Wajah Alun-alun utara Yogyakarta terus berubah. Dulu yang menjadi pusat kegiatan, tetapi kini berpagar besi. Berikut rekaman jejak peristiwa di alun-alun itu.
03 Mei 2025 10:01 WIB · Foto
Oleh [email protected]
Wajah Alun-alun Utara terus berubah seiring dengan perkembangan zaman dan pergantian raja Keraton Yogyakarta. Sempat menjadi ruang publik yang ramai, kini Alun-alun Utara menjelma menjadi kawasan sepi dan tertutup. Warga tidak bisa lagi mengakses halaman depan keraton itu secara bebas. Pemandangan pedagang kaki lima, anak-anak bermain, dan kerumunan wisatawan yang menghidupkan suasana alun-alun sehari-hari, berubah menjadi hamparan pasir yang lengang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/caf17a3d-8b59-418d-97cb-770da4c12c3b_jpg.jpg)
Transformasi Alun-alun Utara dimulai pada 2020 lalu. Pagar besi dibangun mengelilingi tanah lapang yang menjadi pekarangan raja tersebut. Seperti yang tertulis dalam arsip pemberitaan Kompas, Keraton Yogyakarta berencana mengembalikan wujud alun-alun seperti pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. “Untuk mengembalikan seperti yang dulu. Dulu, kan, alun-alun itu dipagari,” ucap Raja Keraton Yogyakarta merangkap Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X (Kompas.id, 15 Juli 2020).
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang menjabat saat itu, Aris Eko Nugroho, keberadaan pagar di Alun-alun Utara pada masa lalu tergambar dalam sejumlah literatur, salah satunya tesis berjudul ”Kraton and Cosmos In Traditional Java” (1982) karya Timothy Earl Behrend dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Dalam tesis itu, lukisan karya A de Nelly menunjukkan adanya pagar di depan Alun-alun Utara. Oleh karena itu, Keraton Yogyakarta bermaksud mengembalikan wujud Alun-alun Utara seperti masa lalu sebagai upaya merawat nilai sejarah.
Selama proses pembangunan yang berlangsung sekitar tiga bulan, proyek ini sempat memantik polemik. Sebagian warga mengkhawatirkan keberadaan pagar justru membuat Keraton Yogyakarta semakin “berjarak” dengan rakyat. Sebagian lainnya merasa kehilangan alun-alun sebagai ruang publik. Selain itu, penggunaan dana keistimewaan untuk membangun pagar di tengah kesulitan warga menghadapi pandemi Covid-19 juga dinilai tidak tepat. Perdebatan terkait Alun-alun Utara terus bergulir di media sosial hingga melahirkan tagar #BebaskanAlunAlun sebagai bentuk kritik kolektif.
Berbagai opini kontra bermunculan karena keberadaan Alun-alun Utara terlanjur melekat dengan aktivitas sehari-hari warga. Siswa sekolah-sekolah yang berada di sekitar keraton biasa memanfaatkan tanah lapang itu untuk bermain dan berolahraga. Pedagang kaki lima juga menggantungkan hidupnya pada wisatawan yang berkunjung. Berbagai acara berskala besar, mulai dari konser musik hingga pasar malam, semuanya menjadi hiburan murah meriah yang digemari warga. Selama ini, Alun-alun Utara menjadi "denyut nadi" bagi Yogyakarta dan warganya.
Perayaan tahunan di Alun-alun Utara
Berbagai kegiatan dan tradisi perayaan tahunan membuat Alun-alun Utara selalu hidup dari tahun ke tahun. Pasar malam Sekaten menjadi salah satunya. Hiburan rakyat itu berlangsung secara beriringan dengan tradisi Sekaten yang digelar Keraton Yogyakarta untuk memperingati maulid Nabi Muhammad.
Berlangsung selama sebulan, pasar malam Sekaten dikenal sebagai hiburan yang merakyat. Dengan harga karcis yang murah, warga dapat menikmati berbagai wahana permainan, seperti bianglala, ombak banyu, tong setan, kora-kora, dan rumah hantu. Selain itu, warga juga dapat berbelanja aneka barang dan makanan di lapak pedagang yang berjejer memenuhi kawasan alun-alun dan sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/88947d9e-d2cc-4d48-a002-9a606e060dd1_jpg.jpg)
Pasar malam Sekaten juga menjadi perayaan yang ditunggu-tunggu warga Yogyakarta. Selain karena berbagai hiburan yang ditawarkan, kehadiran pedagang pakaian bekas impor atau yang dikenal dengan istilah “awul-awul” menjadi primadona anak-anak muda. Biasanya, stan pakaian bekas ini berdiri lebih dulu sebelum pasar malam resmi dibuka.
Dalam arsip foto Kompas, suasana pasar malam Sekaten dari masa ke masa menjadi hal yang menarik untuk disimak. Sebuah foto karya Bambang Sigap Sumantri menampilkan suasana pasar malam Sekaten pada 2002. Sebuah kereta odong-odong melaju di antara warna-warni wahana permainan. Di sekitarnya, warga menggendong anaknya sembari melihat wahana komidi putar.
Selain pasar malam, perayaan Sekaten juga identik dengan tradisi Grebeg. Dalam prosesinya, Keraton Yogyakarta akan mengeluarkan sedekah raja berupa gunungan yang berisi hasil bumi, seperti palawija, buah, sayuran, dan jajajan. Gunungan tersebut menjadi wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi yang dibagikan untuk kesejahteraan rakyat.
Tepat pada 12 Rabiul Awal atau tanggal kelahiran Nabi Muhammad, gunungan akan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman diiringi para prajurit dan abdi dalem. Pada momen ini, warga biasa memadati Alun-alun Utara untuk menyaksikan arak-arakan gunungan yang melintas. Puncaknya, perebutan isi gunungan digelar di halaman Masjid Gedhe Kauman. Mereka yang berhasil mendapatkan isi gunungan percaya bahwa hal tersebut akan mendatangkan keberuntungan dan berkah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/e36be71f-470f-4f8b-9a34-3fc6429f24ae_jpg.jpg)
Momen kemeriahan arak-arakan gunungan dalam tradisi Grebeg terekam dalam foto hitam putih karya Djoko Poernomo. Foto tersebut menggambarkan suasana Grebeg Maulud yang melintas di Alun-alun Utara pada 1988. Meski masih diselimuti suasana duka atas wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX beberapa minggu sebelumnya, warga tetap antusias menyaksikan arak-arakan tersebut.
Terpaut tiga puluh tahun lamanya, penyelenggaraan tradisi Grebeg masih tetap semarak. Hal itu tergambar dalam foto karya Ferganata Indra Riatmoko yang menampilkan arak-arakan gunungan saat melintas di Alun-alun Utara pada 2018. Di antara tenda-tenda pasar malam Sekaten, prajurit Keraton Yogyakarta yang membawa gunungan berbelok menuju Masjid Gedhe Kauman. Di sekelilingnya, warga antusias mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponsel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/c5eed6cc-fdf3-41ac-b8b2-4e3404a0ee65_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/be0c2f01-0286-4cc0-a32e-dc0d86c55f33_jpg.jpg)
Setelah revitalisasi Alun-alun Utara selesai pada 2020, rute kirab Grebeg berubah. Sebelumnya, gunungan biasa diarak melintasi tengah alun-alun sebelum menuju Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, dan kompleks Kepatihan. Namun, dengan kondisi alun-alun yang telah dipagar dan mengalami penggantian pasir, arak-arakan gunungan hanya melintas di tepi alun-alun sebelum menuju ke tiga tempat di mana gunungan dibagikan.
Peristiwa Bersejarah di Alun-alun Utara
Alun-alun Utara juga menjadi saksi bisu sejumlah peristiwa bersejarah yang terjadi di Yogyakarta. Salah satunya kirab penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang digelar 9 Maret 1989 atau sehari setelah prosesi penobatan yang berlangsung di keraton. Sejak pukul 09.00, ribuan orang sudah berkumpul di depan pagelaran Alun-alun Utara meskipun prosesi kirab baru dimulai pukul 15.30 ketika Sri Sultan Hamengkubuwono X didampingi Gusti Kanjeng Ratu Hemas meninggalkan Bangsal Kencono.
Ratusan ribu warga tumpah ruah di Alun-alun Utara dan sepanjang jalan yang mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan kirab tersebut. Kereta kencana Kanjeng Kyai Garuda Yaksa membawa Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam iring-iringan panjang yang diikuti kereta kencana Kyai Permili, Kyai Jethayu, Kyai Jonguryat, Kyai Puspaka Manik, Kyai Kus Gading, dan Kyai Kuthakaharjo.
Sebuah foto karya Kartono Ryadi merekam momen tersebut dengan sempurna. Terlihat prajurit dan abdi dalem keraton mengawal kereta kencana Kanjeng Kyai Garuda Yaksa menembus kerumunan warga saat mulai meninggalkan Alun-alun Utara. Dalam foto itu, Pagelaran Keraton Yogyakarta berdiri kokoh sebagai latar.
Dalam pidato penobatannya, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan bahwa tahta adalah untuk rakyat. “Totalitas jiwa raga yang dicurahkannya bagi Republik Indonesia, sebagai jawaban atas piagam kedudukan yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia itu, telah mendapat pengakuan masyarakat sebagai tahta untuk rakyat,” ujar Sultan (Kompas, 8 Maret 1989).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/9dbaece9-cfd5-4988-8b7a-4d8e02192594_jpg.jpg)
Selain kegiatan yang digelar keraton, Alun-alun Utara juga kerap menjadi tempat berkumpulnya massa dalam jumlah besar untuk kegiatan politik. Pada 20 Mei 1998 atau sehari sebelum Soeharto mundur dari jatabannya sebagai presiden, Sultan Hamengkubuwono X dan Paku Alam VIII mengajak masyarakat DIY untuk mendukung gerakan reformasi dalam kegiatan Pisowanan Agung. Seruan itu dinyatakan dalam sebuah maklumat yang dibacakan Sultan di hadapan hampir sejuta warga Yogyakarta dan sekitarnya di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/245f9009-32b4-45b7-a631-32c2cb528b9a_jpg.jpg)
Berselang 10 tahun setelah reformasi, Pisowanan Agung kembali digelar di Alun-alun Utara pada 28 Oktober 2008. Di hadapan lebih dari 200.000 warga Yogyakarta yang memadati Alun-alun Utara dan sekitarnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan diri akan maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2009. Kesediaan Sultan untuk maju dalam kancah politik nasional didorong oleh tingginya aspirasi dari masyarakat.
Dari masa ke masa, Alun-alun Utara selalu lekat dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Mulai dari acara hiburan, politik, hingga tradisi tahunan Keraton Yogyakarta, semuanya menjadi bukti bahwa Alun-alun Utara pernah benar-benar hidup sebagai ruang publik warga Yogyakarta.
Kini, warga hanya bisa memandang Alun-alun Utara dari luar pagar besi. Hamparan pasir yang lengang menandakan bahwa Alun-alun Utara bukan lagi milik publik.
Penulis:
[email protected]Editor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari