Konflik berkepanjangan AS dan Iran di Selat Hormuz menyandera pasokan energi dunia. Harga minyak diprediksi mencapai titik tertinggi dalam beberapa pekan mendatang.
14 Apr 2026 09:50 WIB · Internasional
AFP/BORIS HORVAT
WASHINGTON DC, SELASA — Setelah perundingan Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal, situasi di Selat Hormuz kian memanas. AS dan Iran saling blokade selat yang menjadi jalur vital energi global tersebut. Harga minyak dunia diprediksi kembali melonjak.
Perang di Iran yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel sejak 1,5 bulan lalu telah mengacaukan distribusi energi global. Merespons serangan itu, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Imbasnya, harga minyak mentah tembus hingga di atas 100 dolar AS per barel, meningkat signifikan dibandingkan sebelum perang sekitar 70 dolar AS per barel.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, harga minyak diperkirakan akan terus tinggi hingga lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal. Bahkan, harga minyak berpotensi mencapai puncak tertinggi dalam beberapa pekan ke depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/27104db5-5cef-4042-a678-df3f46ed3df9.jpg)
”Kita akan melihat harga energi yang tinggi, bahkan mungkin naik sampai kita mendapatkan lalu lintas kapal yang signifikan melalui Selat Hormuz. Itu akan mencapai harga puncak minyak pada saat itu. Itu mungkin terjadi dalam beberapa minggu ke depan,” ujarnya saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia Semafor di Washington, AS, Senin (13/4/2026).
Prediksi ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Trump menyebutkan, harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi hingga November mendatang. Konflik berkepanjangan AS-Israel dan Iran telah menyandera Selat Hormuz sehingga membuat banyak negara menderita karena kesulitan mendapatkan minyak.
Harapan untuk membuka Selat Hormuz muncul saat AS dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Kedua negara kemudian berunding di Islamabad, Sabtu (11/4/2026). Namun, perundingan yang dimediasi Pakistan itu gagal mencapai kesepakatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/ad4fd791c49f2184a72050af67900cf9-wires_photo_2026_04_12T080149.727.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/12/30b6eafb-ef4f-47b5-a69d-cbb5ae770785.jpg)
AS kemudian memutuskan memblokade Selat Hormuz. Blokade berpotensi meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab. Kondisi tersebut membuat pasokan minyak dari kawasan Teluk semakin tidak pasti. Padahal, sekitar 20 persen minyak global dikirim melalui selat itu.
Trump mengatakan, militer AS mulai memblokade sejumlah pelabuhan Iran. Tindakan ini dilakukan untuk menekan Teheran agar segera membuka Selat Hormuz. Ia juga mendesak Iran menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang.
”Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia karena itulah yang mereka (Iran) lakukan,” ucapnya.
Trump mengisyaratkan AS masih bersedia berdialog dengan Iran. Ia mengatakan, pihaknya telah dihubungi pihak lain untuk mencapai kesepakatan dalam negosiasi itu. Namun, ia tidak menyebutkan identitas orang atau pihak yang menghubungi tersebut.
Prediksi ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Trump menyebutkan, harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi hingga November mendatang. Konflik berkepanjangan AS-Israel dan Iran telah menyandera Selat Hormuz sehingga membuat banyak negara menderita karena kesulitan mendapatkan minyak.
”Kami telah dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, orang-orang yang pantas, dan mereka ingin mencapai kesepakatan,” katanya.
Trump mengklaim militer AS telah menghancurkan Angkatan Laut Iran. Ia menyebutkan, pihaknya sudah menenggelamkan 158 kapal Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.
”Yang belum kami serang adalah sejumlah kecil kapal yang mereka sebut kapal serang cepat karena kami tidak menganggapnya sebagai ancaman besar. Jika mendekati blokade kami, kapal-kapal ini akan segera dieliminasi menggunakan sistem pembunuhan yang sama yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba di kapal-kapal di laut. Ini cepat dan brutal,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.
Komando Sentral AS (Centcom) menyatakan akan menerapkan blokade terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Blokade dimulai pada Senin pukul 10.00 waktu setempat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/b146b14143c716f021839996b0e20847-20260312_ANU_Selat_Hormuz_Jalur_Penting_mumed.jpg)
Peningkatan konflik di Selat Hormuz menimbulkan ancaman serius bagi ekonomi global. Saat ini, sejumlah negara telah mengambil langkah penghematan energi karena stok minyak dan gas yang menipis. Situasi yang kian memanas juga berpotensi mengancam gencatan senjata.
Pascapengumuman blokade AS itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz semakin tidak pasti. Menurut pelacak kapal MarineTraffic, setidaknya dua tanker yang mendekati selat itu berbalik arah segera setelah blokade AS dimulai, Senin.
Iran memperingatkan, langkah AS memblokade Selat Hormuz akan menimbulkan konsekuensi serius. Iran mengancam menjadikan pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, yang merupakan sekutu AS, sebagai target serangan. ”Jika Anda (Trump) melawan, kami akan melawan,” ujar Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/982e0d3280afce364135d9a99fc45142-TOPSHOT_IRAN_US_CONFLICT_IRGC_DRILLS_136211240.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/4d1bc46127e9b86ad81ed64ad4783dad-India_US_Israel_Iran_2.jpg)
Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menganggap blokade AS di Selat Hormuz hanya gertakan. Namun, pihaknya siap merespons dengan kekuatan militer jika eskalasi konflik di selat itu meningkat.
”Ini akan membuat situasi (Trump) saat ini lebih rumit dan membuat pasar lebih bergejolak,” katanya dalam unggahan di platform media sosial X.
Seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengatakan, langkah AS memblokade Selat Hormuz merupakan tindakan ilegal dan pembajakan maritim. Ia memperingatkan, jika keamanan pelabuhan Iran terancam, maka tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman yang akan aman.
”Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa keamanan pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua atau tidak sama sekali,” ujarnya, dilansir dari kantor berita Iran, Tasnim.
Konflik berkepanjangan di Selat Hormuz telah menarik perhatian dunia dalam enam pekan terakhir. Bisnis perusahaan energi global sangat terdampak karena pasokan minyak terganggu. Pembukaan sepenuhnya jalur tanker di selat itu sangat dinantikan.
”Jelas bahwa pembukaan kembali dan arus lalu lintas bebas melalui Selat Hormuz, bahkan jika Anda harus membayar kepada siapa pun, sangat mendasar bagi kebebasan pasar dan pasar global,” ujar Patrick Pouyanne, CEO TotalEnergies, perusahaan energi Perancis, .
Menurut Pouyanne, ketidakpastian distribusi energi melalui Selat Hormuz akan mendorong kenaikan harga minyak. Hal ini juga berdampak terhadap produksi pupuk yang dibuat dari produk turunan minyak bumi sehingga berisiko menyebabkan kenaikan harga pangan dan memicu inflasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
”Jika perang dan blokade ini berlangsung lebih dari tiga bulan, kita akan mulai menghadapi beberapa masalah pasokan yang serius, terutama pada bahan bakar jet dan diesel,” ujarnya.
Presiden Perancis Emmanuel Macron menyampaikan, segala upaya harus dilakukan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui jalur diplomatik. Bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Macron akan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pihak untuk mencari solusi terkait Selat Hormuz.
”Kami akan menyelenggarakan konferensi dengan negara-negara yang siap berkontribusi bersama kami dalam misi multinasional damai yang bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut. Misi yang sepenuhnya bersifat defensif ini terpisah dari pihak-pihak yang bertikai dalam konflik,” tulisnya di media sosial X. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti