NUKLIR

AS-Iran Setuju Pertemukan Tim Teknis, Diplomasi Masih Terbuka

Dari Swiss, perundingan AS-Iran akan dilanjutkan ke Austria. AS membawa tuntutan berat ke Iran.

27 Feb 2026 09:00 WIB · Internasional

AP

Oleh Iwan Santosa

GENEVA, KAMIS — Putaran ketiga perundingan Amerika Serikat dengan Iran menyepakati pertemuan lanjutan oleh tim teknis. Washington membawa tuntutan berat ke Teheran.

Kesepakatan pertemuan lanjutan diumumkan Menteri Luar Negeri Oman Badr Hamad Al-Busaidi, Kamis (26/2/2026) malam waktu Geneva, Swiss, atau Jumat pagi WIB. ”Kami telah menyelesaikan hari setelah kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran,” tulis Al-Busaidi di media sosial.

”Kami akan melanjutkan segera setelah konsultasi di ibu kota masing-masing. Diskusi pada tingkat teknis akan berlangsung minggu depan di Vienna. Saya berterima kasih kepada semua pihak atas upaya mereka: para perunding, IAEA, dan tuan rumah kami, Pemerintah Swiss,” ujarnya menambahkan.

Dalam rangkaian terbaru perundingan AS-Iran, Oman menjadi penengah. Oman menyampaikan pesan dari para pihak dalam pertemuan tidak langsung itu. Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi hadir sebagai fasilitator pendamping.

Tim AS dipimpin Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. Adapun Iran dipimpin Menlu Abbas Araghchi.

Kementerian Luar Negeri Iran, selepas pertemuan Geneva, juga mengeluarkan pernyataan tertulis. ”Hari ini adalah salah satu putaran perundingan yang paling serius dan terpanjang. Kami punya waktu hampir empat jam di pagi hari dan lebih dari dua jam di sore hari. Perundingan tersebut dilakukan secara tidak langsung, dengan Bapak Al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman, dan di beberapa bagian, Bapak Grossi yang memfasilitasi diskusi antara kedua pihak,” demikian pernyataan tertulis itu.

Switzerland's Foreign Minister Ignazio Cassis gestures next to Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi during a bilateral meeting between Switzerland and Iran, in Geneva, Switzerland on February 17, 2026. (Photo by CYRIL ZINGARO / POOL / AFP)

”Selama jam-jam yang panjang dan intensif ini, kami mencapai kemajuan yang baik. Kami secara serius menangani unsur-unsur perjanjian, baik di bidang nuklir maupun di bidang sanksi. Mengenai beberapa hal, sekarang sudah ada kesepahaman dan, dalam hal lain, wajar jika kita berbeda pendapat. Namun, mungkin ada keseriusan yang lebih besar di kedua belah pihak dibandingkan sebelumnya, dengan tujuan mencapai solusi yang dinegosiasikan,” lanjut keterangan itu.

Tim teknis Iran-AS akan bertemu di Vienna, Austria, pada Senin depan. Tim akan bertemu di kantor IAEA untuk mengembangkan kerangka kerja untuk mengatasi beberapa masalah teknis. ”Kami telah dengan jelas menguraikan ekspektasi kami terkait pencabutan sanksi. Konsultasi perlu dilakukan di ibu kota dan, setelah itu, kita akan mengadakan perundingan putaran keempat minggu depan,” demikian keterangan itu.

Tuntutan berat

Dilaporkan The Wall Street Journal, AS mengajukan tuntutan berat ke Iran. AS meminta Iran membongkar total fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan. Sisa uranium yang sudah diperkaya di tiga lokasi itu harus dikirim ke AS.

Mereka juga menegaskan kembali bahwa perjanjian nuklir apa pun harus bertahan selamanya. Hal itu termasuk untuk Perjanjian Nuklir 2015 atau dikenal sebagai JCPOA. Pada 2018, Trump membawa AS keluar dari JCPOA lalu menambah sanksi atas Iran.

Tuntutan AS muncul setelah Trump memperingatkan dalam pidato kenegaraannya pada Selasa bahwa Iran terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang dapat menghantam AS. Tuduhan itu dibantah Iran.

Tuntutan tersebut mungkin sulit diterima oleh Teheran. Di sisi lain, kedua belah pihak mencari alternatif diplomatik selain serangan AS. Trump mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Iran berkeras pada haknya untuk melakukan pengayaan uranium, tetapi mengajukan proposal untuk menenangkan AS. Usulan-usulan tersebut termasuk mengurangi pengayaan hingga serendah 1,5 persen dari saat ini sebesar 60 persen.

Iran juga mengusulkan moratorium pengayaan uranium selama beberapa tahun. Teheran juga menawarkan alternatif lain, yakni uranium diproses bersama Iran dan tetangganya di kawasan.

AS berkeras Iran tak boleh memperkaya uranium. Meski demikian, tim perunding AS mungkin terbuka untuk mengizinkan Iran memulai kembali reaktor nuklir di Teheran. Reaktor itu dapat memproses pengayaan dalam jumlah sangat rendah untuk keperluan medis.

Bahkan, tingkat konsesi tersebut menghadapi tekanan keras dari kelompok garis keras Iran di pemerintahan dan di antara anggota parlemen Partai Republik AS. Para pejabat dan anggota parlemen khawatir mengenai substansi dan gambaran Trump menerima perjanjian dengan pengayaan terbatas yang dapat dipandang sebagai ”JCPOA versi ringan”.

AS hanya menawarkan keringanan sanksi minimal kepada Iran sebagai bagian dari kesepakatan. Hal ini menjadi gesekan AS-Iran. Sebab, Iran mengharapkan keringanan substansial bagi perekonomiannya.

AS ingin melihat Iran mematuhi persyaratan tersebut untuk jangka waktu yang lama. Jika Iran dinilai patuh, AS akan mempertimbangkan pencabutan tambahan.

Sumber The Wall Street Journal menyebut, AS mungkin sepakat membahas isu nuklir saja di putaran perundingan ini. Sebab, AS mau mencapai kesepakatan.

Kapal tunda menarik kapal induk Angkatan Laut AS USS Gerald R. Ford diTeluk Souda di pulau Kreta pada Kamis (26/2/2026).

Beberapa pejabat AS mengatakan, negosiasi mengenai rudal dan dukungan Iran terhadap milisi regional dapat ditangani oleh mitra regional AS berdasarkan masukan dari AS. Pejabat lain percaya bahwa AS harus mendorong kesepakatan yang lebih luas.

Kesepakatan itu mencakup program nuklir, rudal, dan dukungan terhadap milisi. Di sisi lain, para pejabat itu mengakui bahwa kesepakatan nuklir saja akan menjadi awal yang signifikan jika itu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia.

Para pejabat senior AS telah menyuarakan kekhawatiran mengenai Iran yang mengembangkan kemampuan rudal balistik jarak jauh, tetapi menolak memberikan rincian lebih lanjut. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra