AS Roma Vs Napoli, Indikasi ”Scudetto” dari Olimpico

Pemenang duel AS Roma dan Napoli akan layak disebut calon kuat ”scudetto” Liga Italia musim ini. Dua tim memiliki gaya bermain dan kendala yang serupa.

29 Nov 2025 15:39 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

ROMA, SABTU — Semboyan ”dominasi kontrol bola perbesar kans menang” bakal mewarnai duel dua tim teratas Liga Italia, AS Roma kontra Napoli, Senin (1/12/2025) pukul 02.45 WIB. Penguasaan bola dominan tidak hanya menjadi napas kedua tim untuk memburu gol lebih banyak dari lawan, tetapi juga ikhtiar meredam serangan pesaing.

Roma menyambut laga penutup pekan ke-13 Liga Italia dengan nyaman duduk di puncak klasemen. Mereka unggul dua poin dengan koleksi 27 poin dari duo pesaing terdekat, AC Milan dan Napoli.

Anak asuhan Gian Piero Gasperini tidak sembarang bisa duduk di capolista, sebutan pemuncak klasemen di Liga Italia. ”Si Serigala”, julukan Roma, adalah tim pertama yang mengemas sembilan kemenangan.

Revolusi Gasperini pun langsung terlihat dari kekokohan pertahanan Roma. Mereka hanya kemasukan enam gol dan sudah enam laga catatkan nirbobol. Tidak ada tim lain di kompetisi kasta tertinggi Italia mampu menyaingi catatan pertahanan yang dipimpin Evan Ndicka.

Satu hal lain yang mencolok dari permainan Roma pada awal musim ini adalah tak alergi berinisiatif mengontrol pertandingan. Mereka menghasilkan rerata 59 persen penguasaan bola per gim.

Statistik itu hanya kalah dari Como (61 persen) dan Inter Milan (60 persen). Meski begitu, angka rerata penguasaan bola itu telah melesat dibandingkan dengan 54 persen per gim pada Liga Italia edisi 2024-2025.

Penjaga gawang Cremonese, Emil Audero (kanan), menyelamatkan gawangnya di hadapan penyerang AS Roma, Evan Ferguson, dalam pertandingan Liga Italia antara Cremonese dan AS Roma di Stadion Giovanni Zini, Cremona, Italia, Minggu (23/11/2025). AS Roma akan melawan Napoli pada lanjutan Liga Italia, Senin (1/12/2025) dini hari WIB.
Quote

Kami harus menunjukkan performa yang jauh lebih baik di hari Minggu (Senin WIB). Tidak boleh lagi banyak kesalahan yang dilakukan secara tim dan individu agar kami terhindar dari hasil buruk.

Dominasi permainan itu membantu Roma bisa tampil membaik terutama dalam bertahan. Strategi counter pressing mereka, serupa yang ditampilkan Gasperini bersama Atalanta beberapa musim terakhir, tersaji di Roma.

Tak heran, Roma mampu menaikkan derajat mereka dari tim semenjana yang berkutat di papan tengah menjadi salah satu kandidat kuat scudetto. Gasperini pun tidak menyembunyikan untuk mengakhiri penantian lebih dari dua dekade Si Serigala untuk menjadi tim terbaik di Italia.

Demi menegaskan status sebagai tim papan atas, Roma wajib menunjukkan itu di hadapan sang juara bertahan, Napoli. Roma harus membuktikan diri sebab mereka sudah menelan kekalahan dengan skor identik 0-1 dari dua tim calon scudetto lainnya, yakni Inter Milan dan AC Milan.

Menariknya, seusai tumbang dari Milan, 3 November lalu, Roma mengemas empat kemenangan beruntun di dua kompetisi. Mental mereka sudah teruji untuk bangkit dari hasil negatif.

”Kami harus menunjukkan performa yang jauh lebih baik di hari Minggu (Senin WIB). Tidak boleh lagi banyak kesalahan yang dilakukan secara tim dan individu agar kami terhindar dari hasil buruk,” kata Gasperini dilansir Corrierre dello Sport, Sabtu (29/11/2025).

Penyerang AS Roma, Stephan El Shaarawy (kiri), meloncat di atas bek Cremonese, Federico Baschirotto, dalam pertandingan Liga Italia antara Cremonese dan AS Roma di Stadion Giovanni Zini, Cremona, Italia, Minggu (23/11/2025). AS Roma akan melawan Napoli pada lanjutan Liga Italia, Senin (1/12/2025) dini hari WIB.

Efektivitas serangan

Namun, bertahan dan menguasai bola dominan belum cukup bagi sebuah tim menjadi juara. Gasperini menyadari itu.

Sebanyak 15 gol yang telah dicetak anak asuhannya merupakan rekor ofensif terburuk bagi enam tim teratas Liga Italia saat ini.

Padahal, Roma bukan tim yang kesulitan mengkreasi peluang. Mereka menghasilkan rata-rata 5,3 tembakan tepat ke gawang per laga. Jumlah itu setara dengan catatan Napoli.

Penyebab Roma lebih inferior dalam koleksi gol dibandingkan dengan Napoli (19 gol) adalah terlalu banyak peluang yang dibuang.

Total 16 peluang disia-siakan Paulo Dybala dan kawan-kawan atau setara 1,3 peluang terbuang per gim. Adapun Napoli hanya sia-siakan 14 peluang.

Gasperini menyadari konversi peluang masih menjadi pekerjaan rumah bagi anak asuhannya. Ia berharap pemain Roma bisa lebih klinis di hadapan Napoli.

”Kami telah mempersiapkan laga dengan sebaik mungkin demi bermain bagus. Kami wajib tidak membuang-buang peluang yang akan mencoreng permainan kami,” kata Gasperini.

Napoli's David Neres, left, and  Atalanta's Isak Hien battle for the ball during the Serie A soccer match between Napoli and Atalanta, Saturday, Nov. 22, 2025, in Naples, Italy. (Alessandro Garofalo/LaPresse via AP)

Sementara itu, Napoli datang ke ibu kota Italia dengan performa yang membaik setelah jeda internasional. Mereka telah meraih dua kemenangan beruntun yang dihasilkan dengan menumbangkan Atalanta di Liga Italia, lalu disusul Qarabag di Liga Champions.

Hasil itu buah dari inovasi yang dipikirkan Pelatih Antonio Conte. Belum pulihnya Kevin De Bruyne dan Frank Anguissa menyebabkan Conte mengubah susunan di lini tengah dan depan.

Scott McTominay didorong sedikit ke tengah untuk menjadi gelandang tengah, alih-alih berperan sebagai gelandang serang untuk menopang penyerang Rasmus Hojlund.

Peran penyokong Hojlund diserahkan kepada dua penyerang sayap, Noa Lang dan David Neres. Menariknya, Conte menarik mereka bermain di sisi tengah lapangan. Bukan melebar seperti gaya identik dua pemain cepat itu.

Lima gol dalam dua gim terakhir membuktikan pendekatan permainan itu manjur untuk ”Si Keledai Kecil”. Kendala yang tersisa bagi Conte adalah mengembalikan ketajaman Hojlund. Penyerang asal Denmark itu sudah paceklik gol dalam enam gim Napoli terakhir.

Gol terakhir diciptakan Hojlund ketika mengalahkan Genoa, 5 Oktober lalu. Bahkan, pada lima gim di bulan November, Hojlund hanya bisa menciptakan enam tembakan secara akumulasi.

Napoli's Brazilian defender #05 Juan Jesus (C) heads the ball during the Italian Serie A football match between SSC Napoli and Atalanta BC at the Diego Armando Maradona Stadium in Naples, on November 22, 2025. (Photo by CARLO HERMANN / AFP)

Ia telah membuang kesempatan 1,47 expected goals (xG) dalam periode gim itu.

”Kami merasakan energi positif dalam beberapa laga terakhir. Meskipun ada situasi tak bisa saya kendalikan (cedera), kami berusaha selalu memberikan penampilan maksimal,” kata Conte seperti dikutip Sky Sport Italia.

Ia menambahkan, ”Energi adalah hal mendasar bagi permainan kami. Itu akan menentukan para pemain bisa mencapai level ideal dan mereka saling membantu satu sama lain.”


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto