AS Terus Menekan Venezuela, Sita Tanker Minyak ”Bayangan”

Tanker diduga bagian jaringan tanker bayangan terkait dengan Iran. Harga minyak dunia naik tipis setelah kabar penyitaan itu.

11 Des 2025 09:30 WIB · Internasional

AP

Oleh Irene Sarwindaningrum

WASHINGTON, KAMIS — Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela. Langkah ini dinilai sebagai bentuk tekanan terbaru terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Pemerintah Venezuela mengecam keras tindakan itu dan menuding Washington mencuri secara terang-terangan.

”Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela, sebuah kapal besar, sangat besar, yang terbesar yang pernah disita, sebenarnya,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (10/12/2025) waktu setempat atau Kamis WIB.

Menurut Trump, kapal itu disita dengan alasan sangat kuat. ”Kami akan menyimpannya,” kata Trump saat ditanya apa yang akan dilakukan terhadap minyak di dalam kapal tersebut.

Penggunaan pasukan AS untuk mengambil alih sebuah kapal dagang sangat jarang terjadi. Kejadian ini menandai peningkatan tekanan terbaru pemerintahan Trump terhadap Maduro. Sebelumnya, AS menuduh Maduro terlibat dalam kasus narkoterorisme.

Dalam pernyataan resmi, Kamis (11/12/2025), Kementerian Luar Negeri Venezuela mengecam keras tindakan AS. Mereka menyebutnya sebagai pencurian secara terang-terangan dan pembajakan internasional yang diumumkan secara terbuka oleh Presiden AS.

This screen grab from a video posted by US Attorney General Pam Bondi on her X account on December 10, 2025 shows what Bondi says is the execution of "a seizure warrant for a crude oil tanker used to transport sanctioned oil from Venezuela and Iran" off the coast of Venezuela on December 10. The United States has seized a large oil tanker off the coast of Venezuela, President Donald Trump said on December 10, dramatically escalating tensions between Washington and Caracas. (Photo by Handout / US Attorney General Pam Bondi's X account / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / US ATTORNEY GENERAL PAM BONDI'S X ACCOUNT " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Pejabat AS yang menolak disebut namanya mengungkap kapal itu bernama Skipper. Penyitaan dipimpin Penjaga Pantai AS dengan dukungan Angkatan Laut. Personel Penjaga Pantai diterjunkan ke kapal tanker dari helikopter yang lepas landas dari kapal induk USS Gerald R Ford. Sejak bulan lalu, kapal induk itu ditempatkan di Laut Karibia yang merupakan halaman depan Venezuela.

Video yang diunggah Jaksa Agung AS Pam Bondi memperlihatkan sejumlah personel turun dengan tali dari helikopter ke geladak kapal. Mereka bergerak di dalam bangunan di atas kapal dengan senjata.

Bondi menyatakan, selama beberapa tahun, kapal tanker ini telah dikenai sanksi oleh AS. Menurut Bondi, penjatuhan sanksi karena keterlibatan kapal dalam jaringan pengiriman minyak ilegal yang mendukung organisasi teroris asing.

Permintaan konfirmasi mengenai penyitaan kapal tersebut oleh Penjaga Pantai AS dirujukkan kembali ke Gedung Putih.

Quote

Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela, sebuah kapal besar, sangat besar, yang terbesar yang pernah disita, sebenarnya.

Menurut koran The New York Times, Skipper mengangkut minyak milik perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA).

Sebelumnya, Skipper bernama M/T Adisa. Kapal tersebut dikenai sanksi AS pada 2022 karena diduga menjadi bagian dari jaringan kapal tanker bayangan (ghost tanker). Disebut bayangan karena tanker mematikan penanda lokasi. AS menuduh tanker itu digunakan untuk menyelundupkan minyak mentah Iran.

Kapal itu, menurut pejabat tersebut, berlayar menggunakan bendera palsu, yaitu negara Amerika Latin lain tempat kapal itu tidak terdaftar. Ia juga mengatakan, tujuan akhir pelayarannya adalah kawasan Asia.

Menurut pejabat itu, surat perintah penyitaan terbit sekitar dua pekan lalu. Penyitaan terkait aktivitas masa lalu dalam dugaan penyelundupan minyak Iran, bukan karena adanya hubungan dengan pemerintahan Maduro.

Sejumlah jaksa AS menuduh Iran menggunakan dana yang dihasilkan dari penjualan minyak untuk mendanai militernya serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Hizbullah di Lebanon.

This image from video posted on Attorney General Pam Bondi's X account, and partially redacted by the source, shows an oil tanker being seized by U.S. forces off the coast of Venezuela, Wednesday, Dec. 10, 2025. (U.S. Attorney General's Office/X via AP)

Jaringan tanker bayangan

Berdasarkan dokumen perusahaan PDVSA, kapal Skipper berangkat dari Venezuela pada 2 Desember dengan membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah. Sekitar separuh muatannya disebut milik perusahaan impor minyak milik negara Kuba. Dokumen itu diungkap oleh sumber anonim karena tidak ada izin untuk memublikasikannya.

Kementerian Keuangan AS menduga jaringan tanker bayangan itu dijalankan oleh pedagang minyak asal Ukraina yang berbasis di Swiss. Transaksi jaringan tersebut biasanya melibatkan perusahaan-perusahaan cangkang dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Minyak dipindahkan di tengah laut.

Ketergantungan PDVSA pada para perantara ini meningkat sejak 2020, sejak pemerintahan Trump periode pertama memperketat tekanan terhadap Venezuela. Sanksi Trump saat itu mengancam setiap individu atau perusahaan di AS yang berbisnis dengan pemerintahan Maduro.

(FILES) This detail view shows a t-shirt depicting US President Donald Trump and the slogan “Yankee go home” worn by a supporter of Venezuelan President Nicolas Maduro during a rally against US military activity in the Caribbean, in Caracas on October 30, 2025. Since returning to the White House in January, arguably no region has been in Donald Trump's crosshairs more than Latin America, the target of economic and military coercion US interventionism. The US President made his intensions clear from Day 1: vowing to take back the Panama Canal, rename the Gulf of Mexico, expel Latin American migrants and stop drugs crossing the southern border. The response has varied, determined in large part on a country's closeness to rival powerhouse China. (Photo by Federico PARRA / AFP)

Harga minyak dunia naik tipis setelah penyitaan tanker. Harga Brent naik 27 sen, atau 0,4 persen, menjadi 62,21 dollar AS per barel, sedangkan minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) naik 21 sen, atau 0,4 persen, menjadi 58,46 dollar AS per barel.

Venezuela mengekspor lebih dari 900.000 barel per hari pada bulan lalu. Negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan memproduksi sekitar 1 juta barel per hari. Dengan volume itu, PDVSA disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Analis Commodity Context, Rory Johnston, menyatakan, penyitaan kapal tanker ini menambah kekhawatiran terhadap pasokan jangka pendek. ”Satu lagi hambatan geopolitik yang menghantam ketersediaan pasokan di pasar,” katanya.

Meski demikian, ia menilai, hal ini tidak langsung mengubah situasi secara fundamental. Pasalnya, minyak tersebut sudah diperkirakan akan berada di laut untuk sementara waktu.

Perusahaan minyak AS, Chevron, yang bermitra dengan PDVSA, menyatakan, operasinya di Venezuela tetap berjalan normal tanpa gangguan. Bulan lalu, Chevron meningkatkan ekspor minyak Venezuela ke AS menjadi sekitar 150.000 barel per hari, naik dari 128.000 barel per hari pada Oktober.

Ancaman Maduro

Maduro belum memberi pernyataan resmi soal penyitaan kapal tersebut. Akan tetapi, dalam pidatonya di hadapan massa pendukung di Caracas, ia menyampaikan ancaman keras. ”Kami siap mematahkan gigi kekaisaran Amerika Utara jika diperlukan,” katanya.

Ia menegaskan, hanya pemerintahannya yang mampu menjamin perdamaian, stabilitas, dan pembangunan yang harmonis bagi Venezuela, Amerika Selatan, dan Karibia.

Maduro kembali menuduh bahwa tujuan utama pengerahan militer AS adalah untuk memaksanya turun dari kekuasaan.

Venezuela's President Nicolas Maduro gestures during a rally to mark the anniversary of the Battle of Santa Ines, in Caracas on December 10, 2025. (Photo by Federico PARRA / AFP)

Sejak awal September, pemerintahan Trump telah melancarkan sedikitnya 22 serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh menyelundupkan narkotika di Laut Karibia dan Samudra Pasifik. Sedikitnya 87 warga Venezuela tewas.

Politikus Partai Demokrat AS menilai, operasi tersebut berpotensi melanggar hukum dengan penggunaan kekuatan militer mematikan. Senator Chris Van Hollen, anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, menyatakan, penyitaan kapal tanker melemahkan alasan resmi pemerintahan Trump dalam pengerahan militer ke lepas pantai Venezuela.

”Ini menunjukkan bahwa seluruh cerita mereka, bahwa operasi ini untuk mencegat narkoba, adalah kebohongan besar,” kata Hollen. ”Ini bukti bahwa yang sebenarnya adalah soal pergantian rezim, dengan kekerasan.”

Sehari sebelum penyitaan kapal, dua jet tempur AS terbang di atas Teluk Venezuela. Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa serangan darat segera dilakukan, tanpa merinci lebih lanjut.

Penyitaan kapal itu terjadi pada hari yang sama dengan upacara penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 di Oslo kepada pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Machado, penentang keras Maduro, tidak hadir secara langsung dalam acara tersebut, tetapi akan hadir di acara sesudahnya.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto