TIMUR TENGAH

AS dan Iran Terus Berbalas Serangan

Washington melancarkan serangan udara baru pada Minggu dini hari. Teheran berjanji akan memberi AS pelajaran atas pelanggaran kesepakatan.

19 Jul 2026 09:30 WIB · Internasional

AFP

Oleh Elsa Emiria Leba

DUBAI, MINGGU — Selama sepekan terakhir, aksi saling serang terus menimbulkan kerugian bagi Amerika Serikat ataupun Iran. Washington kehilangan nyawa dua personel, sedangkan Teheran menanggung kerusakan berbagai infrastruktur vital. Namun, tidak ada tanda-tanda keduanya mau berhenti.

Dalam perkembangan teranyar, Komando Tengah AS (Centcom) justru melancarkan serangan udara baru, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB. Serangan berlangsung atas perintah Presiden AS Donald Trump.

”Serangan tersebut dirancang untuk lebih melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz serta menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menyerang anggota militer AS di Jordania tadi malam,” bunyi pernyataan Centcom.

Kantor berita Iran, Mehr, menyatakan, AS menyerang di dekat Sirik, Iran selatan. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan infrastruktur yang dilaporkan.

Serangan terjadi setelah dua personel militer AS tewas, satu personel hilang, dan empat orang luka di Jordania pascaserangan Iran pada Jumat (17/7/2026). Kematian ini menjadi kematian pertama sejak permusuhan AS-Iran meletus ulang pada 7 Juli 2026. Dengan demikian, jumlah korban di pihak militer AS sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026 menjadi 16 orang tewas dan lebih dari 420 orang luka.

Seorang marinir Amerika Serikat melakukan pemeriksaan di atas kapal tanker M/T Wen Yao di Teluk Oman, Kamis (16/7/2026). Militer AS menyatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kapal mematuhi blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang kembali diberlakukan di tengah meningkatnya konflik dengan Teheran.
Seorang wanita Iran berjalan melewati poster Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi baru Iran, di ibu kota Teheran pada Senin (13/4/2026). AFP/ATTA KENARE

Kemungkinan perang besar-besaran semakin terbuka setelah kesepakatan damai sementara di antara kedua pihak buyar sejak pekan lalu. Sebelum serangan udara AS, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada Sabtu (18/7/2026) mengatakan, AS akan membayar mahal karena berulang kali melanggar kesepakatan perdamaian sementara.

”Sekarang Washington berusaha meningkatkan konflik sehingga menimbulkan biaya yang lebih besar dan penghinaan lebih lanjut. Mereka harus tahu bahwa Iran memiliki pelajaran yang tak terlupakan untuk mereka,” ujar Khamenei di akun media sosial resmi pemerintah.

Iran sudah menargetkan negara sekutu AS di kawasan Teluk dan Jordania untuk membalas AS, Sabtu. Operasi militer ini dilaksanakan menyusul serangan Washington pada jembatan, pembangkit listrik, pabrik desalinasi, dan infrastruktur lain di Iran. Kementerian Kesehatan Iran mengatakan, setidaknya 50 orang tewas dan 500 orang lebih terluka akibat serangan AS dalam tiga pekan terakhir.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar. Belum ada kabar baru pula tentang upaya mediasi damai antara AS dan Iran.

Komitmen Teheran

Seorang perunding Iran mengatakan, Teheran menangguhkan komitmen terhadap kesepakatan perdamaian sementara AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini ditandatangani sekitar sebulan lalu untuk memberi kedua pihak waktu tambahan dalam menemukan jalan menuju perdamaian permanen.

”AS telah melanggar komitmennya berdasarkan kesepakatan tersebut dan sekarang Iran tidak lagi menerapkannya,” ujar Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, kepada Iran International.

Menurut Gharibabadi, tidak ada informasi baru tentang kemungkinan pembicaraan dengan AS. Teheran kini fokus pada membela negara.

Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz di lepas pantai timur Uni Emirat Arab, dekat Khor Fakkan, Senin (13/7/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan "mengambil alih" Selat Hormuz dan meminta kompensasi atas perlindungan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, Teheran masih mengejar diplomasi sambil tetap mempersiapkan kekuatan militernya. Namun, kesepakatan damai seharusnya berjalan berdasarkan ”komitmen untuk komitmen”. Oleh sebab itu, Teheran tidak lagi terikat setelah pelanggaran AS.

Pertempuran AS dan Iran terfokus pada penguasaan Selat Hormuz. Perairan internasional itu merupakan jalur perdagangan bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia. Teheran mengendalikan selat itu sejak perang berlangsung sehingga memicu lonjakan harga minyak.

Setelah kesepakatan perdamaian AS-Iran retak, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara Teheran lagi-lagi menargetkan kapal-kapal yang melanggar aturannya tentang navigasi di Selat Hormuz.

Uni Eropa dan negara-negara Teluk menyerukan kepada Iran untuk segera dan tanpa syarat menghentikan semua gangguan terhadap navigasi di selat. Negara-negara itu turut meminta Teheran menjaga selat tetap terbuka tanpa syarat atau biaya, menurut pernyataan bersama yang dilaporkan oleh televisi Pemerintah Arab Saudi, Sabtu.

Teluk terdampak

Meski pertempuran berfokus pada penguasaan selat, serangan mulai meluas dan menyasar infrastruktur sipil di sekitar beberapa negara Teluk. Akibatnya, perekonomian global kembali dalam keadaan tertekan. Harga minyak telah naik lebih dari 4 persen pada Jumat, level tertinggi dalam sebulan terakhir. 

Pada Sabtu, serangan Iran menyebabkan kerusakan parah di Kuwait. Pabrik desalinasi air minum dan fasilitas minyak di negara itu terkena serangan, menurut otoritas Kuwait dan perusahaan minyak Kuwait. Keduanya menolak untuk memberikan lokasi.

Kuwait bergantung pada desalinasi untuk 90 persen air minumnya. Serangan tersebut menjadi serangan kedua terhadap pabrik desalinasi dalam dua hari di negara itu. Kuwait sempat menutup wilayah udara karena ancaman rudal.

Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Sepanews pada Selasa (17/2/2026) menunjukkan sebuah roket ditembakkan dari sebuah kapal selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut Iran di Selat Hormuz.
Kapal-kapal kargo berlabuh di dekat Selat Hormuz, lepas pantai timur Uni Emirat Arab, Minggu (12/7/2026). Iran menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta pesawat nirawak ke sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas serangan baru Amerika Serikat. Penutupan salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia itu meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

”Tindakan Iran merupakan eskalasi yang sangat berbahaya, pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta kejahatan perang yang membutuhkan pertanggungjawaban dan penuntutan internasional,” ujar Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Jasem Mohamed al-Budaiwi.

Budaiwi melanjutkan, penargetan infrastruktur dan fasilitas sipil secara sengaja melanggar semua norma dan konvensi internasional. ”Situasi ini terus-menerus menggoyahkan keamanan dan stabilitas regional,” tegasnya.

Sementara itu, dikabarkan, Irak menembak jatuh pesawat nirawak di atas kota Irbil. Sirine udara berbunyi beberapa kali di Bahrain dan Arab Saudi. Namun, IRGC tidak menyebutkan serangan apa pun terhadap Saudi.

Sementara Jordania mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk melawan rudal Iran. IRGC juga mengklaim menghancurkan setidaknya dua pesawat tempur dan tiga pesawat lain milik AS di pangkalan militer Al-Azraq, Jordania, pada Sabtu. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji