AS-Iran Telah Teken Kesepakatan Sementara Perdamaian
AS-Iran meneken MoU 14 poin untuk membuka Hormuz dan menghentikan perang. Iran dinilai memperoleh banyak keuntungan. Sementara Trump belum mencapai tujuannya.
ÎLE-DE-FRANCE, KAMIS — Amerika Serikat dan Iran sudah menandatangani kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Perjanjian yang berlaku selama 60 hari itu terdiri atas 14 poin.
Kesepakatan, antara lain, mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan Israel di Lebanon. Isi perjanjian membuka banyak keuntungan bagi Iran.
AS-Iran, serta Pakistan sebagai mediator, sama-sama mengumumkan penandatanganan itu pada Kamis (18/6/2026). Sementara nota kesepahaman soal perdamaian diteken Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026).
Pezeshkian meneken naskah itu di Teheran, Iran. Sementara Trump menandatanganinya di pinggiran Paris. ”Baru saja menandatangani,” ujar Trump di Istana Versailles di Île-de-France, Perancis.
Melalui nota itu, AS dan Iran membuka masa negosiasi 60 hari untuk mencapai perjanjian final. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan kesepakatan berlaku sejak Rabu. ”Teks Nota Kesepahaman Islamabad telah difinalkan dengan tanda tangan para presiden, sekarang saatnya menguji implementasi perjanjian itu,” kata Baghaei, seperti dikutip kantor berita negara Iran, IRNA, dan lembaga penyiaran Iran, IRIB.
Penandatanganan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh presiden kedua negara. Menurut Baghaei, seremoni resmi tidak ada dalam rencana Iran. ”Ketika teks itu ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, pelanggarannya secara alami akan memiliki konsekuensi lebih besar, dan berdasarkan pengalaman kami, kami memilih hal ini terjadi,” ujar Baghei.
Sebelumnya, Pemerintah Swiss menyatakan upacara penandatanganan akan digelar pada Jumat di hotel mewah di pegunungan yang menghadap Danau Lucerne. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance disebut akan menghadiri acara itu.
Namun, pertemuan itu kemungkinan batal. ”Pertemuan Jumat telah dikonfirmasi sampai beberapa jam lalu. Akan tetapi, ketika diputuskan bahwa presiden dari dua pihak, Iran dan AS, akan menandatangani perjanjian, diputuskan untuk menghentikan sementara pertimbangan mengenai pertemuan Jumat untuk saat ini,” kata Baghaei.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, Trump dan Pezeshkian telah menandatangani nota itu secara digital. Sebelumnya, nota itu ditandatangani secara digital oleh Vance dan Qalibaf, dengan disaksikan Trump. Meski demikian, pejabat AS itu menegaskan, para pihak masih dapat mundur sampai kesepakatan mengikat tercapai.
Sementara Trump tetap memakai nada keras. Dalam konferensi pers di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Perancis, ia mengancam melanjutkan serangan jika Iran melanggar perjanjian. ”Kami akan mengebom mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian itu. Saya tidak ingin mereka melakukannya. Saya hanya ingin mereka menghormati perjanjian itu,” katanya.
Iran untung
Pejabat AS mengungkap poin-poin perjanjian itu. Selain pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang, kesepakatan itu mencakup komitmen AS mencabut blokade laut terhadap Iran, memberi pengecualian sanksi untuk ekspor minyak Iran, dan membuka akses terhadap aset Iran yang dibekukan.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan menyepakati penyelesaian stok uranium diperkaya di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). MoU itu juga memuat rencana rekonstruksi ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS, pembentukan mekanisme pemantauan, serta pengesahan perjanjian final melalui resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB.
Isi MoU ini dinilai banyak menguntungkan Iran. Keuntungan utama Teheran ialah dapat kembali menjual minyak di pasar dunia secara legal. Dalam MoU, AS akan menerbitkan pengecualian sanksi untuk ekspor minyak mentah Iran, produk minyak, turunannya, dan layanan terkait.
Pengecualian itu membuat ekspor minyak Iran dapat berjalan lagi meski sanksi AS terhadap Iran belum sepenuhnya dicabut. Pada 2024, Iran memperoleh sekitar 45 miliar dolar AS dari penjualan minyak. Namun, Iran hanya memiliki satu pembeli besar, yaitu China. Proses pengiriman juga harus melalui armada tanker bayangan untuk menghindari sanksi.
Keuntungan lain ialah akses terhadap aset yang selama ini dibekukan, peluang pencabutan sanksi secara bertahap, serta rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Sementara itu, Trump dinilai belum memperoleh tujuan utamanya dalam perang Iran. Pemerintahannya semula menyatakan ingin melenyapkan rudal Iran dan memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir. AS juga mau memutus dukungan Teheran kepada kelompok-kelompok proksi di kawasan. AS pun ingin memusnahkan angkatan laut Iran.
Dalam kesepakatan sementara, isu rudal dan dukungan Iran kepada sekutunya belum menjadi bagian utama perundingan. Program nuklir Iran juga belum selesai dibatasi.
Trump bahkan melunakkan sikapnya soal rudal Iran. Ia mengatakan, Iran tetap dapat memiliki sebagian rudal. ”Saya mengatakan bahwa jika negara-negara lain memilikinya, agak tidak adil bagi mereka untuk tidak memiliki beberapa,” kata Trump setelah meninggalkan KTT G7.
Teheran hanya menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Hal itu telah berulang kali dinyatakan Iran selama bertahun-tahun.
Serangan AS-Israel sejak 28 Februari 2026 juga gagal mengubah pemerintahan. Selain itu, Iran tetap mempertahankan cadangan uranium serta rudalnya.
AS mulai mencabut blokade laut dan hambatan terhadap Iran segera setelah nota ditandatangani. Blokade laut harus berakhir sepenuhnya dalam 30 hari. AS juga berjanji menarik pasukannya dari sekitar Iran dalam 30 hari setelah kesepakatan final.
Adapun Iran berkomitmen mengupayakan jalur aman bagi kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya. Lalu lintas kapal komersial dimulai segera dan dipulihkan dalam 30 hari, dengan memperhitungkan penghapusan hambatan teknis dan militer serta pembersihan ranjau oleh Iran.
Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak berarti jalur itu kembali seperti sebelum perang. Juru runding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Iran akan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah masa bebas biaya 60 hari berakhir.
”Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang. Iran memiliki hak kedaulatan atas Selat Hormuz dan tentu saja kami akan menerima biaya untuk layanan,” katanya dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah.
Penutupan Selat Hormuz selama perang menaikkan harga bahan bakar global, membuat pangan dan kebutuhan dasar seperti pupuk lebih mahal, serta ikut mendorong inflasi AS ke 4 persen menjelang pemilihan sela tahun ini.
Nuklir belum selesai
AS-Iran setuju akan membahas mekanisme penanganan program nuklir Iran. Selama kesepakatan final belum tercapai, Iran dapat mempertahankan kondisi program nuklirnya sekarang. AS tidak akan menjatuhkan sanksi baru dan tidak akan mengerahkan pasukan tambahan di kawasan.
Kesepakatan nuklir 2015 membatasi ketat program nuklir Iran selama 15 tahun. Iran hanya dapat memperkaya uranium hingga 3,67 persen, jauh di bawah 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata.
Iran juga hanya boleh menimbun 300 kilogram material, memangkas tajam jumlah sentrifugal. Teheran juga harus bersedia diperiksa ketat oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Pertanyaan sekarang adalah apakah AS dapat memperoleh pembatasan yang lebih ketat dan lebih lama. AS ingin Iran menyerahkan atau mengencerkan stok uranium diperkaya tingkat tinggi. Iran hampir pasti tetap menuntut hak membangun kembali program pengayaan tingkat rendah untuk tujuan yang disebutnya damai.
Sebagian analis skeptis AS dan Iran dapat mencapai penyelesaian final dalam 60 hari. Nota sementara itu dinilai hanya menunda banyak persoalan paling sulit, di antaranya stok uranium, masa depan pengayaan, dan tingkat inspeksi internasional.
Sanksi dan aset beku dapat menjadi ganjalan besar. Iran ingin Trump segera mencabut sanksi dan membuka akses ke dana beku bernilai miliaran dolar AS. AS menyatakan pelonggaran akan bertahap dan dikaitkan dengan kepatuhan Iran.
Ketidakpercayaan terhadap Trump turut membayangi. Iran curiga terhadap Trump, yang dua kali dalam setahun terakhir menyerang di tengah proses negosiasi. AS juga akan mengawasi apakah Iran hanya mengulur waktu.
Jika perbedaan tidak dapat diatasi, masih ada kemungkinan kesepakatan terbatas atau perpanjangan perundingan. Namun, risiko kembalinya perang tetap terbuka.
Sementara itu, serangan Israel ke Lebanon pun belum reda. G7 menyerukan gencatan senjata segera di Lebanon, tetapi Israel dan Hizbullah bukan pihak dalam kesepakatan AS-Iran. Sepanjang Rabu, media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara dan tembakan artileri baru Israel di Lebanon selatan. Israel mengatakan lima tentaranya terluka dalam dua serangan pesawat nirawak Hizbullah.
(Reuters/AP/AFP)
ÎLE-DE-FRANCE, KAMIS — Amerika Serikat dan Iran sudah menandatangani kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Perjanjian yang berlaku selama 60 hari itu terdiri atas 14 poin.
Kesepakatan, antara lain, mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan Israel di Lebanon. Isi perjanjian membuka banyak keuntungan bagi Iran.
AS-Iran, serta Pakistan sebagai mediator, sama-sama mengumumkan penandatanganan itu pada Kamis (18/6/2026). Sementara nota kesepahaman soal perdamaian diteken Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026).
Pezeshkian meneken naskah itu di Teheran, Iran. Sementara Trump menandatanganinya di pinggiran Paris. ”Baru saja menandatangani,” ujar Trump di Istana Versailles di Île-de-France, Perancis.
Serial Artikel
AS-Iran Berdamai, Emas Naik
Emas menguat dan dolar AS melemah setelah AS-Iran mengumumkan kesepakatan damai. Sementara pasokan energi diperkirakan masih butuh berbulan-bulan untuk normal.
Melalui nota itu, AS dan Iran membuka masa negosiasi 60 hari untuk mencapai perjanjian final. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan kesepakatan berlaku sejak Rabu. ”Teks Nota Kesepahaman Islamabad telah difinalkan dengan tanda tangan para presiden, sekarang saatnya menguji implementasi perjanjian itu,” kata Baghaei, seperti dikutip kantor berita negara Iran, IRNA, dan lembaga penyiaran Iran, IRIB.
Penandatanganan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh presiden kedua negara. Menurut Baghaei, seremoni resmi tidak ada dalam rencana Iran. ”Ketika teks itu ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, pelanggarannya secara alami akan memiliki konsekuensi lebih besar, dan berdasarkan pengalaman kami, kami memilih hal ini terjadi,” ujar Baghei.
Sebelumnya, Pemerintah Swiss menyatakan upacara penandatanganan akan digelar pada Jumat di hotel mewah di pegunungan yang menghadap Danau Lucerne. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance disebut akan menghadiri acara itu.
Namun, pertemuan itu kemungkinan batal. ”Pertemuan Jumat telah dikonfirmasi sampai beberapa jam lalu. Akan tetapi, ketika diputuskan bahwa presiden dari dua pihak, Iran dan AS, akan menandatangani perjanjian, diputuskan untuk menghentikan sementara pertimbangan mengenai pertemuan Jumat untuk saat ini,” kata Baghaei.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, Trump dan Pezeshkian telah menandatangani nota itu secara digital. Sebelumnya, nota itu ditandatangani secara digital oleh Vance dan Qalibaf, dengan disaksikan Trump. Meski demikian, pejabat AS itu menegaskan, para pihak masih dapat mundur sampai kesepakatan mengikat tercapai.
Sementara Trump tetap memakai nada keras. Dalam konferensi pers di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Perancis, ia mengancam melanjutkan serangan jika Iran melanggar perjanjian. ”Kami akan mengebom mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian itu. Saya tidak ingin mereka melakukannya. Saya hanya ingin mereka menghormati perjanjian itu,” katanya.
Iran untung
Pejabat AS mengungkap poin-poin perjanjian itu. Selain pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang, kesepakatan itu mencakup komitmen AS mencabut blokade laut terhadap Iran, memberi pengecualian sanksi untuk ekspor minyak Iran, dan membuka akses terhadap aset Iran yang dibekukan.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan menyepakati penyelesaian stok uranium diperkaya di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). MoU itu juga memuat rencana rekonstruksi ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS, pembentukan mekanisme pemantauan, serta pengesahan perjanjian final melalui resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB.
Isi MoU ini dinilai banyak menguntungkan Iran. Keuntungan utama Teheran ialah dapat kembali menjual minyak di pasar dunia secara legal. Dalam MoU, AS akan menerbitkan pengecualian sanksi untuk ekspor minyak mentah Iran, produk minyak, turunannya, dan layanan terkait.
Pengecualian itu membuat ekspor minyak Iran dapat berjalan lagi meski sanksi AS terhadap Iran belum sepenuhnya dicabut. Pada 2024, Iran memperoleh sekitar 45 miliar dolar AS dari penjualan minyak. Namun, Iran hanya memiliki satu pembeli besar, yaitu China. Proses pengiriman juga harus melalui armada tanker bayangan untuk menghindari sanksi.
Keuntungan lain ialah akses terhadap aset yang selama ini dibekukan, peluang pencabutan sanksi secara bertahap, serta rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Sementara itu, Trump dinilai belum memperoleh tujuan utamanya dalam perang Iran. Pemerintahannya semula menyatakan ingin melenyapkan rudal Iran dan memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir. AS juga mau memutus dukungan Teheran kepada kelompok-kelompok proksi di kawasan. AS pun ingin memusnahkan angkatan laut Iran.
Dalam kesepakatan sementara, isu rudal dan dukungan Iran kepada sekutunya belum menjadi bagian utama perundingan. Program nuklir Iran juga belum selesai dibatasi.
Trump bahkan melunakkan sikapnya soal rudal Iran. Ia mengatakan, Iran tetap dapat memiliki sebagian rudal. ”Saya mengatakan bahwa jika negara-negara lain memilikinya, agak tidak adil bagi mereka untuk tidak memiliki beberapa,” kata Trump setelah meninggalkan KTT G7.
Teheran hanya menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Hal itu telah berulang kali dinyatakan Iran selama bertahun-tahun.
Serangan AS-Israel sejak 28 Februari 2026 juga gagal mengubah pemerintahan. Selain itu, Iran tetap mempertahankan cadangan uranium serta rudalnya.
AS mulai mencabut blokade laut dan hambatan terhadap Iran segera setelah nota ditandatangani. Blokade laut harus berakhir sepenuhnya dalam 30 hari. AS juga berjanji menarik pasukannya dari sekitar Iran dalam 30 hari setelah kesepakatan final.
Adapun Iran berkomitmen mengupayakan jalur aman bagi kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya. Lalu lintas kapal komersial dimulai segera dan dipulihkan dalam 30 hari, dengan memperhitungkan penghapusan hambatan teknis dan militer serta pembersihan ranjau oleh Iran.
Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak berarti jalur itu kembali seperti sebelum perang. Juru runding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Iran akan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah masa bebas biaya 60 hari berakhir.
”Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang. Iran memiliki hak kedaulatan atas Selat Hormuz dan tentu saja kami akan menerima biaya untuk layanan,” katanya dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah.
Penutupan Selat Hormuz selama perang menaikkan harga bahan bakar global, membuat pangan dan kebutuhan dasar seperti pupuk lebih mahal, serta ikut mendorong inflasi AS ke 4 persen menjelang pemilihan sela tahun ini.
Serial Artikel
PR Besar Asia Tenggara Setelah Krisis Selat Hormuz
Krisis Selat Hormuz ungkap kerentanan energi Asia Tenggara. Pemerintah didorong mempercepat diversifikasi dan kerja sama energi ASEAN.
AS-Iran setuju akan membahas mekanisme penanganan program nuklir Iran. Selama kesepakatan final belum tercapai, Iran dapat mempertahankan kondisi program nuklirnya sekarang. AS tidak akan menjatuhkan sanksi baru dan tidak akan mengerahkan pasukan tambahan di kawasan.
Kesepakatan nuklir 2015 membatasi ketat program nuklir Iran selama 15 tahun. Iran hanya dapat memperkaya uranium hingga 3,67 persen, jauh di bawah 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata.
Iran juga hanya boleh menimbun 300 kilogram material, memangkas tajam jumlah sentrifugal. Teheran juga harus bersedia diperiksa ketat oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Pertanyaan sekarang adalah apakah AS dapat memperoleh pembatasan yang lebih ketat dan lebih lama. AS ingin Iran menyerahkan atau mengencerkan stok uranium diperkaya tingkat tinggi. Iran hampir pasti tetap menuntut hak membangun kembali program pengayaan tingkat rendah untuk tujuan yang disebutnya damai.
Sebagian analis skeptis AS dan Iran dapat mencapai penyelesaian final dalam 60 hari. Nota sementara itu dinilai hanya menunda banyak persoalan paling sulit, di antaranya stok uranium, masa depan pengayaan, dan tingkat inspeksi internasional.
Sanksi dan aset beku dapat menjadi ganjalan besar. Iran ingin Trump segera mencabut sanksi dan membuka akses ke dana beku bernilai miliaran dolar AS. AS menyatakan pelonggaran akan bertahap dan dikaitkan dengan kepatuhan Iran.
Ketidakpercayaan terhadap Trump turut membayangi. Iran curiga terhadap Trump, yang dua kali dalam setahun terakhir menyerang di tengah proses negosiasi. AS juga akan mengawasi apakah Iran hanya mengulur waktu.
Jika perbedaan tidak dapat diatasi, masih ada kemungkinan kesepakatan terbatas atau perpanjangan perundingan. Namun, risiko kembalinya perang tetap terbuka.
Sementara itu, serangan Israel ke Lebanon pun belum reda. G7 menyerukan gencatan senjata segera di Lebanon, tetapi Israel dan Hizbullah bukan pihak dalam kesepakatan AS-Iran. Sepanjang Rabu, media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara dan tembakan artileri baru Israel di Lebanon selatan. Israel mengatakan lima tentaranya terluka dalam dua serangan pesawat nirawak Hizbullah.
(Reuters/AP/AFP)
Serial Artikel
Gempuran Israel ke Lebanon Hambat Perdamaian AS-Iran
Diplomat Israel mengatakan Trump dan Netanyahu berbeda kepentingan soal perdamaian Iran dan Lebanon. Israel menghajar Lebanon kala AS-Iran berusaha berdamai.