Awal Tahun yang Buruk dari Fajar/Rian

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dua kali kalah dari tiga pertandingan pertama pada 2025. Mereka kalah pada babak-babak awal di Malaysia dan India Terbuka 2025.

16 Jan 2025 22:15 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

NEW DELHI, KAMIS — Menjadi ganda putra Indonesia dengan peringkat terbaik, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mengawali persaingan 2025 dengan pencapaian yang buruk. Sektor yang biasanya menjadi andalan ”Merah Putih” di pentas dunia ini membutuhkan percepatan prestasi dari barisan pemain lebih muda.

Fajar/Rian menjadi ganda putra pelatnas bulu tangkis yang bermain dalam dua turnamen pada awal 2025, yaitu Malaysia Terbuka BWF World Tour Super 1000 dan India Terbuka Super 750. Setelah didampingi Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani di Malaysia, Fajar/Rian bahkan menjadi satu-satunya wakil Merah Putih di India Terbuka 2025 yang berlangsung pada 14-19 Januari.

Semula, dua ganda putra lainnya berada dalam daftar peserta dua turnamen tersebut, tetapi PP PBSI membatalkan keikutsertaan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. PBSI menargetkan Leo/Bagas dan Fikri/Daniel, yang berpasangan sejak Agustus 2024, bisa bermain maksimal dalam turnamen di depan pendukung sendiri, Indonesia Masters, 21-26 Januari, meski berlevel lebih rendah, yaitu Super 500.

Namun, Fajar/Rian tak dapat memanfaatkan dua kesempatan yang diberikan dengan baik. Mereka tersingkir pada babak kedua di India Terbuka saat melawan pasangan Thailand yang selalu dikalahkan dalam tiga pertemuan lain, Dechapol Puavaranukroh/Kittinupong Kedren. Pada pertandingan di Indira Gandhi Sports Complex, New Delhi, Kamis (16/1/2025), Fajar/Rian kalah dengan skor 22-24, 21-16, 16-21.

Ganda putra Indonesia Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto mengembalikan kok ke ganda Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin pada babak semifinal Final BWF World Tour Final 2024, Sabtu (14/12/2024) di Hangzhou, China. Fajar/Rian kalah dengan skor 21-17, 16-21, 25-27.

Kekalahan di India membuat juara All England 2023 dan 2024 itu hanya sekali menang dari tiga pertandingan pada awal 2025. Di Malaysia Terbuka, mereka kalah dari pasangan tuan rumah, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, pada babak pertama.

Tiga pertandingan itu dijalani Fajar/Rian, masing-masing, dalam tiga gim. Semua itu melalui momen yang sama, yaitu menang pada gim pertama dan kehilangan dua gim berikutnya.

”Performa kami dalam dua turnamen ini belum cukup baik. Kami ingin mengembalikan performa dulu dan semoga bisa lebih baik di Indonesia Masters,” ujar Fajar.

Meskipun menjadi juara All England dalam dua tahun terakhir, Fajar/Rian sebenarnya kesulitan mempertahankan performa mereka dalam level tinggi. Sejak pertengahan 2023, mereka bisa menjadi juara, tetapi berkali-kali juga tersingkir pada dua babak awal.

Dengan usia Fajar yang akan menginjak 30 tahun dan Rian 29 tahun pada 2025, perlu upaya lebih keras dari mereka untuk menaikkan kembali performa dan menjadi andalan Indonesia dalam ajang single event atau multi-event.

Ganda putra Indonesia Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto mengembalikan kok ke ganda Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin pada babak semifinal Final BWF World Tour Final 2024, Sabtu (14/12/2024) di Hangzhou, China. Fajar/Rian kalah dengan skor 21-17, 16-21, 25-27.

Bertambahnya usia membuat faktor fisik akan menurun, bukan hanya saat beraktivitas dalam latihan dan pertandingan, melainkan juga dalam proses pemulihan. Seperti diceritakan Mohammad Ahsan, yang bersama Hendra Setiawan akan pensiun setelah Indonesia Masters, usia yang bertambah membuat pemulihan berjalan lebih lama.

Selain itu, Fajar/Rian harus menemukan kembali motivasi mereka setelah tak bisa meraih medali pada kesempatan pertama tampil di Olimpiade. Mereka kalah pada perempat final di Paris 2024.

Pekerjaan rumah bagi Fajar/Rian menjadi pekerjaan rumah juga untuk PBSI untuk mempercepat perkembangan ganda putra lainnya. Selain Fikri/Daniel dan Leo/Bagas, yang diproyeksikan bisa mewakili Indonesia di Olimpiade Los Angeles 2028, sumber pencarian kekuatan baru ganda putra terletak pada delapan pemain di pelatnas pratama.

Pencarian kekuatan baru, yang lumrah dilakukan seusai Olimpiade, dilakukan pada nomor ganda campuran. Di India Terbuka, terdapat dua formasi baru Indonesia, yaitu Rinov Rivaldy/Lisa Ayu Kusumawati dan Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Pengalaman pertama sebagai pasangan bagi Dejan/Fadia berakhir pada babak kedua ketika berhadapan dengan pasangan peringkat kedua dunia asal China, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Zin. Dejan/Fadia kalah 19-21, 16-21.

Ganda campuran Indonesia, Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti, tampil menghadapi pasangan peringkat kedua dunia asal China, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Zin di India Terbuka 2025, Kamis (16/1/2025) di India. Dejan/Fadia kalah 19-21, 16-21.

Dari dua pertandingan, Dejan dan Fadia mendapat momen yang menjadi bekal di masa depan, termasuk di Indonesia Masters sebagai turnamen terdekat. ”Kami harus lebih berani dan yakin dengan pola permainan sendiri. Selain itu, kami pun harus lebih kompak,” kata Fadia.

Sementara itu, Dejan melihat sisi positif meskipun kebersamaan dengan Fadia baru berlangsung dalam waktu singkat. ”Kami sudah tahu kebiasaan satu sama lain saat bertanding. Performa hari ini lebih baik meskipun belum bisa melangkah lebih jauh,” ujar Dejan.

Asa Gregoria dan Jonatan

Dengan kekalahan dua wakil pada nomor ganda, Indonesia tinggal berharap pada pemain-pemain tunggal, yaitu Gregoria Mariska Tunjung dan Jonatan Christie. Gregoria memenangi babak kedua atas Natsuki Nidaira (Jepang), 21-12, 24-22 dan akan melawan andalan tuan rumah, Pusarla V Sindhu, pada perempat final.

Sementara itu, Jonatan, setelah menang atas Su Li Yang 21-16, 21-11, akan melawan Chun Li Yin. Chun menjadi pemain Taiwan ketiga yang dihadapi Jonatan pada tiga babak beruntun, setelah Su dan Wang Tzu Wei. Jonatan memenangi satu pertemuan sebelumnya dengan Chun, yaitu pada babak kedua Perancis Terbuka 2023 dalam tiga gim.

Gregoria dan Sindhu telah bersaing dalam 13 pertemuan dengan 10 kemenangan bagi Sindhu. Dari catatan tersebut, mereka hanya pernah sekali bertemu di India, yaitu dalam turnamen Syed Modi International 2017 yang dimenangi Sindhu.

Jonatan Christie, tunggal putra Indonesia, mengembalikan kok saat menghadapi Su Li Yang pada babak kedua turnamen bulu tangkis India Terbuka 2025 di India, Kamis (16/1/2025). Jojo menang, 21-16, 21-11.

Seiring perkembangan yang dialami Gregoria sejak 2022, dia mulai bisa mengimbangi peraih medali dalam Olimpiade 2016 dan 2020 itu. Kemenangan pertama atas juara dunia 2019 tersebut diraih pada final Madrid Masters 2023. Sindhu dibuat tak berkutik melalui permainan indah Gregoria yang banyak mengandalkan drop shot silang, dengan skor 8-21, 8-21.

Dalam pertemuan berikutnya, pada semifinal Malaysia Masters, Gregoria juga menang dalam dua gim, begitu pula dalam pertemuan terakhir mereka di perempat final Denmark Terbuka, Oktober 2024. Akan tetapi, tiga persaingan terakhir selalu berlangsung tiga gim. Hal itu perlu menjadi kewaspadaan dari tunggal putri Indonesia peringkat kelima dunia tersebut.

”Saya harus lebih tenang di babak perempat final, terutama saat ada perubahan dari lawan. Semoga saya bisa tampil lebih baik dari hari ini,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono