Gencatan senjata di Lebanon mendorong Iran membuka Selat Hormuz untuk kapal komersial. AS bersikukuh blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran masih berlaku.
18 Apr 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP/BORIS HORVAT
TEHERAN, SABTU — Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz sepenuhnya untuk kapal-kapal komersial selama sisa waktu gencatan senjata hingga 22 April 2026. Namun, Amerika Serikat tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Sabtu (18/4/2026), mengatakan, Iran akan menutup kembali Selat Hormuz jika AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. ”Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka,” tulisnya di X.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebutkan, Iran telah setuju untuk tidak pernah lagi menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi global. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat AS mengakhiri blokade di selat itu.
”Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk bisnis dan pelayaran penuh. Namun, blokade (oleh) Angkatan Laut (AS) akan tetap berlaku sepenuhnya,” tulis Trump di media sosial Truth Social, Jumat (17/4/2026) waktu setempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/c4ca16f46dfac6f92578b99c77c67e67-Trump_1_.jpeg)
AS memutuskan memblokade kapal dan pelabuhan Iran setelah negosiasi kedua negara yang dimediasi oleh Pakistan, Sabtu (11/4/2026), gagal mencapai kesepakatan. Negosiasi ini dilakukan setelah kedua negara sepakat untuk gencatan senjata selama dua pekan.
Trump mengatakan, blokade AS akan tetap diterapkan hingga tercapai kesepakatan dengan Iran. Ia mengisyaratkan pertemuan lanjutan AS-Iran dapat digelar akhir pekan ini. Negosiasi tersebut membuka jalan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari 1,5 bulan.
”Proses ini seharusnya berjalan sangat cepat karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan,” ujarnya.
Trump mengklaim perundingan dengan Iran telah mendekati akhir. Salah satu poin yang menjadi kendala dalam negosiasi terkait dengan program nuklir Teheran. Pada perundingan akhir pekan lalu, AS menghendaki penangguhan semua aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun. Sementara Iran menginginkan penghentian selama tiga hingga lima tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/14/d5009019f44e86aba126e6ab52c29e54-wires_photo_1_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/a3c73af484bc8252a12c62d67028b938-Iran_War.jpeg)
Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Lebih dari 3.000 orang tewas di Iran selama perang berkecamuk.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz berdampak luas. Sebab, seperlima minyak global dikirim melalui perairan yang memisahkan daratan Iran dengan Jazirah Arab tersebut. Sebagian besar tanker dari negara Teluk tak bisa melintas sehingga memicu lonjakan harga minyak.
Iran memutuskan membuka Selat Hormuz sepenuhnya setelah tercapai gencatan senjata antara Lebanon dan Israel, Kamis (16/4/2026). Lebanon terseret dalam perang ini akibat konflik Israel dengan Hizbullah kembali memanas. Israel menggempur wilayah Lebanon selatan yang dituding sebagai basis kelompok tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz dibuka sepenuhnya sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon. ”Jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” katanya.
Penerapan beberapa prasyarat, termasuk gencatan senjata di Lebanon, merupakan kunci keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Seorang pejabat tinggi Iran mengatakan, Teheran akan menganggap blokade berkelanjutan di Selat Hormuz oleh pasukan AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Hal ini berpeluang membuat Iran kembali menutup jalur kapal di selat itu.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Iran memberlakukan tiga syarat untuk lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pertama, hanya kapal komersial yang diperbolehkan melintas, sementara kapal militer dilarang.
Kedua, kapal harus melewati rute yang ditentukan oleh Iran. Ketiga, pelayaran kapal harus dikoordinasikan dengan pasukan Iran yang bertanggung jawab atas jalur tersebut.
”Penerapan beberapa prasyarat, termasuk gencatan senjata di Lebanon, merupakan kunci keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” demikian tertulis dalam laporan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/b146b14143c716f021839996b0e20847-20260312_ANU_Selat_Hormuz_Jalur_Penting_mumed.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/16/b8991e8ebee171ce1f260cec8e715115-Iran_War_6_.jpeg)
Seiring proses negosiasi yang masih berjalan, sejumlah pihak di Iran masih bereaksi keras terhadap AS. Kepatuhan AS terhadap gencatan senjata akan menentukan keberlanjutan pembukaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ulama senior Iran, Ahmad Khatami, mengatakan tidak tunduk pada syarat yang diajukan pihak musuh. ”Rakyat kami tidak bernegosiasi saat dipermalukan,” ujarnya.
Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menginisiasi konferensi internasional yang diikuti puluhan negara untuk membuka kembali Selat Hormuz. AS tidak termasuk dalam daftar peserta konferensi itu.
”Pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa syarat dan segera adalah tanggung jawab global, dan kita perlu bertindak untuk membuat energi dan perdagangan global mengalir bebas kembali,” kata Starmer.
Macron menuntut pembukaan Selat Hormuz secara penuh, segera, dan tanpa syarat oleh semua pihak. Menurut dia, opsi untuk memastikan jalur aman melalui selat itu bergantung pada situasi keamanan setelah gencatan senjata yang berkelanjutan.
”Kita semua menentang pembatasan atau sistem perjanjian apa pun yang pada dasarnya akan sama dengan upaya untuk memprivatisasi selat tersebut dan tentu saja sistem pungutan tol apa pun,” katanya.
Dilansir dari Al Jazeera, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, Jerman dapat berkontribusi dalam membersihkan ranjau dan mengerahkan kemampuan intelijen di Selat Hormuz. Namun, hal ini membutuhkan dukungan parlemen dan dasar hukum yang kuat, seperti resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/4d1bc46127e9b86ad81ed64ad4783dad-India_US_Israel_Iran_2.jpg)
Presiden Finlandia Alexander Stubb menekankan pentingnya diplomasi dalam membuka Selat Hormuz secara berkelanjutan. ”Kami menyambut pengumuman Iran tentang pembukaan Selat Hormuz. Solusi jangka panjang membutuhkan diplomasi,” tulisnya di media sosial X.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan, pembukaan Selat Hormuz oleh Iran merupakan langkah ke arah yang benar. Sejumlah pihak berharap langkah itu dapat berujung pada kebebasan navigasi dan memastikan pelayaran yang aman di jalur perairan tersebut.
”Saat ini kami sedang memverifikasi pengumuman baru-baru ini terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, yaitu dalam hal kepatuhannya terhadap kebebasan navigasi untuk semua kapal dagang dan jalur pelayaran yang aman,” kata Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti