Volume perdagangan negara-negara ASEAN dengan GCC diperkirakan tumbuh rata-rata 30 persen menjadi 180 miliar dollar AS pada 2030.
27 Mei 2025 12:45 WIB · Internasional
KUALA LUMPUR, KOMPAS — Kemitraan yang dibangun ASEAN dengan Dewan Kerja Sama untuk Negara Arab di Kawasan Teluk atau GCC diyakini membuat negara-negara yang tergabung dalam kedua organisasi kawasan itu semakin tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Kolaborasi di bidang-bidang strategis dapat menjamin kemakmuran yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, kemitraan ASEAN dengan GCC tidak pernah sepenting saat ini. Sebab, 10 negara ASEAN dan enam negara GCC sama-sama menghadapi lanskap global yang semakin kompleks. Situasi ini ditandai dengan ketidakpastian ekonomi dan tantangan geopolitik.
”Hubungan ASEAN-GCC yang lebih kuat akan menjadi kunci untuk meningkatkan kolaborasi antarkawasan, membangun ketangguhan, dan menjamin kemakmuran yang berkelanjutan bagi masyarakat kita,” ujar Anwar saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi Ke-2 ASEAN-GCC di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (27/5/2025).
Hadir dalam konferensi tersebut Presiden Prabowo Subianto serta para pemimpin negara dari ASEAN dan GCC. Prabowo hadir didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Anwar melanjutkan, kerangka kerja sama ASEAN-GCC 2024-2028 yang diadopsi pada KTT perdana pada 2023 lalu telah memberikan cetak biru untuk memperdalam kolaborasi. KTT tersebut menjadi momentum yang sangat menggembirakan bagi penguatan kerja sama antarnegara.
Terlebih, kerja sama perdagangan di antara negara-negara ASEAN-GCC sangat menggembirakan. Pada tahun 2023, GCC menjadi mitra dagang terbesar ketujuh bagi ASEAN dengan total perdagangan mencapai 130,7 miliar dollar AS. Investasi juga terus tumbuh, mencerminkan kepercayaan yang meningkat terhadap prospek jangka panjang kemitraan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/94e7292394747ba69ad42ff5245f233a-000_484687J.jpg)
Oleh karena itu, lanjut Anwar, pembahasan di KTT Ke-2 ASEAN-GCC menjadi sangat penting untuk memastikan kemitraan tetap dinamis, responsif, dan berdampak. Konferensi ini mesti digunakan untuk menegaskan kembali ambisi kolektif dan mewujudkan visi bersama menjadi kerja sama yang konkret dan berdampak nyata.
”ASEAN dan GCC memiliki sarana dan tanggung jawab untuk bangkit sebagai jangkar stabilitas dan mesin pertumbuhan masa depan,” ujar Anwar.
Kemitraan ASEAN-GCC menjadi penting karena mewakili kekuatan ekonomi dan populasi yang besar.
Presiden Dewan Tertinggi GCC sekaligus Putra Mahkota Kuwait Sabah al-Khalid al-Sabah mengatakan, kemitraan ASEAN-GCC menjadi penting karena mewakili kekuatan ekonomi dan populasi yang besar. Total produk domestik bruto dari 16 negara mencapai 6 triliun dollar AS dengan populasi sekitar 740 juta jiwa.
Negara-negara ASEAN-GCC juga dihubungkan oleh jalur laut dan perdagangan yang termasuk paling penting di dunia. Situasi tersebut menjadikan kerja sama ASEAN-GCC memiliki dimensi geopolitik strategis yang berdampak langsung pada stabilitas regional serta pertumbuhan ekonomi global.
Ia pun memandang positif dan optimistis pencapaian yang telah diraih sejak KTT pertama di Riyadh, Arab Saudi. ”Kami menegaskan pentingnya melanjutkan pembangunan di atas pencapaian tersebut dengan mencari cakrawala baru yang sesuai dengan perkembangan dunia, khususnya di bidang kecerdasan buatan dan keamanan siber,” kata Al-Sabah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/41ab3c1ef693544d951c62096cf30bda-AP25146056195158.jpg)
Di bidang politik dan keamanan, kata Al-Sabah, GCC menegaskan komitmennya terhadap dialog konstruktif, penghormatan terhadap kedaulatan, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri. Langkah strategis itu terus dilakukan demi memperkuat stabilitas regional dan internasional.
GCC juga menyerukan peningkatan kerja sama dalam memerangi terorisme, ekstremisme, kejahatan terorganisasi, peningkatan pertukaran informasi keamanan, serta peningkatan kapasitas untuk menghadapi krisis.
Al-Sabah menuturkan, pihaknya merasa bangga GCC menjadi mitra dagang terbesar ketujuh ASEAN pada 2023 dengan total perdagangan 130,7 miliar dolar AS. Ia memperkirakan volume perdagangan akan tumbuh rata-rata 30 persen menjadi 180 miliar dollar AS pada 2030.
”Banyak peluang yang dapat dimanfaatkan antara kedua belah pihak dan pencapaian sejauh ini menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang benar,” katanya.
GCC juga mengajak untuk membangun ekonomi digital yang inklusif dan sejalan dengan transformasi teknologi besar dan perdagangan elektronik. Pihaknya pun mengusulkan pertukaran pengalaman dalam pengembangan infrastruktur digital.
Sementara di bidang kebudayaan, GCC mengusulkan agar tahun 2026 dijadikan sebagai Tahun Kedekatan Budaya antara GCC dan ASEAN. Termasuk di antaranya penyelenggaraan pekan budaya, forum, dan pameran seni. Begitu pula untuk menyelenggarakan Hari ASEAN di salah satu negara GCC dan Hari Budaya GCC di salah satu negara ASEAN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/27/8a5fe51ca9bd3b8b6cff4fee6aa4d2d6-IMG_0938.jpeg)
Al-Sabah melanjutkan, negara-negara GCC dengan penuh keprihatinan terus mengikuti situasi kemanusiaan yang memburuk di Gaza dan wilayah Palestina. Mereka menegaskan kembali ke posisi yang konsisten terhadap isu Palestina dan hak rakyat Palestina yang sah untuk mendirikan negara merdeka berdasarkan perbatasan 4 Juni 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota.
”Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk memikul tanggung jawab hukum dan moralnya serta memberikan tekanan yang diperlukan guna menghentikan agresi serta menjamin perlindungan internasional bagi warga sipil,” katanya.
GCC juga menyerukan dimulainya kembali proses perdamaian yang serius dan kredibel. Hal itu mesti didasarkan pada resolusi sah internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab. Mereka juga menghargai posisi ASEAN dalam mendukung hak-hak sah rakyat Palestina dan perjuangan yang adil.
Kerja sama ekonomi ASEAN bagian timur memberikan manfaat yang signifikan bagi rakyat.
Sementara itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi Ke-16 Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur (BIMP-EAGA), Selasa (27/5/2025), mengatakan, kerja sama ekonomi ASEAN bagian timur memberikan manfaat yang signifikan bagi rakyat. Kemitraan yang dibangun sejak delapan tahun lalu tersebut bahkan mampu menjadi dasar bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
”Bersama-sama, kita telah meletakkan dasar yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan didorong oleh inovasi,” ujar Marcos.
Hadir dalam konferensi tersebut Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/fe345be073d2d3ff5f7c4fc7146035ba-IMG_0805.jpeg)
Marcos melanjutkan, kerja sama negara-negara BIMP-EAGA mampu memperkuat konektivitas, fasilitasi perdagangan dan investasi, ketahanan pangan dan energi, ekowisata, serta perkembangan pembangunan hijau secara signifikan. Kerja sama di berbagai bidang tersebut memperkuat komitmen negara-negara untuk memperkecil kesenjangan pembangunan di subkawasan.
Atas capaian-capaian yang diraih, Marcos mengajak para pemimpin negara BIMP-EAGA memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan kembali visi bersama demi kawasan teluk yang terintegrasi, makmur, dan tangguh. Sebab, tantangan ke depan menuntut sinergi yang lebih besar, inovasi, dan kemauan politik.
”Saya yakin bahwa melalui kerja sama kita, kita akan terus mengubah aspirasi yang telah kita miliki ini menjadi dampak nyata yang bertahan lama bagi rakyat kita,” tuturnya.
Penulis:
Iqbal Basyari melaporkan dari Kuala LumpurEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti