Arsip Foto ”Kompas”: Riwayat Terminal Lapangan Banteng Dibiayai dari Pajak Judi

Terminal lapangan Banteng lahir dari pajak judi. Dari pendapatan retribusi terminal, lahirlah Terminal Blok M, Jatinegara, dan Tanjung Priok.

03 Sep 2025 10:00 WIB · Metropolitan

Oleh Priyombodo

Jauh sebelum menjadi taman kota yang asri, Lapangan Banteng pada era 1960-an merupakan terminal bus. Sebuah arsip berita di harian Kompas mengenai peresmian terminal bus Lapangan Banteng  pada 18 November 1967 menuturkan, ketika diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, terminal tersebut bernama Stasiun Bus Lapangan Banteng.

Pembangunan terminal bagi bus dalam kota yang terletak di sisi selatan Lapangan Banteng itu menelan biaya Rp 15 juta. Uniknya, keseluruhan  biaya tersebut diperoleh melalui pajak perjudian dari lokalisasi judi di Petak Sembilan.

Dikutip dari berita harian Kompas tanggal 25 November 1967, yang berjudul ”Casino Petak Sembilan Dari Dekat” disebutkan, Casino Petak Sembilan ini adalah suatu Arena Perjudian yang dilokalisir oleh Pemerintah DCI Djaya dengan seorang WNA, Atang namanya, sebagai penanggung jawab penuh. Dialah yang bertanggung jawab atas pajak sebanyak Rp 25 juta setiap bulannya harus disetor kepada Pemerintah DCI Djaya.

Berdasarkan statistik resmi, dari ”arena perjudian” pada setiap harinya tidak kurang dari Rp 2 juta sampai Rp 3 juta yang berhamburan di atas rolet dan macam-macam permainan lainnya, dengan pecahan uang Rp 50 dan Rp 1.000.

Arsip berita di Harian Kompas mengenai peresmian Terminal Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada  18 November 1967 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin
Arsip berita Harian ”Kompas” mengenai retribusi Terminal Lapangan Banteng yang dikumpulkan dalam satu tahun dapat menyokong dana pembangunan Terminal Blok M, Terminal Jatinegara, dan Terminal Tanjung Priok.

Terminal yang  diresmikan dilengkapi dengan emplasemen sehingga penumpang  dapat menunggu bus tanpa kepanasan sambil menikmati makanan dan minuman yang dijual di buffet dengan harga  terjangkau. Selain itu, terdapat pesawat telepon dan penerangan dengan lampu neon. Terminal juga dilengkapi dengan pengeras suara yang memutar lagu-lagu untuk menghibur penumpang.  Bus kota berangkat setiap 5 menit memuat penumpang  tidak lama menunggu.

Setahun kemudian, setelah pengoperasian terminal bus kota, pada 27 Februari 1968 diresmikan terminal bus antarkota di Lapangan Banteng. Terminal bus antarkota yang terletak di sebelah terminal bus dalam kota itu menampung 184 perusahaan bus, baik pemerintah maupun swasta.

Terminal Lapangan Banteng

Melalui retribusi resmi dari bus yang masuk ke terminal dan pungutan emplasemen, dalam kurun waktu satu tahun, Terminal Lapangan Banteng dapat membiayai pembangunan Terminal Blok M, Terminal Jatinegara, dan Terminal Tanjung Priok. Terminal Lapangan Banteng melahirkan banyak terminal yang membantu mobilitas warga ibu kota saat itu. 

Hari jadi pertama Terminal Lapangan Banteng pada 1969 diperingati secara meriah dengan menghadirkan penampilan artis dan band hingga pertunjukan wayang  golek semalam suntuk. Titik Puspa, Fetty Fatimah, Irma Rusli, dan Ida Rasjid disebut dalam arsip berita sebagai penampil dalam perayaan tersebut.

Deretan bus-bus di Terminal Bus Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 2 Juni 1971. Terminal tersebut terbagi mejadi dua bagian, yakni untuk bus dalam kota dan bus antarkota.
Suasana Terminal Lapangan Banteng pada 20 Agustus 1981.
Penutupan terminal bus Lapangan Banteng, Minggu (23/8/2081). Penutupa terminal menimbulkan kebingungan para penumpang karena bus hanya menaikkan dan menurunkan penumpang dari pinggir jalan di sekitar terminal.
Hari pertama pengosongan secara total terminal Lapangan Banteng Jakarta diwarnai kekalutan bagi para penumpang yang belum tahu persis perubahan rute bus di terminal itu. Ribuan penumpang mengeluh karena mereka tidak tahu di mana seharusnya naik, turun, dan berganti bus.
Suasana Terminal Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, Jumat, 10 November 1972.
Suasana kepadatan penumpang di terminal bus Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 26 Juni 1971.
Suasana terminal bus Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tahunn 1975 yang lebih teratur jika dibandingkan dengan 1970. Gubernur DKI Ali Sadikin membangun terminal bus reguler dan antarkota di Terminal Lapangan Banteng.
Kepadatan penumpang jelang Lebaran di terminal bus antarkota Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 1979.

Dalam perjalanannya, keberadaan Terminal Lapangan Banteng berakhir pada 1981. Fungsi Terminal Lapangan Banten sebagai terminal induk itu akan digeser ke terminal bus Senen. Gubernur DKI Jakarta saat itu, Tjokropranolo, mengatakan jika terminal harus kosong pada akhir Agustus 1981.

Bekas terminal akan dibangun taman kota yang dinilai sesuai dengan planologi kota. Taman kota akan memperindah kawasan tersebut sekaligus mengurangi polusi yang  selama ini dipenuhi oleh bus-bus kota.

Pengosongan terminal dari para pedagang asongan dimulai pada November 1981. Sejak subuh operasi penertiban dilakukan oleh petugas Ketertiban Pemda DKI. Proses pengosongan Terminal Lapangan Banteng  berlangsung hingga Juni 1982. Melalui arsip foto Kompas, penataan Lapangan Banteng menjadi taman kota berlangsung di tahun 1985.

Suasana Terminal Lapangan Banteng yang mulai berubah bentuk menjadi taman kota, 9 Juli 1985.  Jakarta yang sumpek dan padat dalam waktu dekat akan memiliki sebuah taman baru. Para pekerja sekarang ini sedang merampungkan taman umum yang dibangun di bekas terminal bus Lapangan Banteng. Untuk memeriahkan pembukaan taman, Dinas Pertanaman DKI tanggal 20-26 Juli akan menyelenggarakan Pameran Seni Flora 85.
Para pekerja sedang merampungkan taman umum yang dibangun di bekas terminal bus Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Untuk memeriahkan pembukaan taman, Dinas Pertanaman DKI akan menyelenggarakan Pameran Seni Flora 1985.
Pameran tanaman Pekan Seni Flora, Fauna, dan Lingkungan digelar di Lapangan Banteng, 29 Juli 1988. Atraksi topeng monyet menjadi hiburan pengunjung.

Untuk memeriahkan pembukaan taman, Dinas Pertamanan DKI Jakarta mengadakan pameran Seni Flora pada 20 hingga 26 Juli 1985. Pameran tanaman tersebut menandai babak baru Lapangan Banten yang menjadi salah satu ikon Kota Jakarta.

Jika dulu dari pajak lokalisasi judi saja bisa digunakan dengan baik untuk membangun terminal yang berguna bagi masyarakat, semestinya berbagai jenis pajak yang dipungut saat ini dapat digunakan untuk menyejahterakan rakyat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati