WASHINGTON DC, SELASA — Militer Amerika Serikat kembali menyerang Iran. Sementara Israel menyatakan akan semakin menggencarkan serbuan ke Lebanon.
Dilaporkan The New York Times dan FoxNews, Senin (25/5/2026) malam waktu New York atau Selasa (26/5/2026) pagi WIB, Komando Tengah (Centcom) AS menyerang lokasi dekat Bandar Abbas, Iran. Selain ke kota pelabuhan di sisi selatan Iran itu, Centcom juga menyerang sejumlah perahu cepat di dekat Selat Hormuz.
”Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan perahu Iran yang mencoba menebar ranjau,” kata juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins.
Media Iran,FARS, melaporkan bahwa tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas. Ledakan juga terdengar dengan Sirik dan Jask.
Serangan itu terjadi kala AS-Iran sedang merundingkan kesepakatan perdamaian. Sikap Presiden AS Donald Trump soal perundingan itu amat labil.
Pada Sabtu, ia menyatakan bahwa sebagian besar kesepakatan sudah dirundingkan. Pada Senin, ia mengungkap bahwa tim perunding AS tak perlu buru-buru bersepakat dengan Iran. Belakangan, terungkap Centcom menyerang sejumlah lokasi di Iran.
Waktu serangan nyaris bertepatan dengan kedatangan delegasi Iran ke Qatar. Kedatangan itu bagian dari upaya perundingan AS-Iran yang dimediasi sejumlah negara.
Menurut Hawkins, gencatan AS-Iran tetap berlaku. Serangan AS ke Bandar Abbas dan Teluk Persia dinyatakan bukan pelanggaran gencatan senjata. ”Komando Tengah AS terus melindungi pasukan kita sembari menahan diri dalam gencatan senjata yang sedang berlangsung,” katanya.
Mantan atase militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, Adam T Clements, mengatakan bahwa serangan ke Bandar Abbas bukan faktor besar untuk menghentikan gencatan senjata. Serangan itu disebutnya terjadi kala AS sedang mengumpulkan informasi untuk memahami kekuatan Iran.
Berbagai pernyataan para pejabat AS mengindikasikan, Washington tak benar-benar memahami kekuatan Teheran. Padahal, jaringan pengumpul informasi elektronik dan mata-mata AS-Israel leluasa di Iran.
Sejumlah pihak menyebut, AS-Israel kesulitan menghancurkan gudang-gudang rudal dan pesawat nirawak Iran. Sebab, gudang-gudang itu dibuat di bawah bukit granit yang tidak bisa ditembus bom dan rudal AS-Israel.
Pengeboman AS-Israel berulang kali hanya merusak aksesnya. Sejak gencatan senjata 7 April 2026, Iran bisa memulihkan sebagian akses itu. Dengan demikian, Iran bisa kembali menggunakan cadangan senjata itu. Paling tidak 70 persen cadangan rudal Iran masih bertahan meski AS-Israel menghabiskan ribuan bom dan rudal menyerang Iran pada 28 Februari-6 April 2026.
Penilaian internal AS, setidaknya 30 lokasi peluncuran rudal Iran bisa dipakai untuk menyerang kapal-kapal AS di Selat Hormuz dan sekitarnya. Iran, menurut AS, juga memiliki begitu banyak kapal cepat yang bisa menyerang kapal perang AS atau dipakai untuk menebar ranjau laut.
Para perwira AS telah menyatakan, AS tak punya cukup rudal penangkis atau bom penembus bungker untuk menghadapi Iran.
Serangan intensif
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan, serangan ke Lebanon semakin intensif. Israel tetap menyerang Lebanon meski ada gencatan senjata disepakati pada April lalu di AS. ”Kami tidak melepaskan kaki dari pedal. Sebaliknya, saya meminta untuk lebih menekan pedal,” kata Netanyahu.
Serangan Israel sejak awal Maret 2026 telah menewaskan 3.185 orang di Lebanon. Jika menghitung sejak Oktober 2023, jumlah korbannya jauh lebih banyak lagi. Bersamaan dengan serbuan ke Gaza pada Oktober 2023, Israel juga menyerang Lebanon dan beberapa negara lain.
Serangan ke Lebanon antara lain menggunakan peledak di penyeranta (pager) dan berbagai peralatan elektronika. Selain itu, Israel meluncurkan ribuan bom dan rudal serta roket lewat tank, pesawat nirawak, helikopter serbu, pesawat tempur, hingga meriam.
Sejak awal Maret 2026, Israel mengerahkan pasukan darat ke Lebanon. Kini, 10 persen daratan Lebanon diduduki Israel. Militer Israel, Tzahal, telah mengumumkan pasukan akan tetap di Lebanon dalam waktu yang tidak ditentukan.
Penghentian serangan Israel ke Lebanon dan wilayah lain di kawasan telah diminta Iran jadi syarat gencatan senjata dengan AS. Permintaan itu jadi salah satu ganjalan perundingan AS-Iran. Israel berkeras harus bisa menyerang Lebanon kapan saja. Sementara Iran meminta jaminan kuat untuk memastikan tak ada lagi serangan AS-Israel ke Iran atau negara lain di kawasan. (AP/AFP)
WASHINGTON DC, SELASA — Militer Amerika Serikat kembali menyerang Iran. Sementara Israel menyatakan akan semakin menggencarkan serbuan ke Lebanon.
Dilaporkan The New York Times dan FoxNews, Senin (25/5/2026) malam waktu New York atau Selasa (26/5/2026) pagi WIB, Komando Tengah (Centcom) AS menyerang lokasi dekat Bandar Abbas, Iran. Selain ke kota pelabuhan di sisi selatan Iran itu, Centcom juga menyerang sejumlah perahu cepat di dekat Selat Hormuz.
”Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan perahu Iran yang mencoba menebar ranjau,” kata juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins.
Serial Artikel
Israel Tetap Serang Iran dan Lebanon, Gencatan Senjata Terancam
Iran dan juru runding Pakistan menyebut gencatan senjata juga diberlakukan di Lebanon. AS-Israel menyatakan Lebanon tidak masuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
Media Iran,FARS, melaporkan bahwa tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas. Ledakan juga terdengar dengan Sirik dan Jask.
Serangan itu terjadi kala AS-Iran sedang merundingkan kesepakatan perdamaian. Sikap Presiden AS Donald Trump soal perundingan itu amat labil.
Pada Sabtu, ia menyatakan bahwa sebagian besar kesepakatan sudah dirundingkan. Pada Senin, ia mengungkap bahwa tim perunding AS tak perlu buru-buru bersepakat dengan Iran. Belakangan, terungkap Centcom menyerang sejumlah lokasi di Iran.
Waktu serangan nyaris bertepatan dengan kedatangan delegasi Iran ke Qatar. Kedatangan itu bagian dari upaya perundingan AS-Iran yang dimediasi sejumlah negara.
Menurut Hawkins, gencatan AS-Iran tetap berlaku. Serangan AS ke Bandar Abbas dan Teluk Persia dinyatakan bukan pelanggaran gencatan senjata. ”Komando Tengah AS terus melindungi pasukan kita sembari menahan diri dalam gencatan senjata yang sedang berlangsung,” katanya.
Mantan atase militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, Adam T Clements, mengatakan bahwa serangan ke Bandar Abbas bukan faktor besar untuk menghentikan gencatan senjata. Serangan itu disebutnya terjadi kala AS sedang mengumpulkan informasi untuk memahami kekuatan Iran.
Berbagai pernyataan para pejabat AS mengindikasikan, Washington tak benar-benar memahami kekuatan Teheran. Padahal, jaringan pengumpul informasi elektronik dan mata-mata AS-Israel leluasa di Iran.
Serial Artikel
Iran-Israel: Babak Baru Perang Rudal Hipersonik Dunia
Rudal-rudal hipersonik Iran mampu menembus Israel. Penanda baru perang rudal di dunia.
Sejumlah pihak menyebut, AS-Israel kesulitan menghancurkan gudang-gudang rudal dan pesawat nirawak Iran. Sebab, gudang-gudang itu dibuat di bawah bukit granit yang tidak bisa ditembus bom dan rudal AS-Israel.
Pengeboman AS-Israel berulang kali hanya merusak aksesnya. Sejak gencatan senjata 7 April 2026, Iran bisa memulihkan sebagian akses itu. Dengan demikian, Iran bisa kembali menggunakan cadangan senjata itu. Paling tidak 70 persen cadangan rudal Iran masih bertahan meski AS-Israel menghabiskan ribuan bom dan rudal menyerang Iran pada 28 Februari-6 April 2026.
Penilaian internal AS, setidaknya 30 lokasi peluncuran rudal Iran bisa dipakai untuk menyerang kapal-kapal AS di Selat Hormuz dan sekitarnya. Iran, menurut AS, juga memiliki begitu banyak kapal cepat yang bisa menyerang kapal perang AS atau dipakai untuk menebar ranjau laut.
Para perwira AS telah menyatakan, AS tak punya cukup rudal penangkis atau bom penembus bungker untuk menghadapi Iran.
Serangan intensif
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan, serangan ke Lebanon semakin intensif. Israel tetap menyerang Lebanon meski ada gencatan senjata disepakati pada April lalu di AS. ”Kami tidak melepaskan kaki dari pedal. Sebaliknya, saya meminta untuk lebih menekan pedal,” kata Netanyahu.
Serangan Israel sejak awal Maret 2026 telah menewaskan 3.185 orang di Lebanon. Jika menghitung sejak Oktober 2023, jumlah korbannya jauh lebih banyak lagi. Bersamaan dengan serbuan ke Gaza pada Oktober 2023, Israel juga menyerang Lebanon dan beberapa negara lain.
Serangan ke Lebanon antara lain menggunakan peledak di penyeranta (pager) dan berbagai peralatan elektronika. Selain itu, Israel meluncurkan ribuan bom dan rudal serta roket lewat tank, pesawat nirawak, helikopter serbu, pesawat tempur, hingga meriam.
Serial Artikel
Musibah Ledakan ”Pager”, ”Walkie-Talkie” dan Taktik Israel
Ada operasi intelijen yang panjang, rumit, dan masif di balik dua ledakan besar di Lebanon.
Sejak awal Maret 2026, Israel mengerahkan pasukan darat ke Lebanon. Kini, 10 persen daratan Lebanon diduduki Israel. Militer Israel, Tzahal, telah mengumumkan pasukan akan tetap di Lebanon dalam waktu yang tidak ditentukan.
Penghentian serangan Israel ke Lebanon dan wilayah lain di kawasan telah diminta Iran jadi syarat gencatan senjata dengan AS. Permintaan itu jadi salah satu ganjalan perundingan AS-Iran. Israel berkeras harus bisa menyerang Lebanon kapan saja. Sementara Iran meminta jaminan kuat untuk memastikan tak ada lagi serangan AS-Israel ke Iran atau negara lain di kawasan. (AP/AFP)