Emas menguat dan dolar AS melemah setelah AS-Iran mengumumkan kesepakatan damai. Sementara pasokan energi diperkirakan masih butuh berbulan-bulan untuk normal.
NEW YORK, SENIN — Harga emas naik lebih dari 2 persen dan dolar AS melemah setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kerangka awal kesepakatan damai. Bursa saham Asia bergairah. Akan tetapi, pemulihan pasokan minyak diperkirakan masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Harga emas menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026). Pengumuman kesepakatan AS-Iran menekan harga minyak, meredakan kekhawatiran inflasi, dan membuat dolar AS melemah.
Harga emas spot naik 2,5 persen menjadi 4.322,87 dolar AS per troy ounce pada Senin pagi. Level itu menjadi yang tertinggi sejak 9 Juni. Kenaikan tersebut juga memperpanjang penguatan emas untuk hari ketiga berturut-turut. Adapun kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 2,5 persen menjadi 4.344,80 dolar AS per troy ounce.
Logam mulia lain juga menguat. Harga perak spot naik 3,6 persen menjadi 70,39 dolar AS per troy ounce, platinum naik 3,3 persen menjadi 1.773,70 dolar AS, dan paladium menguat 3,3 persen menjadi 1.324,75 dolar AS.
Kenaikan harga logam mulia terjadi menyusul pengumuman kesepakatan AS dan Iran. Kesepakatan itu akan mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan, kesepakatan itu akan ditandatangani secara resmi pada Jumat di Swiss.
Sementara itu, nilai tukar dolar AS turun ke level terendah dalam 10 hari. Pelemahan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, harga minyak turun lebih dari 4 persen.
”Harga minyak yang lebih rendah dan dolar AS yang lebih lemah, yang berasal dari berkurangnya risiko geopolitik dan perkiraan pembukaan kembali Selat Hormuz, membantu menenangkan ekspektasi inflasi,” kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, perusahaan perantara perdagangan instrumen keuangan.
”Kombinasi ini memberikan dorongan terbaik bagi logam mulia dalam beberapa pekan terakhir. Akan tetapi, keberlanjutannya akan bergantung pada seberapa tahan lama kesepakatan damai itu terbukti,” tambahnya.
Harga emas sebelumnya turun sekitar 20 persen sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak global melonjak, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Emas biasanya kurang menarik dalam suku bunga tinggi. Sebab, tidak memberikan imbal hasil memadai. Setelah pengumuman kesepakatan damai, pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Investor kini menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve pada Rabu pekan ini. Suku bunga diperkirakan tetap dipertahankan. Perhatian pasar tertuju pada pernyataan kebijakan dan konferensi pers pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh.
”Kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, risiko fiskal, dan fragmentasi geopolitik yang berlanjut masih menopang permintaan jangka panjang untuk emas. Meredanya inflasi yang dipicu energi dapat membantu tema-tema ini kembali mendapat daya tarik,” tulis OCBC Singapura dalam catatan kepada investor.
Dolar melemah
Peredaan ketegangan geopolitik dan penurunan kekhawatiran atas inflasi menurunkan nilai tukar dolar AS. ”Saya pikir kita akan melihat dolar turun dalam beberapa sesi ke depan. Kita mungkin akan melihat beberapa mata uang berisiko, seperti dolar Australia dan yen sedikit menguat,” kata Nick Twidale, Kepala Strategi Pasar ATFX Global di Sydney, perusahaan perantara perdagangan instrumen keuangan.
Euro berada di 1,1601 dolar AS, naik 0,3 persen sejauh perdagangan Asia. Poundsterling menguat 0,2 persen menjadi 1,3434 dolar AS. Dolar Australia, yang sensitif terhadap risiko, naik 0,6 persen menjadi 0,7079 dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,4 persen menjadi 0,5854 dolar AS.
Twidale mengatakan, pasar masih akan menunggu pembuktian pembukaan Selat Hormuz dan pemulihan arus minyak. ”Akan ada banyak sikap menunggu dan melihat, tentang seberapa cepat selat itu benar-benar dibuka kembali dan berapa lama arus minyak benar-benar kembali normal. Itu tentu akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu,” ujarnya.
Meski dolar AS melemah secara umum, yen tetap tertekan. Pasar masih mencermati selisih suku bunga AS-Jepang yang lebar, sikap hati-hati menjelang keputusan Bank of Japan, dan meningkatnya selera risiko setelah kabar damai AS-Iran.
Yen Jepang bergerak di sekitar 160 per dolar AS. Di pasar, level sekitar 160 per dolar AS dipandang sebagai ambang psikologis yang dapat memicu spekulasi intervensi otoritas Jepang.
Bursa Asia menguat
Sementara itu, pasar saham Asia menguat tajam pada awal perdagangan Senin. Pengumuman kesepakatan AS-Iran meningkatkan selera risiko investor. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 4,99 persen. Indeks Kospi Korea Selatan naik 5,54 persen.
Meski demikian, kehati-hatian masih bertahan karena pasar menunggu rincian lebih lanjut. Nasib program nuklir Iran juga masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan.
”Ini adalah kesepakatan tahap pertama, bukan penyelesaian damai final,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management, firma penasihat pasar valuta asing dan komoditas.
Menurut Innes, pasar kini akan memperdagangkan pembuktian, termasuk penandatanganan resmi di Swiss, pembersihan ranjau, dan kemampuan Israel menahan diri.
”Ini adalah kerangka gencatan senjata yang bisa diterima pasar, tetapi menunda masalah-masalah sulit: kepatuhan Iran dan apakah Hizbullah tetap diam,” ujarnya.
Meski harga minyak turun setelah pengumuman kesepakatan, persoalan pasokan minyak dan gas diperkirakan belum akan normal dalam waktu dekat. Pakar energi memperkirakan perusahaan energi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali beroperasi pada tingkat yang mampu memenuhi permintaan dunia.
Hal ini karena proses pengapalan dan penyulingan akan memakan waktu. Apalagi, masih ada keraguan atas keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kondisi diperparah karena saat ini sebagian produsen di Timur Tengah sudah menghentikan produksi. Proses mengoperasikan produksi lagi juga akan memakan waktu.
Menurut Alan Gelder, Wakil Presiden Senior Pasar Penyulingan, Kimia, dan Minyak Wood Mackenzie, negara yang memiliki pipa atau rute alternatif di luar Selat Hormuz kemungkinan termasuk yang paling cepat memulihkan produksi. Negara-negara ini seperti seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Namun, tidak semua negara berada dalam posisi yang sama. Salah satunya Irak yang diperkirakan akan butuh waktu lebih lama.
Kendati kesepakatan damai telah diumumkan, arus pelayaran Selat Hormuz juga diperkirakan tak akan pernah sama lagi seperti sebelum perang. ”Kapal, pembeli, dan produsen energi akan lebih berhati-hati setelah Iran terbukti mampu menutup salah satu jalur energi terpenting dunia selama berbulan-bulan,” kata kolumnis energi Ron Bousso dalam kolom opini Reuters Open Interest.
Arus pelayaran di sana kemungkinan akan turun, dari hampir 20 juta barel per hari sebelum perang menjadi sekitar 16 juta barel per hari dalam beberapa bulan. Penurunan juga bisa berlangsung sampai beberapa tahun mendatang. Sebab, beberapa negara mengalihkan pengiriman dari Selat Hormuz.
Arab Saudi, misalnya, meningkatkan pengiriman dari Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Sementara Uni Emirat Arab memperbesar ekspor dari Fujairah, di luar Selat Hormuz. (AFP/AP/REUTERS)
NEW YORK, SENIN — Harga emas naik lebih dari 2 persen dan dolar AS melemah setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kerangka awal kesepakatan damai. Bursa saham Asia bergairah. Akan tetapi, pemulihan pasokan minyak diperkirakan masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Harga emas menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026). Pengumuman kesepakatan AS-Iran menekan harga minyak, meredakan kekhawatiran inflasi, dan membuat dolar AS melemah.
Serial Artikel
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Langsung Turun
Perdamaian akan ditandatangani di Geneva, Swiss, pekan ini. Trump mencabut blokade atas Iran. Namun, Israel masih terus menyerang Lebanon dan mengabaikan AS-Iran.
Harga emas spot naik 2,5 persen menjadi 4.322,87 dolar AS per troy ounce pada Senin pagi. Level itu menjadi yang tertinggi sejak 9 Juni. Kenaikan tersebut juga memperpanjang penguatan emas untuk hari ketiga berturut-turut. Adapun kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 2,5 persen menjadi 4.344,80 dolar AS per troy ounce.
Logam mulia lain juga menguat. Harga perak spot naik 3,6 persen menjadi 70,39 dolar AS per troy ounce, platinum naik 3,3 persen menjadi 1.773,70 dolar AS, dan paladium menguat 3,3 persen menjadi 1.324,75 dolar AS.
Kenaikan harga logam mulia terjadi menyusul pengumuman kesepakatan AS dan Iran. Kesepakatan itu akan mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan, kesepakatan itu akan ditandatangani secara resmi pada Jumat di Swiss.
Sementara itu, nilai tukar dolar AS turun ke level terendah dalam 10 hari. Pelemahan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, harga minyak turun lebih dari 4 persen.
”Harga minyak yang lebih rendah dan dolar AS yang lebih lemah, yang berasal dari berkurangnya risiko geopolitik dan perkiraan pembukaan kembali Selat Hormuz, membantu menenangkan ekspektasi inflasi,” kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, perusahaan perantara perdagangan instrumen keuangan.
”Kombinasi ini memberikan dorongan terbaik bagi logam mulia dalam beberapa pekan terakhir. Akan tetapi, keberlanjutannya akan bergantung pada seberapa tahan lama kesepakatan damai itu terbukti,” tambahnya.
Harga emas sebelumnya turun sekitar 20 persen sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak global melonjak, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Emas biasanya kurang menarik dalam suku bunga tinggi. Sebab, tidak memberikan imbal hasil memadai. Setelah pengumuman kesepakatan damai, pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Investor kini menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve pada Rabu pekan ini. Suku bunga diperkirakan tetap dipertahankan. Perhatian pasar tertuju pada pernyataan kebijakan dan konferensi pers pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh.
”Kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, risiko fiskal, dan fragmentasi geopolitik yang berlanjut masih menopang permintaan jangka panjang untuk emas. Meredanya inflasi yang dipicu energi dapat membantu tema-tema ini kembali mendapat daya tarik,” tulis OCBC Singapura dalam catatan kepada investor.
Dolar melemah
Peredaan ketegangan geopolitik dan penurunan kekhawatiran atas inflasi menurunkan nilai tukar dolar AS. ”Saya pikir kita akan melihat dolar turun dalam beberapa sesi ke depan. Kita mungkin akan melihat beberapa mata uang berisiko, seperti dolar Australia dan yen sedikit menguat,” kata Nick Twidale, Kepala Strategi Pasar ATFX Global di Sydney, perusahaan perantara perdagangan instrumen keuangan.
Euro berada di 1,1601 dolar AS, naik 0,3 persen sejauh perdagangan Asia. Poundsterling menguat 0,2 persen menjadi 1,3434 dolar AS. Dolar Australia, yang sensitif terhadap risiko, naik 0,6 persen menjadi 0,7079 dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,4 persen menjadi 0,5854 dolar AS.
Twidale mengatakan, pasar masih akan menunggu pembuktian pembukaan Selat Hormuz dan pemulihan arus minyak. ”Akan ada banyak sikap menunggu dan melihat, tentang seberapa cepat selat itu benar-benar dibuka kembali dan berapa lama arus minyak benar-benar kembali normal. Itu tentu akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu,” ujarnya.
Meski dolar AS melemah secara umum, yen tetap tertekan. Pasar masih mencermati selisih suku bunga AS-Jepang yang lebar, sikap hati-hati menjelang keputusan Bank of Japan, dan meningkatnya selera risiko setelah kabar damai AS-Iran.
Yen Jepang bergerak di sekitar 160 per dolar AS. Di pasar, level sekitar 160 per dolar AS dipandang sebagai ambang psikologis yang dapat memicu spekulasi intervensi otoritas Jepang.
Bursa Asia menguat
Sementara itu, pasar saham Asia menguat tajam pada awal perdagangan Senin. Pengumuman kesepakatan AS-Iran meningkatkan selera risiko investor. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 4,99 persen. Indeks Kospi Korea Selatan naik 5,54 persen.
Meski demikian, kehati-hatian masih bertahan karena pasar menunggu rincian lebih lanjut. Nasib program nuklir Iran juga masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan.
”Ini adalah kesepakatan tahap pertama, bukan penyelesaian damai final,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management, firma penasihat pasar valuta asing dan komoditas.
Menurut Innes, pasar kini akan memperdagangkan pembuktian, termasuk penandatanganan resmi di Swiss, pembersihan ranjau, dan kemampuan Israel menahan diri.
”Ini adalah kerangka gencatan senjata yang bisa diterima pasar, tetapi menunda masalah-masalah sulit: kepatuhan Iran dan apakah Hizbullah tetap diam,” ujarnya.
Serial Artikel
Pendudukan Israel Hingga Program Nuklir Iran Bisa Jadi Hambatan
Jelang penandatangan kesepakatan perdamaian dan kelanjutan perundingan AS-Iran, sejumlah masalah bisa jadi pengacau.
Meski harga minyak turun setelah pengumuman kesepakatan, persoalan pasokan minyak dan gas diperkirakan belum akan normal dalam waktu dekat. Pakar energi memperkirakan perusahaan energi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali beroperasi pada tingkat yang mampu memenuhi permintaan dunia.
Hal ini karena proses pengapalan dan penyulingan akan memakan waktu. Apalagi, masih ada keraguan atas keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kondisi diperparah karena saat ini sebagian produsen di Timur Tengah sudah menghentikan produksi. Proses mengoperasikan produksi lagi juga akan memakan waktu.
Menurut Alan Gelder, Wakil Presiden Senior Pasar Penyulingan, Kimia, dan Minyak Wood Mackenzie, negara yang memiliki pipa atau rute alternatif di luar Selat Hormuz kemungkinan termasuk yang paling cepat memulihkan produksi. Negara-negara ini seperti seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Namun, tidak semua negara berada dalam posisi yang sama. Salah satunya Irak yang diperkirakan akan butuh waktu lebih lama.
Kendati kesepakatan damai telah diumumkan, arus pelayaran Selat Hormuz juga diperkirakan tak akan pernah sama lagi seperti sebelum perang. ”Kapal, pembeli, dan produsen energi akan lebih berhati-hati setelah Iran terbukti mampu menutup salah satu jalur energi terpenting dunia selama berbulan-bulan,” kata kolumnis energi Ron Bousso dalam kolom opini Reuters Open Interest.
Serial Artikel
AS-Iran Saling Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Bakal Melonjak
Konflik berkepanjangan AS dan Iran di Selat Hormuz menyandera pasokan energi dunia. Harga minyak diprediksi mencapai titik tertinggi dalam beberapa pekan mendatang.
Arus pelayaran di sana kemungkinan akan turun, dari hampir 20 juta barel per hari sebelum perang menjadi sekitar 16 juta barel per hari dalam beberapa bulan. Penurunan juga bisa berlangsung sampai beberapa tahun mendatang. Sebab, beberapa negara mengalihkan pengiriman dari Selat Hormuz.
Arab Saudi, misalnya, meningkatkan pengiriman dari Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Sementara Uni Emirat Arab memperbesar ekspor dari Fujairah, di luar Selat Hormuz. (AFP/AP/REUTERS)