Sambil terus berunding, militer Washington bersiap menyusun operasi jangka panjang di Iran. Trump mengancam, jika belum juga ada kesepakatan, AS akan menyerang Iran.
14 Feb 2026 14:30 WIB · Internasional
AFP/US NAVY/MASS COMMUNICATION SPECIALIS
WASHINGTON, JUMAT — Perlahan tapi pasti, Amerika Serikat mulai menumpuk kekuatannya di Timur Tengah. Setelah menghadirkan gugus tempur pengiring kapal induk USS Abraham Lincoln, kini Washington mengirim armada kapal induk kedua, yaitu USS Gerald R Ford.
Kekuatan pemukul itu bersiaga di sekitar perairan Laut Arab untuk sewaktu-waktu dikerahkan. Begitu Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke Iran, militer AS sudah siap.
Informasi ini diperoleh dari dua pejabat AS yang menjadi sumber kantor berita Reuters dan tak mau disebut namanya, Jumat (13/2/2026). Menurut keduanya, perencanaan kali ini jauh lebih kompleks. Dalam operasi jangka panjang, militer AS tidak hanya menargetkan infrastruktur nuklir Iran. Kali ini sasarannya mencakup fasilitas dan keamanan Iran.
Jika AS betul-betul menyerang, Washington telah berhitung, konfliknya akan jadi jauh lebih serius daripada yang pernah terjadi sebelumnya di antara kedua negara. AS yakin, Iran akan membalas sehingga pasti akan terjadi saling serang selama periode waktu tertentu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/08/35f5fd73b91041c1e0317c2f28cf5ac9-TOPSHOT_US_IRAN_DEFENCE_DIPLOMACY_135852206.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/11/5619c4a04edbd7e96a1a6db68f494349-TOPSHOT_US_IRAN_DEFENCE_DIPLOMACY_135852203.jpg)
Untuk itu, selain mengerahkan armada kapal induk tambahan, AS juga menambah ribuan anggota pasukan bersama pesawat tempur, kapal perusak rudal berpemandu, serta armada lain yang mampu menyerang dan bertahan melawan Iran. Terkait informasi itu, Departemen Pertahanan AS menolak berkomentar.
Sebelumnya, di pangkalan militer Carolina Utara, AS, Trump mengatakan, sangat sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Trump telah berulang kali mengancam akan mengebom Iran karena program nuklir dan rudal balistiknya serta penindasan terhadap perbedaan pendapat internal.
Ia memperingatkan bahwa alternatif dari solusi diplomatik akan sangat traumatis. ”Terkadang Anda harus memiliki rasa takut. Itulah satu-satunya hal yang benar-benar akan menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.
Trump menyatakan, lebih baik ada perubahan rezim di Iran. Ia bahkan menyatakan kekuatan luar biasa akan segera berada di Timur Tengah. Ini seiring dengan pengiriman kapal induk ke wilayah Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/14/451806dbb077028b74e11bf2b27be32d-US_PRESIDENT_TRUMP_AND_FIRST_LADY_MELANIA_TRUMP_VISIT_FORT_BRAGG_136063136.jpg)
”Sepertinya perubahan rezim itu akan menjadi hal terbaik. Selama 47 tahun, mereka terus saja berbicara. Sementara sudah banyak nyawa hilang,” ujar Trump. Ia tak mau menyebutkan siapa yang dia inginkan untuk mengambil alih Iran. Ia hanya mengatakan ”ada orang-orang”.
Ditanya tentang persiapan untuk operasi militer AS yang berpotensi berkelanjutan, Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan, Trump memiliki semua opsi yang tersedia terkait Iran. ”Dia mendengarkan berbagai perspektif tentang setiap masalah, tetapi membuat keputusan akhir berdasarkan apa yang terbaik untuk negara dan keamanan nasional kita,” ujarnya.
Pada Juni 2025, AS mengirimkan dua kapal induk ke wilayah Timur Tengah. Pada waktu itu, AS bersama Israel menyerang situs nuklir Iran. Namun, operasi Midnight Hammer pada dasarnya adalah serangan tunggal AS. Pesawat pengebom siluman terbang dari AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Sebagai balasan, Iran menembakkan sejumlah rudal balistik ke pangkalan AS di Qatar.
Para ahli mengatakan, risiko bagi pasukan AS akan jauh lebih besar dalam operasi semacam ini terhadap Iran. Pasalnya, Iran memiliki persenjataan rudal yang tangguh. Serangan balasan Iran juga akan meningkatkan risiko konflik regional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/94c3152d-5dcc-4e82-a44e-3817e3879572_png.png)
Garda Revolusi Iran telah menegaskan, jika wilayah Iran diserang, mereka akan menyerang pangkalan AS di mana pun sebagai balasan. AS memiliki pangkalan di seluruh Timur Tengah, termasuk Jordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Di tengah situasi seperti itu, Rabu lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Trump di Washington. Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu kembali mendesak bahwa jika kesepakatan tercapai, hal itu harus mencakup unsur-unsur yang vital bagi Israel.
Sejauh ini Iran masih berkukuh pada sikapnya. Teheran bersedia membahas pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan aneka sanksi dicabut. Namun, Teheran berkeras tidak mau menghubungkan persoalan itu dengan kepemilikan dan pengembangan rudal.
Direncanakan perundingan lanjutan antara AS dan Iran akan digelar di Geneva, Swiss, pada Selasa mendatang. Delegasi AS di antaranya akan diisi oleh Utusan Khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Selain mereka, perwakilan dari Oman juga akan hadir dan memediasi perundingan. (REUTERS)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/14/1b203dba02788a1a15f5f5a7d12dc86e-TOPSHOT_OMAN_IRAN_US_DIPLOMACY_135824660.jpg)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul