Putaran perundingan berikutnya bisa dalam akhir pekan ini atau awal pekan depan. Namun, belum ada yang final sampai sekarang.
14 Apr 2026 19:00 WIB · Internasional
AP/ANJUM NAVEED
ISLAMABAD, SELASA — Tim negosiasi dari Amerika Serikat dan Iran kemungkinan akan kembali ke Pakistan dalam pekan ini untuk memulai kembali perundingan guna mengakhiri perang. Meskipun ketegangan masih meliputi Selat Hormuz, tanda-tanda upaya diplomasi yang berlanjut turut menenangkan pasar minyak global.
Kantor berita Reuters, Selasa (14/4/2026), mengutip sejumlah pejabat di Pakistan dan Iran tentang kelanjutan negosiasi damai. Belum ada konfirmasi dari para pejabat AS tentang rencana itu.
Seorang sumber yang terlibat dalam pembicaraan itu mengungkapkan, sebuah proposal telah dikirim ke Washington dan Teheran agar delegasi dari kedua pihak kembali ke Islamabad untuk memulai kembali perundingan.
”Putaran perundingan berikutnya bisa dalam akhir pekan ini atau awal pekan depan. Namun, belum ada yang final sampai sekarang,” kata seorang pejabat Kedutaan Besar Iran di Islamabad dengan syarat anonim.
Seorang pejabat senior Pakistan mengatakan, Islamabad telah mengontak Iran dan ”mendapat respons positif bahwa mereka terbuka untuk perundingagn putaran kedua”. Pejabat tersebut, serta sumber lain di Pakistan, mengungkapkan, mereka berkomunikasi dengan AS dan Iran tentang waktu pelaksanaan putaran kedua.
Kementerian Luar Negeri, militer, dan kantor kepresidenan Pakistan tidak merespons permintaan komentar tentang hal ini. Begitu pula Gedung Putih tidak menjawab permintaan tanggapan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/bb03f2e41361f6cf93658b6f71f96a92-TOPSHOT_PAKISTAN_WAR_IRAN_US_ISRAEL_DIPLOMACY_137429462.jpg)
Pertemuan putaran pertama AS-Iran untuk mengakhiri perang pada pekan lalu di Pakistan berakhir dengan kegagalan. Perundingan digelar setelah gencatan senjata disepakati selama dua pekan. Pertemuan di Pakistan bersejarah karena untuk pertama kalinya AS-Iran bertemu secara langsung sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, Iran telah menghubungi Washington pada Senin dan ingin membuat kesepakatan. Ia menambahkan, AS tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang memungkinkan Iran memiliki senjata nuklir.
The New York Times, mengutip para pejabat Iran dan AS, Selasa, melaporkan, AS dan Iran saling bertukar proposal tentang pembatasan nuklir, tetapi berbeda pendapat soal lamanya kesepakatan. Selama negosiasi di Pakistan, AS meminta Iran menangguhkan pengayaan uranium selama 20 tahun. Iran dalam tanggapan resmi yang dikirim pada Senin waktu setempat menyebutkan, mereka akan menyetujui penangguhan hingga lima tahun. Trump, menurut seorang pejabat AS, menolak tawaran Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi AS di Pakistan, mengatakan kepada Fox News, Senin, bahwa AS telah ”membuat banyak kemajuan” melalui komunikasi dengan Teheran tentang apa yang bisa diakomodasi Washington dan yang tidak bisa.
Vance mengatakan, Trump berkeras bahwa setiap material nuklir yang diperkaya harus dikeluarkan dari Iran. Harus dibentuk mekanisme untuk memverifikasi Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
”Teheran bergerak ke arah kami. Itulah sebabnya saya pikir kita akan mengatakan bahwa kita punya beberapa tanda yang baik, tetapi mereka tidak bergerak cukup jauh,” kata Vance, tanpa mengungkapkan detail lebih lanjut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/26/f6728477-d6bc-40e6-a0ee-30372c8f6f85.jpg)
Sejak AS-Israel memulai serangan pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz untuk semua kapal, terutama yang terkait dengan AS-Israel dan sekutunya. Sebagai balasan, militer AS mulai memblokir lalu lintas pengiriman masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, Senin.
Komando Tengah AS (Centcom) menyebutkan, blokade diberlakukan terhadap kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman. Blokade tidak akan menghalangi jalur transit netral melalui Selat Hormuz ke atau dari tujuan di luar Iran.
Seorang juru bicara militer Iran menyebut setiap pembatasan AS terhadap pelayaran internasional sebagai ”pembajakan”. Ia memperingatkan, jika pelabuhan Iran terancam, tidak ada pelabuhan di Teluk Persia atau Teluk Oman yang akan aman. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan melanggar gencatan senjata.
Blokade AS semakin memperburuk prospek keamanan energi global dan pasokan aneka produk yang bergantung pada minyak bumi. Sekutu AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), termasuk Inggris dan Perancis, menyatakan tidak akan terlibat dalam konflik dengan ikut serta dalam blokade AS. Mereka lebih menekankan perlunya membuka kembali Selat Hormuz.
Badan Energi Internasional (IEA) pada Selasa mengumumkan akan memangkas tajam perkiraan pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global dari level tahun 2025. Langkah ini mencerminkan gangguan yang semakin meningkat akibat perang di Timur Tengah yang mengganggu aliran minyak dan membebani perekonomian global. (REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra