AS Ancam ”Segera” Serang Kartel Narkoba Venezuela

Setelah kemarin bilang mau berdialog dengan Maduro, kini Trump mengancam akan ”segera” menyerang kartel narkoba Venezuela.

28 Nov 2025 17:10 WIB · Internasional

AFP

Oleh Luki Aulia

PALM BEACH, KAMIS — Amerika Serikat mengancam akan ”segera” menyerang kartel narkoba di Venezuela. Kartel yang sudah ditetapkan AS sebagai organisasi teroris ini dituding mengedarkan narkoba melalui jalur darat. Sebelumnya, AS beberapa kali menyerang kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di perairan internasional.

”Anda mungkin memperhatikan orang-orang tidak mengirim lewat laut lagi. Kami juga akan mulai menghentikan mereka melalui darat. Itu lebih mudah dan akan segera dimulai,” kata Trump saat berbicara dengan anggota militer AS secara virtual, Kamis (27/11/2025). Padahal, Trump sebelumnya mengaku terbuka untuk berdialog dengan Nicolas Maduro.

Pemerintahan Trump sudah mempertimbangkan opsi-opsi terkait Venezuela untuk memerangi peran Maduro dalam memasok narkoba ilegal. Maduro membantah terkait dengan perdagangan narkoba ilegal. Kantor berita Reuters yang mengutip empat pejabat AS menyebutkan, AS sudah siap memulai fase baru operasi Venezuela. Militer AS di kawasan Karibia mengklaim hanya fokus pada operasi kontra-narkotika.

(FILES) Armed civilians participate in a military deployment in support of Venezuela's President Nicolas Maduro at Bolivar Avenue in Caracas on September 23, 2025. Since returning to the White House in January, arguably no region has been in Donald Trump's crosshairs more than Latin America, the target of economic and military coercion US interventionism. The US President made his intensions clear from Day 1: vowing to take back the Panama Canal, rename the Gulf of Mexico, expel Latin American migrants and stop drugs crossing the southern border. The response has varied, determined in large part on a country's closeness to rival powerhouse China. (Photo by Federico PARRA / AFP)

Namun, kekuatan yang dikerahkan jauh melebihi kebutuhan. Sejak September lalu, militer AS sudah menyerang setidaknya 21 kali pada kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia dan Pasifik dan menewaskan sekitar 83 orang.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga pamer kekuatan udara dengan pesawat pengebom B-52 dan B-1B yang terbang di dekat wilayah Venezuela. Padahal, belum ada bukti kapal-kapal itu menyelundupkan narkoba atau jadi ancaman AS.

”Simpan pesawat kalian. Kami akan menjaga martabat kami,” kata Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello.

Kuba menuding niat AS sebenarnya hendak menggulingkan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan cara kekerasan. Penguatan pasukan militer AS di kawasan Karibia dianggap agresif dan berlebihan.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengatakan, niat AS menggulingkan Maduro adalah tindakan yang sangat berbahaya, tidak bertanggung jawab, dan melanggar hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Trump berulang kali menyatakan tidak menginginkan perubahan rezim.

Venezuelan President Nicolas Maduro takes part in a government-organized civic-military rally in Caracas, Venezuela, Tuesday, Nov. 25, 2025. (AP Photo/Cristian Hernandez)

Maduro yang berkuasa sejak 2013 pun curiga Trump berupaya menggulingkannya. Itu tak akan dibiarkan. Rakyat dan militer Venezuela dijanjikan akan menentang upaya Trump.

”Kami mengimbau rakyat Amerika Serikat untuk menghentikan kegilaan ini. Pemerintah AS bisa menyebabkan kematian yang tak terhitung jumlahnya. AS juga malah akan menciptakan skenario kekerasan dan ketidakstabilan di kawasan ini,” ujarnya.

Cabut hak operasi maskapai

Gara-gara ancaman yang diutarakan Presiden Trump itu, Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan peringatan keselamatan. FAA menyebutkan alasannya karena situasi keamanan memburuk dan aktivitas militer di dalam atau di sekitar Venezuela meningkat.

Menanggapi itu, enam maskapai penerbangan menangguhkan rute penerbangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, untuk sementara. Venezuela membalas dengan ultimatum mencabut hak operasi enam maskapai penerbangan internasional besar di Venezuela.

Keenam maskapai penerbangan itu adalah Iberia (Spanyol), TAP (Portugal), Avianca (Kolombia), LATAM (Chile dan Brasil), GOL (Brasil), dan Turkish Airlines. Mereka dianggap telah bergabung dengan aksi terorisme negara yang didukung AS.

(FILES) An Avianca plane taxis the tarmac at El Dorado International Airport in Bogota, on May 14, 2022. Venezuela announced that it had revoked the operating licenses of six airlines on November 26, 2025, accusing them of "terrorism" after they suspended their routes due to a warning issued by the United States about military activity in the region. The measure applies to Spain's Iberia, Portugal's TAP, Colombia's Avianca, Chile-Brazil's Latam, Brazil's GOL, and Turkey's Turkish Airlines. (Photo by DANIEL MUNOZ / AFP)

Venezuela menilai FAA tidak punya yurisdiksi atas wilayah udaranya. Keputusan ultimatum itu diambil Venezuela setelah keenam maskapai penerbangan itu tidak memenuhi tenggat 48 jam untuk melanjutkan penerbangan ke Venezuela.

Hanya ada beberapa maskapai penerbangan kecil yang masih terbang ke Venezuela. Akibatnya, menurut Asosiasi Agen Perjalanan dan Pariwisata Venezuela, sedikitnya 8.000 penumpang di 40 penerbangan berbeda terdampak.

Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel menilai reaksi Venezuela itu tidak proporsional. Portugal dikatakannya tidak berniat membatalkan rute penerbangan ke Venezuela. Mereka hanya melakukannya untuk alasan keamanan.

Alasan yang sama juga diutarakan Iberia karena khawatir risiko keamanannya terlalu tinggi. Mereka baru mau mulai terbang lagi ke Venezuela segera setelah persyaratan keselamatan terpenuhi.

Avianca akan menjadwal ulang penerbangan yang dibatalkan ke Caracas pada 5 Desember 2025. Maskapai Air Europa dan Plus Ultra juga menangguhkan penerbangan, tetapi izinnya tidak dicabut. Maskapai internasional Copa dan Wingo masih beroperasi di Venezuela. Begitu pula maskapai domestik yang terbang ke Kolombia, Panama, dan Curacao. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji