Bagaimana Abebe Bikila Bisa Mencetak Rekor Lari Maraton Tanpa Alas Kaki?

Abebe Bikila merupakan atlet lari maraton asal Ethiopia yang meraih emas dan mencatat rekor dalam Olimpiade Roma 1960. Ia berlomba tanpa mengenakan alas kaki.

05 Des 2024 15:49 WIB · Olahraga

Oleh Pradipta Pandu

Catatan sejarah menunjukkan bahwa ternyata terdapat atlet Olimpiade yang mencetak rekor dengan berlari tanpa alas kaki. Dia adalah Abebe Bikila, atlet asal Ethiopia yang berlari sejauh 42 kilometer (km) tanpa sepatu melalui jalanan berbatu hingga meraih emas dan mencetak rekor dunia baru kategori lari maraton di Olimpiade Roma tahun 1960.

Bikila yang saat itu berusia 28 tahun dan mantan anggota Garda Kekaisaran Ethiopia mencetak rekor baru untuk lari maraton saat itu dengan mencatatkan waktu 2 jam 15 menit 16 detik. Catatan rekor ini juga menjadi sangat spesial karena Bikila merupakan atlet maraton Afrika pertama yang memenangi medali emas Olimpiade di cabang lari maraton.

Berbagai penulis olahraga banyak memberitakan tentang Bikila yang berlari maraton tanpa alas kaki. Sebagian penulis bahkan mendramatisasi kejadian ini karena menyatakan bahwa tim Ethiopia terlalu miskin untuk menyediakan sepatu lari bagi para pelarinya.

Kenyataannya, Bikila sendirilah yang memilih berlomba tanpa alas kaki karena merasa sepatu lari barunya tidak nyaman untuk menjadi ”teman perjuangan” bagi maraton pertamanya tersebut. Dia juga takut sepasang sepatu baru akan membuat kakinya melepuh.

Alih-alih menemui kendala, keputusan Bikila ini justru membuat dia dapat berlari dengan cepat dan kuat. Tanpa sepatu lari, Bikila bisa mengimbangi kecepatan dari atlet yang juga difavoritkan menjadi juara saat itu, yakni Rhadi Ben Abdesselem dari Maroko. Hingga pada akhirnya, Bikila mampu menggungguli Abdesselem yang meraih medali perak.

Bikila berlari tanpa sepatu untuk kedua kalinya dalam lomba lari maraton di Athena, Yunani, pada tahun 1961 dan memenangi perlombaan tersebut dengan catatan waktu 2 jam 23 menit 45 detik. Perlombaan ini menjadi yang terakhir kalinya bagi Bikila berlari tanpa sepatu.

Pelari putra Robi Sianturi berlari tanpa sepatu pada Borobudur Marathon 2020 di Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Pelari Betmen Manurung menjuarai katergori putra dengan catatan waktu 2 jam 42 menit. Sedangkan kategori putri dijuarai oleh pelari asal Tapanuli Utara, Pretty Sihite, dengan catatan waktu 3 jam 11 menit.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)15-11-2020

Tiga tahun kemudian, Bikila kembali mengikuti lari maraton di Olimpiade Tokyo 1964 dan berhasil meraih medali emas dengan catatan waktu 2 jam 12 menit 11 detik. Namun, dalam Olimpiade Tokyo, Bikila sudah berlomba dengan mengenakan sepatu dan finis 4 menit lebih cepat dari pesaing terdekatnya, Basil Heatley dari Britania Raya yang meraih perak.

Torehan ini membuat Bikila menjadi atlet pertama yang meraih emas untuk cabang maraton di Olimpiade dua kali secara beruntun. Prestasi ini sekaligus menandai dimulainya dominasi atlet asal Afrika dalam kompetisi lomba lari jarak jauh.

”Olimpiade Tokyo 1964 adalah periode dekolonisasi dan kedatangan Afrika di panggung dunia. Dalam hal ini, ia (Abebe Bikila) bagaikan bintang jatuh yang membawa harapan dan simbol era tersebut,” ungkap Tim Judah, seorang jurnalis yang menulis buku Bikila: Ethiopia's Barefoot Olympian seperti dikutip dari BBC, Kamis (5/12/2024).

Kesuksesan Bikila dalam ajang Olahraga terbesar di dunia tersebut terhenti pada Olimpiade Mexico City 1968. Bikila terpaksa harus menyerah dari lomba ketika baru berlari sejauh 17 km karena tulang kecil di kakinya patah. Cedera ini dialaminya sebelum tampil di Olimpiade.

Kehidupan salah satu legenda lari maraton tersebut berubah drastis satu tahun setelahnya. Pada 1969, Bikila harus menerima kenyataan tidak dapat menggunakan kedua kakinya kembali untuk berlari maraton dalam Olimpiade karena sebuah kecelakaan lalu lintas.

Perjuangan Bikila sebenarnya tidak surut meski kehilangan kemampuan kakinya untuk berlari dengan normal. Dia sempat menekuni lomba lari kursi roda dan panahan meskipun kariernya sebagai atlet Paralimpiade tidak meraih hasil maksimal dan tidak bertahan lama.

Bikila meninggal pada usia 41 tahun di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, 25 Oktober 1973, karena pendarahan di otak akibat kecelakaan yang dialaminya empat tahun lalu. Sampai sekarang, Bikila tetap dikenang sebagai salah satu atlet maraton terbaik dunia dan telah menginspirasi jutaan warga Afrika untuk menggapai mimpi berlomba di Olimpiade.

Peserta lomba lari ultra marathon dari Spanyol, Abdelkarim El Hayani, berlari tanpa alas kaki saat berlari pada etape 4 lari Marathon des Sables edisi ke-36 etape 4 (kurang lebih sejauh 85,8 kilometer selama dua hari) antara Nord El Maharch dan Jebel Mraier di Gurun Sahara, Maroko, Kamis (31/3/2022). *** Local Caption *** Spanish competitor Abdelkarim El Hayani, who runs barefoot, finishes the Stage 4 (85.8 kilometers over two days) of the 36th edition of the Marathon des Sables between Nord El Maharch and Jebel Mraier in the Moroccan Sahara desert, central Morocco, on March 31, 2022. - The 36th edition of the marathon is a live stage 250 kilometres race through a formidable landscape in one of the world's most inhospitable climates. (Photo by JEAN-PHILIPPE KSIAZEK / AFP) / “The erroneous mention[s] appearing in the metadata of this photo by JEAN-PHILIPPE KSIAZEK has been modified in AFP systems in the following manner: [The stage 4 (85,8 kilometers over two days] instead of [the 36the edition of the Marathon des Sables]. Please immediately remove the erroneous mention[s] from all your online services and delete it (them) from your servers. If you have been authorized by AFP to distribute it (them) to third parties, please ensure that the same actions are carried out by them. Failure to promptly comply with these instructions will entail liability on your part for any continued or post notification usage. Therefore we thank you very much for all your attention and prompt action. We are sorry for the inconvenience this notification may cause and remain at your disposal for any further information you may require.”

Teknik berlari

Terlepas dari prestasi dan kehidupannya, banyak pakar dan peneliti menyoroti bagaimana Bikila yang berlari tanpa alas kaki atau sepatu bisa meraih hasil optimal dalam Olimpiade Roma. Sebab, umumnya seorang pelari akan menurunkan kecepatannya ketika berlari tanpa sepatu untuk menghindari benda yang berpotensi membahayakan kakinya.

Quote

Namun, sebenarnya seseorang dapat berlari tanpa alas kaki di permukaan yang paling keras tanpa sedikit pun rasa tidak nyaman dan sakit.

Peneliti dari Harvard University, Amerika Serikat (AS), mencoba menganalisis bagaimana seseorang bisa berlari dengan nyaman dan aman tanpa alas kaki. Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature tahun 2010, peneliti menemukan bahwa seseorang yang berlari tanpa alas kaki cenderung berlari dengan teknik untuk menghindari menabrak tumit.

Teknik ini membuat seseorang yang berlari tanpa alas kaki akan mendaratkan telapak kaki atau bagian tengah kakinya. Dengan demikian, para pelari menggunakan arsitektur kaki dan tungkai serta beberapa proses dalam hukum fisika Newton yang cerdas untuk menghindari benturan yang menyakitkan serta berpotensi membuat cedera.

Profesor Biologi Evolusi Manusia dari Harvard University, Daniel E Lieberman, mengemukakan, orang yang tidak memakai sepatu saat berlari memiliki gaya gesek yang sangat berbeda. Dengan mendarat di bagian tengah atau depan kaki, pelari tanpa alas kaki hampir tidak mengalami benturan yang keras ketika berlari.

”Kebanyakan orang saat ini berpikir bahwa berlari tanpa alas kaki itu berbahaya dan menyakitkan. Namun, sebenarnya seseorang dapat berlari tanpa alas kaki di permukaan yang paling keras tanpa sedikit pun rasa tidak nyaman dan sakit,” kata Lieberman yang juga satu penulis laporan studi tersebut dikutip dari situs resmi Harvard University.

Dalam studi ini, para peneliti mengamati gaya berlari dari para pelari asal AS dan Kenya. Pengamatan dibagi dalam tiga kelompok, yakni pelari yang selalu berlari tanpa alas kaki, pelari yang selalu memakai sepatu, dan pelari yang beralih dari berlari dengan sepatu menjadi berlari tanpa alas kaki.

Pelari putra Robi Sianturi berlari hanya berkaus kaki setelah melepaskan sepatunya pada Borobudur Marathon 2020 di Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Pelari Betmen Manurung menjuarai katergori putra dengan catatan waktu 2 jam 42 menit. Sedangkan kategori putri dijuarai oleh pelari asal Tapanuli Utara, Pretty Sihite, dengan catatan waktu 3 jam 11 menit.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)15-11-2020

Para peneliti menemukan pola yang mencolok dari tiga kelompok tersebut. Mayoritas pelari bersepatu—lebih dari 75 persennya orang Amerika—mengalami heel-strike atau benturan yang sangat kuat secara tiba-tiba sekitar 1.000 kali per mil lari. Adapun pelari tanpa alas kaki cenderung mendarat dengan langkah yang lembut ke arah tengah atau depan kaki.

Menurut Lieberman, perbedaan antara berlari dengan dan tanpa sepatu berkaitan dengan dasar evolusi. Sebagai contoh, nenek moyang Australopithecus awal memiliki lengkungan kaki yang kurang berkembang. Sebaliknya, Homo sapiens telah mengembangkan lengkungan yang kuat dan besar yang digunakan manusia saat ini sebagai pegas saat berlari.

”Kaki kita sebagian diciptakan untuk berlari. Manusia telah melakukan lari jarak jauh selama jutaan tahun, tetapi sepatu lari modern baru ditemukan pada tahun 1970-an. Selama sebagian besar sejarah evolusi manusia, nenek moyang kita berlari dengan bertelanjang kaki atau mengenakan alas kaki yang minim dan sedikit bantalan,” ungkapnya.

Melalui penjelasan dalam studi ini, para pakar pun memperkirakan bahwa pelari, termasuk Abebe Bikila, bisa memaksimalkan potensi dan teknik larinya ketika berlari tanpa alas kaki hingga mencetak rekor lari maraton. Bahkan, saat ini sudah banyak pelari profesional yang melakukan program pelatihan dengan berlari tanpa alas kaki karena terbukti memiliki banyak manfaat, seperti memperkuat otot kaki serta melatih fleksibilitas dan keseimbangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata