Arsip Foto ”Kompas”: Jejak Taksi di Jakarta

Potret keberadaan taksi di Jakarta antara taksi resmi, taksi gelap, dan era taksi listrik.

26 Mar 2025 04:00 WIB · Foto

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Suatu hari di akhir Januari 1973, seorang sopir taksi ”Sri Medali” dengan nomor polisi B 7406 GG mendapatkan penumpang yang naik di Jalan Bacang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB.

Penumpang pria itu membawa bungkusan yang tampaknya barang berharga. Karena ukurannya yang cukup besar, bungkusan itu kemudian diletakkan di bagasi belakang taksi. Setelah berada di dalam taksi, penumpang itu minta untuk berputar-putar kota dan diantarkan menuju ke Jalan Tosari.

Di sini, ia meminta sopir untuk berhenti dan turun. Kepada sopir, penumpang itu mengatakan ingin meminjam uang sebesar Rp 4.000 karena ia tidak membawa uang kecil. Setelah menerima uang, penumpang itu turun dengan tetap meninggalkan bungkusan yang dibawanya di bagasi taksi. Tak lama kemudian penumpang itu kembali ke taksi dan minta diantarkan ke Proyek Senen.

Sesampainya di Proyek Senen, penumpang itu turun dan mengatakan ke sopir bahwa ia akan berbelanja sebentar. Bungkusan yang dibawa penumpang itu tetap tidak dibawanya.

Setelah sekian lama menunggu dan penumpang itu tidak menampakkan batang hidungnya, sopir taksi pun mulai menaruh curiga. Jangan-jangan penumpang itu melarikan diri dan tidak mengembalikan uang yang dipinjamnya, pikir sopir taksi itu.

Taksi di jalanan Jakarta. 1 April 1977 *** Local Caption *** Wartawan Kompas H. Moch S Hendrowijono awal Maret yang lalu mencoba menjadi pengemudi taksi selama tiga hari.

Tanpa berpikir panjang sopir taksi kemudian pergi ke kantor polisi untuk melapor tanpa sempat membuka terlebih dahulu bungkusan yang ada di bagasi.  Sesampainya di kantor polisi, sopir itu melaporkan kejadian yang baru saja ia alami. Polisi itu menyaksikan bungkusan yang ada di bagasi taksi kemudian dibuka dan ternyata isinya… rumput!

Barulah sopir itu menyadari kalau dirinya telah ditipu (Kompas, 2 Februari 1973).

ARSIP

Cerita menggelikan di atas merupakan segelintir kisah pengalaman sopir taksi di Jakarta pada 1970-an. Sebenarnya, taksi sudah mulai masuk di Jakarta sejak masa kolonial Belanda sekitar tahun 1930 ketika saat itu Jakarta masih bernama Batavia. Jumlahnya masih terbatas dan penggunanya pun eksklusif, terutama orang-orang Belanda.

Hingga 1960-an, taksi semakin populer dan sudah digunakan sebagai transportasi. Namun, saat itu sebagian besar taksi yang beroperasi dikenal sebagai taksi liar atau taksi ”gelap” karena mobil yang digunakan adalah kendaraan pribadi yang tidak didaftarkan sebagai kendaraan umum taksi.

Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin kemudian mengeluarkan peringatan agar taksi berpelat hitam segera ditertibkan. Pemilik kendaraan taksi ”gelap” diminta segera mendaftarkan usahanya sebagai usaha taksi resmi di Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) DKI Jaya.  

Hingga batas waktu yang ditetapkan pada Maret 1969, jumlah taksi liar yang telah mendaftar sebanyak 320 unit. Dengan demikian, jumlah taksi resmi yang beroperasi di wilayah Jakarta sudah mencapai 450 unit, termasuk Metrotaxi dan taksi Hotel Indonesia.

Tarif resmi yang ditetapkan yaitu Rp 600 per jam untuk taksi yang ber-AC dan Rp 500 per jam untuk taksi tanpa AC. Tarif tersebut lebih mahal dibandingkan dengan taksi liar yang tarifnya berkisar Rp 300 hingga Rp 350 per jam.

Gubernur Ali Sadikin saat peresmian beroperasinya 125 taksi baru di Balaikota Jakarta. 21 Februari 1972
Presiden Soeharto tengah mengamati taksi Ratax, disaksikan oleh Gubernur Daerah Chusus Ibu Kota (DCI) Jakarta, Ali Sadikin, di Balai Kota DKI Jakarta, pada 19 Juni 1972. Menjelang Konferensi PATA 1974, Jakarta diharapkan akan mengoperasikan sekitar 2000 taksi. Ratax, salah satu taksi, sudah mulai dilengkapi dengan peralatan komunikasi radio.
Taksi baru yang telah di resmikan oleh Gubernur Ali Sadikin di Balaikota Jakarta. 21 Februari 1972

Jumlah taksi resmi yang beroperasi kemudian terus bertambah. Pada Februari 1972, sebanyak 125 taksi baru mulai resmi beroperasi di Jakarta. Taksi-taksi tersebut juga telah dilengkapi dengan taksi meter.

Sebanyak 125 taksi yang resmi beroperasi itu adalah 50 taksi milik PT Morante Djaya yang menggunakan mobil Datsun, 50 buah milik Ratax (Radio Taxi, sebelumnya bernama Metro Taxi), dan 25 unit taksi milik PT Gamya yang menggunakan mobil Toyota Corona.

Pada tahun 1972 itu juga resmi beroperasi perusahaan taksi Bluebird yang mengoperasikan 25 unit taksi menggunakan mobil Holden Torana. Taksi Bluebird sudah menggunakan sistem tarif argometer dan dilengkapi sistem radio untuk memudahkan pemesanan taksi melalui operator di kantor pusat. Taksi lain yang saat itu juga telah dilengkapi sistem radio adalah Ratax.

Lalu, bagaimana dengan pengaturan taksi-taksi gelap?  Pada November 1972, Gabungan Pengusaha Jakarta City Club (JCC) memperoleh penunjukan dari Gubernur DKI Jakarta untuk mengusahakan taksi dengan ketetapan wajib menampung taksi-taksi ”gelap” yang ada di Jakarta yang sifatnya sementara.

Kemudian, sejak pertengahan 1973 JCC beralih menjadi PT President Taxi. Mulai 1 September 1973 President Taxi telah mengoperasikan taksi yang berwarna kuning tua (sebelumnya taksi JCC yang berwarna kuning hitam) sebagai taksi resmi di Jakarta.

ARSIP
Sejak dimulainya Pekan Pendidikan Lalulintas tanggal 17 Oktober sudah 306 mobil "President Taxi" digiring ke Komdak, untuk ditahan sekitar 8 jam karena dianggap kurang kelengkapannya.
Walaupun jelas parkir tepat disisi tanda "Larangan", tetapi pengemudi taksi di depan pasar Tanah Abang ini tenang-tenang saja dan tidak merasa melanggar ketentuan larangan itu. 1 Maret 1978
Taksi di Bandara Kemayoran tampak sedang mengantri penumpang
ARSIP BERITA

Hingga awal 1978, jumlah kendaraan yang dimiliki oleh President Taxi sudah hampir mencapai 4.000 kendaraan. Jumlah itu terbagi atas 222 kendaraan dari pemegang saham prioritas, 988 kendaraan dari pemegang saham biasa dan 2.067 kendaraan dari anggota yang tidak memiliki saham.

Setiap anggota yang bergabung dalam PT President Taxi harus membayar uang iuran Rp 175.000 per kendaraan sebagai modal. Namun, meski berulang kali dirazia dan wadah taksi resmi sudah terbentuk, keberadaan taksi gelap di Jakarta tidak sepenuhnya hilang.

ARSIP BERITA

 

Untuk mendapatkan taksi tak perlu harus berdiri di pinggir jalan. Cukup putar nomor telepon, dan operator pun siap menyampaikan pesanan penumpang. Pada jam-jam sibuk mereka bisa kewalahan melayani panggilan, sehingga jangan heran kalau Anda terpaksa harus menunggu giliran lama. Bahkan mungkin permintaan Anda terpaksa ditolak. 20 Februari 1990 *** Local Caption *** Judul Amplop: Operator

Era 1990-an

Perkembangan bisnis taksi di Jakarta terus melaju dengan cepat, dari armada yang jumlahnya hanya ratusan, kini di Jakarta ada ribuan taksi yang telah menggunakan argometer. Masyarakat mempunyai banyak pilihan layanan untuk menggunakan taksi.  Sehingga mau tak mau masing-masing pengelola taksi harus siap untuk bersaing.

Taksi-taksi yang tidak terawat atau butut, tentu tak bakal lagi dilirik. Hal ini disadari oleh pengelola taksi di Jakarta, yang hingga 1990 terdiri dari 14 perusahaan berbentuk perseroan terbatas dan dua koperasi.

Dari tahun ke tahun, pamor dan kebutuhan akan taksi di Jakarta terus naik. Jumlah taksi yang beroperasi juga melonjak. Pada 1990, Pemerintah DKI Jakarta menargetkan untuk menyediakan 14.000 taksi, tetapi jumlah itu masih jauh dari jangkauan karena taksi yang beroperasi efektif baru sekitar 8.000 taksi. Sementara izin yang dikeluarkan sudah sekitar 10.000 taksi (Kompas, 20 Februari 1990).  

comparison left
comparison right
before-after-arrow

 

Tingginya permintaan taksi sering kali membuat pengelola taksi kewalahan. Bluebird, misalnya, terpaksa harus menolak 1.000 panggilan telepon. Dalam sehari, rata-rata Bluebird menerima 4.000 panggilan. Padahal, dengan armada sekarang, baru 3.000 permintaan saja yang bisa dilayani.

Pesatnya permintaan taksi melalui telepon memang dirasakan meningkat. Salah satu alasannya adalah karena secara ekonomis cara pemanggilan lewat telepon jauh lebih menguntungkan.

PT President Taxi yang baru mulai mengoperasikan radio call April setahun sebelumnya merencanakan membangun base station yang nantinya bisa melayani 4.000 permintaan. Sekarang rata-rata baru sekitar 200-300 call per hari. Sementara Gamya, dengan 500 unit, rata-rata menerima 1.500 panggilan (Kompas, 20 Februari 1990).

Selain permintaan di dalam kota Jakarta, kawasan bandara juga menjadi salah satu lokasi dengan permintaan layanan taksi yang tinggi. Hal itu sering kali memunculkan persoalan yang melibatkan pengelola taksi, otoritas bandara, sopir taksi serta penumpang. Kemelut yang berkepanjangan terkait layanan taksi di bandara pun sering kali berulang.

Antrean taksi di bandara Soekarno Hatta. 11 Februari 1994
Taksi di Jakarta memang harus bersaing ketat karena begitu banyak perusahaan taksi yang beroperasi. Pengelolaan dan pelayanan yang kurang menyenangkan bisa membuat taksi tertentu ditinggalkan konsumen.
Taksi Kosti Jaya
comparison left
comparison right
before-after-arrow

Sebanyak 2.400 taksi dengan menggunakan stiker baru, sejak Kamis (11/12/1997) resmi beroperasi melayani penumpang di Bandara Soekarno-Hatta. Taksi-taksi yang ditempeli stiker Taksi Bandara Soekarno-Hatta di kaca depannya itu, berasal dari 20 perusahaan yang memperoleh jatah dari pengelola bandara.

Ke-20 perusahaan taksi yang memperoleh kuota di Soekarno-Hatta, sesuai peringkat yang didapat dari hasil survei adalah Gamya, Blue Bird, Queen, Tiffani, Primajasa, Agung Taxi, Dian Taxi, Exspress, Maya Kencana, Sri Medali, Hera Taxi, Koperasi Taksi, Steady Safe, Ratax, Jakarta Int'l Taxi, Royal City Taxi, Gading, Spirit, Mercury, dan President Taxi.

Pengoperasian taksi bandara dengan stiker tanda pengenal baru itu, dilakukan untuk menjawab kemelut soal taksi di Soekarno-Hatta. Selama ini kerap muncul keluhan dari penumpang taksi bandara, mereka diperas sopir dengan cara tidak dipakainya argo meter, pengoperasian argometer secara tidak wajar, dan penerapan tarif borongan (Kompas. 12 Desember 1997).

Aplikasi dan taksi listrik

Memasuki era milenium,  layanan taksi yang ditawarkan kepada pengguna juga berkembang pesat. Beberapa perusahaan taksi meluncurkan layanan taksi eksekutif dengan menggunakan mobil-mobil mewah, seperti sedan Mercedez Benz dan mobil jenis MPV Toyota Alphard. Tidak hanya merasakan mobil mewah para penumpang juga dapat menikmati layanan Wi-Fi dan layar hiburan, serta kelengkapan GPS di dalam kendaraan.  

Selain itu juga ada layanan taksi yang dikhususkan untuk memudahkan akses transportasi bagi penyandang disabilitas. Salah satunya adalah layanan yang disediakan oleh Bluebird dengan Bluebird Lifecare yang diluncurkan pada September 2014.

 

Taksi eksekutif Tiara Express mengisi Pertamax di SPBU Permata Hijau, Jakarta, Jumat (28/1/2011). Manajemen Grup Express menyatakan, jajaran taksi eksekutif mereka telah dioperasikan dengan bahan bakar minyak nonsubsidi, yaitu jenis Pertamax dan VGAS.
Peluncuran perdana taksi premium Silver Bird dari Blue Bird Grup dengan armada Mercedes-Benz seri E-200 di Jakarta, Rabu (10/6/2009). Lebih dari 400 unit Mercedes-Benz E-200 Kompressor akan dioperasikan oleh Silver Bird secara bertahap mulai pertengahan Juni ini yang dilengkapi dengan GPS dan pembayaran dengan kartu kredit.
Taksi Tiara Ekpress menggunakan mobil mewah Toyota Alphard untuk dioperasikan di Jakarta sejak Kamis (11/9). Taksi tersebut dilengkapi Wi-Fi , layar televisi, global positioning system , dan berbahan bakar gas.
Taksi Tiara Ekpress menggunakan mobil mewah Toyota Alphard untuk dioperasikan di Jakarta sejak Kamis (11/9). Taksi tersebut dilengkapi Wi - Fi , layar televisi, global positioning system , dan berbahan bakar gas.
Mekanik taksi Blue Bird sedang melakukan perawatan secara rutin armada taksi di bengkel pool Jalan Mampang, Jakarta, Rabu (11/2/2016). Persaingan jasa layanan taksi yang makin ramai dengan kehadiran aplikasi pemesanan taksi online menuntut operator taksi memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan pelanggan.
Penumpang berkebutuhan khusus mencoba kursi taksi Blue Bird Lifecare, di Kantor Gubernur DKI Jakarta, Rabu (10/9/2014). Taksi Blue Bird Lifecare diluncurkan, kemarin, untuk memberi kemudahan akses transportasi bagi kaum difabel.

Kemajuan teknologi digital yang melahirkan layanan pemesanan taksi melalui aplikasi, membuat pengelola taksi mau tak mau juga mengadopsi teknologi ini. Meski pada awalnya perusahaan taksi konvensional sempat ”berseteru” dengan kehadiran taksi-taksi daring yang dipesan melalui layanan aplikasi, pada akhirnya penggunaan aplikasi pemesanan ini juga dikembangkan dan menjadi pilihan utama yang memberikan kemudahan.

Menjelang akhir tahun 2024, taksi listrik asal Vietnam, Xanh SM, resmi beroperasi di Indonesia. Xanh SM yang menggunakan mobil dari perusahaan otomotif Vietnam, VinFast, tentu saja akan bersaing langsung dengan operator taksi lokal, terutama Bluebird.

Bluebird sejak 2019 telah meluncurkan taksi listrik. Dalam laporan tahunan Bluebird pada 2023, perusahaan itu telah memiliki 192 taksi listrik. Jumlah tersebut terus bertambah dan saat ini terdapat sekitar 400 kendaraan listrik yang dimiliki Bluebird.

Kehadiran Xanh SM dalam peta persaingan taksi dalam negeri tidak hanya memicu operator taksi untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat ekosistem kendaraan listrik yang saat ini sedang dibangun, tetapi akan membuat pelanggan taksi saat ini memiliki pilihan transportasi yang semakin beragam dan nyaman.

Antrean taksi listrik asal Vietnam Xanh SM siap mengantarkan penumpang susai acara peluncurannya di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2024).
Para petugas medis melakukan tes cepat Covid-19 terhadap pengemudi taksi di halaman Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Sebanyak 200 pengemudi angkutan umum mengikuti tes cepat Covid-19 yang diadakan Kementerian Perhubungan tersebut. Tes dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada pengemudi dan keluarganya serta para penumpang.
Para penumpang kereta api yang tiba di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, menunggu taksi yang akan mengantar ke tujuan, Rabu (23/3/2016). Sehari pasca aksi unjuk rasa pengemudi taksi, operasional taksi berjalan normal kembali. Blue Bird salah satu operator taksi memberikan layanan gratis kepada para penumpangnya sehingga menyebabkan armada Blue Bird penuh dan calon penumpang mesti menunggu lama.
Gerbang depan PT Radio Taksi (Ratax) dengan merek taksi Jakarta Metro, di Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (15/8/2013).
Meskipun tarif taksi sudah naik, beberapa perusahaan taksi masih tetap memberlakukan tarif lama dalam menjaring konsumen. Selain beragamnya perusahaan taksi, konsumen pun memiliki banyak pilihan untuk memilih naik taksi dengan tarif baru atau tarif lama seperti terlihat di sebuah antrean taksi di Pasar Atrium Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (9/12/2000).
Sejumlah armada parkir di Pool Taksi Express Joglo Baru, Jakarta Barat, Kamis (5/10/2017). Dari 209 armada di pool tersebut, hanya sekitar 70 armada saja yang aktif beroperasi. PT Express Transindo Utama Tbk berencana untuk menjual sejumlah aset perusahaan dan mengurangi karyawan untuk meningkatken efisiensi biaya operasional.

Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko