LIGA INGGRIS

Bersama ”Si Pemadam” Igor Tudor, Tottenham Melempar Dadu

Penunjukan Tudor sebagai pelatih interim Tottenham memunculkan fakta yang bertabrakan. Tudor ditugaskan lagi sebagai pemadam kebakaran, tetapi di beda liga.

14 Feb 2026 07:07 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, JUMAT — Rekam jejak Igor Tudor sebagai pelatih interim memang cukup menjanjikan untuk menangani situasi darurat di Tottenham Hotspur. Meskipun begitu, Tudor tidak punya pengalaman melatih di Inggris dan bisa bermasalah dengan penyesuaian formasi. Dengan menunjuk Tudor, Tottenham seolah sedang melempar dadu.

Tottenham akhirnya memutuskan pengganti Pelatih Kepala Thomas Frank pada Jumat (13/2/2026) WIB. Mereka dikabarkan sudah resmi menunjuk Tudor sebagai pelatih interim untuk memimpin tim sampai akhir musim. Manajemen klub tidak ingin terburu-buru mencari pelatih tetap, masih menunggu kandidat terbaik di musim panas.

Nama Tudor bukan yang paling spesial di antara deretan pelatih yang sedang menganggur. Dia bahkan dikenal sebagai pelatih musiman, tidak pernah bertahan lama di satu klub. Pria 47 tahun itu dipecat dalam beberapa kesempatan terakhir melatih, antara lain di Juventus dan Lazio. Adapun Tudor sudah menganggur sejak Oktober 2025 setelah berpisah dengan Juve.

Namun, berbicara jangka pendek dan situasi darurat, pelatih asal Kroasia itu adalah ahlinya. ”Jika melihat kembali karier Tudor baru-baru ini, dia cukup senang mengambil peran jangka pendek. Saya pikir, dia menganggap dirinya seperti pemadam kebakaran,” kata komentator sepak bola Italia, Patrick Kendrick, kepada Sky Sports.

Juventus' Croatian coach Igor Tudor (C) celebrates with Juventus' Serbian forward #09 Dusan Vlahovic (L) and Juventus' Portuguese defender #12 Renato Veiga (R) after winning the  Italian Serie A football match between Juventus and Genoa at the Allianz Stadium in Turin, on March 29, 2025. (Photo by MARCO BERTORELLO / AFP)

Tudor mengambil alih Juve pada Maret 2025, setelah Pelatih Thiago Motta dipecat. Prestasi Juve langsung terangkat dengan hanya kalah sekali dari 11 laga. Tren positif itu mengantar Juve lolos ke kualifikasi Liga Champions. Dia mendapat kontrak dua tahun berkat capaian tersebut, tetapi dipecat oleh klub hanya empat bulan setelah itu.

Di Lazio, peran ”si pemadam” juga krusial. Tudor menggantikan Pelatih Maurizio Sarri pada Maret 2024. Lazio, yang semula berada di peringkat ke-9 dan berada dalam tren lima kali kalah dalam enam laga, mendadak bangkit. Mereka lolos ke kualifikasi Liga Europa berkat hanya sekali kalah dalam sembilan laga. Tudor berpisah dengan klub di akhir musim.

Pengaruh instan itu pula yang diharapkan Tottenham dari Tudor. ”Si Lili Putih” sedang berada dalam bayang-bayang degradasi. Mereka menempati peringkat ke-16 setelah 26 pekan berlalu, hanya terpaut lima poin dari zona degradasi. Adapun Cristian Romero dan rekan-rekan sudah tidak pernah menang dalam delapan pertandingan liga terakhir.

Dalam situasi darurat, peran utama pelatih pengganti adalah membangkitkan moral para pemain. Tudor memiliki kapabilitas untuk itu. ”Saya melihat dia bekerja dengan baik. Dia memberi saya kesan sebagai orang yang berintegritas, seseorang yang langsung menuju inti permasalahan (saat berbicara),” kata Luciano Spalletti, pengganti Tudor di Juve, Oktober lalu.

Masalahnya, kesuksesan Tudor dalam dua kesempatan terakhir sebagai pelatih interim dihasilkan di Liga Italia. Mantan asisten pelatih dari Andrea Pirlo itu sama sekali tidak punya pengalaman di Liga Inggris. Kedua liga itu terpaut jurang yang sangat lebar dalam hal gaya bermain. Inggris lebih mengandalkan intensitas tinggi dan keunggulan fisik, sementara Italia cenderung lambat dan taktis.

Gelandang Manchester City Rodri (tengah) berjibaku menghadang gealndang Tottenham Hotspur Xavi Simons (kanan) dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Senin (2/2/2026) dini hari WIB. Simons berhasil menyumbang satu asis untuk gol balasan Tottenham yang dicetak Dominic Solanke.

Belum lagi, formasi andalan Tudor adalah 3-4-2-1. Tottenham tidak memiliki pemain yang cocok untuk memainkan sistem tiga bek. Bahkan Frank saja, pelatih yang suka menggunakan tiga bek saat di Brentford, jarang menggunakan sistem serupa bersama Si Lili Putih. Frank hanya pernah memakai sistem itu sebanyak empat kali sepanjang musim ini.

Frank terakhir kali memakai tiga bek saat Tottenham berhadapan dengan Manchester City, awal Februari. Ketika itu, Tottenham didominasi oleh City dan tertinggal lebih dulu di paruh pertama. Frank mengubah formasi kembali ke empat bek setelah turun minum, lalu mereka berhasil menahan imbang City 2-2. Sejak itu, sang pelatih memutuskan kembali ke formasi empat bek di dua laga terakhir.

Menurut Sky Sports, Tudor nyaris tidak punya pilihan formasi lain. Dia menggunakan formasi tiga bek sebanyak 120 kali dari 124 laga sepanjang kariernya. Catatan tersebut kurang menguntungkan baginya sebab Tottenham sedang mengalami krisis cedera. Dia harus fleksibel dalam hal formasi untuk menghadapi keterbatasan pemain di banyak posisi.

Tugas berat sudah menanti Tudor dalam laga pertamanya. Tottenham akan menjamu tim tetangga sekaligus pemuncak klasemen Arsenal pada akhir pekan depan. Beruntung, sang pelatih memiliki waktu sekitar seminggu untuk mempersiapkan tim. Skuad Tottenham tidak bermain pada akhir pekan ini karena sudah tersingkir dari Piala FA.

Terlepas dari penunjukan Tudor, perencanaan para petinggi Tottenham semakin terlihat kurang jelas dengan pergantian pelatih konstan dalam beberapa tahun terakhir. Frank dipecat hanya setelah memimpin dalam 225 hari, belum genap semusim. Dia menggantikan Ange Postecoglou yang didepak seusai mengantar juara Liga Europa musim lalu.

Postecoglou berkata, pemecatan dirinya dan Frank dalam delapan bulan terakhir cukup untuk memperlihatkan disorientasi klub. ”Itu sangat menarik untuk dipahami apa yang sebenarnya ingin mereka bangun,” jelas sang pelatih dalam siniar The Overlap's Stick to Football. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul