Atlet bulu tangkis Indonesia bermain pada berbagai kejuaraan pekan ini. Harapan juara muncul dari Denmark Terbuka, Kejuaraan Dunia Yunior, dan Malaysia Super 100.
18 Okt 2025 20:36 WIB · Olahraga
ODENSE, SABTU — Indonesia bisa berharap meraih gelar dari kejuaraan bulu tangkis di level dan tempat berbeda pada akhir pekan ini. Asa juara datang dari atlet senior dan adik-adik mereka di kategori yunior.
Pada turnamen Denmark Terbuka di Odense, salah satu harapan juara ada pada ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Kemenangan atas Liang Wei Keng/Wang Chang dengan skor 21-15, 21-18 pada Sabtu (18/10/2025) mengantarkan Fajar/Fikri ke final untuk ketiga kali dari lima turnamen. Hasil itu juga memperpanjang kemenangan mereka atas Liang/Wang menjadi 3-0.
Sejak berpasangan pada Juli, Fajar/Fikri selalu mencapai perempat final atau lebih. Pertandingan pada hari terakhir turnamen dijalani ketika menjuarai China Terbuka dan mencapai final Korea Terbuka (kalah dari Seo Seung-jae/Kim Won-ho).
Pada final Denmark Terbuka, Minggu (19/10/2025), Fajar/Fikri akan berhadapan dengan pemenang semifinal lainnya, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi melawan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty. Pertandingan antara pasangan Jepang dan India itu berlangsung Sabtu tengah malam waktu Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/239fa8a1c72f695adab8093abfe6948a-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
”Hoki/Kobayashi atau Satwik/Chirag akan menjadi lawan yang tangguh dan kami belum pernah bertemu. Jadi, kami harus tetap fokus, waspada, dan mempelajari pertandingan mereka,” ujar Fikri.
Performa yang konsisten sejak berduet di Jepang Terbuka, Juli, akan menjadi bekal Fajar/Fikri untuk menjalani final Denmark Terbuka. Selain itu, mereka bisa mengandalkan pengalaman baik dari turnamen berlevel Super 750 itu saat bermain dengan pasangan sebelumnya.
Fajar menjuarai Denmark Terbuka 2022 bersama Muhammad Rian Ardianto yang saat ini berduet dengan Rahmat Hidayat. Mereka menjalani debut di Denmark dan bertahan hingga perempat final. Adapun Fikri mencapai final Denmark Terbuka 2023 bersama Bagas Maulana, tetapi kalah dari Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia).
Fajar mengatakan, suasana dan fasilitas turnamen membuat mereka nyaman. ”Hotel dan tempat pertandingan nyambung, jadi kami bisa lebih fokus dan nyaman dalam persiapan pertandingan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/65f0bc80d9d68531b9b540f7817fce1f-FajarFikri16_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
Indonesia juga memiliki Jonatan Christie pada semifinal di Odense. Pada pertandingan kesepuluh, yang merupakan semifinal terakhir, Jonatan berhadapan dengan atlet Perancis, Alex Lanier.
Pertemuan perdana dengan atlet berusia 20 tahun tersebut menjadi semifinal pertama Jonatan di Denmark Terbuka, sedangkan Lanier mencapai semifinal pada 2024. Pemenang Jonatan melawan Lanier akan bertemu Shi Yu Qi atau Viktor Axelsen dalam perebutan gelar juara.
Pada hari yang sama dengan final yang akan dijalani Fajar/Fikri, ”adik” mereka di pelatnas akan berebut gelar juara dunia yunior di Guwahati, India. Final pada ajang untuk atlet-atlet berusia 19 tahun ke bawah ini akan dijalani Mohammad Zaki Ubaidillah di tunggal putra.
Kemenangan atas pemain China, Li Zhi Hang (China), 14-16, 16-14, 15-12, setidaknya membawa Zaki satu langkah lebih baik dibandingkan saat mencapai semifinal Kejuaraan Dunia Yunior 2024 di Nanchang, China. Atlet unggulan teratas itu membutuhkan satu kemenangan lagi untuk menjadi juara dalam kesempatan terakhirnya tampil pada Kejuaraan Dunia Yunior.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/37cfce2065ac28c3422c6ea8ec6d753b-WhatsApp_Image_2025_10_18_at_16.39.52_1_.jpeg)
Indonesia sebenarnya berkesempatan besar menciptakan final pemain senegara di tunggal putra ketika Richie Duta Ricardo tampil pada semifinal lain. Dia juga berhadapan dengan pemain China, yaitu Liu Yang Ming Yu, tetapi kalah 7-15, 15-10, 13-15.
Setelah gagal menyamakan skor saat tertinggal 13-14 pada gim ketiga karena gagal dalam melakukan pukulan net, Richie sangat menyesali kekalahannya meski hasil ini lebih baik dibandingkan setahun lalu. Di Nanchang, Richie bertahan hingga perempat final.
”Kecewa banget dengan hasil hari ini karena tidak bisa bikin all-Indonesian finals. Tadi pada poin-poin kritis, saya kurang bisa memanfaatkan keadaan,” komentar Richie yang juga akan beranjak ke level senior, seperti Zaki, pada tahun mendatang.
Zaki pun sebenarnya hampir tersingkir ketika Li menciptakan match point pada gim kedua. Kemenangan Zaki, juara Indonesia Masters Super 100 pada 2024, didapat dalam laga yang diwarnai drama. Dia kehilangan gim pertama setelah disalip lawan pada posisi game point, 14-11. Sebaliknya, Zaki memenangi gim kedua setelah lawan menciptakan match point pada skor 14-11.
Tunggal putra nomor satu dunia yunior itu pun bermain lebih agresif pada gim penentuan dengan sering memosisikan diri di dekat net untuk memotong pukulan lawan. ”Saya sempat putus asa pada gim kedua. Tetapi, pelatih terus meyakinkan saya buat bangkit dan akhirnya saya yakin bisa mendapat satu poin demi satu poin. Alhamdulillah bisa membalikkan keadaan,” katanya.
Zaki akhirnya menjadi satu-satunya finalis dari Indonesia karena semifinalis pada ganda putra juga kalah. Alexius Ongkytama Subagio/Aquino Evano Keneddy Tangka tak bisa mengeluarkan performa terbaik saat berhadapan dengan Chen Jun Ting/Liu Jun Rong (China). Dalam keadaan ditekan hampir sepanjang pertandingan, Alexius/Aquino kalah 6-15, 6-15.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/b566ee19bd988edafea4c7c87c6f9b6d-WhatsApp_Image_2025_10_18_at_19.06.10.jpeg)
Selain di Denmark Terbuka dan Kejuaraan Dunia Yunior, atlet Indonesia juga mencapai final pada turnamen Malaysia Super 100. Satu wakil memperoleh peluang menjadi juara, yaitu Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana.
Malaysia Super 100 menjadi turnamen keempat bagi Dejan/Bernadine sejak Vietnam Terbuka Super 100, September. Setelah tersingkir pada babak-babak awal dalam dua turnamen, Dejan/Bernadine menjuarai Al Ain Masters Super 100 di Uni Emirat Arab pada 5 Oktober.
Di Indonesia, empat atlet memutuskan keluar dari pelatnas ketika rekan-rekan mereka bersaing di berbagai kejuaraan. Keempat atlet itu adalah Rinov Rivaldy, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, Pitha Haningtyas Mentari, dan Lisa Ayu Kusumawati.
Setelah tak berlatih di pelatnas, mereka akan bertanding sebagai atlet independen. Rinov/Yeremia, misalnya, telah terdaftar sebagai peserta ganda putra turnamen Indonesia International Challenge di Yogyakarta, 11-16 November.
Keempat atlet itu memiliki kesamaan, yaitu kesulitan menembus persaingan level atas dunia. Rinov/Pitha adalah juara dunia ganda campuran yunior pada 2017, tetapi performa mereka stagnan di level senior. Hasil terbaik Rinov/Pitha di level BWF World Tour adalah juara pada level Super 300 yang merupakan level terendah. Mereka juara di Spanyol Masters 2021 dan 2024.
Rinov/Pitha pernah berganti pasangan pada awal 2025, yaitu Rinov bersama Lisa dan Pitha dengan atlet muda, Verrel Yustin Mulia. Namun, performa mereka tak juga berkembang hingga prestasinya disalip pasangan lebih muda, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
Lisa melalui masa terbaik bersama Rehan Naufal Kusharjanto pada 2023 dan 2024, di antaranya dengan mencapai semifinal All England 2023. Ketika Rehan tak lagi menjadi atlet pelatnas pada 2025, Lisa kesulitan mencapai level yang sama bersama partner lain.
Hal serupa dialami Yeremia yang menjadi juara Asia 2022 dan semifinalis Indonesia Terbuka 2023 bersama Pramudya Kusumawardana. Setelah berganti partner, di antaranya dengan Rahmat, level prestasi Yeremia tak juga berkembang.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar