabin dan semua penumpang Adam Air kemudian diterbangkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (11/2/2006) petang dengan pesawat Trigana ATR-42 yang dikirim oleh operatornya, PT TransNusa Air Kupang, dan Boeing 737 seri 200 milik Adam Air yang diterbangkan dari Jakarta via Denpasar.

Adapun pesawat yang mengalami masalah diterbangkan ke Makassar pada Minggu (12/2/2006) pagi setelah dilakukan perbaikan di Tambolaka.

Hasil investigasi awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, pesawat Adam Air tersasar ke Tambolaka karena pilot tidak menyadari adanya kerusakan alat navigasi pesawat. Pilot tidak menyadari bahwa pesawat melenceng dari jalurnya karena penunjuk arah di kokpit tetap menunjuk ke arah Makassar.

Tiga ban sebelah kanan pesawat Boeing 747-400 milik maskapai Adam Air pecah, saat mendarat di Bandara Polonia, Medan, Kamis (28/12/2006) pukul 08.48. Insiden itu dipicu oleh tidak berfungsinya flap--salah satu alat pengereman pesawat--saat mendarat di bandara. Hingga Kamis petang, administratur bandara menahan pesawat itu untuk tidak terbang sementara waktu. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Pesawat Adam Air yang datang dari Surabaya pada Minggu (12/11/2006) pukul 10.00 mengalami kerusakan saat akan parkir di Bandara Syamsudinnoor, Banjabaru, Kalimantan Selatan. Akibat kerusakan kegiatan penerbangan pesawat tersebut mengalami penundaan karena harus dilakukan perbaikan dan perggantian ban terlebih dahulu. Kompas/M Syaifullah (FUL) 12-11-2006

Menteri Perhubungan saat itu, Hatta Rajasa, menegaskan, Departemen Perhubungan akan menuntaskan pemeriksaan kasus Adam Air.

Menurut Menhub, ada dua insiden yang diinvestigasi, yakni pendaratan darurat Adam Air di Tambolaka dan pemindahan pesawat dari Tambolaka ke Makassar.

Arsip berita Kompas yang terbit 2 Januari 2007

Hilang di Selat Makassar

Hari pertama tahun 2007, sebuah pesawat Adam Air rute penerbangan Jakarta-Surabaya-Manado dilaporkan hilang dalam penerbangan Surabaya-Manado. Pesawat dengan nomor penerbangan KI 574 itu hilang kontak dari pantauan radar pada pukul 15.07 Wita, Senin (1/1/2007). Pesawat yang membawa enam awak dan 96 penumpang itu berangkat dari Surabaya pukul 12.59 WIB.

Pesawat diperkirakan tiba di Manado pukul 16.14 Wita. Akan tetapi, 1 jam 7 menit setelah terbang, pesawat putus kontak dengan radar air traffic centre (ATC) Bandara Makassar.

Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada 85 mil laut (157,42 kilometer) sebelah barat laut Makassar dengan ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter).

Dirjen Perhubungan Udara Mohamad Iksan Tatang (duduk di barisan depan, kedua dari kiri) didampingi oleh tim dari Adam Air, Senin (1/1/2007) malam, memberikan keterangan pers mengenai pesawat Adam Air yang hilang dalam rute penerbangan Surabaya - Manado.
Tim SAR dari Direktorat Kepolisian Air Polda Sulawesi Selatan bersama Polair Barru dan Pollair Pangkep terus menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar Kabupaten Barru. Di perairan pantai Labuange mereka menemukan beberapa serpihan yang diduga bagian dari pesawat Adam Air Ki 574, 13 Januari 2007
Personel TNI AU menggunakan binokular saat misi pencarian lokasi jatuhnya pesawat Adam Air dengan pesawat intai strategis Boeing 737 milik TNI AU di atas perairan Majene, Mangkale dan Mamuju, Makassar, Rabu (3/1/2007). Pencarian korban terus dilakukan oleh personel gabungan TNI AU, TNI AL, TNI AD dan SAR. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 03-01-2007
Sebuah kursi penumpang dan serpihan pesawat Boeing maskapai Adam Air yang ditemukan disimpan di posko pencarian Adam Air di Pangkalan Udara Hasanuddin Makasar, Sulawesi Selatan, Jumat (12/1/2007).
Anggota Marinir TNI AL menurunkan serpihan terbaru yang ditemukan di perairan Pangkep, Sulawesi Selatan di Lanud Hasanuddin, Kamis (11/1/2007). Sejauh ini telah ditemukan 135 serpihan. Dari jumlah tersebut 40 diantaranya telah dipastikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai bagian dari pesawat Adam Air KI 574.

Pencarian dengan mengerahkan sumber daya besar-besaran kemudian dilakukan untuk menemukan pesawat Adam Air yang hilang saat terbang di atas Selat Makassar.

Hingga satu pekan setelahnya, pesawat belum juga ditemukan. Namun, serpihan-serpihan yang diduga bagian dari pesawat mulai banyak ditemukan di perairan Parepare, Majene, Mamuju, dan Barru.

Setelah misi operasi pencarian yang panjang, pada akhir Agustus 2007, lokasi kotak hitam pesawat Adam Air akhirnya teridentifikasi berada di sekitar perairan Majene, Sulawesi Barat. Kotak hitam tersebut berhasil diangkat oleh tim Phoenix International dari Amerika Serikat. Kemudian, kotak hitam pesawat Adam Air KI 574 yang jatuh pada 1 Januari 2007 itu secara resmi diserahkan dari Phoenix International AS kepada Pemerintah Indonesia. Penyerahan kotak hitam sekaligus menandai selesainya misi pencarian kotak hitam di Selat Makassar.

Kotak hitam itu diserahkan pimpinan tim Phoenix kepada Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal di atas kapal offshore tug supply berbendera Siprus di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Jumat, 31 Agustus 2007.

Arsip berita Kompas yang terbit 22 Februari 2007

Berhenti beroperasi

Masalah yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan seolah tak berhenti menimpa Adam Air. Pada Senin, 10 Maret 2008, pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-292 jurusan Jakarta-Batam tergelincir di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, pukul 10.20 WIB.

Pesawat Adam Air yang tergelincir di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, siap ditarik setelah terpasang roda pengganti di atas mesin. Penarikan pesawat membutuhkan waktu cukup lama, yaitu 12 jam, karena kondisi tanah yang becek, 12 Maret 2008
Tim evakuasi memasang roda pengganti di bawah mesin pesawat Adam Air yang tergelincir. Untuk memasang roda pengganti itu, dibutuhkan alat berat untuk mengangkat bagian depan pesawat dan balon udara untuk menyeimbangkan badan pesawat, 12 Maret 2008
Sejumlah tim evakuasi memasang roda pengganti di bawah mesin pesawat Adam Air yang tergelincir. Untuk memasang roda pengganti itu, dibutuhkan alat berat untuk mengangkat bagian depan pesawat, 12 Maret 2008.

Pendaratan yang dilakukan saat hujan itu menyebabkan roda pesawat patah dan badan pesawat menyentuh tanah saat pesawat berhenti di luar landasan. Pesawat seri Boeing 737-400 itu dua kali berupaya mendarat. Pada pendaratan kedua dengan jarak pandang sekitar 400 meter, pesawat tergelincir ke arah kanan dari landasan pacu di daerah semak-semak sejauh 75 meter.

Saat mencoba pendaratan pertama, pesawat mengalami overshoot, lalu terbang lagi. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan pesawat berpenumpang 171 orang dengan enam awak itu.

Sekitar dua pekan berselang setelah kecelakaan Adam Air di Batam, pemerintah kemudian mengumumkan audit penerbangan per tiga bulan bagi 22 maskapai, termasuk Adam Air.

Arsip berita Kompas yang terbit 19 Maret 2008

Departemen Perhubungan menyatakan maskapai penerbangan Adam Air dilarang menerbangkan semua pesawatnya terhitung sejak Rabu, 19 Maret 2008. Pasalnya, ditemukan beberapa kelemahan yang membahayakan keselamatan penerbangan.

Departemen Perhubungan menegaskan, pelarangan ini merupakan hasil audit penerbangan per tiga bulan. Jadi, hal itu tidak terkait dengan kemelut investasi. Larangan terbang bagi pesawat Adam Air membuat semua jadwal penerbangan Adam Air dibatalkan.

Ditutupnya sejumlah rute penerbangan Adam Air melalui Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuai protes dari para calon penumpangnya, seperti terlihat di kantor Perwakilan Adam Air di Jalan Diponegoro, Yogyakarta, Senin (17/3/2008).
Calon penumpang maskapai penerbangan Adam Air menunggu jadwal keberangkatan pesawat di Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Senin (17/3). Jumlah penumpang maskapai tersebut relatif sepi setelah seiring rencana PT Bhakti Investama yang akan mengundurkan diri dari PT Adam SkyConnection Airlines.
Calon penumpang Adam Air meminta penjelasan tentang kepastian penerbangan di loket penjualan tiket di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (17/3/2008). Puluhan calon penumpang memilih mengembalikan tiket untuk diuangkan kembali meskipun pihak maskapai menjanjikan masih ada penerbangan sampai tanggal 20 Maret 2008.
Calon penumpang mendatangi loket penjualan tiket pesawat Adam Air di Bandara Adisumarmo, Surakarta, Jawa Tengah, Senin (17/3/2008). Mulai Senin kemarin penerbangan Adam Air rute Solo-Jakarta dihentikan sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Beberapa temuan pengabaian keselamatan penerbangan antara lain pelatihan pilot yang tidak sesuai prosedur, perawatan pesawat udara yang tidak sesuai manual perawatan perusahaan (company maintenance manual), dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan.

Keputusan ini seolah menjadi pukulan kedua bagi Adam Air setelah hengkangnya investor PT Global Transport Service dan PT Bright Star Perkasa sebagai pemegang 50 persen saham.

Para pekerja maskapai penerbangan Adam Air menunjukkan kertas dari manajemen Adam Air, yang dilampiri cek gaji yang telah ditandatangani direksi, Kamis (17/4/2008) di kantor pusat Adam Air di Jakarta Utara. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Adam Air memutuskan untuk membayar gaji pekerja Maret 2008 dengan jumlah total Rp 10 miliar.
Karyawan Adam Air mengadukan nasib mereka ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta, Selasa (15/4/2008). Selain belum mendapatkan pembayaran gaji, 3.000 karyawan meminta perlindungan akan kelangsungan pekerjaan mereka setelah perusahan mereka tidak lagi beroperasi.

Adam Air akhirnya resmi berhenti beroperasi setelah pemerintah mencabut izin operator penerbangan pada 17 Juni 2008.

Artinya, sejak pertama kali beroperasi, terhitung tak sampai 4,5 tahun Adam Air mengudara.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko