TEHERAN, MINGGU — Pakistan bersiap menjadi tuan rumah lanjutan perundingan Amerika Serikat-Iran, sementara pihak yang akan berunding malah enggan datang. Serangan kapal perang AS ke kapal kargo Iran jadi pemicu keengganan itu.
Perundingan lanjutan AS-Iran dijadwalkan kembali digelar di Islamabad, Pakistan, Selasa (21/4/2026). Perundingan itu menjelang akhir gencatan senjata dua pekan AS-Iran.
Media-media Pakistan melaporkan, keamanan kembali diketatkan. Di beberapa lokasi, aparat melarang warga mendekat. Seorang pejabat Pakistan mengatakan, tim keamanan AS sudah tiba di Pakistan.
Namun, persiapan di luar Pakistan dilanda ketidakpastian. Kapal perusak AS, USS Spruance, menembaki MV Touska. Kapal kargo itu berangkat dari Malaysia sepekan lalu dan menuju Iran.
Pada Minggu (19/4/2026), ruang mesin MV Touska ditembak USS Spruance. Akibatnya, mesin mati dan kapal tak dapat berlayar. Setelah itu, tentara AS naik MV Touska dan merampas kapal tersebut.
Komando Tengah (Centcom), penanggung jawab operasi militer AS di Afrika dan Timur Tengah, menyiarkan video penyerangan itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menyebut serangan itu melanggar kesepakatan gencatan bersenjata.
Serangan itu berdampak pada peluang perundingan lanjutan AS-Iran. Media di Iran, Tasnim, melaporkan bahwa belum ada keputusan soal perundingan itu.
Sejak pertemuan terakhir di Islamabad sepekan lalu, AS-Iran berkomunikasi secara tidak langsung dengan perantaraan Pakistan. Lalu, mereka dijadwalkan kembali bertemu di Pakistan.
Serangan lanjutan
Kepada Al Jazeera, dua dosen di Universitas Teheran, Iran, menyebut perundingan lanjutan hanya bagian dari persiapan serangan AS berikutnya. Hassan Ahmadian mengatakan, kondisi berubah akibat serangan USS Spruance ke MV Touska.
Blokade AS dan serangan ke kapal dagang dinilai bagian dari upaya Washington meningkatkan ketegangan. AS tetap berupaya memaksa Iran menyerah total.
Sementara Zohreh Kharazmi menyatakan, perundingan di Islamabad hanya kedok bagi persiapan lanjutan. ”Dalam perundingan terakhir, Iran menilai AS tak serius,” katanya.
Ia merujuk pada komposisi delegasi AS-Iran. Kala itu, delegasi Iran terdiri dari pengambil keputusan dan didampingi staf teknis. Sebaliknya, delegasi AS didampingi perunding yang tak bisa menentukan keputusan akhir. Tim AS juga tak didampingi staf teknis.
Kharazmi mengatakan, serangan ke MV Touska tak dapat dianggap sebagai insiden tunggal yang berdiri sendiri. Serangan itu perlu dilihat sebagai persiapan AS melancarkan serangan berikutnya ke Iran.
Ia menyebut, citra satelit menunjukkan AS menambah pasukan dan persenjataan di sekitar Iran. Bagi Teheran, hal itu berarti AS sedang bersiap memulai babak baru serangan ke Iran. ”Serangan baru lebih mungkin dibandingkan perundingan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, AS telah berulang kali menyerang Iran di tengah proses perundingan. Pada 26 Februari 2026, perunding AS-Iran bertemu di Swiss atas fasilitasi Oman.
Sehari kemudian di Washington DC, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menyatakan bahwa Teheran-Washington tinggal sedikit lagi bersepakat. Faktanya, beberapa jam selepas pernyataan Al-Busaidi, AS-Israel menyerang Iran.
Kini, AS menyerang kapal Iran menjelang perundingan lanjutan di Pakistan. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan tak jelas soal kelanjutan perundingan itu.
Menurut Trump, Wakil Presiden AS JD Vance tak lagi memimpin delegasi AS ke Pakistan. Tim akan kembali dipimpin Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Belakangan, Gedung Putih menyatakan, Vance tetap memimpin delegasi AS. Adapun Witkoff dan Kushner tak jelas keikutsertaannya di delegasi yang dijadwalkan berangkat pada Senin dari Washington DC itu.
Perdana Menteri Pakistan Shehbah Sharif mencoba menyelamatkan proses diplomasi. Ia menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu.
Pezeshkian menyebut, serangan ke MV Touska tak masuk akal. Ia juga mengatakan, ada peluang AS kembali ingkar seperti sebelumnya.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, perkataan dan perbuatan AS selalu bertentangan sehingga sulit menentukan kelanjutan perundingan.
Iran mengakui, akhir pekan lalu sudah menerima usulan baru dari AS. Akan tetapi, ketua delegasi Iran yang juga pemimpin parlemen, Mohammed Bagher Qalibaf, mengatakan, Iran tidak akan mengalah dalam posisi perundingan.
Secara aturan hukum internasional dan Piagam PBB, AS salah dengan menyerang Iran. ”Kita mengakui adanya kesenjangan dalam proses perundingan ini,” kata Qalibaf.
Belum jelas apakah para pihak mau menerima tuntutan pihak lain. Pokok perundingan terutama soal pengayaan uranium oleh Iran dan relasi Iran dengan kelompok bersenjata di kawasan.
Tak kalah penting, soal akses Selat Hormuz. ”Pelayaran di Selat Hormuz tidaklah gratis dan pilihannya jelas, penyaluran minyak buat semua negara atau adanya dampak bagi semua,” demikian unggahan Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref.
Selain minyak, Selat Hormuz juga penting untuk penyaluran pupuk yang merupakan produk samping dari industri migas di Teluk Persia. Sejumlah negara seperti Afghanistan dan Sudan terancam kelaparan akibat kesulitan mendapatkan pupuk untuk pertanian mereka.
Iran sebetulnya sudah membuka Selat Hormuz seiring pemberlakuan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Namun, kemudian, Presiden Trump menyatakan AS tetap menutup Selat Hormuz hingga Iran mencapai kesepakatan dengan AS.
Iran pun membalas dengan menutup kembali Selat Hormuz. Pada Sabtu (18/4/2026) Iran menembak sebuah kapal niaga India yang berusaha menerobos blokade.
Blokade Selat Hormuz adalah senjata pamungkas Iran. Kondisi itu berdampak terhadap Presiden Trump dan ekonomi AS.
Sebagian besar pasokan bagi pangkalan militer AS di Teluk Persia juga harus diangkut melintasi Selat Hormuz. ”Iran akan terus mengendalikan Selat Hormuz hingga perang berakhir,” ujar Dewan Keamanan Nasional Utama Iran, Sabtu (18/4/2026). Dewan Keamanan Nasional Utama Iran menjadi badan utama pengambil keputusan saat ini.
(AP/Reuters)
TEHERAN, MINGGU — Pakistan bersiap menjadi tuan rumah lanjutan perundingan Amerika Serikat-Iran, sementara pihak yang akan berunding malah enggan datang. Serangan kapal perang AS ke kapal kargo Iran jadi pemicu keengganan itu.
Perundingan lanjutan AS-Iran dijadwalkan kembali digelar di Islamabad, Pakistan, Selasa (21/4/2026). Perundingan itu menjelang akhir gencatan senjata dua pekan AS-Iran.
Media-media Pakistan melaporkan, keamanan kembali diketatkan. Di beberapa lokasi, aparat melarang warga mendekat. Seorang pejabat Pakistan mengatakan, tim keamanan AS sudah tiba di Pakistan.
Serial Artikel
Tuntutan Berat Washington Ganjal Negosiasi AS-Iran
Isu pr
ogram nuklir Iran kembali menjadi tantangan berat untuk mencapai perdamaian antara Washington dan Teheran.
Namun, persiapan di luar Pakistan dilanda ketidakpastian. Kapal perusak AS, USS Spruance, menembaki MV Touska. Kapal kargo itu berangkat dari Malaysia sepekan lalu dan menuju Iran.
Pada Minggu (19/4/2026), ruang mesin MV Touska ditembak USS Spruance. Akibatnya, mesin mati dan kapal tak dapat berlayar. Setelah itu, tentara AS naik MV Touska dan merampas kapal tersebut.
Komando Tengah (Centcom), penanggung jawab operasi militer AS di Afrika dan Timur Tengah, menyiarkan video penyerangan itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menyebut serangan itu melanggar kesepakatan gencatan bersenjata.
Serangan itu berdampak pada peluang perundingan lanjutan AS-Iran. Media di Iran, Tasnim, melaporkan bahwa belum ada keputusan soal perundingan itu.
Sejak pertemuan terakhir di Islamabad sepekan lalu, AS-Iran berkomunikasi secara tidak langsung dengan perantaraan Pakistan. Lalu, mereka dijadwalkan kembali bertemu di Pakistan.
Serangan lanjutan
Kepada Al Jazeera, dua dosen di Universitas Teheran, Iran, menyebut perundingan lanjutan hanya bagian dari persiapan serangan AS berikutnya. Hassan Ahmadian mengatakan, kondisi berubah akibat serangan USS Spruance ke MV Touska.
Blokade AS dan serangan ke kapal dagang dinilai bagian dari upaya Washington meningkatkan ketegangan. AS tetap berupaya memaksa Iran menyerah total.
Sementara Zohreh Kharazmi menyatakan, perundingan di Islamabad hanya kedok bagi persiapan lanjutan. ”Dalam perundingan terakhir, Iran menilai AS tak serius,” katanya.
Ia merujuk pada komposisi delegasi AS-Iran. Kala itu, delegasi Iran terdiri dari pengambil keputusan dan didampingi staf teknis. Sebaliknya, delegasi AS didampingi perunding yang tak bisa menentukan keputusan akhir. Tim AS juga tak didampingi staf teknis.
Serial Artikel
Iran dan AS Sepakat Gencatan Senjata Dua Minggu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui permintaan Pakistan untuk memperpanjang tenggat hingga dua minggu. Upaya itu untuk memberi ruang diplomasi.
Kharazmi mengatakan, serangan ke MV Touska tak dapat dianggap sebagai insiden tunggal yang berdiri sendiri. Serangan itu perlu dilihat sebagai persiapan AS melancarkan serangan berikutnya ke Iran.
Ia menyebut, citra satelit menunjukkan AS menambah pasukan dan persenjataan di sekitar Iran. Bagi Teheran, hal itu berarti AS sedang bersiap memulai babak baru serangan ke Iran. ”Serangan baru lebih mungkin dibandingkan perundingan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, AS telah berulang kali menyerang Iran di tengah proses perundingan. Pada 26 Februari 2026, perunding AS-Iran bertemu di Swiss atas fasilitasi Oman.
Sehari kemudian di Washington DC, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menyatakan bahwa Teheran-Washington tinggal sedikit lagi bersepakat. Faktanya, beberapa jam selepas pernyataan Al-Busaidi, AS-Israel menyerang Iran.
Kini, AS menyerang kapal Iran menjelang perundingan lanjutan di Pakistan. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan tak jelas soal kelanjutan perundingan itu.
Menurut Trump, Wakil Presiden AS JD Vance tak lagi memimpin delegasi AS ke Pakistan. Tim akan kembali dipimpin Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Belakangan, Gedung Putih menyatakan, Vance tetap memimpin delegasi AS. Adapun Witkoff dan Kushner tak jelas keikutsertaannya di delegasi yang dijadwalkan berangkat pada Senin dari Washington DC itu.
Iran mengakui, akhir pekan lalu sudah menerima usulan baru dari AS. Akan tetapi, ketua delegasi Iran yang juga pemimpin parlemen, Mohammed Bagher Qalibaf, mengatakan, Iran tidak akan mengalah dalam posisi perundingan.
Secara aturan hukum internasional dan Piagam PBB, AS salah dengan menyerang Iran. ”Kita mengakui adanya kesenjangan dalam proses perundingan ini,” kata Qalibaf.
Belum jelas apakah para pihak mau menerima tuntutan pihak lain. Pokok perundingan terutama soal pengayaan uranium oleh Iran dan relasi Iran dengan kelompok bersenjata di kawasan.
Tak kalah penting, soal akses Selat Hormuz. ”Pelayaran di Selat Hormuz tidaklah gratis dan pilihannya jelas, penyaluran minyak buat semua negara atau adanya dampak bagi semua,” demikian unggahan Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref.
Selain minyak, Selat Hormuz juga penting untuk penyaluran pupuk yang merupakan produk samping dari industri migas di Teluk Persia. Sejumlah negara seperti Afghanistan dan Sudan terancam kelaparan akibat kesulitan mendapatkan pupuk untuk pertanian mereka.
Serial Artikel
Selat Hormuz Terancam Kembali Ditutup, Apa Dampak Jangka Pendeknya?
Gagalnya perundingan Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu (11/4/2026) lalu di Islamabad, Pakistan, membuat situasi di Selat Hormuz memanas.
Iran sebetulnya sudah membuka Selat Hormuz seiring pemberlakuan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Namun, kemudian, Presiden Trump menyatakan AS tetap menutup Selat Hormuz hingga Iran mencapai kesepakatan dengan AS.
Iran pun membalas dengan menutup kembali Selat Hormuz. Pada Sabtu (18/4/2026) Iran menembak sebuah kapal niaga India yang berusaha menerobos blokade.
Blokade Selat Hormuz adalah senjata pamungkas Iran. Kondisi itu berdampak terhadap Presiden Trump dan ekonomi AS.
Sebagian besar pasokan bagi pangkalan militer AS di Teluk Persia juga harus diangkut melintasi Selat Hormuz. ”Iran akan terus mengendalikan Selat Hormuz hingga perang berakhir,” ujar Dewan Keamanan Nasional Utama Iran, Sabtu (18/4/2026). Dewan Keamanan Nasional Utama Iran menjadi badan utama pengambil keputusan saat ini.