Setelah Matt dan Emily berhasil kabur, mereka mengambil keputusan besar untuk berpura-pura tidak selamat dalam kecelakaan pesawat. Mereka hilang dan melarikan diri.
05 Feb 2025 14:33 WIB · Hiburan
Agen rahasia identik dengan karakter seperti James Bond atau Jason Bourne. Mereka terisyarat dengan perangai yang dingin serta penyendiri. Lantas, bagaimana jadinya apabila sepasang agen rahasia memutuskan untuk menikah dan hidup berkeluarga?
Back In Action (2025) adalah film terbaru karya sutradara Seth Gordon yang bercerita tentang sepasang agen CIA bernama Matt (Jamie Foxx) dan Emily (Cameron Diaz). Mereka ingin memulai hidup baru sebagai keluarga harmonis, jauh dari aksi agen rahasia.
Back In Action mendobrak pakem film bertema spy yang kaya akan plot politik dan konspirasi. Di film ini, sutradara memfokuskan cerita pada drama keluarga Matt dan Emily dalam cara mereka membesarkan anak-anaknya sebagai mantan agen rahasia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/fb7bca25d872c15596ccc849739e8310-Jamie_Foxx_sebagai_Matt_kiri_dan_Cameron_Diaz_sebagai_Emily_berperan_menjadi_agen_CIA_dalam__Back_In_Action_.jpg)
Layaknya film-film bertema spy, film ini juga menawarkan aksi spionase yang khas dari para tokoh utama. Bedanya, aksi spionase di Back In Action dibuat ringan dan menghibur dengan berbagai sisipan momen komedik. Seth Gordon memang terkenal menyutradarai film-film yang bernuansa semi humor, seperti Baywatch (2017) dan Identity Thief (2013)
Cerita bermula dari Matt dan Emily yang tengah melakukan misi spionase untuk menyusup ke rumah Balthazar Gor; pemimpin teroris asal Polandia. Matt dan Emily harus mencuri satu teknologi berbentuk kunci mutakhir yang tersimpan di rumah Gor.
Teknologi kunci ini adalah semacam alat retas yang dapat digunakan untuk mengontrol jaringan apa saja di dunia. Matt dan Emily sebagai agen CIA mengemban tugas untuk menyerahkannya pada pemerintah Amerika Serikat.
Misi berjalan mulus dengan Matt yang berhasil mengantongi teknologi kunci tersebut. Ia dan Emily pun bergegas pulang dengan pesawat bantuan dari rekan MI6. Tanpa disadari, pesawat itu telah dibajak oleh komplotan Gor. Konflik pun tak dapat dihindari.Matt dan Emily bukan agen CIA sembarangan, mereka terlatih dalam pertarungan fisik, penggunaan senjata api, dan bahkan peretasan teknologi ringan. Sebab itu, pertarungan dengan pasukan kriminal di pesawat termasuk perihal mudah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/fa263758a688ece85ae10d78eba3d0d2-Cameron_Diaz_sebagai_Emily_kiri_dan_Jamie_Foxx_sebagai_Matt_beraksi_dalam_film__Back_In_Action__1_.jpg)
Setelah Matt dan Emily berhasil kabur, mereka mengambil keputusan besar untuk berpura-pura tidak selamat dalam kecelakaan pesawat. Mereka hilang dan melarikan diri sebagai kekasih.
Cerita berlanjut 15 tahun kemudian, kini Matt dan Emily telah memiliki keluarga kecil dengan dua orang anak, yaitu Alice (McKenna Roberts) dan adiknya Leo (Rylan Jackson). Mereka menjalani hari layaknya keluarga biasa. Satu hal yang jadi permasalahan adalah sulitnya Matt dan Emily untuk akrab dengan kedua anaknya.
Sebagai orangtua, Matt dan Emily merahasiakan masa lalu mereka agar anak-anaknya tidak mendapati nasib yang sama. Sayangnya, Alice dan Leo sudah menyadari ada hal yang janggal. Lambat laun, mereka pun mempertanyakan masa lalu dari kedua orang tuanya.
Intrik keluarga ini semakin menjadi-jadi setelah kelompok teroris Gor mengetahui keberadaan Matt dan Emily. Mereka berencana menangkap Matt dan Emily untuk menemukan teknologi kunci yang hilang 15 tahun lalu.
Mampukah Matt dan Emily selamat dari ancaman Gor? Dan mampukah hubungan mereka dengan Alice dan Leo kembali seperti semula?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/ea255ca82fb5290e9e4f4f4b99d7541d-Cameron_Diaz_berperan_sebagai_Emily_dalam_film__Back_In_Action_.jpg)
Back In Action menitikberatkan cerita pada hubungan Matt dan Emily dengan kedua anaknya. Sebagai mantan agen rahasia, Matt dan Emily merasa kesulitan dalam memahami anak-anaknya yang tumbuh di generasi dan lingkungan masa kini.
Matt dan Emily tidak terbiasa hidup manja. Mereka dididik dengan cara yang keras agar menjadi agen rahasia yang unggul. Didikan di masa lalu itu justru membuat Matt dan Emily bersikukuh untuk memiliki keluarga yang harmonis, jauh dari aksi mata-mata.
Sutradara Seth Gordon berhasil menangkap esensi itu dengan elok. Ia menggambarkan Matt dan Emily sebagai orang tua yang penuh rasa kasih pada anak-anaknya, tapi juga memiliki rasa rindu pada aksi spionase.
Film ini memperlihatkan bahwa agen rahasia pun memiliki perasaan dan keinginan seperti individu pada umumnya. Mereka bukanlah alat yang hanya menurut pada pemerintah bak tentara bayaran. Lebih dari itu, film ini memanusiakan Matt dan Emily.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/8a92d42109cbb4f8dbfb9298930c4f8b-McKenna_Roberts_sebagai_Alice_kiri_dan_Cameron_Diaz_sebagai_Emily_kanan_dalam_film__Back_In_Action_.jpg)
Gordon menyebut ide pembuatan film ini muncul saat ia sedang bermain bola bisbol. Ia membayangkan agen rahasia yang mementingkan keluarganya.
“Pikiran ini muncul begitu saja, bagaimana jadinya bila Jason Bourne memiliki anak? Apa yang akan terjadi dengan hidupnya,” kata Gordon dalam wawancara di laman hollywoodreporter.com, Jumat (24/1/2025).
Alice dan Leo juga memiliki penokohan yang kuat. Dalam film ini, mereka bukan sekadar anak yang butuh perhatian orang tua, tapi juga membutuhkan kejujuran.
Inilah satu hal krusial yang dihadirkan Gordon dalam cerita. Dia melihat ada banyak orangtua yang menganggap kebohongan sebagai hal yang diperlukan dalam mendidik anak mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/9873040541e1c03c858fd86505e729d8-Cameron_Diaz_sebagai_Emily_kiri_dan_Jamie_Foxx_sebagai_Matt_beraksi_dalam_film__Back_In_Action_.jpg)
Aspek itu digambarkan dalam salah satu adegan antara Matt dan Emily. Dalam percakapan mereka, terungkap bahwa Matt dan Emily telah berkompromi dengan kebohongan. Mereka tidak hanya menyembunyikan masa lalu, tapi juga sering berbohong kepada Alice dan Leo terkait hal kecil sehari-hari.
Gordon mengaku cerita itu terinspirasi dari keluarganya sendiri. Menurut dia, menjadi orangtua itu bukanlah perihal mudah. “Kesenjangan dalam keluarga ini bermula dari melihat kakak perempuan dan orangtua saya yang sering bertengkar ketika saya masih kecil,” ucap Gordon.
Back In Action punya cara yang menarik dalam menampilkan adegan aksinya. Tidak seperti film laga biasa yang penuh akan ketegangan. Adegan aksi di film ini dibuat segar dengan balutan komedi.
Balutan komedi ini tidak hanya tercipta dari momen atau dialog jenaka yang diucapkan para tokoh, tapi juga dengan nuansa adegan yang dibangun.
Film ini memiliki penataan warna latar yang kontras dan eksentrik. Ini dapat dilihat dari pemilihan setting tempat dengan warna-warna yang cerah dilengkapi dengan set pakaian tokoh yang beragam. Kombinasi ini menghasilkan nuansa cerita yang meriah, menyenangkan, dan tentunya berwarna.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/2b332c92427a2f0772888be4b687da09-Salah_satu_adegan_film__Back_In_Action_.jpg)
Adegan-adegan aksi juga diisi dengan backsound lagu yang tak biasa. Bayangkan saja, pertarungan hidup-mati yang terjadi di pesawat terbakar dibuat menyenangkan dengan backsound lagu “L-O-V-E” dari Nat King Cole.
Gordon, selaku sutradara, sengaja mengawinkan genre aksi dan komedi. Ia beranggapan dunia saat ini sedang dirundung kesedihan dan sangat membutuhkan tontonan komedi.
Lewat Back In Action, Gordon berharap genre komedi dapat kembali bangkit setelah cukup lama pudar dari industri perfilman Hollywood. Ia pun membandingkan genre komedi dengan genre film lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/099f1e589ef18054edbbb6c737834ccc-Salah_satu_adegan_film__Back_In_Action__menampilkan_penggunaan_warna_yang_beragam.jpg)
“Kita sedang butuh hal-hal untuk ditertawakan. Saat ini sudah terlalu banyak (film) pahlawan super, tapi tidak cukup banyak (film) komedi,” ujarnya.
Back In Action sudah mulai tayang sejak tanggal 17 Januari lalu dan dapat disaksikan melalui kanal berlangganan Netflix. Film ini layak disaksikan untuk melihat bagaimana hubungan keluarga dapat terbangun dari hal yang tak terduga, tentu dengan balutan aksi-komedi di dalamnya.
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Ammar Rezqianto, mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran
Penulis:
Dahono FitriantoEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari