Senjata dan informasi intelijen Amerika Serikat mengalir lagi ke Ukraina. AS juga mengutus pejabat untuk membahas perdamaian dengan Rusia
13 Mar 2025 10:00 WIB · Internasional
KYIV, KAMIS — Amerika Serikat mengalirkan kembali bantuan senjata dan informasi intelijen ke Ukraina mulai Rabu (12/3/2025). Di sisi lain, Washington juga mengirim utusan ke Moskwa untuk membahas perdamaian Rusia-Ukraina.
Pemulihan bantuan militer AS terjadi sehari setelah Ukraina menyetujui usulan AS tentang gencatan senjata 30 hari dengan Rusia. Pada Selasa (11/3/2025), AS dan Ukraina bertemu di Jeddah, Arab Saudi. Dalam pertemuan maraton sembilan jam itu, Ukraina mendukung usulan AS tentang pemberlakuan gencatan senjata 30 hari dan perundingan dengan Rusia.
AS menyikapi tanggapan positif Ukraina itu dengan mencabut kebijakan penangguhan bantuan militer. Bantuan AS kembali mengalir ke Ukraina. AS juga mendorong upaya mengakhiri perang yang sudah berlangsung tiga tahun itu.
Terpisah, Menteri Luar Negeri Ukraina dan Polandia menyatakan bahwa pengiriman senjata ke Ukraina dilakukan melalui pusat logistik Polandia. Pengiriman dilakukan melalui kantor Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan AS di kota Rzeszow di Polandia timur. Pangkalan Rzeszow sudah bertahun-tahun jadi pusat pengiriman senjata ke Ukraina.
AS juga memulihkan lagi akses Ukraina kepada gambar satelit komersial yang tidak diklasifikasi. ”Akses itu disediakan Maxar Technologies melalui sebuah program yang dijalankan Washington,” kata Juru Bicara Maxar Technologies Tomi Maxted.
Akses kepada gambar-gambar tersebut selama ini membantu Ukraina merencanakan serangan, mengukur keberhasilan serangan, dan memantau pergerakan Rusia.
Terkait dengan pemulihan bantuan militer, sejumlah pejabat mengakui Kyiv tidak lagi memiliki Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS). Menurut seorang pejabat AS dan seorang anggota parlemen Ukraina di komite pertahanan negara yang tidak mau disebutkan namanya, Ukraina telah kehabisan ATACMS.
Pejabat AS tersebut mengatakan, AS menyediakan kurang dari 40 rudal ATACMS. Ukraina kehabisan rudal tersebut pada akhir Januari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/34f1dabd-c0bf-4ce0-bb80-40c1ab17bdc0_jpg.jpg)
Para pemimpin senior pertahanan AS, termasuk mantan Kepala Pentagon, Lloyd Austin, pernah menjelaskan bahwa AS hanya mengirim sejumlah kecil ATACM. AS dan sekutu NATO menganggap senjata lain lebih berharga dalam pertempuran.
Bantuan militer AS kepada Ukraina sangat penting dalam menghadapi Rusia. Militer Ukraina mengalami kekurangan personel sementara pasukan yang ada kelelahan. Mereka kesulitan menahan kekuatan militer Rusia yang lebih besar.
Sementara bagi Rusia, bantuan militer AS berpotensi menimbulkan kesulitan lebih besar dalam mencapai tujuan perang. Hal itu dapat membuat upaya perdamaian Washington lebih sulit di Moskwa.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat transit dalam perjalanan ke Kanada mengatakan, ”Beginilah yang kami inginkan dari dunia dalam beberapa hari: tidak ada pihak yang saling menembak, tidak ada roket, tidak ada rudal, tidak ada peluru, tidak ada apa-apa ... dan pembicaraan pun dimulai.”
AS berharap Rusia menghentikan serangan ke Ukraina dalam beberapa hari ke depan sebagai langkah pertama.
Rubio menambahkan, ”Washington menginginkan persetujuan Moskwa tanpa syarat. Itulah yang ingin kami ketahui—apakah mereka siap melakukannya tanpa syarat,” kata Rubio.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa ia sudah menerima pesan positif tentang potensi gencatan senjata, tanpa memberikan rincian. Trump mengatakan, ”Jika pertempuran dapat dihentikan, saya pikir itu akan menjadi 80 persen dari jalan untuk mengakhiri pertumpahan darah yang mengerikan ini.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/a78fbe75-d2f6-484b-830c-05b2bb4755a6_jpg.jpg)
Setelah pertemuan Jeddah, Washington langsung mengupayakan sejumlah jalur diplomatik dengan Rusia untuk membawa hasil pertemuan AS-Ukraina kepada Rusia dan melihat apakah Presiden Vladimir Putin siap untuk berunding guna mengakhiri perang.
”Orang-orang pergi ke Rusia sekarang saat kita berbicara. Dan mudah-mudahan kita bisa mendapatkan gencatan senjata dari Rusia,” kata Trump kepada wartawan selama pertemuan di Ruang Oval dengan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Fox News, penasihat keamanan nasional Mike Waltz sudah berbicara dengan mitranya dari Rusia pada Rabu. Ia juga mengonfirmasi bahwa utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, akan menuju Moskwa untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kantor berita Rusia, Tass, juga melaporkan pada Rabu kemarin, Kepala Badan Intelijen Rusia SVR Sergei Naryshkin sudah berbicara melalui telepon dengan Direktur CIA John Ratcliffe pada Selasa. ”Keduanya membahas kerja sama di bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama dan penyelesaian situasi krisis,” menurut sebuah pernyataan dari SVR.
Sementara para menteri pertahanan Perancis, Inggris, Jerman, Italia, dan Polandia bertemu di Paris. Mereka bertemu untuk membahas bagaimana mereka dapat mendukung Ukraina dan gencatan senjata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/b1e13180-820d-42bf-b604-6b2fd15e522b_jpg.jpg)
Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik gencatan senjata. Ia menyatakan, gencatan senjata selama 30 hari akan memungkinkan kedua belah pihak sepenuhnya menyiapkan perencanaan langkah demi langkah untuk mengakhiri perang. Di dalamnya juga termasuk jaminan keamanan untuk Ukraina.
”Pertanyaan teknis tentang cara memantau gencatan senjata secara efektif di garis depan sepanjang sekitar 1.000 kilometer (600 mil), tempat pesawat tanpa awak kecil tetapi mematikan biasa ditemukan, sangat penting,” kata Zelenskyy.
Adapun Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, Rusia memilih untuk tidak terburu-buru menanggapi usulan gencatan senjata Washington. Ia mengatakan kepada wartawan, Moskwa sedang menunggu informasi terperinci dari AS terkait hasil pertemuan Jeddah. Rusia ingin mendapat informasi itu sebelum mengambil sikap.
”Rubio dan Waltz mengatakan bahwa mereka akan menyampaikan informasi teperinci kepada kami melalui berbagai saluran tentang inti pembicaraan yang berlangsung di Jeddah. Pertama-tama, kami harus menerima informasi ini,” kata Peskov.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/923e15e4-d930-4da8-82db-efd00370dc80_jpg.jpg)
Usulan gencatan senjata juga mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Anggota Parlemen Rusia, Konstantin Kosachev, mengisyaratkan kewaspadaan tentang gencatan senjata itu.
”Setiap perjanjian (dengan pemahaman tentang perlunya kompromi) harus berdasarkan ketentuan kami, bukan ketentuan Amerika,” kata Senator Senior Rusia Konstantin Kosachev dalam sebuah unggahan di aplikasi perpesanan Telegram.
Anggota Parlemen Mikhail Sheremet kepada kantor berita negara, Tass, mengatakan bahwa Rusia tidak tertarik melanjutkan perang. Akan tetapi pada saat yang sama Moskwa tidak akan menoleransi untuk ditipu.
”Hasil pembicaraan Arab Saudi memberikan tanggung jawab kepada Washington untuk membujuk Moskwa menerima dan melaksanakan gencatan senjata,” kata John Hardie, analis pertahanan dan Wakil Direktur Program Rusia pada Foundation for Defense of Democracies.
Pada saat upaya perundingan dilakukan, Putin pada Rabu kemarin justru terlihat di layar televisi Rusia tengah mengunjungi markas militer di wilayah Kursk Rusia. Di wilayah itu pasukan Kremlin hampir berhasil mengusir pasukan Ukraina.
Dalam beberapa hari terakhir, militer Rusia memasuki kota Sudzha, dekat perbatasan, yang telah diduduki tentara Ukraina sejak mereka melancarkan serangan mendadak ke Kursk pada bulan Agustus.
Kepada para komandan, Putin berharap militer akan sepenuhnya membebaskan wilayah Kursk dari musuh. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari