Perang Dagang Berkobar, Trump Siapkan Tarif Impor Balasan

Presiden Trump sudah terlibat perang dagang dengan China. Sekarang, dia bersiap jika negara-negara lain memberlakukan tarif resiprokal atas kenaikan bea cukai AS.

13 Feb 2025 10:58 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, KAMIS - Sistem perdagangan dunia terancam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap untuk mengenakan tarif impor balasan kepada setiap mitra dagang yang mengenakan tarif pada AS, Rabu (12/2/2025) atau Kamis (13/2/2025), waktu setempat. Perang dagang dikhawatirkan meluas.

Beberapa hari lalu, Trump memberlakukan kenaikan tarif bea masuk impor (BMI) atas baja dan aluminium sebesar 25 persen dari sebelumnya 10 persen per 12 Maret 2025. Sejumlah negara terdampak berniat bernegosiasi atau memberlakukan tarif resiprokal atau balasan.

Sebelumnya, AS telah mengenakan BMI tambahan sebesar 10 persen pada China yang kemudian dibalas Beijing dengan tarif 15 persen pada batubara dan produk gas alam cair. Selain itu, Beijing juga mengenakan tambahan tarif 10 persen untuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil. Tarif AS sebesar 25 persen atas barang-barang Meksiko dan Kanada ditunda sampai 4 Maret 2025.

“Sudah waktunya untuk bersikap resiprokal. Anda akan sering mendengar kata itu. Resiprokal. Jika mereka menagih kita, kita menagih mereka,” kata Trump kepada wartawan awal pekan ini.

Namun, kapan Trump akan mengenakan tarif baru tersebut, hingga kini masih belum jelas. Sebelumnya, Trump mengisyaratkan tarif resiprokal bakal keluar pada Selasa (11/2/2025) atau Rabu (12/2/2025). Namun, hari Selasa berlalu tanpa pengumuman resmi. Pada Rabu sore, Trump berkata, “Saya mungkin akan melakukannya nanti, atau saya mungkin akan melakukannya besok pagi, tetapi kami akan menandatangani tarif resiprokal.”

Penasihat ekonomi Trump, Kevin Hassett, mengatakan, progres tarif resiprokal sedang dilakukan di tengah pembicaraan dengan negara-negara lain sejak Rabu, pagi. “Anda mungkin melihat pengumuman tentang progres atau juga pedoman dari hal-hal yang dia pikirkan setelah bertukar pandangan dengan orang asing hari ini dan kemarin,” ujarnya.

Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt meyakini, pengumuman tarif resiprokal akan keluar sebelum kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi di Washington DC, pada Kamis (13/2/2025). Trump juga mengeluh India memiliki BMI tinggi yang menghambat impor AS.

“Saya yakin hal itu akan terjadi sebelum kunjungan perdana menteri besok. Saya akan membiarkan presiden membahas rincian tentang tarif resiprokal, tetapi ini adalah sesuatu yang sangat ia yakini,” tutur Leavitt, dilansir dari NBC News.

(FILES) US President Donald Trump (L) shakes hands with India's Prime Minister Narendra Modi during a joint press conference at Hyderabad House in New Delhi on February 25, 2020. US President Donald Trump pressed Indian Prime Minister Narendra Modi for "fair" trading ties in a call January 27, 2025, the White House said, as Trump continues to push his hardline trade agenda with world leaders. Trump however also discussed plans for a visit to the White House by Modi, the Hindu nationalist leader with whom he had close ties in his first term as president, a readout of the call said. (Photo by Prakash SINGH / AFP)

Ketua DPR AS Mike Johnson, memperkirakan, Trump sedang mempertimbangkan pengecualian tarif resiprokal untuk industri farmasi dan otomotif.

William Reinsch, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, berpendapat, penyusunan tarif resiprokal akan sulit. Gedung Putih dapat menetapkan tarif tetap 10 persen atau 20 persen yang mudah diterapkan. Ada pula pendekatan yang lebih rumit, yakni dengan penyesuaian tarif secara terpisah berdasarkan BMI masing-masing negara.

Reinsch menambahkan, penerapan tarif resiprokal akan menyerahkan kendali jadwal tarif AS ke negara lain, dan mengikuti tarif yang ditetapkan negara lain. Ini dapat menyebabkan hasil yang kontraproduktif.

“Misalnya, jika Kolombia memiliki tarif tinggi untuk kopi guna melindungi industrinya, kami akan mengenakan tarif tinggi untuk kopi Kolombia agar sesuai dengan tarif mereka, meskipun kami tidak menanam kopi. Satu-satunya pihak yang dirugikan adalah konsumen AS,” ucap Reinsch.

Damon Pike, ekonom di firma akuntansi BDO International, mencatat, setiap 186 anggota Organisasi Bea Cukai Dunia memiliki BMI yang berbeda. “Ini hampir seperti proyek akal imitasi,” katanya.

US President Donald Trump speaks to the press after signing a proclamation renaming the Gulf of Mexico as the Gulf of America aboard Air Force One, as it flies over the Gulf enroute to New Orleans, Louisiana on Febrary 09, 2025. For years, as disputes over names on the map riled up nationalist passions in several parts of the world, US policymakers have watched warily, trying to stay out or to quietly encourage peace. Suddenly, the United States has gone from a reluctant arbiter to a nomenclature belligerent, as President Donald Trump declared that the Gulf of Mexico will henceforth be called the "Gulf of America." In an executive order signed hours after he returned to the White House, Trump called the water body an "indelible part of America" critical to US oil production and fishing and "a favorite destination for American tourism and recreation activities." (Photo by ROBERTO SCHMIDT / AFP)

Bukan terakhir

Jika menandatangani perintah tarif resiprokal, Trump akan memenuhi janji menaikkan pajak atas sebagian besar barang impor. Ia berniat mengembalikan situasi AS era 1890-an ketika BMI menjadi sumber pendapatan utama pemerintah. Menurut dia, tarif bisa menjadi sumber pendapatan yang dapat mengimbangi rencananya untuk memotong pajak penghasilan.

Sejumlah analis di Goldman Sachs, berpendapat, perintah tarif resiprokal tak mungkin menjadi keputusan akhir Trump soal BMI. “Bahkan jika Presiden Trump memandang tarif resiprokal sebagai alternatif, kita baru memasuki minggu keempat masa jabatan presiden selama empat tahun dan tampaknya akan ada banyak pengumuman tarif lebih lanjut,” tulis mereka.

Trump menyadari kenaikan BMI dapat menimbulkan kesulitan finansial, seperti inflasi dan gangguan pertumbuhan ekonomi. Namun, dia juga tengah mempertimbangkan tarif terpisah pada mobil, semikonduktor, dan farmasi.

Menjelang pengumuman tarif resiprokal dari Gedung Putih, konsumsi rumah tangga AS terdampak. Menurut CNN, Biro Statistik Tenaga Kerja melalui Indeks Harga Konsumen (CPI), mencatat, inflasi meningkat menjadi 0,5 persen secara bulanan pada Januari 2025 atau tertinggi sejak Agustus 2023. Inflasi juga melesat 3 persen secara tahunan pada Januari 2025.

“Tak jelas apakah CPI Januari akan membuat pemerintahan Trump berpikir ulang untuk melanjutkan beberapa tarif yang diusulkan. Tarif masih dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan konsesi dari negara lain, tetapi pandangan politik untuk memberi tekanan ke harga konsumen melalui tarif tidak akan bagus bagi pemerintahan,” tulis Ryan Sweet, Kepala Ekonom AS di Oxford Economics.

Michael Zezas, ahli strategi di Morgan Stanley, menulis, “trajektori tarif” akan membentuk apa yang terjadi dengan pertumbuhan, inflasi, suku bunga, dan kebijakan Federal Reserve tahun ini. 

“Ini adalah perubahan besar dari era globalisasi, ketika perusahaan mengurangi biaya dengan mencari tenaga kerja dan bahan baku berbiaya rendah di luar negeri. Transisi ini kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun, menciptakan tantangan bagi sebagian orang dan peluang besar bagi yang lain,” kata Zezas.

Produk baja terlihat di gudang North York Iron, pemasok baja di Toronto, Ontario, Kanada, Selasa (11/2/2025). Kanada dan Uni Eropa berjanji untuk bersikap tegas terhadap langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengenakan tarif pada impor baja dan aluminium (Foto oleh AFP/Cole BURSTON)

Rantai pasokan

Pemberlakuan BMI tambahan dapat mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan harga produk. Biro Sensus melaporkan, total nilai impor AS sebesar 4,1 triliun dollar AS pada 2024. Perang dagang yang mengguncang ekonomi global dan mengatur ulang posisi AS dengan sekutu serta pesaing juga bisa terjadi.

“Anda tidak dapat mengubah rantai pasokan dalam semalam, dengan jumlah dan kecepatan perubahan ini, bahkan jika Anda mencoba untuk selangkah lebih maju, dapatkah Anda tetap berada di depan?” kata David Young, eksekutif di Conference Board, sebuah kelompok bisnis global.

Para eksekutif dari perusahaan, termasuk jaringan supermarket Ahold Delhaize dan Siemens Energy, memperingatkan, tarif akan menyebabkan harga produk yang lebih tinggi. Hal ini karena mereka harus menutupi BMI tambahan.

Penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, meremehkan dampak negatif dari BMI. Kepada CNBC, ia mengatakan, pengenaan BMI pada periode pertama Trump tidak membuat inflasi melonjak. Negara-negara yang bergantung pada ekspor sering kali menurunkan harga agar tidak kehilangan pasar.

Namun, jika inflasi tetap tinggi dan lapangan kerja tidak bertambah, anggota parlemen akan mudah menyerang Trump. Menurut mereka, Trump membantu kaum ultrakaya dengan mengorbankan kelas menengah.

“Apa pun sudut pandangnya, biaya akan naik bagi konsumen. Saya akan bekerja dengan kolega saya untuk mengakhiri kekacauan ini, menekan biaya, dan menyingkirkan para miliarder ini,” ujar pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer dari New York, awal bulan ini. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H