Sama-sama Menderita, AS-China Akhirnya Mau Berunding Soal Tarif

AS dan China mencoba meredam dampak buruk perang tarif. Sebagai tahap awal, kedua negara menggelar pembicaraan untuk mencapai ”gencatan senjata”.

10 Mei 2025 11:04 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

BEIJING, SABTU — Untuk meredam ketegangan dan perang dagang, Amerika Serikat dan China mencoba berunding dan mencari solusi. Presiden AS Donald Trump mengindikasikan dapat menurunkan tarif terhadap China, tetapi China juga diminta membuat konsesi. Bagi AS, perundingan itu hanya fokus untuk meredakan perang dagang, bukan untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang besar.

China-AS mulai menggelar perundingan pertama sejak Trump menetapkan tarif tinggi atas China, yang kemudian dibalas langkah serupa oleh China, pada Sabtu (10/5/2025). Perundingan akan berlangsung hingga Minggu (11/5/2025) di Geneva, Swiss.

Delegasi AS diwakili Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Janieson Greer. Mereka bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

A worker carries curtains at a company which produces curtains for export, in a textile industrial park in Shaoxing, in China’s eastern Zhejiang province on May 9, 2025. Chinese exports rose last month despite the trade war raging with the United States, official data showed on May 9, ahead of talks between the world's top two economies towards easing the standoff. (Photo by GREG BAKER / AFP)

Menurut Bessent, pertemuan di Swiss akan difokuskan pada deeskalasi, bukan kesepakatan perdagangan besar. Pada awal tahun ini, AS mengenakan tarif 145 persen pada China dengan bea kumulatif pada beberapa barang mencapai 245 persen. Sebagai balasan, China mengenakan tarif 125 persen pada barang-barang AS. Trump, Jumat, memberi isyarat ia dapat menurunkan tarif kepada China.

”Tarif 80 persen kepada China tampaknya tepat! China harus membuka pasarnya bagi AS. Itu akan sangat baik bagi mereka!!! Pasar tertutup tidak lagi berfungsi!!!” tulis Trump dalam unggahan media sosial.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kemudian mengklarifikasi bahwa AS tidak akan melakukannya secara sepihak. China juga perlu membuat konsesi. Hanya, China bersikeras AS harus mencabut tarif terlebih dahulu. Apa pun yang terjadi, menurut Beijing, mereka akan tetap mengutamakan kepentingannya sendiri.

Menurut Guru Besar Ekonomi dan Keuangan di China Europe International Business School Xu Bin, pada dasarnya rencana pertemuan itu untuk menunjukkan kedua belah pihak sedang berunding. ”Itu saja sudah bagus. China satu-satunya negara yang punya tarif balasan terhadap tarif Trump,” ujarnya.

Pimpinan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang berpusat di Geneva menyambut baik rencana China-AS. ”Ini penting demi meredakan ketegangan perdagangan, mencegah fragmentasi di sepanjang garis geopolitik, dan menjaga pertumbuhan global,” kata Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala.

Para pengamat menyoroti masalah terbesar dalam perundingan di Swiss. Kedua negara punya pendekatan dan strategi negosiasi yang berbeda. Pendekatan Trump pada umumnya bersifat top-down.

Trump ingin bertemu dengan Presiden China Xi Jinpin. Ia meyakini, jika mereka berdua bertemu, itu akan bisa dicapai kesepakatan besar dan meminta anak-anak buahnya untuk menangani detailnya. Sebaliknya, China ingin semua masalah diselesaikan dan semuanya disetujui di tingkat yang lebih rendah sebelum ada pertemuan pucuk pimpinan.

Infografik riset Tensi Panas Perang Tarif AS-China

China ingin AS menghapus tarif, menentukan apa yang ingin dibeli lebih banyak oleh China, dan diperlakukan setara. Para pengamat menilai, tarif bukanlah satu-satunya titik ketegangan kedua negara. Ada masalah lain selain perdagangan, seperti fentanil, pembatasan teknologi, dan geopolitik, termasuk perang di Ukraina. Ini akan mempersulit jalan menuju resolusi konflik perdagangan yang mengganggu ekonomi global.

”Mereka tidak akan menyelesaikan apa pun akhir pekan ini, selain hanya mencoba menentukan apakah akan ada proses, dan apa saja agenda yang akan dibahas,” kata pakar bisnis China di Pusat Studi Strategis dan Internasional di AS, Scott Kennedy.

Skenario terbaik untuk pasar keuangan pada tahap awal ini adalah kesepakatan untuk menurunkan tarif di bawah 100 persen agar produk bisa kembali mengalir. ”Saya memperkirakan China akan bersikeras mendapat keringanan tarif selama 90 hari seperti yang didapat negara lain untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi negosiasi,” kata Direktur John L Thornton China Center di Brookings Institution Ryan Hass. Ia tidak yakin akan ada terobosan dari perundingan AS-China.

Ryan Majerus, mitra firma hukum King & Spalding dan mantan pejabat senior Departemen Perdagangan AS juga menilai tidak ada jalan keluar yang mudah bagi kedua belah pihak. ”Mungkin perlu ada perjanjian yang lebih terbatas yang bisa menurunkan tarif sampai tingkat tertentu, tergantung pada apa yang bersedia dilakukan China,” kata Majerus.

Bagi para investor, pengurangan tarif, betapa pun kecilnya, dan kesepakatan untuk pembicaraan lanjutan terkait masalah nonperdagangan, tetap hasil yang positif. ”Jika ada gencatan senjata sementara atau pembatalan tarif yang simetris, itu akan kondusif bagi upaya negosiasi holistik yang potensial di masa mendatang,” kata mitra di firma konsultan Plenum di Shanghai, Bo Zhengyuan.

Perang dagang AS-China merugikan keduanya. Pabrik dan pekerja China akan mulai merasakan dampak tarif Trump dalam beberapa bulan ke depan. Sementara rakyat AS sudah berjuang menghadapi harga yang lebih tinggi dan pengangguran.

infografik AFP Apa yang Dijual Amerika: Produk Utama AS yang Diekspor ke China

Akar penyebab konfliknya akan tetap ada. Kondisi perdagangan global tidak seimbang karena sebagian besar negara terlalu bergantung pada produksi China yang murah dan efisien. Konsumen AS juga telanjur bergantung pada produk-produk buatan China. Situasi ini yang tidak bisa diperbaiki dengan cepat.

Namun, Kepala Ekonom ING untuk China Lynn Song tetap menganggap upaya deeskalasi apa pun penting. Apalagi jika bisa mengembalikan tarif ke sekitar 60 persen, sejalan dengan janji Trump saat kampanye.

AS-Inggris

Pertemuan AS-China digelar setelah Trump mengumumkan perjanjian perdagangan dengan Inggris. Itu kesepakatan pertama AS dengan negara yang menjadi ”korban tarif Trump”. Dokumen perjanjian setebal lima halaman yang tidak mengikat secara hukum itu menegaskan kepada para investor bahwa AS bersedia menegosiasikan keringanan bea masuk khusus untuk mobil, baja, dan aluminium Inggris.

Sebagai imbalannya, Inggris setuju untuk membuka pasarnya bagi daging sapi AS dan produk pertanian lainnya. Namun, pungutan dasar sebesar 10 persen untuk sebagian besar barang Inggris tetap berlaku. Trump tetap berkomitmen untuk mempertahankan tarifnya bagi negara-negara lain dalam pembicaraan dengan AS.

Infografik Tarif Perdagangan Baru Trump terhadap Negara Mitra

Beberapa jam kemudian, Trump tampaknya menentangnya. Ia menyatakan mungkin ada beberapa fleksibilitas pada patokan dasar, tetapi itu bisa dilakukan hanya jika ada kesepakatan yang tepat. ”Mungkin ada pengecualian di beberapa titik. Kita lihat saja nanti,” kata Trump.

Kepala Ekonom AS di Oxford Economics, Nancy Vanden Houten, mengatakan, perjanjian perdagangan AS-Inggris mungkin lebih baik daripada tidak sama sekali meski tidak cukup signifikan untuk menjamin terjadi perubahan.

Ia memperkirakan penurunan tarif pada China hingga 80 persen akan meningkatkan tarif pajak impor efektif secara keseluruhan dari semua tarif yang dikenakan Trump menjadi 18 persen dari sekitar 22 persen saat ini. Itu masih tiga kali lipat dari yang diperkirakan Oxford di awal masa jabatan Trump dan jauh di atas rata-rata 2-3 persen sebelum ia kembali menjabat. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .