Arsip Foto ”Kompas” : Sempati Air, dari Transportasi Tambang, Perang Vietnam, hingga Krisis 1998

Sempati Air, maskapai yang sempat menyodok ke peringkat kedua perusahaan penerbangan nasional, harus mengakhiri kiprahnya pada 1998.

27 Agt 2025 10:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Mulai dirintis sebagai penerbangan carter pada 1968, Sempati Air maskapai swasta yang pernah menempel Garuda Indonesia dalam penerbangan nasional akhirnya berhenti beroperasi pada 1998.

”Yang saya pikirkan adalah yunior-yunior saya, seperti Didi Iswandy ini. Bukan kami yang sudah jadi ban serep, sudah tua dan sudah terbang 24 tahun. Bagaimana nasib mereka nanti," ujar Captain Liliek Soediman (51), pilot pesawat maskapai Sempati Air saat berbincang dengan Kompas. Hari itu, Jumat (5/6/1998), Captain Liliek dan Kopilot Didi mengawaki pesawat Boeing 737-200 Sempati Air dalam penerbangan terakhir Sempati Air dengan rute Jakarta-Batam pergi pulang.

Penerbangan yang membawa 63 penumpang tersebut mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, pada pukul 11.55 WIB.

Kemudian setelah 45 menit berada di Batam, pesawat terbang kembali ke Jakarta dengan membawa 60 penumpang.

Penerbangan Sempati Air Jakarta-Batam pada Jumat (5/6/1998) merupakan penerbangan terakhir, sebelum perusahaan menghentikan seluruh penerbangan. Untuk menghemat biaya pada hari terakhir penerbangan Jakarta-Batam, Sempati Air tidak menggunakan jasa garbarata milik Angkasa Pura II, tapi memakai tangga Konvensional untuk penumpang naik ke Pesawat Boeing 737-200

Namun penerbangan terakhir yang berakhir di Bandara Soekarno- Hatta itu tampak biasa saja, tidak ada seremoni perpisahan atau semacamnya.

Begitu pesawat mendarat dan penumpang turun tangga mereka bubar begitu saja. Satu-satunya yang mengharukan adalah sambutan pelukan erat dari para awak darat (ground crew) ketika para awak pesawat menjejakkan kaki di darat. Tiada tangis, hanya raut muka sedih menyelimuti wajah mereka. (Kompas, 6 Juni 1998).

Sebelum penerbangan terakhir Jakarta-Batam itu, maskapai Sempati Air sudah menghentikan penerbangan ke tujuh kota yaitu Ambon, Denpasar, Jayapura, Manado, Solo, Singapura dan Timika mulai 1 Maret 1998.

Pihak manajemen perusahaan dalam keterangan pers Senin (16/2/1998) mengatakan, penghentian operasional penerbangan ini antara lain disebabkan oleh kurs rupiah yang semakin melemah terhadap dollar AS. Sementara sekitar 80 persen biaya operasi penerbangan harus dibayarkan dalam bentuk dollar AS.

Penerbangan Sempati Air Jakarta-Batam pada Jumat (05/6/1998) merupakan penerbangan terakhir, sebelum perusahaan menghentikan seluruh penerbangan. Penerbangan tersebut dipimpin Capt Liliek Soediman dengan Ko-pilot Didi.
Pilot dan awak kabin maskapai Sempati Air dalam penerbangan terakhir Jakarta-Batam pada Jumat (5/6/1998) Penerbangan itu dipimpin Capt Liliek Soediman dengan Ko-pilot Didi.
Berita Kompas tentang penerbangan terakhir Sempati Air terbit 6 Juni 1998

Sempati Air Transport (SAT) yang dirintis oleh PT Tri Usaha Bhakti (Truba) pada 1968 pada awalnya adalah pesawat carter yang melayani transportasi bagi para pekerja perusahan-perusahaan minyak yang beroperasi di Indonesia.

Bermodalkan sebuah pesawat Dakota DC-3, hingga awal 1970-an Sempati telah mengoperasikan tiga pesawat yaitu satu Dakota DC-3 dan dua buah Fokker F-27.

Pada masa itu, Sempati tidak hanya melayani penerbangan carter domestik, namun juga turut terbang di tengah kancah Perang Vietnam dan kemelut di Kamboja. Pesawat Sempati mondar-mandir ke Thailand dengan membawa pengungsi dan logistik atau terbang ke Kota Saigon (sekarang Ho Chi Minh City) di Vietnam Selatan.

Pesawat ke Vietnam itu diterbangkan oleh pilot Captain Dolf Latumahina dan Captain Murtedjo. Captain Dolf Latuhamina kemudian dikenal sebagai presiden direktur pertama Sempati Air Transport.

Sementara di dalam negeri, pesawat DC-3 dan F-27 Sempati digunakan untuk melayani penerbangan reguler ke Pontianak, Bangka, Belitung, Tanjungpinang, dan Pekanbaru. Operasional penerbangan Sempati kemudian berkembang dengan memiliki enam armada.

Pesawat Fokker 27 milik Pelita Air yang dicarter oleh Sempati tergelincir di lapangan udara Supadio, Pontianak, Senin (8/3/1976). Akiubatnya, penerbangan lainnya juga mengalami hambatan termasyk pesawat Garuda.
Dengan pesawat jet baru Fokker 100, PT Sempati Air mengembangkan sayapnya ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Tampak dalam foto suiasanga penyambutan penerbangan perdana Sempati Air di Bandara Sepinggan, 16 September 1990
Pramugari Sempati Air saat sedang bertugas melayani penumpang dalam penerbangan pesawat F-27 Sempati Air dari Surabaya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (6/4/1990).
Bayi kembar siam dari Tanjungpinang, Pristian Yuliani dan Pristian Yuliana, diturunkan dari pesawat F-27 Sempati, setelah tiba di Jakarta hari Minggu (30/8/1987), dan langsung dibawah ke RSCM.

Memasuki akhir tahun 1989 kepemilikan Sempati Air Transport (SAT) beralih ke Grup Humpuss milik Hutomo Mandala Putera dan Nusamba milik pengusaha Bob Hasan. Pengalihan ke Humpuss ini membuat saham Truba (Tri Usaha Bhakti) menjadi minoritas. Sempati Air Transport (SAT) berubah menjadi Sempati Air.

Hasan Soedjono yang ditunjuk menjadi Direktur Utama Sempati Air lantas mengembangkan armada Sempati menjadi 25 pesawat.

Dari jumlah itu 20 di antaranya adalah jet penumpang yang disewa untuk melayani 63 jalur domestik dengan 24 jalur diantaranya dikaitkan dengan 15 penerbangan internasional.

Direktur Utama Sempati Air Hasan M Soedjono saat turun dari pesawat di Bandara Hang Nadim, Batam, Sabtu (17/3/1990), menandai dimulainya penerbangan Sempati Air rute Jakarta-Batam-Padang.

Era 1991-1994 bisa dianggap sebagai titik perubahan paling mencolok dari Sempati Air yang memposisikan diri sebagai maskapai bagi para eksekutif. Sempati Air juga beriklan secara masif dengan slogan The Preferred Connection yang menawarkan keunggulan jalur-jalur penerbangan domestik maupun luar negeri.

Selain tambahan rute-rute baru, Sempati Air memperluas layanan bisnisnya ke mancanegara seperti Singapura, Penang dan Kuala Lumpur di Malaysia, Taipei, dan Perth di Australia.

Penerbangan ke Singapura dengan menggunakan armada jet baru jenis Fokker F-100 dimulai pada Februari 1991. Rute baru Jakarta-Singapura ini dilayani dua kali sehari. Pesawat pertama diberangkatkan dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pukul 04.15 dinihari dan penerbangan kedua dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.30 wib.

Untuk penerbangan dari Singapura ke Jakarta, jam keberangkatan ditentukan pukul 19.30 dan 22.55 waktu Singapura.

Tarif Jakarta-Singapura atau sebaliknya, relatif sama dengan Garuda. Tiket penerbangan pertama untuk silver class seharga 88 dollar AS dan untuk gold class 97 dollar AS. Sedangkan untuk penerbangan malam tiket dibanderol dengan harga 114 dollar AS dan 126 dollar AS. Ketentuan tarif itu berlaku sampai Juni 1991.

Pesawat Fokker F- 100, pesawat 103 penumpang pesanan Sempati Air tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Amsterdam, Belanda, Minggu (22/7/1990). Pesawat yang dijuluki Sempati Arrow ini merupakan pesawat penumpang jet swasta pertama yang akan beroperasi di wilayah udara Indonesia mulai 4 Agustus 1990
Pesawat Fokker F- 100, pesawat 103 penumpang pesanan Sempati Air tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Amsterdam, Belanda, Minggu (22/7/1990). Pesawat yang dijuluki Sempati Arrow ini merupakan pesawat penumpang jet swasta pertama yang akan beroperasi di wilayah udara Indonesia mulai 4 Agustus 1990
Pesawat Airbus A300 maskapai Sempati Air
Pesawat Airbus A300 maskapai Sempati Air
Sebanyak 100 agen terbaik perusahaan penerbangan Sempati Air dari seluruh Indonesia, diundang ke Silaturahmi Nasional (Silatnas V) sambil berlibur di Perth, Australia. Mereka terpilih dari lebih 350 agen di dalam negeri karena berprestasi mencatat penjualan tiket terbaik selama 1994. Tampak dalam foto para peserta Silatnas sedang menghadiri jamuan makan di Perth pada 14 April 1995
Stan maskapai Sempati Air dalam pameran Dirgantara 1992 yang berlangsung di area Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (21/6/1992).

Pada Oktober 1996 PT Sempati Air sempat merencanakan untuk go public dengan menjual 15-25 persen sahamnya untuk meraih dana segar Rp 250 milyar - Rp 350 milyar. Sebelum itu investor baru yaitu ASEAN Aviaton Inc (AAI) masuk sehingga kepemilikan saham Sempati Air menjadi Grup Humpuss 15 persen, Nusamba 20 persen, PT Tri Usaha Bhakti 25 persen dan AAI 40 persen.

Dana segar itu antara lain dibutuhkan untuk memperbaiki struktur permodalan, pengembangan armada, dan meningkatkan fasilitas pelayanan dalam menambah daya saing. Namun, karena terbentur masalah kinerja keuangan, rencana ini akhirnya tertunda.

Meski telah melakukan restrukturisai perusahaan, penundaan IPO (initial public offering) yang berlanjut hingga akhir 1997 ini makin memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Karena untuk menjaga tingkat leverage yang aman dan meningkatkan kinerja operasi perusahaan, dibutuhkan suntikan dana segar, terutama sampai pembenahan piutang terselesaikan.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Tahun 1997, Sempati Air juga mengalami satu insiden fatal dalam penerbangan. Pesawat Fokker-27 yang disewa Sempati Air dari Trigana dengan registrasi PK-YPM dan nomor penerbangan SSR-304, jatuh di pinggiran Kompleks Perumahan Margahayu Permai, Kampung Cicukang, Kelurahan Mekarahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (17/7/1997), pukul 11.55 wib.

Lokasi kecelakaan berjarak sekitar 200 meter dari landasan pacu Pangkalan Udara Sulaiman. Kecelakaan tersebut menewaskan 22 penumpang serta lima awaknya. Sebanyak 23 penumpang lainnya luka parah dan dirawat di rumah sakit.

Pesawat milik PT Trigana Air Service yang dioperasikan Sempati tersebut jatuh sekitar lima menit setelah lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara tujuan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Para penumpang yang seluruhnya berjumlah 45 orang, rencananya transit di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke berbagai daerah tujuan.

Jenazah korban kecelakaan pesawat F-27 carter Sempati Air yang jatuh di Kampung Cikukang, Bandung, tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (18/7/1997).

Pada akhirnya Sempati Air, maskapai yang sempat menyodok ke peringkat kedua perusahaan penerbangan nasional setelah Garuda Indonesia ini harus mengakhiri kiprahnya di industri penerbangan nasional. Kinerja keuangan yang buruk ditambah hantaman krisis ekonomi dan politik di Indonesia pada periode 1997-1998 menghentikan langkah Sempati pada Juni 1998.

Pesawat Foker F27 milik Sempati Air, jatuh di Desa Banyutami, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (5/6/1991). Diduga, kebakaan berasal dari sayap sebelah kiri. Pesawat berusaha mendarat darurat, tetapi gagal dan jatuh.
Pesawat Foker F27 milik Sempati Air, jatuh di Desa Banyutami, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (5/6/1991). Pesawat tersebut tidak membawa penumpang karena sedang dalam sesi latihan dan berusaha mendarat darurat, tetapi gagal dan jatuh. *** Local Caption *** uh


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko