INFRASTRUKTUR

Arsip Foto ”Kompas” : Runtuhnya Jembatan Krasak

Ledakan dan kebakaran hebat yang ditimbulkan akibat kecelakaan truk tangki BBM menyebabkan jembatan runtuh dan hancur pada 10 Mei 1991.

06 Mei 2026 10:03 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Hariadi Saptono

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Jembatan Kali Krasak, yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, merupakan salah satu infrastruktur krusial bagi mobilitas masyarakat. Posisinya yang berada di jalur utama jalan nasional Magelang-Yogyakarta menjadikan jembatan ini sangat vital dalam mendukung kelancaran transportasi darat di antara kedua provinsi tersebut.

Membentang di atas Kali Krasak—salah satu sungai yang menjadi jalur aliran lahar hujan dari aktivitas Gunung Merapi—jembatan ini beberapa kali terdampak banjir lahar. Bencana tersebut kerap menimbulkan kerusakan yang pada akhirnya melumpuhkan akses jembatan secara total.

Namun, satu peristiwa besar yang paling tak terlupakan hingga saat ini ialah insiden hancurnya Jembatan Krasak pada Jumat, 10 Mei 1991, atau 35 tahun yang lalu. Tragedi ini dipicu oleh sebuah truk tangki pengangkut bahan bakar minyak yang terguling dan terbakar saat melintas. Ledakan serta kebakaran hebat yang menyusul mengakibatkan seluruh struktur jembatan tersebut runtuh berantakan.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Peristiwa ini bermula ketika sebuah truk tangki bermuatan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premix milik PT Gelora Semarang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Magelang menuju Yogyakarta. Menjelang masuk ke jembatan dengan kondisi jalan yang menurun, sang sopir, Iman Suryadi (31), kehilangan kendali atas kemudinya. Akibatnya, kendaraan oleng dan bagian belakang tangki pun terguling.

Bagian tangki yang terbalik itu terseret hingga menggores permukaan jalan. Gesekan tersebut memercikkan bunga api yang dengan cepat menyulut muatan Premix yang memang sangat mudah terbakar. Truk naas itu baru berhenti pada jarak sekitar 40 meter setelah memasuki badan jembatan.

Kobaran api yang terus membesar merembet ke sebuah pohon di sekitar lokasi. Api kemudian juga menghanguskan tiang telepon, tiang listrik, serta papan data teknis di ujung jembatan. Dalam keadaan panik, sang sopir beserta kernetnya, Ruwan (22), melompat turun dari kabin truk dan berlari menyelamatkan diri ke arah yang berlawanan.

Berdasarkan pengukuran petugas, jarak dari titik awal truk mulai selip hingga akhirnya benar-benar berhenti di tengah jembatan mencapai 147 meter.

Jembatan Krasak roboh akibat ledakan truk tangki premix yang terbakar, 10 Mei 1991
Jembatan Krasak hari Jumat (10/5/1991) roboh akibat ledakan truk tangki premix yang terbakar.
Jembatan Krasak hari Jumat (10/5/1991) roboh akibat ledakan truk tangki premix yang terbakar.
Jembatan Krasak yang roboh akibat ledakan truk tangki premix yang terbakar

Api kemudian berkobar semakin besar dan memicu dua ledakan dahsyat. Kobaran api dengan cepat melahap kerangka jembatan Callender Hamilton tipe D8 setinggi 9 meter tersebut. Akibatnya, jembatan dengan lebar 9,5 meter dan panjang 208 meter itu roboh hanya dalam waktu sekitar 25 menit setelah ledakan pertama terjadi.

Runtuhan jembatan turut menimpa truk tangki yang telah hancur sehingga bangkai kendaraan tersebut terjepit di antara konstruksi besi baja. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa kobaran api dan ledakan dari tangki—yang masing-masing berkapasitas 8.000 liter itu—sangat dahsyat dan mengerikan.

”Saking kerasnya ledakan, kami yang sedang menonton film di bioskop langsung berlarian ke luar. Ternyata asap hitam sudah membubung tinggi di sebelah utara jembatan,” tutur Arjito (18).

Saat kejadian, pemuda itu bersama puluhan orang lainnya tengah berada di dalam gedung Bioskop Chandra yang terletak di sebelah selatan jembatan. Suara ledakan yang menggelegar membuat Arjito bergegas keluar kendati film masih diputar.

​Meskipun tidak menelan korban jiwa, runtuhnya jembatan tersebut praktis memutus total akses transportasi dan lalu lintas kendaraan di jalur utama itu.

Pelajar menyeberangi Kali Krasak melalui jembatan bambu yang dibuat warga, setelah Jembatan Krasak roboh karena kebakaran truk tangki pada 10 Mei 1991
Warga menyeberangi Kali Krasak melalui jembatan bambu yang dibuat warga, setelah Jembatan Krasak roboh karena kebakaran truk tangki pada 10 Mei 1991

Sebagai dampak sementara, bus dari arah Semarang dengan tujuan Yogyakarta terpaksa berhenti di Kecamatan Salam, Magelang. Penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan diharuskan turun dan berjalan kaki menuruni tebing Kali Krasak di sebelah timur jembatan yang ambruk.

Untuk melintasi aliran sungai, penduduk setempat telah membangun sesek (jembatan bambu). Setibanya di seberang, perjalanan ke Yogyakarta dapat diteruskan menggunakan transportasi umum yang telah bersiaga di depan Pasar Tempel, Sleman. Kondisi serupa berlaku bagi penumpang dari arah sebaliknya, yakni dari Yogyakarta menuju Magelang atau Semarang.

Adapun jalur alternatif bagi kendaraan roda empat dari arah Magelang atau Semarang yang hendak menuju Yogyakarta dialihkan melalui rute Muntilan–Ngluwar–Bligo–Seyegan–Godean–Yogyakarta. Jalur ini sedikit memutar ke arah barat dengan selisih jarak sekitar 10 kilometer.

Alternatif lainnya untuk arah yang sama ialah rute Muntilan–Klangon–Kalibawang–Sentolo–Yogyakarta. Rute ini memutar lebih jauh, yakni sekitar 35 kilometer. Kedua jalur alternatif tersebut hanya dikhususkan bagi kendaraan roda empat yang memiliki sumbu muatan terberat (SMT) maksimal 3,5 ton.

Peristiwa ini tidak hanya menghambat distribusi barang, tetapi juga mengganggu sektor pariwisata di kedua provinsi. Sementara itu, Departemen Pekerjaan Umum menaksir total kerugian akibat runtuhnya sebagian bentang Jembatan Krasak tersebut mencapai Rp 3 miliar.

Pascaruntuhnya Jembatan Krasak, Departemen Pekerjaan Umum segera mengupayakan fasilitas darurat dengan membuat lintasan rata melintasi sungai. Lintasan ini diperuntukkan bagi pejalan kaki, kendaraan roda dua, serta kendaraan roda empat khusus jenis jip. Pembuatan jalan darurat yang berlokasi di bagian hilir jembatan roboh itu diselesaikan hanya dalam waktu dua hari.

Selain itu, dibangun pula jembatan darurat menggunakan konstruksi Transpanel Australia yang ukurannya lebih besar daripada model konstruksi Bailley. Jembatan darurat ini mampu dilalui oleh kendaraan dengan bobot muatan atau SMT maksimal hingga 7 ton. Pengerjaannya selesai dalam 10 hari dan mulai dioperasikan pada 23 Mei 1991, atau sekitar dua pekan setelah insiden terjadi.

Jembatan permanen sebagai pengganti struktur yang runtuh akhirnya selesai dibangun dan resmi beroperasi pada 6 Agustus 1991. Hanya dalam hitungan menit setelah dibuka untuk umum, puluhan kendaraan dari arah Magelang ataupun Yogyakarta—yang selama masa perbaikan terpaksa mengandalkan jembatan darurat—langsung melintasinya.

Jembatan pengganti tersebut dibangun dengan panjang 100 meter, atau 12 meter lebih panjang dibandingkan dengan jembatan sebelumnya.

Jembatan Krasak mulai berfungsi lagi. Sebelum difungsikan, terlihat para pekerja menyelesaikan pekerjaan akhir di mulut jembatan baru, 6 Agustus 1991
Berita Kompas terkait peresmian Jembatan Krasak yang baru

Diresmikan pada 1977

Jembatan Krasak yang runtuh akibat kecelakaan truk tangki itu dibangun pada April 1976. Jembatan ini didirikan sebagai pengganti struktur lama yang tertimbun endapan lumpur dan pasir akibat banjir lahar dari Gunung Merapi. Secara keseluruhan, jembatan ini memiliki panjang bentang 208 meter yang terbagi menjadi dua bagian, yakni 120 meter di sisi arah Yogyakarta dan 88 meter di sisi arah Magelang.

<p>Lahar hujan dari lereng Merapi menerjang Kali Krasak membuat akses Yogyakarta-Magelang, Jawa Tengah, terputus, 5 Maret 1975. KOMPAS/JULIUS POURWANTO</p><p>Jembatan kereta api terputus akibat lahar hujan dari Merapi yang menerjang Kali Krasak, 5 Maret 1975. KOMPAS/JULIUS POURWANTO</p><p>Tebing penahan arus Kali Krasak longsor, 29 Desember 1977. KOMPAS/DJOKO POURNOMO</p>

Lahar hujan dari lereng Merapi menerjang Kali Krasak membuat akses Yogyakarta-Magelang, Jawa Tengah, terputus, 5 Maret 1975. KOMPAS/JULIUS POURWANTO

Jembatan kereta api terputus akibat lahar hujan dari Merapi yang menerjang Kali Krasak, 5 Maret 1975. KOMPAS/JULIUS POURWANTO

Tebing penahan arus Kali Krasak longsor, 29 Desember 1977. KOMPAS/DJOKO POURNOMO

Selesai dikerjakan dalam sembilan bulan, Jembatan Krasak diresmikan Presiden Soeharto pada 27 Januari 1977. Pihak kontraktor dari Inggris, Balfour Beatty Ltd, bertindak selaku perancang sekaligus pelaksana. Ikut pula di dalamnya kontraktor nasional, yaitu PT Pembangunan Jaya, Jakarta.

Jembatan baru yang membentang di atas sungai Krasak di perbatasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah, telah siap dipergunakan. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listik (PUTL) Sutami melakukan pengecekan terakhir terhadap kemampuan jembatan tersebut, 10 Januari 1977.
Kesibukan para pekerja di malam hari ketika melakukan perbaikan landasan roll Jembatan Krasak di perbatasan Sleman-Magelang, 25 Agustus 1980
Jembatan Krasak baru yang membentang pada sungai batas wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jembatan ini terletak pada Jalan Nasional Yogyakarta-Magelang KM 19.

Pada 1977, karena letaknya yang berada di ruas jalan utama penghubung dua provinsi, lalu lintas umum yang melewati jembatan tersebut terbilang cukup padat. Setiap hari tidak kurang dari 667 bus melintas.

Sementara itu, dalam periode yang sama, jumlah kendaraan lain yang lewat tercatat meliputi 736 truk, 3.298 sepeda motor, 2.298 mobil penumpang, 6.718 sepeda, 176 mobil pikap, 71 mobil gandengan, dan 95 kendaraan yang ditarik hewan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji