Ada Sinyal AS Melunak Setelah Tak Dapat Dukungan Negara G7

Sekutu Amerika Serikat di kelompok negara G7 skeptis terhadap operasi militer di Iran. Mereka lebih menekankan sikap defensif dan mengedepankan solusi diplomatik.

28 Mar 2026 10:00 WIB · Internasional

Brendan Smialowski/Pool Photo via AP

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

PARIS, SABTU — Sikap Amerika Serikat mulai melunak setelah tidak mendapat dukungan dari negara sekutu dalam Kelompok 7 atau G7 terkait perang melawan Iran. AS memperkirakan operasi militernya di Iran akan berlangsung dalam beberapa pekan, bukan beberapa bulan seperti yang disampaikan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pihaknya berharap dapat menyelesaikan operasi militer tersebut lebih cepat dari yang direncanakan. Ia menyebutkan, perang di Iran dapat diakhiri tanpa mengerahkan pasukan darat. Padahal, sebelumnya, AS mempertimbangkan dan mulai menyiapkan pengiriman ribuan personel pasukan darat ke Iran.

Hal itu disampaikan Rubio setelah bertemu dengan menteri luar negeri negara G7 di Perancis, Jumat (27/3/2026). Para menteri G7 itu berbeda pendapat dengan AS terkait pengerahan kekuatan militer besar-besaran ke Iran. Mereka lebih menekankan sikap defensif dan mengedepankan solusi diplomatik.

WASHINGTON, DC - MARCH 03: U.S. Secretary of State Marco Rubio speaks to the media as Cabinet officials deliver Congressional briefings on Iran at the U.S. Capitol on March 3, 2026 in Washington, DC. Trump administration Cabinet officials will be briefing all lawmakers in the House and Senate on U.S. and Israeli attacks on Iran.   Heather Diehl/Getty Images/AFP (Photo by Heather Diehl / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Salah satu topik pembahasan dalam pertemuan itu adalah pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara sekutu mengirimkan kapal perangnya ke selat itu. Namun, sejumlah negara menolaknya karena tidak ingin terlibat langsung dalam perang Iran.

”AS akan mencari kerja sama internasional dalam rencana untuk menjaga selat tetap terbuka setelah perang berakhir,” ujar Rubio.

Iran telah mengizinkan tanker dari sejumlah negara melewati Selat Hormuz. Iran bersedia membuka blokade di selat itu, kecuali bagi kapal AS, Israel, dan sekutunya yang membantu berperang melawan Iran.

Menurut Rubio, AS dan sekutunya akan mendapatkan berbagai tantangan untuk membuka Selat Hormuz. Ia mengatakan, kemungkinan Iran akan berupaya menetapkan tarif di jalur vital energi global yang dilewati 20 persen minyak dunia setiap harinya itu. Upaya ini dianggap dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang signifikan bagi banyak negara.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.

”Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima. Ini berbahaya bagi dunia. Oleh sebab itu, penting bagi dunia untuk memiliki rencana,” ucapnya.

AS telah mengirimkan dua kontingen yang terdiri dari ribuan marinir ke Timur Tengah. Kontingen pertama dijadwalkan tiba pada akhir Maret dengan kapal serbu amfibi besar. Pentagon juga diperkirakan akan mengerahkan ribuan tentara lintas udara elite.

Pengerahan pasukan ini menimbulkan kekhawatiran perang akan berkepanjangan. Perang dimulai pada 28 Februari lalu saat AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke Iran. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Setelah empat pekan berlangsung, perang menewaskan lebih dari 1.900 orang di Iran. Israel juga menyerang proksi Iran di Lebanon, Hizbullah, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Selain itu, lebih dari satu juta warga mengungsi.

Quote

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengatakan, G7 mengadopsi deklarasi yang menyerukan penghentian segera serangan terhadap penduduk sipil dan fasilitas diplomatik selama perang Iran. Ia juga menegaskan perlunya pemulihan permanen navigasi kapal yang bebas dan aman di Selat Hormuz.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah. Perang meluas dan berdampak terhadap fasilitas energi sehingga memicu kenaikan harga minyak dan gas dunia.

Pendekatan diplomatik

Negara-negara sekutu skeptis terhadap operasi militer AS di Iran. Negara-negara G7 lebih memilih solusi diplomatik ketimbang pendekatan militer ofensif yang telah terbukti menimbulkan krisis, termasuk krisis energi.

Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Catherine Vautrin mengatakan, posisi negaranya murni defensif dalam perang itu. ”Perang ini bukan milik kita. Tujuannya benar-benar pendekatan diplomatik yang merupakan satu-satunya yang dapat menjamin kembalinya perdamaian,” ujarnya.

Adapun Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengatakan, G7 mengadopsi deklarasi yang menyerukan penghentian segera serangan terhadap penduduk sipil dan fasilitas diplomatik selama perang Iran. Ia juga menegaskan perlunya pemulihan permanen navigasi kapal yang bebas dan aman di Selat Hormuz.

”Anda dapat dengan jelas melihat bahwa setiap hari situasinya semakin memburuk karena kurangnya lalu lintas kapal dari Teluk Persia ke seluruh dunia,” katanya.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper juga mendukung jalur diplomatik. Ia mengakui adanya perbedaan pandangan dengan AS yang masih berkukuh melanjutkan operasi militer di Iran.

”Kami telah mengambil pendekatan untuk mendukung tindakan defensif. Namun, kami juga telah mengambil pendekatan yang berbeda terhadap tindakan ofensif yang telah terjadi sebagai bagian dari konflik ini,” katanya.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebutkan, pihaknya telah menjelaskan posisinya yang menolak terlibat dalam operasi militer. Jerman siap berkontribusi setelah berakhirnya konflik, yaitu memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

A navy vessel is seen sailing in the Strait of Hormuz, a vital waterway through which much of the world's oil and gas passes on March 1, 2026. Two ships were attacked in the Strait of Hormuz on March 1, maritime security agencies said, as Iran pressed a second day of strikes in response to US-Israeli military strikes on Iran killing it's supreme leader. (Photo by Sahar AL ATTAR / AFP)

Presiden Trump berulang kali mengeluhkan sikap sekutunya terkait dengan perang Iran. Sebab, permintaannya agar negara-negara sekutu terlibat aktif dalam membuka Selat Hormuz ditolak. Hal ini mendorong kenaikan harga energi dunia, termasuk di AS.

Pertemuan AS dan Iran

Utusan Khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, mengatakan, pihaknya berharap akan ada pertemuan dengan Iran pada pekan ini. Sebelumnya, AS juga telah menunda tenggat serangan atas infrastruktur energi Iran hingga 6 April mendatang.

”Kami pikir akan ada pertemuan minggu ini. Kami tentu berharap akan hal itu. Kami memiliki kesepakatan 15 poin yang telah diajukan Iran sejak beberapa waktu lalu. Kami mengharapkan jawaban dari mereka, dan itu akan menyelesaikan semuanya,” ujar Witkoff.

Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, Teheran belum memutuskan apakah akan menanggapi proposal yang dikirim AS tersebut. Menurut dia, tindakan AS yang mengusulkan pembicaraan, tetapi tetap melanjutkan serangan ke Iran tidak dapat ditoleransi.

Proposal AS yang dikirim melalui Pakistan dilaporkan mencakup sejumlah tuntutan, mulai dari pembongkaran program nuklir hingga pelepasan kendali atas Selat Hormuz. Perang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, menewaskan ribuan orang, dan menyebabkan gangguan terbesar yang pernah terjadi pada pasokan energi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Israel yang berkoordinasi dengan AS telah menyerang dua pabrik baja dan sebuah pembangkit listrik di Iran. ”Serangan ini bertentangan dengan tenggat diplomasi yang diperpanjang. Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel,” ujarnya. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji