Ukraina sepakat gencatan senjata 30 hari sebagai langkah awal perdamaian. Delegasi AS segera menemui Presiden Rusia membahas hal itu.
12 Mar 2025 08:54 WIB · Internasional
JEDDAH, RABU — Ukraina mendukung usulan Amerika Serikat tentang pemberlakuan gencatan senjata selama 30 hari dan perundingan dengan Rusia sebagai hasil pertemuan AS-Ukraina di Jeddah, Arab Saudi, Selasa (11/3/2025). Reaksi positif Ukraina disikapi AS dengan mencabut penangguhan bantuan militer sekaligus mendorong upaya mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama tiga tahun.
”Hari ini kita mengajukan usulan yang sudah diterima Ukraina untuk memasuki fase gencatan senjata dan segera berunding dengan Rusia. Selanjutnya, kami membawa kesepakatan ini kepada pihak Rusia. Bola di tangan mereka untuk menerima gencatan senjata dan berunding,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada wartawan setelah sembilan jam pertemuan maraton dengan delegasi Ukraina di sebuah hotel di Kota Jeddah.
Dia melanjutkan, jika pihak Rusia menolak usulan tersebut, tentu perdamaian tidak akan terwujud. Rubio menyatakan, AS juga sepakat meneruskan bantuan militer dan informasi intelijen setelah terjadi ribut mulut antara Presiden Trump dan Presiden Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih, pada 28 Februari 2025.
”Setiap hari dengan berlanjutnya perang, manusia akan mati, manusia dibom dan terluka pada kedua pihak dalam konflik ini,” kata Menlu AS Marco Rubio.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/e0f6a76e9e1e8e350a5fe451fa1d14ee-APTOPIX_Russia_Ukraine_War_Saudi_Arabia.jpg)
Pihak Rusia, seusai pertemuan Ukraina–AS di Arab Saudi menyatakan tidak menutup kemungkinan segera bertemu dengan delegasi AS. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan, pembicaraan dengan AS kemungkinan dilakukan pekan ini.
Utusan khusus Presiden Trump Steve Witkoff diharapkan pergi ke Moskwa pekan ini untuk menemui Presiden Rusia Putin. Sedangkan di Gedung Putih, Presiden Trump menyatakan siap menerima Presiden Zelenskyy kembali dan merencanakan menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini.
Terkait isu perdamaian, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan terbuka untuk membahasnya. Akan tetapi Putin dan para diplomat Rusia berulang kali menyatakan menolak gencatan senjata dan hanya mau mencari kesepakatan yang menjamin keamanan Rusia jangka panjang.
Putin juga menolak membahas wilayah yang sudah berhasil direbut dan menuntut Ukraina mundur dari empat wilayah di timur yang sebagian dikuasai Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/60d3574c04791a6e436b6ce89623168c-000_36XP6A6.jpg)
Sementara itu, ditanya tentang kemungkinan gencatan senjata dalam skala besar, Trump menjawab, dia berharap akan dicapai kesepakatan besar dalam beberapa hari mendatang. ”Kita ada pertemuan besar dengan Rusia yang dijadwalkan besok. Pembicaraan serius dengan hasil baik kita harapkan dari pertemuan tersebut,” kata Trump.
Dalam pernyataan bersama seusai pertemuan, disebutkan juga Ukraina dan AS mengatakan segera mencapai kesepakatan untuk memberikan akses bagi Amerika Serikat mendapatkan kekayaan tambang Ukraina. Itu adalah tuntutan Presiden Trump sebagai imbal balik atas bantuan senjata senilai puluhan miliar dollar AS ke Ukraina yang telah diberikan sejak Presiden Joe Biden.
Beberapa jam sebelum perundingan AS-Ukraina di Jeddah, Ukraina melancarkan serangan besar terhadap Kota Moskwa dan sekitarnya. Ukraina menggunakan 337 ’drone’ serang yang mengakibatkan tiga orang tewas dan empat bandara di sekitar Moskwa ditutup beberapa jam.
Zelenskyy sedianya menandatangani kesepakatan mineral tersebut di Gedung Putih akhir Februari yang gagal dilaksanakan karena terjadi kericuhan. Penyebabnya, Presiden Trump dan Wapres Vance menuduh Presiden Zelenskyy tidak tahu berterima kasih terhadap bantuan AS sehingga terjadi cekcok mulut.
Dari Ukraina, Zelenskyy menyampaikan terima kasih kepada Presiden Trump atas usulan gencatan senjata yang dipandangnya positif dan menyatakan kini AS harus meyakinkan Rusia.
”Pihak AS memahami pandangan dan usulan kami. Saya berterima kasih kepada Presiden Trump atas dialog konstruktif dengan delegasi Ukraina,” kata Zelenskyy dalam keterangan harian pada petang hari di Kyiv, Selasa kemarin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/f74ea5af3a0786d76272dfda6daf2b9b-AFP_36YU9PP.jpg)
Penasihat Zelenskyy, Andry Yerman, mengatakan di Jeddah, Ukraina telah menegaskan sikap untuk mencapai perdamaian. ”Rusia harus menyatakan jelas, apakah mereka ingin berdamai atau tidak. Apakah mereka mau mengakhiri perang yang mereka mulai,” kata Yermak kepada wartawan seusai pertemuan.
Sementara itu, Penasihat Keamanan Trump, Mike Waltz, menegaskan, Trump sangat mendorong terciptanya perdamaian. ”Kita sekarang sudah tidak lagi berbicara seandainya perang berakhir. Kita sekarang membahas kapan perang diakhiri,” kata Waltz kepada wartawan saat mendampingi Menlu Rubio.
Waltz menambahkan, dalam waktu dekat akan bertemu dengan pihak Rusia. Dia memuji Ukraina yang menerima usulan untuk mengakhiri saling serang antara Rusia dan Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/45dad8c53b37d463a45c36b4c6ed4570-Russia_Ukraine_War_Saudi_Arabia.jpg)
Pencapaian di Jeddah kemudian dibawa Rubio ke Kanada saat dia bertemu dengan para menlu negara-negara anggota G7. Rubio mendorong G7 agar menghindari bahasa yang konfrontatif dalam menyikapi Rusia demi mencegah situasi memburuk disaat perundingan damai dibahas.
Adapun Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mengusulkan penempatan pasukan Eropa di Ukraina sebagai bagian dari perdamaian, memuji hasil perundingan di Jeddah. Meski demikian, Macron bersikeras, Ukraina tetap membutuhkan payung perlindungan militer dari Barat.
PM Inggris Keir Stammer memuji kesepakatan Ukraina-AS sebagai langkah terobosan. Sementara PM Italia Giorgia Meloni mengatakan, sekarang kesepakatan untuk berdamai atau tidak ada di tangan Rusia.
Adapun di Polandia yang memiliki sejarah hubungan tidak harmonis dengan Rusia, PM Donald Tusk memuji kesepakatan AS–Ukraina sebagai langkah penting menuju perdamaian.
Di Kyiv, Lena Herasymenko, seorang psikolog, mengatakan, mencapai kompromi diperlukan demi mengakhiri perang. Akan tetapi, kompromi tersebut harus masuk akal.
”Kita mengalami kerugian besar dalam perang ini. Kita juga belum tahu berapa banyak lagi korban yang akan jatuh. Anak-anak pun sudah menderita dan kita tidak tahu dampak perang ini bagi generasi mendatang,” kata Herasymenko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/4abfd3e117baff695d5b8faa15d11940-wires_photo_61_.jpg)
Oleksandr, prajurit Ukraina, mengatakan, gencatan senjata hanya akan menguntungkan Rusia. ”Mereka akan punya waktu untuk menambah senjata dan mempersiapkan perang serta melanjutkan serangan,” katanya.
Sebaliknya, di Rusia, politisi kanan dan para bloger militer menentang rencana gencatan senjata karena dinilai hanya menguntungkan Ukraina. ”Kita tidak butuh gencatan senjata,” kata ideolog Rusia garis keras, Alexander Dugin.
Pernyataan senada juga dilontarkan Viktor Sobolev, jenderal purnawirawan yang kini aktif di Parlemen Rusia (Duma). Ia mengatakan, 30 hari gencatan senjata memberikan kesempatan bagi Ukraina untuk menambah senjata dan mengonsolidasikan pasukan sebelum kembali berperang.
Adapun Sergei Markov, komentator politik, berharap Pemerintah Rusia menuntut penghentian pengiriman senjata Barat ke Ukraina. Upaya itu harus ada sebagai bagian dari pelaksanaan gencatan senjata. (AFP/Reuters/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari