Penantian Panjang Guru Honorer Kandas akibat Praktik Culas (2)

Harapan guru honorer yang sudah tahunan mengabdi untuk lolos sebagai guru PPPK sirna.  Mereka tersisih akibat kecurangan dalam proses seleksi.

17 Nov 2024 22:05 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Aditya Diveranta, Fajar Ramadhan, Johanes Galuh Bimantara, Harry Susilo

Guru honorer yang mengabdi bertahun-tahun menaruh harapan besar agar bisa diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK. Asa mereka sirna saat dikabarkan adanya indikasi kecurangan dalam seleksi salah satu kategori aparatur sipil negara atau ASN tersebut.

Tiap seleksi ASN guru berlangsung, Dian Novindra (38) selalu menaruh harap agar mendapat kesempatan bisa menjadi guru tetap. Setidaknya sejak 2005, dia telah menjadi guru honorer di Kabupaten Langkat. Dari sekian kali percobaan seleksi selama sekitar 19 tahun, dia belum cukup beruntung untuk diangkat sebagai guru tetap.

Meski begitu, dia tetap sabar sambil melanjutkan statusnya sebagai guru honorer. Status guru bagi dia adalah pekerjaan mulia yang sejalan dengan bidang akademiknya.

Di satu sisi, lelaki yang akrab disapa Dian ini sering mendapat kabar kolega guru honorer yang titip nama di sekolah tertentu, tetapi tidak pernah mengajar. Hal yang paling mengagetkan bagi Dian, mereka yang tidak pernah mengajar itu justru bisa lulus menjadi guru PPPK. Kabar semacam itu ditemukan hampir setiap tahun seusai pengumuman seleksi.

”Sudah berapa kali awak (saya) dicurangi. Pernah waktu masih ujian tertulis, sudah tertera nama awak, terus hilang. Di Langkat ini, bisa gaib kayak begitu,” ucap Dian.

Puncak kekecewaan Dian adalah saat seleksi PPPK tahun 2023. Dian mengupayakan segala kemampuan, bahkan tergoda untuk minta bantuan dari seorang kenalan calo. Kendati begitu, dia tetap mengasah kemampuan untuk tes seleksi.

Infografik investigasi Kompas Syarat Jadi Peserta Seleksi Guru ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)

Tergeser akibat SKTT

Pada hari pengumuman nilai tes komputer atau dikenal sebagai Computer Assisted Test (CAT), Dian cukup puas karena mendapat skor cukup baik di tayangan Live Score Seleksi Kompetensi PPPK. Dian mendapatkan skor kumulatif sebesar 556 poin yang semestinya tergolong bagus untuk berkesempatan lulus sebagai PPPK.

Ternyata, pada hari pengumuman kelulusan tiba-tiba ada penundaan. Pengumuman yang ditunda sepekan ternyata berbuah tes bernama Seleksi Kompetensi Teknis Tambahan (SKTT).

Nilai SKTT tahun 2023 itu menuai polemik karena ditentukan langsung oleh Dinas Pendidikan Langkat tanpa ada ujian apa pun. Dian mendapat nilai SKTT rendah, yakni 15 dari indikator 0-135. Dian, yang tadinya berkesempatan lulus PPPK dengan nilai tergolong bagus akhirnya tergeser dari formasi guru kelas. Dari formasi 400 guru kelas, Dian ada di peringkat 412.

Quote

Setelah lihat hasil ’live score’, awak sudah semangat. Tiba-tiba ditunda tadi, baru muncul SKTT. Nilai banyak peserta berubah dan saya enggak lulus.

Dian Novindra (38), guru honorer di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek daring, Minggu (20/10/2024).
Dian Novindra (38), guru honorer di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bekerja sampingan sebagai pengojek daring, Minggu (20/10/2024).
Dian Novindra (38), seorang guru honorer, menyambi bekerja jadi pengemudi ojek daring, seperti terlihat di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, akhir Oktober 2024. Gaji sebagai guru honorer di SD Negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Dian dan keluarganya.

Dian tidak sendiri. Di Langkat, ada 103 guru honorer yang menggugat hasil seleksi PPPK Langkat tahun 2023 karena indikasi maladministrasi dan kecurangan. Dari hasil itu, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan mengabulkan gugatan yang meminta agar seleksi PPPK Langkat Tahun 2023 dibatalkan.

Dian yang telah mengabdi sebagai honorer selama 19 tahun hidup serba terbatas dengan gaji Rp 850.000 per bulan. Gaji itu tak cukup untuk menghidupi istri dan dua anaknya. Alhasil, dia bekerja sampingan sebagai pengojek di aplikasi daring.

Aktivitas ini dilakukan setelah pulang mengajar sore hingga malam. Dia juga menambah pendapatannya dengan menjadi wasit sepak bola antarkampung (tarkam). Meski dua pekerjaan itu tidak menentu hasilnya, namun cukup membantu keuangan Dian.

Guru honorer di lingkungan Pemerintah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memberikan keterangan setelah gugatannya dikabulkan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Medan, Sumatera Utara, Jumat (27/9/2024).

Kisah serupa lain dialami Aldi (35), bukan nama sebenarnya, salah satu guru SMP Negeri di Kabupaten Kerinci, Jambi. Sejak 2017, telah dia mengabdikan diri untuk mengajar dengan gaji sebesar Rp 150.000 setiap bulan.

Harapan untuk memperbaiki kesejahteraan sempat muncul saat Pemerintah Kabupaten Kerinci membuka seleksi PPPK pada tahun 2023. Status guru PPPK amat diinginkan Aldi, karena hanya lewat jalur ini dia bisa mendapatkan gaji layak. Usianya sudah 35 tahun kala itu, sehingga tidak lagi memiliki peluang mengikuti seleksi PNS.

Pada 25 November 2023, Aldi mengikuti ujian PPPK formasi guru kelas di Kota Jambi. Selama sesi ujian Computer Assisted Test (CAT) berlangsung, keluarga Aldi menyimak skor CAT Aldi lewat tayangan live streaming kanal Youtube Badan Kepegawaian Nasional (BKN).

Saat sesi berakhir, nama Aldi terpampang di peringkat kedua dengan skor 592, terpaut 10 poin dari ranking pertama. Perolehan skor itu membuat Aldi dan keluarganya yakin lulus. Aldi, bahkan, sudah menerima ucapan selamat dari keluarga besarnya.

Quote

Ada yang membagikan peringkat sesi saya di grup keluarga. Dari situ semuanya pada ngasih ucapan selamat.

Sejumlah siswa tengah berinteraksi di salah satu SD Negeri di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi pada Kamis (17/10/2024).

Nilai mendadak turun

Aldi merasa usahanya selama ini tidak sia-sia. Selama ini, dia terus mempelajari soal-soal seleksi PPPK dari lembaga kursus. Soal-soal itu dipelajari dari tayangan Youtube di tengah-tengah kesibukannya mengajar dan berladang.

Selain menjadi guru, Aldi mencari penghasilan tambahan dari mengolah kebun orangtuanya. ”Saat sedang istirahat di ladang, saya sambil buka Youtube, belajar. Kurang lebih sekitar 1,5 bulan sebelum tes saya belajar dari situ,” katanya.

Euforia itu mendadak buyar di hari pengumuman kelulusan seleksi PPPK. Skornya tiba-tiba turun menjadi 488,5 sehingga membuatnya tidak lulus seleksi. Sementara, banyak guru yang ujian CAT mendapat nilai jauh di bawah Aldi, lulus seleksi karena nilai akhirnya melonjak signifikan.

Turunnya nilai akhir ini disebabkan adanya SKTT. Padahal, Aldi dan peserta lain tidak pernah diminta mengikuti proses SKTT. Mereka tidak pernah mendapat penjelasan soal SKTT dalam seleksi PPPK 2023. ”Kami dan guru lain kaget. Tidak pernah ada pemberitahuan, tetapi tiba-tiba nilainya sudah keluar,” ungkapnya.

Infografik investigasi Kompas Syarat Jadi Peserta Seleksi Guru ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)

Aldi hanya mendapat nilai SKTT sebesar 50 poin. Sementara 372 guru yang lolos pada formasi guru kelas mendapat nilai maksimal dalam SKTT, yakni 450 poin. Nilai ini mengatrol posisi guru-guru yang memiliki nilai CAT di bawah Aldi.

Sebagai gambaran, guru dengan peringkat terakhir yang lolos, mendapat nilai CAT 476. Nilai ini terpaut jauh dari nilai CAT Aldi yang mencapai 592. Karena mendapat nilai sempurna dalam SKTT, nilai akhir guru tersebut naik menjadi 515,9. Sementara nilai akhir Aldi turun menjadi 488,8.

Quote

Saya sempat lihat satu nama guru yang nilai CAT di bawah saya, tapi dia lolos. Saya memang tahu kalau dia itu istri dari kepala sekolah.

Suasana di sebuah SMP Negeri di Kabupeten Kerinci, Provinsi Jambi pada Kamis (17/10/2024).

Kekecewaan Aldi semakin menjadi-jadi begitu mengetahui ada sejumlah guru honorer siluman yang turut lolos dalam seleksi PPPK tahun lalu. Guru-guru tersebut diketahui tidak pernah mengajar, tetapi bisa mengikuti seleksi.

Salah seorang guru yang diketahui Aldi, bahkan selama ini sibuk menjadi ajudan mantan Bupati Kerinci. Aldi berteman baik dengan guru tersebut sehingga selalu memantau aktivitas sehari-harinya di media sosial.

”Kebetulan dia juga teman kuliah saya. Jadi saya tahu betul dia tidak pernah mengajar, tapi sibuk mendampingi mantan bupati setiap ada kegiatan,” ungkapnya.

Pupusnya peluang Dian dan Aldi untuk menjadi guru PPPK sempat membuat mereka terpukul. Saat ini, para guru honorer tersebut masih menanti dalam ketidakadilan. Mereka terus berharap agar seleksi guru PPPK selanjutnya tidak diwarnai lagi kecurangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Diveranta, Fajar Ramadhan, Johanes Galuh Bimantara, Harry Susilo
 | 

Editor:

Harry Susilo, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase