PERANG TIMUR TENGAH

AS Kembali Serang Iran Saat Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

AS kembali menyerang Iran gara-gara Iran menembak tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Baku serang ini menggoyahkan kesepakatan damai sementara.

08 Jul 2026 09:30 WIB · Internasional

AP/Iranian state television

Oleh Luki Aulia

DUBAI, RABU — Baru saja sedikit tenang, Selat Hormuz memanas lagi. Militer Amerika Serikat kembali menyerang Iran, Rabu (8/7/2026). Serangan ini membalas aksi Iran yang menembak tiga kapal tanker komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Terdengar banyak ledakan di sekitar selat tersebut. Setidaknya terdengar enam ledakan di Pulau Qeshm, tujuh ledakan di Kota Sirik, dan lebih banyak ledakan di kota pelabuhan utama, Bandar Abbas. Iran menuding AS melanggar nota kesepahaman atas serangan tersebut dan mengancam akan membalas.

”Iran mengeluarkan peringatan serius tentang konsekuensi pelanggaran perjanjian oleh Amerika dan akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingannya dan keamanan nasional,” sebut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran.

Menlu Iran Abbas Araghchi memperingatkan, berdasarkan ketentuan memorandum gencatan senjata sementara, negosiasi kesepakatan akhir tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut.

Seorang pejabat AS mengatakan, AS menargetkan sistem pertahanan udara, sistem pengawasan pantai, rudal darat ke udara, dan lokasi peluncuran rudal jelajah antikapal dan pesawat nirawak. Ini termasuk serangan besar-besaran karena AS bermaksud mencapai target delapan kali lebih banyak dibandingkan serangan balasan pada akhir Juni.

Serangan terbaru AS bertepatan dengan prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan itu dipastikan memperumit perundingan AS-Iran yang masih berlangsung. Perundingan digelar untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya, menghentikan program nuklir Iran, dan mencapai penghentian permanen perang yang pecah pada 28 Februari.

This frame grab of footage aired Wednesday, July 1, 2026, by Iranian state television shows a vessel that ran aground in the Strait of Hormuz. (Iranian state television via AP)

Selain kembali menyerang Iran, AS juga mencabut izin penjualan minyak Iran yang termasuk dalam kesepakatan sementara kedua negara. Beberapa jam sebelumnya, tiga kapal di Selat Hormuz terkena proyektil. Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), serangan terbaru di selat itu adalah yang terbesar dalam satu hari sejak akhir April.

Satu kapal tanker sedang berlayar di lepas pantai Oman ketika dihantam dan terbakar. Media Pemerintah Iran melaporkan, kapal tanker bermuatan gas alam cair itu diserang setelah mengabaikan peringatan. Sementara dua kapal lainnya rusak. Meski diserang, kedua kapal masih bisa melanjutkan perjalanan.

Iran berulang kali menyatakan, hanya rute yang disetujui Teheran yang aman dilintasi kapal-kapal. Ketiga kapal itu diduga menggunakan rute di dekat Oman atau Uni Emirat Arab.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan, kapal tanker Qatar Al Rekayyat menjadi sasaran serangan Iran. Doha menuntut Iran bertanggung jawab.

Pusat Informasi Maritim Gabungan, badan multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS, menyebutkan, rute di sekitar Oman sudah diperluas dan tetap terbuka untuk dilewati kapal.

Kapal yang menuju ke utara melalui rute Iran harus mendaftar ke Iran. Sementara kapal yang menuju ke selatan berkoordinasi dengan Oman dan AS. Sebagai bagian dari kesepakatan Iran dan AS, kapal yang melintasi Selat Hormuz tidak akan membayar biaya apa pun dalam periode 60 hari sejak kesepakatan.

Skema pelayaran Selat Hormuz yang diusulkan Iran (garis merah) dan Amerika Serikat (garis biru). Skema biru disokong Oman bersama Organisasi Pelayaran Internasionl (IMO)

Namun, Iran bersikeras harus mengendalikan rute kapal-kapal dan membebankan biaya perjalanan. AS dan banyak negara Teluk Arab tak setuju jika tarif diberlakukan bagi pelintasan di Selat Hormuz.

Baku serang AS-Iran kembali mengancam putusnya arus lalu lintas di Selat Hormuz dan nasib perundingan. Berdasarkan perjanjian sementara AS-Iran, Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin umum pada 22 Juni yang memperbolehkan ‌penjualan minyak mentah, petrokimia, dan produk minyak bumi asal Iran hingga 21 Agustus.

AS membatalkan izin itu karena serangan terbaru Iran di Selat Hormuz. Perundingan antara Iran dan AS tampaknya terhenti hingga pemakaman Khamenei selesai. Sanksi AS terhadap pembelian minyak Iran berlaku sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Sejak perang di Iran pecah, AS telah mengizinkan penjualan sementara minyak Iran setidaknya dua kali sebagai insentif menuju kesepakatan. Namun, izin itu diberikan berbasis kinerja. Washington menyebutkan, Iran hanya akan mendapatkan izin jika menunjukkan ”perilaku yang baik”. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul