KOMPETISI DOMESTIK

Arteta Berlari dari Ironi Piala FA

Dengan kedalaman skuad jauh lebih baik, Arsenal berusaha melepas nasib buruk yang selalu datang di awal kompetisi Piala FA. Arteta mendambakan trofi Piala FA kedua.

14 Feb 2026 15:29 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, SABTU — Trofi Piala FA merupakan satu-satunya prestasi dari kompetisi mayor yang diraih Manajer Arsenal Mikel Arteta sejauh ini. Namun, setelah juara pada musim debutnya, Arteta tidak pernah bisa lagi melewati putaran keempat selama empat edisi beruntun.

Ironi tersebut menyapa Arteta menjelang laga putaran keempat Piala FA antara Arsenal dan Wigan Athletic di Stadion Emirates, London, Minggu (15/2/2026), pukul 23.30 WIB. Jika menang, Arsenal akan lolos ke babak 16 besar untuk pertama kali sejak berjaya di kompetisi itu pada musim 2019-2020.

”Si Meriam”, julukan Arsenal, seperti dikutuk seusai juara. Mereka selalu kandas di putaran ketiga ataupun keempat berturut-turut. Mulai dari Southampton, Nottingham Forest, Manchester City, hingga Liverpool berhasil menghadang tim tersukses di Piala FA itu (14 gelar).

Manajer Arsenal Mikel Arteta memperlihatkan kekecewaannya dalam pertandingan Liga Inggris versus Nottingham Forest di Stadion City Ground, Nottingham, Minggu (18/1/2025) dini hari WIB. Arsenal gagal menang di laga tersebut setelah ditahan imbang 0-0 oleh tuan rumah Forest.

”Kami belum cukup baik pada hari itu. Ketika Anda datang ke kompetisi ini, Anda harus tampil sebaik mungkin,” kata Arteta soal kegagalan berulang timnya.

”Seragam dan lencana yang Anda kenakan tidak relevan di kompetisi ini, jadi kami harus membuktikan itu ketika menjamu Wigan,” lanjutnya.

Arteta lebih fokus soal motivasi tim asuhannya saat datang ke kompetisi tertua di dunia tersebut. Baginya, para pemain belum memberikan yang terbaik di Piala FA, tidak menghormati kompetisi itu setara dengan Liga Inggris ataupun Liga Champions. Pola pikir itu yang akan diubah pada musim ini.

Terlepas soal motivasi, sebenarnya ada hal lebih penting yang tidak dibahas sang manajer, yaitu kedalaman skuad. Arsenal tersingkir berulang kali karena kekurangan pemain untuk melakukan rotasi di berbagai kompetisi. Mereka berjaya di musim pertama Arteta karena hanya fokus di Piala FA.

Solusi dari masalah itu sudah dipecahkan musim ini setelah Arsenal mengeluarkan 267 juta pound sterling (Rp 6,1 triliun) untuk delapan pemain pada musim panas. Tim asuhan Arteta tampak tangguh untuk berlaga di empat kompetisi. Terbukti, mereka masih berpotensi meraih quadruple hingga saat ini.

Arsenal kemungkinan besar akan merombak total skuad dalam laga nanti. Mereka sudah bermain setiap 3-4 hari sekali sejak awal Januari dan dinanti dua laga penting di liga pada Kamis dan Minggu depan. ”Saya akan berusaha untuk membuat semua pemain terlibat dengan apa yang kami lakukan di semua kompetisi,” ujar Arteta.

Motivasi skuad yang semula dikhawatirkan Arteta agaknya bukan masalah lagi. Banyak pemain pelapis yang datang dengan misi pembuktian diri. Bek sayap Myles Lewis-Skelly, misalnya. Dia belum mendapatkan jam terbang lagi sejak dipercaya tampil di laga terakhir babak grup Liga Champions versus Kairat Almaty, akhir Januari.

Pemain Arsenal Myles Lewis-Skelly (tengah) menggiring bola di bawah kejaran para pemain Manchester City pada laga Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Senin (3/1/2025) dini hari WIB. Arsenal menang 5-1 pada laga itu dan Lewis-Skelly mencetak satu gol.

Lewis-Skelly jarang mendapatkan kesempatan starter musim ini karena banyak pesaing di posisinya, terutama dengan kedatangan pemain baru Piero Hincapie. Padahal, dia sangat diandalkan Arsenal pada paruh kedua musim lalu. Pemain tim nasional Inggris itu harus membuktikan diri lagi jika ingin menjaga kans tampil di Piala Dunia.

Laga nanti menjadi panggung unjuk gigi terbaik bagi Myles Lewis-Skelly. Arsenal sedang mengalami kekurangan pemain di posisi gelandang setelah Mikel Merino dipastikan absen sampai akhir musim akibat cedera. Lewis-Skelly bisa mengisi kekosongan Merino, sebab gelandang adalah posisi aslinya ketika di akademi klub.

Gelandang serang Arsenal Eberechi Eze juga semestinya membawa motivasi lebih. Eze meredup setelah mencetak trigol dalam derbi London Utara ke gawang Tottenham Hotspur, November lalu. Adapun di laga terakhir versus Brentford, dia ditarik setelah paruh pertama karena tampil buruk.

Lawan Arsenal memang hanya tim dari divisi ketiga Inggris (Liga Satu). Wigan bahkan berada dalam zona degradasi setelah 30 laga. Meskipun begitu, tim tamu berpotensi mengejutkan di masa transisi. Mereka baru saja memecat pelatih Ryan Lowe. Mantan pemain Stoke City, Glenn Whelan, ditunjuk sebagai pelatih interim.

Menjelang debutnya, Whelan meminta saran dari Pelatih Kepala Brentford Keith Andrews yang merupakan mantan rekannya di tim nasional Irlandia. Seperti diketahui, tim asuhan Andrews baru saja berhasil menahan imbang Arsenal 1-1 dalam pertandingan liga pada tengah pekan lalu.

Arsenal sangat kewalahan di laga itu dengan intensitas tinggi dan skema bola mati lawan. ”Itu adalah hal pertama yang saya lakukan pagi ini (menelepon Andrews). Kami berada dalam arah yang sama (dalam gaya bermain),” katanya dalam siniar Off the Ball. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji