Potensi rob diprediksi menghantui pesisir Jakarta pada 1-10 Desember 2025. Puncak pasang diperkirakan terjadi setiap hari pada pukul 07.00-13.00 WIB.
01 Des 2025 17:42 WIB · Metropolitan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Rob diperkirakan melanda wilayah pesisir Jakarta pada 1-10 Desember 2025. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jakarta menyiagakan pompa stasioner, meninjau ulang jalur evakuasi, dan meminta petugas lapangan bersiap penuh melakukan pemantauan rutin.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Isnawa Adji mengatakan, masyarakat pesisir perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena pasang tinggi dapat berlangsung beberapa hari berturut-turut. Puncak pasang diperkirakan terjadi setiap hari pada pukul 07.00-13.00 WIB.
Peringatan ini dikeluarkan setelah Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok mengidentifikasi adanya pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan dua fenomena astronomi, yaitu fase bulan purnama dan perigee atau yang lebih dikenal sebagai supermoon.
”Ancaman rob bukan sekadar genangan, melainkan juga potensi gangguan aktivitas, kerusakan barang berharga, serta ancaman keselamatan keluarga. Masyarakat pesisir perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Isnawa, Senin (1/12/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/251f0990f33713880690f94e26de8b6e-FAK_5812.jpg)
BPBD pun mengimbau warga mengurangi aktivitas di wilayah pesisir pada jam pasang, memindahkan barang penting ke tempat lebih tinggi, serta memastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat.
Kawasan yang masuk zona waspada rob meliputi Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, Tanjung Priok, dan Kepulauan Seribu.
Seluruh wilayah tersebut selama ini memiliki kerentanan tinggi terhadap pasang air laut, terutama saat curah hujan meningkat atau angin laut bertiup lebih kencang.
Isnawa pun kembali mengingatkan warga untuk rutin memantau kondisi cuaca dan dinamika air laut yang dapat berubah cepat. ”Pastikan sistem drainase di sekitar rumah tetap berfungsi dengan baik untuk menghindari terjadinya genangan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/9bd888f695935db315086f45cd06ab50-FAK_6964.jpg)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta juga menyiapkan berbagai kanal informasi resmi, seperti Peringatan Dini Gelombang Pasang, aplikasi JAKI untuk pelaporan genangan, serta situs Pantaubanjir.jakarta.go.id untuk memantau kondisi secara real-time. Layanan darurat 112 pun disiagakan untuk merespons situasi kritis.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak. Instansi itu juga telah meninjau ulang jalur evakuasi.
”Koordinasi dengan kelurahan, kecamatan, dan instansi teknis telah dilakukan agar respons cepat dapat diberikan jika terjadi kenaikan air laut yang signifikan,” ujar Isnawa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan potensi kenaikan muka air laut di pesisir utama Pulau Jawa menjelang Natal dan Tahun Baru.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, fenomena rob dipengaruhi fase peredaran bulan, termasuk perigee dan purnama pada 4 Desember, serta bulan baru pada 20 Desember. ”Sehingga ada kemungkinan terjadinya kenaikan muka air laut yang menyebabkan rob,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/5b3416450b8d799a2804e887d628f021-FAK_5574.jpg)
Faisal menuturkan, potensi rob dapat diperparah oleh hujan ekstrem dari wilayah daratan yang menghambat aliran air ke laut sehingga memicu genangan luas. Warga pesisir Jakarta Utara, Banten, dan pantura Jawa Barat pun diminta meningkatkan kewaspadaan.
”Untuk periode 29 November hingga 3 Desember ini, rob sudah terjadi di beberapa lokasi. Ini perlu menjadi perhatian menjelang periode Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.
Terkait gelombang laut, BMKG menyebut ancaman gelombang tinggi relatif kecil, tetapi gelombang sedang 1,25-2,5 meter tetap mungkin terjadi di sejumlah wilayah, seperti barat-selatan Sumatera, Selat Sunda, selatan Jawa, Nusa Tenggara Timur, Anambas, dan Natuna.
Faisal pun menekankan pentingnya kesiapsiagaan. Peringatan dini tidak cukup jika tidak disertai tindakan nyata. Begitu ada informasi potensi bahaya, masyarakat dan pemerintah harus langsung mengambil langkah antisipasi agar tidak ada korban.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/f66d6ff5e4b34484f862a37195fb0b52-FAK_5830.jpg)
Selain ancaman rob, BMKG juga memprediksi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek pada 1-3 Desember 2025. Pada 1 Desember, hujan sedang hingga lebat berpotensi mengguyur Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. BMKG juga mengeluarkan peringatan angin kencang untuk wilayah Kepulauan Seribu.
Memasuki 2 Desember, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Kepulauan Seribu, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kota Depok. Khusus Kabupaten Bogor, hujan diprediksi meningkat hingga kategori lebat-sangat lebat, disertai potensi angin kencang di Kepulauan Seribu.
Sementara pada 3 Desember, hujan sedang hingga lebat berpotensi meluas ke lebih banyak wilayah, meliputi Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Kepulauan Seribu, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, serta Depok. Potensi angin kencang di Kepulauan Seribu juga tetap menjadi perhatian.
Ancaman rob bukan sekadar genangan, melainkan juga potensi gangguan aktivitas, kerusakan barang berharga, dan ancaman keselamatan keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/4eade8c3e0a784506e9f0ea3715ac34b-20251104AGS_27.jpg)
Terkait potensi rob, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta menyiagakan 3.908 personel pasukan biru. Mereka dikerahkan untuk berjaga di titik-titik rawan, melakukan pemantauan rutin, serta memastikan kondisi lapangan tetap terkendali.
Kepala Dinas SDA Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, pasukan biru berperan penting dalam mitigasi banjir, termasuk rob yang dipicu pasang laut dan cuaca ekstrem. ”Serangkaian upaya mitigasi ini diharapkan efektif mengantisipasi potensi banjir akibat cuaca ekstrem ataupun rob,” ucapnya.
Selain personel, Suku Dinas SDA Jakarta Utara juga menyiapkan berbagai fasilitas pengendalian banjir, mulai dari pompa stasioner, pompa mobile, hingga pintu air. Pompa mobile disiagakan untuk menjangkau lokasi genangan yang tidak bisa ditangani pompa stasioner.
Rumah pompa dan pintu air yang disiagakan untuk mengantisipasi banjir rob meliputi Pintu Air Marina, Pompa/Polder Kali Asin, Pompa Ancol, Pompa Junction PIK, Pompa Muara Angke, Pompa Pasar Ikan, Pompa Tanjungan, Rumah Pompa Waduk Pluit, serta Rumah Pompa Polder Kamal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/eeadae1f8730f49dcff6236053b1769d-FAK_5347.jpg)
Selain itu, Pemprov Jakarta juga mempercepat pembangunan tanggul pengaman pantai (NCICD) di kawasan Pantai Mutiara untuk melindungi warga dari ancaman rob dan kenaikan muka air laut.
Pembangunan dilakukan secara bertahap, dengan prioritas pada area padat penduduk yang memiliki risiko tinggi terhadap luapan air laut.
Hingga saat ini, sepanjang 390 meter tanggul telah rampung dibangun, sementara 530 meter lainnya sedang memasuki tahap lelang untuk pekerjaan periode 2025-2027.
”Upaya ini merupakan komitmen pemerintah untuk menjaga keselamatan warga, melindungi permukiman, dan mencegah kerugian sosial-ekonomi akibat rob,” kata Ika.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/688a3de3dc6b0e06fb14c1b5b311e9e2-FAK_7025.jpg)
Sementara itu, warga Jakarta Utara, Rahma (38), mengaku tidak terkejut dengan peringatan potensi rob yang diprediksi terjadi pada awal Desember ini. Menurut dia, tanda-tanda pasang tinggi sudah mulai terasa sejak beberapa minggu lalu, terutama pada pagi hari.
Ia juga telah meninggikan beberapa bagian rumah, termasuk menaruh perabot dan barang-barang penting di rak yang lebih tinggi. Langkah itu dilakukan karena pengalaman rob sebelumnya membuat banyak warga mengalami kerugian akibat barang-barang rusak terendam.
Selain penataan rumah, Rahma juga rutin memantau informasi cuaca dari aplikasi JAKI maupun Pantaubanjir.jakarta.go.id. ”Kami cek tiap pagi, soalnya perubahan air laut cepat sekali. Kadang sejam sebelumnya masih aman, tiba-tiba naik,” tuturnya.
Meski demikian, Rahma berharap pemerintah juga terus memperkuat perlindungan kawasan pesisir, seperti memastikan pompa tetap berfungsi optimal dan pembangunan tanggul berjalan sesuai rencana.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra