Hujan lagi, banjir lagi. Sesuatu yang seolah rutin terjadi tetapi harus dikelola agar tidak terulang, bahkan bertambah parah. Hujan awal 2026 dinilai tak biasa.
20 Jan 2026 18:07 WIB · Metropolitan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Hujan lebat sudah bikin waswas, apalagi jika datang bersamaan dengan rob di pesisir utara dan air kiriman dari hulu.
Situasi tersebut otomatis membuat Jakarta limbung. Aliran air akan tersendat di mana-mana. Ini sinyal keras bahwa banjir bukan lagi sekadar agenda rutin.
Cuaca ekstrem di awal tahun 2026 menjadi contoh terdekat. Banjir terjadi di 48 rukun tetangga (RT) dan 32 ruas jalan pada 18 Januari 2026.
Hari itu, curah hujan menembus 150 milimeter (mm) per hari. Bulir-bulirnya tak mampu diimbangi oleh infrastruktur pengendalian banjir, baik skala mikro maupun makro.
Dalam sekejap, Jalan Gunung Sahari di Jakarta Utara jadi wahana bermain air. Kendaraan dari arah Senen dan Ancol tak dapat melintas.
”Banjir kali ini lebih tinggi dari pekan lalu,” kata Lydia (26), warga Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (18/1/2026). Hujan lebat pada 12 Januari juga memicu banjir meskipun tak setinggi 18 Januari 2026.
Di lokasi lain, permukiman warga Kelurahan Rawa Terate, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, menjadi salah satu lokasi terparah. Ketinggian banjir di sana mencapai 1,5 meter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/4b2cf775ce633e2ac15cb4635491b223-FAK_7665.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/3a7441268494d28853306f5092742074-FAK_7826.jpg)
Camat Cakung Rohmad mencatat, ada 769 warga terdampak di Rukun Warga (RW) 04 Rawa Tewate dan 895 orang di RW 05. Sebagian di antara warga itu terpaksa mengungsi ke Lapangan United Tractors dan Masjid Al Istiqomah.
Julia (34), warga Rawa Terate, terkejut. Banjir pada 18 Januari lebih parah dari sebelumnya. Air naik 130-150 sentimeter di permukiman. Sepeda motornya mogok saat ia nekat menerobos genangan di depan pabrik dekat rumah.
Warga sudah mengantisipasi banjir dengan meninggikan lantai rumah. Namun, derasnya hujan dan luapan kali tidak terbendung.
Banjir baru surut setelah genangan disedot dengan pompa. Namun, warga berharap ada perbaikan infrastruktur, termasuk turap kali yang lebih memadai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/9ea8f6b6eff565032cef5e473122ff78-WhatsApp_Image_2025_02_02_at_20.11.49.jpeg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, curah hujan pada 18 Januari 2026 masuk kategori lebat hingga ekstrem. Di Pantai Indah Kapuk (PIK), curah hujan tercatat mencapai 135 mm per hari, bahkan hingga 267 mm per hari di Muara Angke.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengakui, situasi awal tahun 2026 tidak biasa. Selama hampir setahun menjabat, curah hujan ketika itu paling tinggi.
”Kemarin di delapan titik pemantauan di Jakarta Utara, semuanya di atas 200 mm per hari. Bahkan, ada yang sampai 260 mm per hari,” kata Pramono di Jakarta Pusat pada Selasa (20/1/2026).
Banjir surut total pada 19 Januari 2026 pagi. Lamanya waktu surut di beberapa ruas jalan, seperti Gunung Sahari dan Kelapa Gading, disebabkan hujan lebat bertemu dengan rob. ”Air tidak bisa turun (mengalir), tidak bisa dipompa,” kata Pramono.
Situasi tak seperti biasa itu mau tidak mau harus dihadapi. Selain menyiagakan pompa stasioner dan mobile sambil merampungkan infrastruktur pengendalian banjir, Jakarta mengupayakan operasi modifikasi cuaca (OMC).
”Kalau dilihat, harusnya curah hujan jauh lebih tinggi, termasuk hari Minggu (18/1/2026), tetapi berkurang karena OMC,” kata Pramono.
Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan bahwa proyek giant sea wall atau tanggul laut raksasa tinggal menunggu arahan pemerintah pusat. Tanggul laut raksasa merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
”Giant sea wall target groundbreaking pada September tahun ini (2026),” ujar Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/08/cc77bb81-591e-3465-9822-32db3fc70577_heic.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/08/531667dc-0ba0-3bec-a762-ad57b4b3a7e9_heic.jpg)
NCICD terbagi menjadi tiga fase, yakni A, B, dan C. Fase A terletak di pinggir pantai dan disebut tanggul pengaman pantai. Sementara dua fase lain ada di luar pantai yang dinamakan tanggul laut raksasa.
Fase A dikerjakan terlebih dahulu untuk melindungi Jakarta sambil menunggu proyek giant sea wall berjalan. Secara keseluruhan, Jakarta bertanggung jawab untuk membangun tanggul sepanjang 28,2 kilometer dengan progres mencapai 11,82 kilometer terbangun hingga akhir Desember 2025.
Pramono menjanjikan pembangunan tak hanya beton penghalang ombak. Terdapat taman yang bisa dimanfaatkan warga. Infrastruktur ini diharapkan mengurangi risiko banjir di Jakarta.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan