Perang Iran melawan Israel dan AS belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. Kedua pihak justru mengindikasikan pertarungan habis-habisan.
05 Mar 2026 17:59 WIB · Internasional
AP/Vahid Salemi,
TEHERAN, KAMIS — Hingga hari keenam, Kamis (5/3/2026), perang antara Iran menghadapi Israel dan Amerika Serikat belum mereda. Israel mendapatkan dukungan dari AS untuk melanjutkan operasi militer sampai akhir. Sementara ulama Iran menyerukan pertumpahan darah melawan kedua negara tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah meyakinkannya terkait dukungan kuat Washington untuk operasi militer gabungan melawan Iran. ”Menteri Pertahanan (Pete Hegseth) mengatakan, teruslah berjuang sampai akhir. Kami bersama Anda,” ujarnya.
Sejauh ini Hegseth tidak memberikan durasi yang pasti mengenai operasi militer di Iran. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, perang dapat berlangsung selama satu bulan atau lebih.
”Anda bisa mengatakan empat minggu, tetapi bisa enam (minggu). Bisa delapan (minggu). Bisa juga tiga (minggu). Pada akhirnya, kita yang menentukan kecepatan dan tempo. Musuh tidak seimbang, dan kita akan terus membuat mereka tidak seimbang,” kata Hegseth.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/02/2385f411-b7df-4230-b95b-eee0f557d3f1.jpg)
Sebaliknya, Iran pun terus melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menghancurkan total infrastruktur militer AS dan Israel di kawasan tersebut.
Korban pun terus berjatuhan. Lebih dari 1.000 orang di Iran, sekitar 70 orang di Lebanon, dan belasan orang di Israel tewas. Serangan gabungan AS dan Israel juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Sabtu (28/2/2026). Serangan ini juga menghantam gedung sekolah yang menewaskan sekitar 200 siswa.
Gugurnya Khamenei memantik kemarahan Iran. Sebelum perang meletus, Iran telah berulang kali mengingatkan serangan ke negara itu akan berdampak luas. Mereka tidak segan-segan menyerang negara mana pun yang dianggap membantu militer AS dan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/04/a384693f-393a-4c1a-818f-a3a1bd8a232b_jpg.jpg)
Peringatan itu pun terbukti saat ini. Rudal dan drone Iran tak cuma menghantam Israel, tetapi juga sejumlah aset AS di Teluk. Kondisi tersebut membuat eskalasi perang meluas dan berdampak terhadap berbagai bidang, terutama energi. Beberapa kilang minyak berhenti beroperasi. IRGC menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.
Serangan gabungan AS dan Israel menyasar sejumlah lokasi di Iran. Hal itu membuat Iran menunda rangkaian upacara pemakaman mendiang Khamenei yang sedianya dimulai hari ini. Khamenei akan dimakamkan di kompleks Grand Mosalla di Teheran.
Iran telah berulang kali mengingatkan serangan ke negara itu akan berdampak luas. Mereka tidak segan-segan menyerang negara mana pun yang dianggap membantu militer AS dan Israel. Peringatan itu pun terbukti saat ini.
Meskipun dibombardir, Iran mengindikasikan akan memberikan perlawanan habis-habisan. Dalam siaran televisi Iran, ulama terkemuka, Ayatollah Abdollah Javadi Amoli, menyerukan kepada rakyat Iran untuk berjuang sampai akhir. Ia juga menyinggung penumpahan darah terhadap Israel dan AS.
Amoli mengatakan, saat ini Iran berada di ambang ujian besar. Oleh sebab itu, rakyat harus berhati-hati dan sepenuhnya menjaga persatuan negara itu. ”Imam zaman ini berkata, lawan Amerika yang menindas, darahnya ada di pundakku,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/36a31dc4c4a093dfcca783ddf64aec39-20260217_ADI_Rudal_Iran_mumed.png)
Tak hanya di Timur Tengah, Angkatan Laut AS juga menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia, Rabu (4/3/2026). Mengetahui adanya kapal Iran yang kandas dihantam torpedo, Angkatan Laut Sri Lanka mengirim kapal dan pesawat angkatan udara untuk misi penyelamatan.
Otoritas Sri Lanka menyebutkan, sebanyak 32 orang diselamatkan dari kapal IRIS Dena itu. Lebih dari 80 orang dilaporkan tewas dan sejumlah orang lainnya masih hilang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai kekejaman di laut. ”Frigat Dena, tamu Angkatan Laut India yang membawa hampir 130 pelaut, diserang di perairan internasional tanpa peringatan. Ingat kata-kata saya, AS akan sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan,” ucapnya.
Selain menargetkan aset militer, serangan AS dan Israel juga menyasar suksesi kepemimpinan Iran. Serangan Israel menghancurkan gedung yang disebut menjadi lokasi pertemuan Majelis Pakar Iran di kota Qom, Rabu. Majelis ini bertugas memilih pemimpin tertinggi negara itu. Namun, pihak Iran menyebutkan, tidak ada pertemuan Majelis Pakar di gedung tersebut.
Media Iran International melaporkan, Majelis Pakar dijadwalkan mengadakan sesi darurat, Kamis, untuk secara resmi mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Mojtaba didukung oleh IRGC, loyalis Ali Khamenei.
Akan tetapi, ada pertentangan di internal majelis yang terdiri atas 88 anggota itu. Beberapa anggota Majelis Pakar mengingatkan tentang kepemimpinan turun-temurun yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran publik karena akan menyerupai monarki. (AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati