Dua negara sahabat AS dipukul tarif oleh Donald Trump. Pemilu ini adalah manuver mereka untuk menyelamatkan perekonomian.
03 Mei 2025 17:15 WIB · Internasional
Pada Sabtu (3/5/2025), Australia dan Singapura menggelar pemilihan umum. Pemilu ini berada di bawah tekanan geopolitik dan geoekonomi global. Untuk pertama kalinya, Singapura dan Australia seolah ”ditusuk dari belakang” oleh teman terdekat mereka, Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 mengumumkan Hari Pembebasan. Ia menjatuhkan tarif impor kepada semua kawan dan lawan AS. Suatu tindakan yang menurut para sekutu AS pengkhianatan terhadap persahabatan mereka.
Australia tidak luput dari tembakan tarif itu. Padahal, sebelumnya, Perdana Menteri Anthony Albanese mengutarakan percaya diri ”Negeri Kanguru” tidak akan kena tarif. Mereka defisit perdagangan dari AS dalam jumlah sangat besar. Tak dinyana, Australia dipukul tarif 10 persen.
”Ini bukan perbuatan yang dilakukan seseorang kepada teman sendiri,” kata Albanese menanggapi peristiwa tersebut.
Lebih membingungkan lagi, pulau-pulau terluar Australia dikenai tarif sendiri. Bahkan, Pulau MacDonald yang merupakan suaka penguin dan tidak dihuni manusia juga dipukul tarif.
Richard Holden, dosen ekonomi di Universitas New South Wales, menjelaskan, dampak tarif Trump langsung dirasakan oleh Australia. ”Kemakmuran negara kita datang dari perdagangan internasional. Segala hambatan di sana memengaruhi kehidupan masyarakat Australia,” ujarnya kepada SBS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/03/a84dbc21-da86-4003-94fd-f3eda3399c77_jpg.jpg)
Perang dagang antara AS dan China berisiko membuat pasar China terkontraksi. Holden menerangkan, China adalah pasar sangat penting bagi produk-produk Australia. Bahkan, di sektor pendidikan tinggi, mayoritas mahasiswa asing berasal dari China dan bukan mengikuti program beasiswa.
”Semua usaha, mulai dari yang besar sampai kedai kopi, di Australia terdampak jika konsumsi masyarakat China menurun,” kata Holden.
AS salah satu mitra dagang Australia. Negara ini mengekspor daging sapi ke AS sebagai komoditas unggulan. Bahkan, daging sapi mencakup 15 persen ekspor ke ”Negara Paman Sam”. Adanya tarif 10 persen itu akan memukul para peternak sapi.
Dilansir Financial Review, AS hanya 4 persen dari pasar ekspor langsung Australia. Akan tetapi, AS penting dalam skema rantai pasok global.
Hal ini karena Australia mengekspor mineral dan logam mentah ke China dan negara-negara Asia lain untuk diolah. Produk jadi itu, antara lain, berupa peralatan elektronik dan baterai, kemudian diekspor ke AS.
”Perang dagang AS dengan negara-negara Asia akan menghantam ekspor bahan baku kita ke Asia karena AS mengurangi impor dari Asia. Rantai pasok Australia terganggu,” kata ekonom Bank Nasional Australia, Gareth Spence.
Dalam pemilu ini, Partai Buruh maupun Partai Liberal-Nasional sama-sama berjanji akan mengadakan negosiasi tarif dengan Trump. Mereka berjanji kepada rakyat untuk menurunkan harga kebutuhan pokok.
Melihat situasi ini, muncul pertanyaan, apa yang akan dilakukan Australia ke depan? Akankah mereka menguatkan kerja sama dengan Asia Tenggara dan Pasifik di sektor-sektor strategis?
”Selama ini, solusi bersama dengan pengembangan kapasitas bersama Indonesia tidak berjalan. Bukannya menjalin kinerja pertahanan erat dengan negara-negara sekitar, Australia bergabung dengan AUKUS,” kata Faisal Karim, pakar hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia, Jumat (2/5/2025).
AUKUS adalah aliansi pertahanan Australia, Inggris, dan AS. Keputusan ini tidak pelak dari sikap mental Australia yang menganggap mereka bangsa kulit putih jauh di selatan dunia.
Pandangan itu dijelaskan oleh Allan Gyngell dalam bukunya, Fear of Abandonment. Australia takut tidak dianggap oleh negara-negara Barat sebagai bagian dari kebudayaan itu. Akibatnya, Australia lebih merasa bagian dari Barat dibandingkan lokasi geografis mereka yang dekat Asia Tenggara dan Pasifik.
Selama ini, Australia beranggapan bahwa ”musuh” itu datang dari utara. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah pengaruh China. Sejatinya, pendekatan yang lebih baik adalah menggalang kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara. Akan tetapi, Australia memilih jalur AUKUS.
”Sekarang, secara mengejutkan, yang meninggalkan aliansi justru AS,” ucap Faisal.
Ia mengatakan, dunia menanti apakah penjatuhan tarif Trump dan goyangnya aliansi AUKUS akibat perilaku AS akan menjadi alarm bagi elite politik Australia. Akankah mereka melihat Asia Tenggara dan Pasifik sebagai mitra strategis yang setara?
Singapura juga dihantam oleh tarif Trump. Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, tarif untuk Singapura sangat rendah, yakni 10 persen. Berbeda dengan Kamboja yang dipukul tarif 49 persen, Vietnam 46 persen, dan Indonesia 32 persen.
Namun, perekonomian Singapura sepenuhnya bergantung pada perniagaan global. PM Lawrence Wong menerangkan, aksi proteksionisme AS mengganggu ekspor global dan menurunkan kepercayaan para investor. Walhasil, perekonomian melambat.
Data bank UOB mengungkapkan, Singapura sangat bergantung pada permintaan pasar AS. Sebanyak 11 persen komoditas barang dan jasa yang bertransit di Singapura tujuan akhirnya adalah AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/03/3b0d5328-b12f-4b93-955b-eb916e9812b7_jpg.jpg)
Pelambatan ekonomi ini buruk bagi Singapura yang masih berusaha menstabilkan diri pascapandemi Covid-19. Dilansir media Mortgage Master, sektor yang akan terdampak ialah harga rumah dan apartemen. Ini mencakup pembayaran hipotek yang berisiko naik, padahal negara masih inflasi.
Di tengah tekanan geoekonomi ini, para pengamat memperkirakan Partai Aksi Rakyat (PAP) akan memenangi pemilu. Partai ini berkuasa sejak Singapura diberi kemerdekaan oleh Inggris pada 1965. Rakyat diduga tidak mau mengambil risiko memilih partai lain yang belum pernah memegang kendali pemerintahan.
”Belum terlihat apakah rakyat melihat sistem politik Singapura sudah cukup dewasa dan kuat untuk mengakomodasi partai-partai lain di dalam parlemen dan menjamin ekonomi tetap stabil,” kata Eugene Tan, pakar ekonomi Universitas Manajemen Singapura, kepada Firstpost.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul