PENCEGAHAN BENCANA

Atasi Banjir, Pengerukan Kali-kali di Jakarta Berkejaran dengan Cuaca

Setelah banjir bertubi-tubi, Jakarta mengebut pengerukan kali dan penataan kawasan untuk resapan air.

27 Jan 2026 09:00 WIB · Metropolitan

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

Awal 2026, Jakarta sudah tiga kali dilanda banjir. Pemicunya ialah hujan deras lebih dari 150 milimeter (mm) per hari. Hujan lebat membikin Jakarta goyah karena kurangnya area resapan air dan terbatasnya kapasitas saluran mikro maupun makro.

”Persoalan banjir adalah karena area tangkapan air tidak mencukupi,” ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung seusai meninjau pengerukan Kali Sepak di Kembangan, Jakarta Barat, Senin (26/1/2026).

Kali Sepak adalah salah satu saluran makro. Alirannya menampung debit dari saluran mikro di sekitar dan penghubung ke Kali Angke hingga bermuara di Cengkareng Drain.

”Jadi, walaupun dikeruk semuanya (drainase dan kali), enggak ada tambahan sedimen, cuma mampu untuk curah hujan 150 milimeter per hari,” kata Pramono.

Kemcetan terjadi di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Jumat (23/1/2026) akibat air yang masih menggenangi jalan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat per pukul 12.00 WIB terdapat 143 RT dan 16 ruas jalan di Jakarta yang masih terendam. Ketinggian air mulai dari 30 sentimeter hingga 120 sentimeter. Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya menjadi salah satu dampak terjadinya banjir. Selain itu, drainase serta tata kota yang buruk juga menjadi penyebab sulitnya air untuk surut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
23-01-2026
Warga melintasi genangan air di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat per pukul 12.00 WIB terdapat 143 RT dan 16 ruas jalan di Jakarta yang masih terendam. Ketinggian air mulai dari 30 sentimeter hingga 120 sentimeter. Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya menjadi salah satu dampak terjadinya banjir. Selain itu, drainase serta tata kota yang buruk juga menjadi penyebab sulitnya air untuk surut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
23-01-2026

Saat hujan deras pada 22 Januari lalu, misalnya, perumahan di sekitar Kali Sepak kebanjiran puluhan sentimeter (cm). Kebanyakan rumah warga posisinya lebih rendah dari kali.

Lebar kali tersebut 9 meter dengan endapan sedimen 1 meter. Saat ini, Pemerintah Provinsi Jakarta sedang mengeruk kali itu dengan target volume sedimen terangkut hingga 7.458 meter kubik.

Dinas Sumber Daya Air Jakarta harus mengeruk secara kontinu agar aliran kali tetap optimal. Selain meningkatkan kapasitas tampung air, pengerukan juga bertujuan memperlancar aliran.

Pengerukan terbagi ke dalam tiga segmen, yakni pertemuan Kali Angke-Jembatan Jalan Kembangan baru-Jembatan Jalan Pulau Bira; Jembatan Jalan Pulau Bira-Jembatan JA; dan Jembatan JA-Jembatan Kembangan Raya. Total tiga segmen itu ialah 1,24 kilometer.

Tiga ekskavator dan 10 truk pengangkut dikerahkan untuk mengeruk Kali Sepak. Sedimen hasil pengerukan lalu dibuang ke Confined Disposal Facility di Ancol, Jakarta Utara.

Kondisi saat banjir

Jakarta dilanda banjir pada 12 Januari, 18 Januari, dan 22 Januari. Saat itu hujan lebat memicu banjir lokal dan luapan kali di lebih dari 100 RT dan puluhan jalan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Jakarta Ika Agustin Ningrum di sela-sela peninjauan Kali Sepak mencontohkan tinggi muka air di Pintu Air Cengkareng Drain yang mencapai 350 cm. Ketinggian air kemudian berangsur turun ke posisi 315 cm dan 265 cm sehingga air dari hulu bisa perlahan mengalir dan akhirnya banjir surut pada 22 Januari.

”Kali-kali ini saluran makro, kapasitasnya hanya (curah hujan) 150 mm per hari. Jadi hujan 12 Januari dan 18 Januari, itu lebih dari 200 milimeter, otomatis kali akan meluap,” kata Ika.

Kondisi saluran mikro, seperti drainase, dirancang untuk kapasitas hujan 100 mm per hari. Ketika hujan lebih dari angka tersebut, maka sudah pasti meluber. Hal itu antara lain terjadi pada 22 Januari. Curah hujan tidak sampai 150 mm per hari. Namun, durasinya selama 8 jam, bahkan sampai pagi di area hulu.

Kondisi ini, lanjut Ika, menyebabkan banjir di Jakarta Barat. Waktu itu, Cengkareng Drain penuh sehingga tidak dapat mengalirkan air. ”Ditambah kiriman dari hulu jadi agak lama surutnya,” ujarnya.

Pengerukan sedimen di Kali Sepak, Kembangan, Jakarta Barat pada Senin (26/1/2026). Endapan di kali ini mencapai 1 meter.
Pengerukan sedimen di Kali Sepak, Kembangan, Jakarta Barat pada Senin (26/1/2026). Volume pengerukan ditargetkan 7.458 meter kubik.

Ika menambahkan, pengerukan seperti di Kali Sepak sudah dilakukan bertahap sejak Oktober 2025. Namun, pengerukan tidak bisa asal dilakukan.

Posisi turap di Kali Sepak sesuai elevasi air maksimal. Alhasil, sedimen yang bisa dikeruk hanya 1-2 meter. Jika lebih dari itu, turap bisa ambrol.

Selain itu, Jakarta Barat memiliki kondisi agak berbeda dengan Jakarta Utara. Elevasi daratan lebih rendah daripada laut di utara, sedangkan di darat permukiman lebih rendah dari kali.

”Jadi memang sistem polder, sistem pompa di wilayah pemukiman padat sangat diperlukan agar air bisa disedot ke kali,” ujar Ika.

Selama banjir tiga kali berturut-turut, seluruh pompa stasioner berjumlah 600 dan 500 pompa mobile dikerahkan.

Normalisasi jangka menengah

Seiring banjir tersebut, Pramono juga meninjau Kali Cakung Lama di segmen Begog dan Pedongkelan di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada 23 Januari. Ia memastikan normalisasi sungai menjadi prioritas penanganan banjir jangka menengah.

Kali Cakung Lama, misalnya, menyempit parah yang menimbulkan penyempitan aliran air sebelum menuju laut. Kondisi ini berdampak langsung terhadap banjir di Kelapa Gading, Sukapura, Cilincing, Pegangsaan Dua, dan Koja.

Dinas Sumber Daya Air Jakarta melaporkan segmen Begog hanya tersisa 2-3 meter dari kondisi awal 20 meter. Penyempitan, tingginya sedimen, dan okupasi bangunan di bantaran kali menambah kerentanan terhadap banjir.

Pemerintah Provinsi Jakarta berencana membebaskan lahan di Kampung Begog untuk mengembalikan fungsi saluran sesuai kapasitas rencana. Upaya ini diharapkan mengurangi risiko banjir terjadi berulang di daerah aliran Kali Cakung Lama.

Foto udara pemukiman padat penduduk di kawasan Bidara Cina, Jakarta, yang berselebahan dengan Kali Ciliwung, Rabu (16/7/2025). Pemerintah Provinsi Jakarta mengajukan kenaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 menjadi Rp 91,86 triliun, naik 0,57 persen dibandingkan dengan penetapan APBD tahun anggaran 2025 sebesar Rp 91,34 triliun. Kenaikan anggaran tersebut akan digunakan untuk pemenuhan belanja wajib dan mengikat, menunjang pelayanan dasar kepada masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial. Kemudian, menjaga optimalisasi layanan pada instansi yang menerapkan skema badan layanan umum daerah (BLUD).



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

16-07-2025
Warga berjalan menerobos genangan air di Jalan Nis, Jeruk Purut, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026). Ratusan rumah terendam banjir sejak Senin pagi. Banjir melanda kawasan tersebut setelah Kali Krukut meluap akibat hujan deras yang mengguyur wilayah sejak dini hari. Genangan air menyebabkan aktivitas warga terganggu. Warga yang terdampak di kawasan tersebut sebanyak 99 kepala keluarga (KK) atau 326 jiwa di RT 09 RW 03, 149 KK atau 476 jiwa di RT 03 RW 03, dan 45 KK atau 105 jiwa di RT 13 RW 01. Wilayah yang terdampak banjir meliputi RT 3 dan RT 9, RW 3, Kelurahan Cilandak Timur, Kecamatan Pasar Minggu. Sebelumnya, BPBD DKI Jakarta mengatakan hingga Senin siang, terdapat 22 rukun tetangga (RT) dan 33 ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir akibat curah hujan tinggi. 

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Setelah itu, Pramono dan jajaran melakukan rapat terbatas di Balai Kota Jakarta untuk mengevaluasi penanganan banjir berturut-turut. Dalam rapat dirumuskan langkah strategis sebagai prosedur operasi standar (SOP) penanganan banjir.

Salah satunya ialah memastikan fungsi Pintu Air Cengkareng Drain. Infrastruktur tersebut terhubung dengan Kali Angke, Kali Sepak, Kali Pesanggrahan, Kali Mookervart, Kali Apuran, Kali Banjir Kanal Timur (BKT), dan beberapa saluran penghubung (Phb), yakni Phb Pedongkelan di sisi barat dan Phb Kapuk Raya di sisi timur.

Menurut Pramono, penanganan banjir relatif baik. Semua tertangani dengan baik. Namun, upaya preventif tetap dilakukan untuk mengurangi dampak banjir.

”Karena dari data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih ada kemungkinan hujan lebat, salah satunya pada 27 Januari,” ujar Pramono.

Ia memastikan operasi modifikasi cuaca (OMC) masih berlanjut. Penyemaian awan ini dilakukan untuk mengurangi potensi hujan di daratan.

”Tetapi untuk jangka menengah seperti yang saya sampaikan sekali lagi, Jakarta akan melakukan normalisasi untuk tiga sungai utama, Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama. Saya sudah minta untuk segera ini diputuskan,” kata Pramono.

Normalisasi Ciliwung akan dimulai oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Pekerjaannya meliputi tanggul di bantaran. Sementara untuk Kali Krukut dan Kali Cakung Lama diusahakan mulai 2026.

”Kalau itu bisa dilakukan, jangka menengah sudah diantisipasi. Walaupun tetap Jakarta itu kalau curah hujannya di atas 200 mm per hari pasti, duh, ada banjir,” tutur Pramono.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan