AS dan Inggris menarik warganya dari pangkalan militer, Iran mengosongkan wilayah udara. Tanda-tanda persiapan serangan AS sudah terlihat.
15 Jan 2026 13:30 WIB · Internasional
AP Photo/Vahid Salemi
DUBAI, KAMIS — Situasi di Iran semakin tegang. Di dalam negeri, Pemerintah Iran masih berupaya meredakan aksi unjuk rasa masif di berbagai kota. Dari luar negeri, ancaman serangan AS ke wilayah Iran terasa semakin nyata.
Situasi di lapangan digambarkan sudah seperti persiapan perang. Dua pejabat Eropa mengatakan, intervensi militer AS dapat terjadi dalam 24 jam ke depan.
”Semua sinyal sudah menunjukkan serangan AS akan segera terjadi. Semua orang waspada. Situasi yang tidak pasti ini bagian dari strategi,” kata seorang pejabat militer Barat, dikutip kantor berita Reuters, Kamis (15/1/2026).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/14/8430fbc5-e77f-4df0-9c2c-edae1b539f04_jpg.jpg)
Di tengah kekhawatiran serangan militer AS, Iran sempat menutup wilayah udaranya selama 5 jam pada Rabu. Semua penerbangan, kecuali penerbangan internasional dari dan ke Iran dengan izin resmi dihentikan.
Banyak maskapai terpaksa membatalkan, menunda, atau mengubah rute penerbangan. Namun, Iran kembali membuka wilayah udaranya pada Kamis.
Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, AS menarik personel dari pangkalan-pangkalan militer utama di Timur Tengah sebagai pencegahan mengingat meningkatnya ketegangan regional. Sejumlah personel AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, dievakuasi. Kedutaan Besar AS di Qatar dan Kuwait juga menyarankan warga AS untuk membatasi perjalanan tidak penting ke pangkalan-pangkalan militer.
AS punya pasukan di seluruh Timur Tengah, termasuk markas besar Komando Pusat di Al Udeid dan markas besar Armada Kelima AL AS di Bahrain. Di perairan lepas pantai Iran, Angkatan Laut AS punya dua kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir.
Iran balik mengancam akan membalas serangan apa pun dari AS. Begitu AS menyerang, Iran akan membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS.
Namun, di Gedung Putih, Trump mengisyaratkan ia masih menunggu dan melihat krisis di Iran. Trump sudah menyatakan akan menyerang jika Pemerintah Iran terus saja menangkapi dan mengeksekusi para pengunjuk rasa.
Ia diberi tahu bahwa Iran telah berhenti menarget pengunjuk rasa. Rencana eksekusi pengunjuk rasa yang ditahan juga telah dihentikan.
Otoritas Iran menuding ancaman serangan AS hanya dalih untuk mengintervensi Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada stasiun televisi AS, Fox News, mengatakan, tidak akan ada hukuman gantung hari ini ataupun besok. ”Tidak ada rencana menggantung sama sekali,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Iran berjanji untuk mempercepat persidangan bagi para pengunjuk rasa. Araghchi memperingatkan Trump untuk tidak mengulangi kesalahan sama yang dilakukannya pada Juni 2025.
Seorang pejabat Iran yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, Iran sudah meminta negara-negara sekutu AS di Timur Tengah untuk mencegah AS menyerang Iran. Teheran juga sudah memberi tahu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara itu akan diserang jika AS betul-betul menyerang Iran.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, beberapa pihak mengatakan, serangan AS mungkin akan mempercepat keruntuhan Pemerintah Iran dan mengacaukan negara berpenduduk 90 juta jiwa itu. Bahkan, AS disebutkan akan mendorong pemberontakan kelompok separatis minoritas Kurdi dan Baluch. Pada akhirnya AS akan membuat program nuklir dan rudal Iran tidak aman.
Sejumlah penilaian intelijen AS menyimpulkan, meski unjuk rasa di Iran berisiko tinggi, Pemerintah Iran tampaknya tidak akan dengan mudah diruntuhkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/e20004409d6e573783ab917e8bcf0a64-Iran_Protests.jpg)
Abdullah Mohtadi, pemimpin Partai Komala Kurdistan Iran, partai Kurdi yang mengadvokasi demokrasi sekuler, menepis ancaman separatisme. Ia mengatakan, hanya serangan AS yang signifikan yang dapat menghentikan pembunuhan massal terhadap para pengunjuk rasa oleh pasukan keamanan. Ia percaya kelompok oposisi dapat bekerja sama untuk mengganti pemerintahan teokratis dengan pemerintahan demokratis.
”Kekacauan sudah ada. Yang terpenting menghentikan pembantaian orang-orang," kata Mohtadi yang tinggal di pengasingan di London, Inggris.
Sebuah sumber mengatakan, Trump telah meninjau berbagai opsi, termasuk serangan terbatas pada target militer simbolis. Sejumlah ahli mengungkapkan, Trump mungkin tidak punya pilihan lain selain campur tangan jika Iran tetap saja membunuh warganya. Jika tidak, Trump berisiko kehilangan kredibilitas.
Jon Alterman dari lembaga kajian Center for Strategic and International Studies menuturkan, Trump dapat memiliki dampak lebih besar dengan mengganggu aliran uang tunai Iran dan melancarkan serangan siber, serta memperpanjang aksi unjuk rasa. ”Serangan militer tak akan berdampak besar karena orang pasti akan mengharapkan hasil instan. Jika tak ada hasilnya, orang akan menganggapnya gagal,” ujarnya.
Menurut laporan Kantor Berita Aktivis HAM (HRANA) di AS, penindakan keras pasukan keamanan terhadap aksi unjuk rasa telah menewaskan sedikitnya 2.615 orang. Jumlah itu melebihi jumlah korban tewas dalam unjuk rasa atau kerusuhan lainnya di Iran dalam beberapa dekade. Ini juga mengingatkan pada kekacauan yang terjadi selama Revolusi Islam 1979 di Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/aaadc250-ef6b-44b3-bb2a-dccd6f264783.jpg)
Unjuk rasa dimulai pada 28 Desember karena runtuhnya mata uang rial Iran dan krisis ekonomi. Itu dampak dari sanksi internasional yang dikenakan karena program nuklir Iran.
”Aparat memakai senjata api saat orang-orang berunjuk rasa. Suasananya berubah seperti perang, tetapi rakyat tak bersenjata. Hanya tentara yang pegang senjata,” kata Ahmadreza Tavakoli (36), salah satu warga.
Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni-Ejei mengatakan, pemerintah harus melanjutkan dengan persidangan dan eksekusi yang cepat. ”Kita harus melakukannya sekarang dan cepat. Jika terlambat, dua tiga bulan kemudian efeknya tidak akan sama,” kata Mohseni dalam video yang beredar secara daring.
HRANA menyebutkan sejauh ini telah memverifikasi kematian 2.403 pengunjuk rasa dan 147 orang yang berafiliasi dengan Pemerintah Iran. Ini jauh melampaui jumlah korban dari gelombang protes sebelumnya yang ditumpas aparat keamanan pada 2022 dan 2009.
Kerusuhan dalam skala sebesar itu mengejutkan pihak berwenang pada saat yang rentan. Otoritas Iran telah berupaya memproyeksikan citra yang menunjukkan mereka tetap mendapat dukungan publik.
Stasiun televisi milik Pemerintah Iran menyiarkan rekaman upacara pemakaman untuk korban tewas dalam kerusuhan di Teheran, Isfahan, Bushehr, dan di kota-kota lain. Orang-orang juga mengibarkan bendera dan gambar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan mengangkat berbagai poster dengan slogan antikerusuhan. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto