AS terus menekan Iran terkait Selat Hormuz. Dalam serangan di malam keenam berturut-turut, AS menyerang infrastruktur di Iran.
17 Jul 2026 18:30 WIB · Internasional
AFP/SEPAHNEWS.COM
DUBAI, JUMAT — Harapan damai pascakesepakatan sementara yang disepakati Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni 2026 semakin lemah. Bukannya saling menahan diri demi kelanjutan negosiasi untuk mengakhiri perang, Iran dan AS semakin intensif saling serang.
Seperti dilansir dari The Associated Press (AP), Jumat (17/7/2026), AS memperluas serangan udara terhadap Iran dengan menyerang lebih banyak infrastruktur. Komando Tengah AS (Centcom) mengatakan, militer AS melancarkan serangan udara sejak Kamis (16/7/2026) malam hingga Jumat subuh. Serangan pada Kamis malam itu merupakan malam keenam berturut-turut serangan AS terhadap Iran.
Serangan terbaru AS yang digelar pada Jumat pagi menghantam jembatan-jembatan di Provinsi Hormozgan di selatan Iran. Menurut laporan televisi Pemerintah Iran, serangan AS menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Serangan juga menghantam Bandar Khamir, sebuah kota di pesisir Iran di Selat Hormuz. Sebuah menara pengawasan di Pelabuhan Chabahar di Teluk Oman, pelabuhan yang dikelola Iran dengan dukungan India, runtuh dalam serangan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/17/77a00e40-f422-4298-9b86-853d7a951786.jpg)
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membagikan gambar menara pengawasan yang terlihat runtuh yang terletak di jalur perdagangan utama untuk Afghanistan itu. Menara yang runtuh menjadi penegas kendali AS atas selat itu. Gambar tersebut telah beredar di media sosial melalui aktivis sebelum Hegseth membagikannya.
Pelabuhan Chabahar berulang kali menjadi target serangan udara AS. Media Pemerintah Iran mengakui adanya serangan putaran ketiga terhadap menara pengawasan itu. Namun tidak segera mengakui runtuhnya menara tersebut.
Iran menggambarkan menara itu sebagai menara untuk mengawasi lalu lintas komersial ke pelabuhan. Garda Revolusi paramiliter Iran diketahui juga beroperasi di pelabuhan-pelabuhan di seluruh negeri.
Pejabat Iran mengatakan, serangan AS pada hari Jumat menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Korban jiwa baru turut dilaporkan dalam serangan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/a8c2c03312e95caca4051af410fb51b2-wires_photo_5_.jpg)
Kedua pihak juga makin keras memperebutkan siapa yang berhak mengendalikan Selat Hormuz. Ketika kesepakatan sementara ditandatangani pada 17 Juni 2026, AS dan Iran ”berjanji” menghentikan serangan dan bersedia melanjutkan negosiasi agar tercapai perdamaian abadi.
Namun, dalam perkembangannya, isu Selat Hormuz kembali menjadi ganjalan. Serangan atas kapal niaga kembali terjadi dan memicu tanggapan keras AS, saling serang pun tak terhindarkan.
Serangan yang terus meningkat dalam sepekan terakhir dikhawatirkan berdampak pada arus ekspor minyak dari kawasan itu ke berbagai wilayah di dunia. Pada akhirnya, penurunan pengiriman akan berdampak pada harga energi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
Membalas AS, Iran melancarkan serangan rudal baru terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah. Iran salah satunya menyerang Qatar, mediator kunci dalam perang AS-Iran. Pada hari Jumat, Qatar dua kali memperingatkan masyarakat untuk berlindung. Rentetan rudal Iran menargetkan negara itu.
Orang-orang mendengar ledakan di atas kepala saat pertahanan udara menembak untuk mencegat rudal-rudal tersebut. Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan puing-puing yang berjatuhan melukai seorang anak.
Iran juga menargetkan Bahrain dan Kuwait pada Jumat pagi. Ledakan terdengar di Irbil dan Sulaymaniyah, di wilayah Kurdi semi-otonom Irak utara, saat pertahanan udara menargetkan tembakan yang datang. Belum ada laporan tentang kerusakan.
Sementara Angkatan Bersenjata Jordania mengatakan, mereka mencegat tiga rudal yang meluncur dari arah Iran. Kantor berita Jordania, Petra, melaporkan, tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/36a31dc4c4a093dfcca783ddf64aec39-20260217_ADI_Rudal_Iran_mumed.png)
Jordania, yang merupakan pangkalan bagi militer dan pesawat AS, sudah berulang kali menjadi sasaran Iran. Iran menyasar Jordania sebagai balasan atas kampanye serangan udara Amerika yang semakin meluas.
Media Pemerintah Iran mengklaim, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang pusat komando operasi khusus AS di Al-Tanf di Suriah. Serangan itu sebagai balasan atas pembunuhan tentara Iran di Iranshahr. Reuters tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Selain itu, tidak ada pernyataan langsung dari Pemerintah Suriah atau militer AS. Militer AS mengatakan, pada bulan Februari bahwa mereka telah menarik mundur pasukan dari pangkalan Al-Tanf yang terletak di pertemuan tiga perbatasan Suriah, Jordania, dan Irak.
Suriah berupaya untuk tidak terlibat dalam konflik regional yang melanda negara-negara tetangga di kawasan. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan, pada bulan Maret negaranya akan tetap berada di luar konflik apa pun kecuali jika diserang.
”Kecuali Suriah menjadi sasaran pihak mana pun, Suriah akan tetap berada di luar konflik apa pun,” kata Sharaa dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga think tank, Chatham House, di London.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/11/3393f46d3a12ffb7042bc75de4a2a027-wires_photo_135.jpg)
Selain memperluas serangan udara, AS juga memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran. Blokade itu untuk menghentikan pengiriman minyak mentah dari wilayah Iran.
Serangan yang intensif sudah berpengaruh pada pengiriman minyak dan gas. Di masa damai, selat itu menjadi perairan penting untuk pengiriman seperlima minyak dan gas yang diperdagangkan di dunia.
Di awal Juli, menurut perusahaan data maritim Lloyd’s List Intelligence, pengiriman kargo mingguan melalui Selat Hormuz turun hampir seperempat. Penurunan itu bahkan sudah terjadi sebelum peningkatan serangan balasan baru-baru ini.
Menurut Lloyd’s, mengingat risikonya, beberapa kapal pengirim minyak melintasi Selat Hormuz dengan mematikan perangkat pelacak lokasi. Selain itu, banyak juga kapal yang hanya diam di tempat.
Karena risiko pengiriman melalui laut kian tinggi, saat ini semakin banyak minyak mentah diekspor melalui jalur pipa ke wilayah yang lebih aman. Namun, jumlah yang dikirim melalui pipa hanya sedikit, tidak mampu mengimbangi kapasitas yang dapat dibawa melalui Selat Hormuz.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/16/f58e5db2-8de3-422c-beb6-693ede34d080_jpg.jpg)
Risiko pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, seperti dilansir dari Trading Economics, membuat harga minyak mentah Brent naik menjadi 84 dolar AS per barel pada hari Jumat ini. Diperkirakan harga akan mengalami kenaikan sekitar 10 persen untuk minggu ini.
Kenaikan harga terjadi seiring meningkatnya serangan antara AS dan Iran yang memperburuk kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah. Selain itu, juga terkait memberlakuan kembali blokade di pelabuhan Iran.
Centcom dalam unggahan di X menyatakan, pasukan AS mengalihkan tiga kapal komersial yang coba menerobos blokade, menonaktifkan satu kapal yang tidak patuh, dan menaiki kapal lainnya ”untuk memastikan kepatuhan penuh”.
Sementara, menurut laporan media pemerintah, IRGC memastikan Iran masih memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. IRGC menegaskan, tidak ada minyak atau gas yang akan diekspor melalui jalur air tersebut selama serangan AS berlanjut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan